
Meskipun di dalam urusan peperangan, Dazai masih cukup nol besar dan tak bisa menggunakan senjata apapun dengan teknik yang baik, namun tekadnya begitu besar untuk berusaha menguasai semuanya!
Yeap, tentu saja itu karena keinginannya untuk menjadi seorang petarung hebat seperti raga yang sedang ditempatinya saat ini. Karena Dazai hanya akan bisa kembali ke masanya setelah Dazai menyelesaikan semua sesuai dalam sejarah. Dan setelah peperangan samurai yang begitu maha dasyat itu tentunya.
"Huft ... hari ini sudah cukup, Masamune! Aku sudah merasa lelah sekali! Semalaman aku bertempur, dan kini sudah berlatih sepanjang sore bersamamu!" celutuk Keiji yang seakan malah menyalahkan Masamune, padahal Keiji-lah yang meminta Masamune untuk menemanjnya berlatih dan mengajarinya.
"Semalaman bertempur?" celutuk Masamune malah berpikir hingga entah kemana. Karena malam itu Masamune sempat memergoki Keiji sedang bermesraan dengan Boa.
"Hhm. Aku akan segera mandi dan bersiap untuk makan malam dulu." sahut Keiji mulai meninggalkan arena pelatihan itu dan segera menuju ruangan pemandian pribadinya itu
Namun tak sengaja Keiji malah melihat Azai yang sedang berbincang bersama dengan istri keduanya-Boa di sebuah lorong istana. Mereka terlihat begitu akrab dan sesekali tertawa bersama.
"Azai dan Boa? Apa yang sedang mereka bicarakan ya?" gumam Keiji masih menatap mereka berdua dari kejauhan. "Hhm ... tunggu dulu!! Aku baru ingat ... jika sebenarnya mereka berdua memang sudah saling mengenal satu sama lain. Dan sebenarnya Azai juga menyukai Boa. Bahkan Azai berniat untuk melamar Boa sebelum penyerangan terhadap kekaisaran Shingen. Lalu kira-kira bagaimana lagi ya ceritanya? Arghh ... aku lupa!! Aku tidak terlalu mengingat kisah mereka, karena bagiku hubungan percintaan tak terlalu penting untuk dipelajari. Huft ... sial!!"
Karena merasa bingung sendiri, akhirnya Keiji memutuskan untuk menghampiri mereka berdua saja.
"Boa ... Azai ..." sapa Keiji menatap lurus mereka berdua secara bergantian.
"Pangeran Keiji." sahut Boa dengan wajah sumringah. "Apa berlatihnya sudah selesai?" imbuh Boa dengan nada bicara lemah lembut seperti biasanya.
Tidak seperti Azai yang terlihat begitu tidak menyukai kehadiran Keiji saat ini. Dan mungkin mengganggapnya sebagai seorang pengganggu.
"Ya, Boa. Aku sudah selesai. Istriku, bisakah kamu mengantarku dan menemaniku mandi? Tubuhku sudah terasa gerah dan sedikit lengket karena peluh. Aku juga butuh seseorang untuk menggosok punggungku." ucap Keiji dengan sengaja agar Azai merasa kesal.
"Ba-baiklah. Aku akan melakukannya." ucap Boa masih dengan malu-malu dan wajahnya seketika juga mulai merona.
__ADS_1
Bagaimana dengan Azai? Wajah Azai seketika juga mulai terlihat merah padam! Namun bukan karena malu, tapi marah dan kesal!
"Baiklah! Ayo, Sayang!" ucap Keiji dengan sangat manis dan hangat menatap Boa sambil berlalu.
Dan lagi-lagi semua itu sengaja dilakukan oleh Keiji untuk membuat Azai semakin kesal padanya. Tentu saja itu semua dilakukan Dazai karena Dazai sudah mengetahui bagaimana sifat Azai yang sebenarnya. Sangat licik luar biasa!!
Mungkin saja jika pengeran Keiji yang sesungguhnya masih berada dalam waktu-waktu ini, mungkin saja dia masih akan selalu bersikap ramah dan menyayangi adik tirinya itu tanpa sedikitpun memendam rasa curiga kepada Azai.
Azai menatap tajam kepergian Keiji dan Boa dengan kedua tangan yang mengepal. Azai juga terlihat mengeraskan rahangnya menatap punggung mereka yang sudah semakin menjauh dari dirinya.
