
Pangeran Keiji masih menatap lekat permaisuri Shina yang sepasang matanya terlihat sudah berkaca-kaca karena menahan tangis dan kesedihannya saat ini.
"Shiina ... aku minta maaf padamu. Tapi aku harus menikahinya, Shiina. Desa dia diserang oleh sekawanan perompak. Dan lagi-lagi karena ... uhm ... dan karena sesuatu ... aku harus menikahinya." pangeran Keiji berusaha untuk menjelaskan kepada permaisuri Shiina.
"Apakah akan selalu seperti ini? Apakah kamu harus selalu menikahi seorang gadis disaat kamu membantu hidup mereka?" tanya permaisuri Shiina terdengar begitu bergetar dan menyesakkan dada.
Dan tentu saja ucapan dari permaisuri Shiina cukup membuat pangeran Keiji menjadi merasa bersalah dan seketika pangeran Keiji menjadi terdiam selama beberapa saat.
"Menolong adalah sebuah kebaikan dan itu sangatlah mulia, Pangeran! Namun kamu tidak harus menikahi para gadis yang sudah kamu tolong bukan?" ucap permaisuri Shina kembali terdengar begitu memilukan dan bergetar.
"Shiina dengarkan aku dulu ... aku melakukan semua ini adalah bukan karena keinginanku sendiri. Namun aku melakukan semua ini adalah karena ..." ucap pangeran Keiji belum menyelesaiakan ucapannya.
"Karena apa?" potong permaisuri Shiina mulai menitikkan air matanya karena sudah tak kuasa untuk menahannya lagi. "Kamu selalu saja mengatakan hal seperti itu! Aku menerima putri Boa, bukan berarti aku akan selalu menerima jika kamu selalu membawa pulang ke dalam istana!"
"Shiina, aku mohon padamu. Sekali ini saja mengertilah ... aku berjanji aku tak akan pernah menomorsekiankan kamu. Kamu tetaplah nomor 1 untukku. Permaisuri dari pangeran Keiji Fujiwara hanyalah kamu." ucap pangeran Keiji berusaha untuk menyeka air mata permaisuri Shiina.
Shiina menggeleng pelan dan malah semakin menitikkan air mata hangatnya dan kembali menjatuhi pipinya.
"Aku ... aku akan kembali ke istana ayahku! Aku tidak bisa jika kamu selalu saja begini ..." ucap permaisuri dalam isak tangisnya.
"Shiina, aku mohon padamu jangan pernah pergi! Jangan pernah meninggalkan istana Fujiwara ... aku tak mengijinkanmu untuk meninggalkan istana ini ..." ucap pangeran Keiji memohon dengan penuh penekanan.
Namun tiba-tiba saja penglihatan permaisuri Shiina mulai sedikit tak jelas, dan tubuhnya menjadi begitu lemas dan tak bertenaga hingga membuatnya tak bisa menopang dengan baik tubuhnya sendiri.
Permaisuri Shiina terhuyung hendak terjatuh, namun dengan cepat pangeran Keiji segera menangkap tubuh sang istri.
__ADS_1
"Shiina ... apa yang sudah terjadi? Apa kamu sakit?"
Tak ada jawaban dari permaisuri Shiina, karena saat ini permaisuri Shiina malah pingsan dan tak sadarkan diri. Dengan cepat pangeran Keiji membaringkannya di atas pembaringan dan segera memberikan perintah untuk salah satu pengawal agar memanggilkan seorang tabib istana.
Tak menunggu terlalu lama, kini seorang tabib wanita yang berusia kira-kira 40 tahun mulai memeriksa permaisuri Shiina. Sementara pangeran Keiji terlihat masih berada di dalam kamar dan menunggu sang tabib untuk menyelesaikan pemeriksaannya.
Ada rasa bersalah dalam diri Dazai, namun mau bagaimana lagi? Mau tak mau Dazai harus tetap menjalankan semua ini sesuai dengan yang sudah tertulis di dalam buku Sejarahnya.
Setelah beberapa saat akhirnya sang tabib sudah menyelesaikan pemeriksaannya dengan cara yang super tradisional. Belum memakain stetoskop, termometer, tensimeter, sudip lidah, senter medis dan masih banyak lagi.
"Bagaimana keadaan istriku, Tabib? Apakah istriku sedang sakit? Lalu sakit apa permaisuri Shiina?" tanya pangeran Keiji tak sabaran.
Sang tabib wanita itu tersenyum tipis, membuat guratan-guratan halus pada wajahnya semakin terlihat semakin jelas dan kentara. Lalu sang tabib wanita itu mulai menyampaikan hasil pemeriksaannya.
