
Ratusan pasukan sudah terlihat bersiap di di tengah hamparan padang rerumputan luas. Mereka dipimpin oleh pangeran Keiji dan panglima perang Masamune yang begitu terkenal terampil dengan katana dan shuriken raksasanya.
Ratusan bendera berwarna merah dengan tulisan hiragana berwarna hitam sebagai lambang kerajaan Fujiwara juga berkibar dan dibawakan oleh pasukan pembawa bendera.
Sementara pada bagian depan para prajurit sudah bersiap dengan membawa masing-masing katana dan tameng besinya. Pada barisan dibelakangnya ada pasukan pemanah dan juga penembak.
Mereka sedang mengawasi dan bersiap untuk penjagaan salah satu wilayah yang sudah menjadi sahabat dari kerajaan Fujiwara saat ini, kerajaan Shingen. Karena hari ini wilayah mereka akan diserang oleh seorang kaisar yang begitu jahat dan tamak akan wilayah kekuasaan.
Hingga akhirnya sebuah bendera kerajaan berwarna hitam mulai terlihat dari arah barat daya dan mulai menyerang wilayah kekaisaran Shingen. Rupanya kaisar itu sudah mengerahkan seluruh pasukannya dengan begitu cepat. Dan kebanyakan dari mereka menggunakan senjata tombak api.
Beberapa dari mereka juga mulai melemparkan tombak api dan mengenai bagian depan istana Shingen. Sementara Keiji masih mengawasi mereka dari kejauhan dan berusaha untuk membuat sebuah strategi.
Beberapa pasukan juga terlihat saling menggendong dengan masing-masing tim 3 orang saling digendong di atas bahu. Dengan tingkatan prajurit paling atas akan membawa sebuah cermin raksasa.
Mereka menggunakan cermin raksasa itu untuk menyerap energi dari matahari kemudian mereka mulai memantulkannya dan mengarahkan cermin raksasa itu pada suatu titik yang menjadi target mereka.
Dan titik yang sudah terkena pantulan dari cermin raksasa itu akan terbakar dengan api yang begitu dasyat hanya dalam hitungan detik saja. Ada juga beberapa dari mereka yang membawa alat peledak dan sudah meledakkan beberapa titik di dalam istana Shingen.
Beberapa bagian depan istana Shingen sudah mengalami kerusakan, bahkan sudah cukup banyak prajurit yang gugur dalam medan pertempuran kali ini.
Namun hingga sampai saat ini Keiji masih belum memberikan perintah untuk para prajurit Fujiwara maupun untuk sang panglima perang Masamune.
"Pangeran Keiji. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah tidak sebaiknya kita segera melakukan penyerangan dan membantu kaisar Shingen?" tanya panglima Masamune mulai mengkhawatirkan istana Shingen yang sudah cukup mengalami kelumpuhan saat ini.
__ADS_1
"Benar, Masamune-sama! Namun kita harus mengatur strategi untuk meraih kemenangan ini! Dan apapun yang terjadi, kita harus bisa memenangkan pertempuran ini!" ucap Keiji masih menatap istana Shingen dari kejauhan dengan tatapan yang begitu fokus dan serius.
"Takeda, pimpin penyerangan bagian belakang istana! Oujo, pimpin penyerangan bagian istana area kanan! Shou, pimpin penyerangan area kiri istana di sekitar kuil! Dan kau, Masamune ... pimpin penyerangan area depan istana! Lindungi kaisar Shingen dan putri mahkota Boa! Jangan sampai mereka mencapai kaisar dan putri mahkota Boa!!"
Ucap Kaeiji mulai memberikan titahnya untuk para prajuritnya dengan gaya berbicara seorang pangeran yang begitu tegas dan keras. Kalian tentu tau bukan gaya berbicara mereka? Terdengar seperti sebuah teriakan dan bentakan yang begitu tegas.
"Ayoo!! Serang!!!!" teriak Keiji dengan sangat bersemangat dan mulai mengangkat tangan kanannya tinggi ke udara.
"SERANG ..." teriak para prajurit dengan bendera merah ini mulai mendekati istana Shingen yang saat ini sudah terkepung oleh musuh.