...⚜⚜⚜...
Keiji mulai memasuki ruangan khusus untuk pemandian air hangatnya, sementara Boa mulai menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu masuk, karena merasa ragu dan gugup kembali.
"Ba-baik, Pangeran ..." sahut Boa mulai memasuki ruangan pemandian khusus itu dan segera menutup pintu ruangan.
"Tolong bantu aku melepaskan pakaian zirah dan jubah-jubah ini ..." titah Keiji mulai merentangkan kedua tangannya.
Boa dengan patuh melakukan semua itu dengan begitu pelan dan hati-hati. Satu persatu pakaiaan zirah itu mulai dipreteli oleh Boa dengan begitu lancar, seakan Boa sudah begitu memahami penggunaan dan pelepasan semua pakaian besi itu.
"Kamu begitu lihai membantuku melepaskan semua pakaian zirah ini, apa kamu juga pernah mengenakannya sebelumnya?" tanya Keiji ingin tau dan masih menatap lekat wajah ayu dan kalem itu.
Sementara yang ditatap masih saja fokus melakukan semua pekerjaannya saat ini dengan baik. Namun Boa mulai tersenyum manis, dan kini mulai melepaskan jubah kebanggaan pangeran Keiji.
"Aku sering membantu ayahku saat mengenakan atau melepaskan pakaian zirahnya. Rasanya ... setiap ayah mau pergi meninggalkan istana untuk berperang ... aku selalu menjadi begitu sedih dan khawatir. Karena ayahlah satu-satunya yang aku punya saat itu. Sementara saat ayah sudah pulang dari sebuah pertempuran, maka akulah yang berada di barisan depan untuk menyambut kehadirannya. Bahkan aku sendiri yang membantu ayah melepaskan pakaian zirahnya."
__ADS_1
Jawab Boa dengan seulas senyum, meskipun Keiji sangat tau jika sebenarnya saat ini Boa pasti merasa bersedih kembali karena mengingat sang ayah.
"Hhm. Kaisar Shingen saat ini sudah tenang dan bahagia di surga. Jadi, kamu tidak boleh selalu bersedih. Kamu harus tetap tersenyum dan tetap melangkah bersamaku, dan selalu berada disisiku!" ucap Keiji menatap lekat Boa.
Dan disaat itulah Boa mulai mendongak menatap Keiji dengan anggukan pelan dan tersenyum manis.
"Dan ada sesuatu yang harus selalu kamu ingat, Boa. Kamu tidak boleh terlalu dekat dengan adik tiriku Azai." ucap Keiji dengan intonasi yang lebih serius.
Sebenarnya ucapan Keiji cukup membuat Boa merasa kebingungan. Namun Boa tak banyak bertanya tentang kenapa dan mengapa, wanita cantik itu hanya mengangguk dan patuh terhadap perintah dari sang suami.
"Baiklah. Kamu bisa kembali dan juga bersiap untuk makan malam. Aku akan mandi dulu ..." ucap Keiji dengan hangat.
"Tapi ... bukankah pangeran memintaku untuk menggosok punggung pangeran?" ucap Boa dengan kening sedikit berkerut menatap sang suami.
Keiji tersenyum lebar dan sedikit mencubit pipi kiri Boa yang begitu lembut dan kenyal.
"Arghh ... mengapa pangeran mencubitku?" rintih Boa pelan sambil memegangi pipi kirinya dengan wajah yang sedikit murung tapi terlihat begitu cantik dan menggemaskan.
"Jika kamu masih saja banyak bertanya kepadaku dan tidak segera kembali bersiap, maka aku bukan hanya akan mencubitmu saja. Tapi aku juga akan memakanmu disini juga ..." ucap Keiji disertai tawa kecil.
Boa yang mendengarkan ucapan dari Keiji, kini mulai membulatkan sepasang mata beningnya yang begitu indah, dan sangat tidak menyangka jika pangeran Keiji rupanya cukup nakal dan pandai menggoda.
Dengan sedikit gelagapan akhirnya Boa mulai berpamitan dan segera meninggalkan ruangan pemandian Keiji. Sementara Keiji mulai memasuki kolam pemandiannya, masih dengan tawa kecilnya saking gemasnya melihat istri keduanya.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1