"Selamat pangeran Keiji! Sang penerus pangeran kelak, akan segera terlahir di bumi ini. Permaisuri Shiina sedang hamil." ucap sang tabib wanita itu memberikan selamat.
Benar juga, ini adalah sudah waktunya permaisuri Shiina hamil. Tapi ... tak aku sangka akan secepat ini. Aku bahkan baru berhubungan sekali saja dengan permaisuri Shiina. Semoga ini adalah anak dari pangeran Keiji Fujiwara yang sebenarnya. Argghh ... apa yang seeang aku pikirkan?! Tentu saja ini adalah putra dari pangeran Keiji Fujiwara! Tubuh ini adalah tubuhnya! Huft ... setidaknya ambil sisi baiknya saja! Semua sudah berjalan sebagaimana mestinya. Semua sudah berjalan sesuai dengan sejarah!
Batin pangeran Keiji mulai tersenyum dan terlihat sedang berbahagia.
"Benar sekali, Pangeran. Tolong untuk selalu menjaga kondisi badan dan pikirannya. Karena ini adalah kehamilan muda, maka permaisuri Shiina harus banyak beristirahat, tidak boleh terlalu lelah, tidak boleh stres dan memiliki banyak pikiran." ucap sang tabih wanita.
"Baiklah. Tolong umumkan kepada semua keluarga istana! Jika aku akan segera memiliki seorang anak!! Jika sang penerus kerajaan Fujiwara akan segera terlahir di muka bumi ini." perintah pangeran Keiji dengan wajah yang sangat berbinar.
"Baik, Pangeran. Kalau begitu saya permisi." pamit sang tabib wanita sambil membungkukkan badannya dan segera meninggalkan kamar ini.
__ADS_1
Pangeran Keiji mulai mendekati permaisuri Shiina yang masih terbaring di atas pembaringannya, lalu mulai duduk bersila di dekatnya. Sepasang netranya masih menatap wanita cantik yang masih terpejam itu.
Permaisuri Shiina seharusnya akan tetap berada di istana Fujiwara dan rupanya kehamilannya inilah yang akan menahannya. Aku harus lebih sering memperhatikannya. Jangan sampai permaisuri Shiina merasa sedih dan ingin meninggalkan istana ini lagi. Huft ... rupanya menjadi seorang pangeran dan memiliki banyak istri itu tidak mudah ya, tidak seenak yang dibayangkan. Hebat sekali ya pangeran Keiji bisa mengatasi semua problema hidupnya.
Batin Dazai yang masih duduk bersila di dekat permaisuri Shiina.
"Emhh ..." tiba-tiba saja permaisuri Shiina mulai merubah posisi tidurnya sambil memegangi keningnya yang mungkin masih dirasakan sedikit pusing.
Perlahan permaisuri Shiina mulai membuka sepasang matanya.
"Shiina sayang ... kamu sudah sadar. Syukurlah ..." ucap pangeran Keiji dengan senyum lebar.
"Ughh ... apa yang sudah terjadi padaku? Aku merasa tubuhku begitu lemas dan tak bertenaga. Dan kepalaku juga sedikit pusing ..." gumam permaisuri Shiina berusaha untuk duduk dibantu oleh sang suami.
"Istriku Shiina sayang, kamu sedang hamil. Kita akan segera memiliki seorang putra." ucap pangeran Keiji dengan wajah yang begitu berbinar.
"Hamil? Aku hamil? Benarkah itu, Suamiku?" tanya permaisuri Shiina seakan masih tak yakin dengan apa yang baru saja dia dengarkan dari suaminya!
"Iya, Sayang. Kita akan segera memiliki seorang anak. Sesuatu yang selama ini sudah kita nantikan." ucap pangeran Keiji masih dengan wajahnya yang berbinar.
Saking bahagianya akhirnya permaisuri Shiina langsung memeluk pangeran Keiji dan melupakan rasa kesalnya beberapa saat yang lalu.
"Akhirnya aku hamil ... aku bahagia sekali." gumam wanita cantik itu masih berada dalam pelukan sang suami.
"Hhm ... mulai sekarang aku akan lebih memperhatikanmu. Kamu tidak boleh terlalu lelah, kamu harus memperbanyak istirahat, dan kamu jangan terlalu banyak pikiran." ucap pangeran Keiji mengusap lembut rambut permaisuri Shiina.
__ADS_1
"Hhm. Iya, Suamiku ..." sahut permaisuri Shiina dengan lembut.
Namun tiba-tiba saja permaisuri Shiina malah mendorong tubuh pangerqn Keiji dengan begitu kasar.