Mereka terlihat seperti sekerumunan semut jika dilihat dari kejauhan karena saking banyaknya para prajurit itu.
Pertempuran ini mengakibatkan begitu banyak pertumpahan darah dan para prajurit yang gugur. Ketamakan akan kekuasaan telah membutakan hati mereka dan ingin menguasai wilayah Shingen yang selama ini begitu makmur, damai, aman, tentram dan maju.
Keiji yang melihat kobaran api dimana-mana mulai memikirkan sebuah cara untuk menghadapi mereka, hingga akhirnya Keiji mulai memerintahkan sistem pemandunya untuk mengaktifkan salah satu elemen yang dimlikinya.
[ Siap laksanakan, Tuan. Elemen es level 1 akan segera diaktifkan.]
DING ...
[ Elemen es level 1 sukses diaktifkan, Tuan. Tuan sudah bisa menggunakannya saat ini. ]
Ucap Kenshin melaporkan pengaktifan sudah berhasil.
__ADS_1
"Baiklah!! Kini saatnya aku juga membantu mereka!! Aku harus segera menemukan kaisar Shingen dan putri mahkota Boa! Karena di dalam sejarah, saat ini mereka sedang dalam bahaya. Bahkan kaisar Shingen juga akan terbunuh ... aku harus segera cepat!! Aku harus segera menemukan mereka!! Hiathh ..." ucap Keiji sambil menjalankan kudanya untuk mendekati istana yang begitu megah itu.
Peperangan terus saja berlangsung cukup lama, bahkan hingga langit sudah menjadi semakin berwarna kemerahan, menandakan malam akan segera tiba.
Keiji masih berusaha untuk mencari sang kaisar dan putri mahkota. Namun Keiji sama sekali belum menemukan mereka berdua. Hingga akhirnya Keiji mulai mendengar sebuah teriakan seorang gadis yang berasal dari arah kuil.
Keiji segera berlari dan mendatangi kuil itu, dan rupanya seorang pria dewasa dengan sebuah tombak api sudah berhasil melukai kaisar Shingen
"Ayah ... hiks ... jangan sakiti ayahku!!" isak putri Boa yang sudah duduk bersimpuh memeluk tubuh sang ayah.
"Gyahaha ... putri Boa!! Sekarang akulah yang berkuasa penuh dengan istana ini! Dan aku akan memberikan pilihan untukmu! Menjadi istriku atau mati di tanganku?!" ucap Raja Hito yang memiliki kumis super tebal itu.
"Sampai kapanpun aku tidak akan sudi untuk menjadi istrimu!! Kau adalah iblis yang tidak punya hati!! Kau baru saja menyakiti ayahku dan merebut istana ini!! Lebih baik aku mati!!" ucap putri Boa yang sudah beruraian dengan air mata.
"Cihh ... padahal aku sudah berbaik hati dan memberikan penawaran untukmu! Tapi kau malah memberikan tamparan keras untukku dengan menolakku!! Baiklah!! Kalau begitu aku akan mengabulkan permintaanmu, Putri mahkota Boa!! Katakan selamat tinggal untuk dunia ini. Gyahahaha ..." tawa menyeramkan dari raja Hito itu kini mulai memenuhi seluruh kuil ini.
Raja Hito mulai mengangkat tombak apinya lagi dan sudah bersiap untuk menghunuskannya pada tubuh putri mahkota Boa.
"Hiahhtt ... kalian berdua!! Pergilah ke neraka!!" teriak raja Hito semakin mempercepat mengayunkan tombak api itu.
Cih ... sial!! Aku terlambat dan tidak bisa menyelamatkan kaisar Shingen!! Namun aku harus mengakhiri Raja Hito seperti yang sudah tertulis di dalam sejarah!! Ayo, Dazai!! Selamatkan putri mahkota Boa!!
Batin Keiji mulai menarik pedang wields miliknya dan mulai memfokuskan titik energinya pada pedang wields miliknya untuk menjadikan pedang wields sebagai pedang es.
__ADS_1
Dengan cepat Keiji mulai berlari ke arah kaisar Hito untuk menggagalkan serangannya.