
SWUSHH ...
Setelah beberapa saat cahaya itu mulai menghilang dan tubuh sang shogun lawan. Dan seketika tubuhnya terjatuh kembali di atas lantai bersama dengan katana dan tombaknya, karena sudah merasa tak berdaya karena sudah kehilangan cukup banyak energi.
BRUGHH ...
Pangeran Keiji mulai melenggang dengan langkah lebarnya dan begitu gagah mendekati sang shogun yang sudah tak berdaya di atas lantai. Sudut-sudut bibirnya mulai ditariknya membentuk sebuah seringai manis bak setan itu.
JLEBB ...
Tanpa untaian kata apapun, kini pangeran Keiji mulai mengangkat pedang wields miliknya lalu menghunuskan pedang wields yang bercahaya terang dan sedingin es itu tepat pada jantung sang shogun lawan.
"Arghhh ..." erang sang shogun dengan sepasang mata yang membelalak lebar, sementara darah segar mulai dimuntahkannya, hingga setelah beberapa detik saja, pria berjenggot itu mulai menghembuskan nafas terakhirnya.
Kekalahan dari sang shogun dari kekaisaran Nobuhide, rupanya membuat Nobuhide menjadi lemah. Sang panglima perang dari kekaisaran Nobuhide juga sudah berakhir di tangan panglima perang Masamune dengan shuriken raksananya yang berhasil memutus urat nadi lehernya.
Suara lolongan serigala yang mengiringi peperangan pada malam ini menambah situasi menjadi semakin mencekam. Angin yang berhembus semakin dingin juga terasa membekukan tubuh.
Namun akhirnya peperangan kali ini mulai berakhir dan dimenangkan oleh kekaisaran Fujiwara seperti sebagaimana mestinya.
...⚜⚜⚜...
Di dalam sebuah kamar kerajaan yang begitu mewah dan bernuansa merah maron, terlihat putri Boa yang mulai merawat luka pangeran Keiji. Sebenarnya permaisuri Shiina sangat ingin melakukan semua itu.
Namun rupanya permaisuri Shiina malah mengalami mual yang berlebihan dan tubuhnya menjadi lemah kembali karena kehamilan mudanya saat ini. Hingga akhirnya putri Boa-lah yang melakukan semua itu.
__ADS_1
"Arghh ... ini perih sekali, Boa!" ucap pangeran Keiji menahan rasa sakit dan perih luka sayat pada bagian antara leher dan bahu lebarnya.
"Maaf. Aku akan melakukannya dengan lebih hati-hati ..." ucap Boa mulai memelankan saat mengobati luka itu dengan senuah obat tradisional yang sudah disiapkan oleh tabib istana.
Mengapa pangeran Keiji terlihat begitu manis dan menggemaskan? Padahal luka ini biasanya tak akan terlalu dirasakan sakit olehnya bukan? Selama ini aku selalu mendengarkan dari ayah, jika pangeran Keiji adalah pria kuat dan tidak lemah. Namun malam ini rupanya dia juga bisa mengaduh kesakitan. Ini sungguh manis sekali ...
Batin Boa tersenyum tipis saat mengobati luka sayat itu.
Pangeran Keiji yang menyadari jika Boa selalu saja tersenyum, kini mulai merasa kebingungan sendiri. Hingga akhirnya seorang Dazai yang memang selalu tak tahan untuk menghadapi rasa keingintahuannya, kini mulai menanyakan hal itu kepada istri keduanya.
"Ada apa, Boa? Mengapa kamu tersenyum terus?" tanya pangeran Keiji dengan kening berkerut menatap sang istri.
Putri Boa yang seakan merasa tertangkap basah, kini mulai menghentikan senyumannya dan menjadi sedikit tergagap.
"Uhm ... tidak, Pangeran. Tidak ada apa-apa kok." kilah putri Boa mulai meletakkan kembali obat-obatan tradisional itu di atas meja.
Namun, entah mengapa pangeran Keiji malah terus menatap dan terpana melihat kecantikan putri Boa yang saat ini begitu dekat dengannya. Wajahnya terlihat begitu ayu dan tak pernah membuatnya merasa bosan.
Jubah berlapis berwarna kehijauan yang sedang dikenakannya malam ini membuatnya terlihat semakin anggun dan menawan. Rambutnya yang hitam panjang hanya sedikit digulung ke belakang dengan sangat sederhana dan simpel.
"Boa ..." ucap pangeran Keiji tanpa sadar dan masih menatap lekat putri Boa.
Suaranya begitu lirih dan maskulin. Gadis manapun yang mendengarkannya pasti akan luluh dan bergetar hatinya. Seakan tersihir begitu saja dengan suaranya yang mungkin saja di jaman modern dikenal dengan kata sexy.
"Ya, Pangeran ..." putri Boa menyauti dan mulai sedikit mendongak untuk menatap pangeran Keiji.
__ADS_1
Pandangan mereka berdua kini saling bertemu dan menyapa dengan hangat. Seakan putri Boa memang juga sudah tersihir oleh ketampanan sang pangeran yang baru saja menikahinya beberapa pekan lalu.
Kedua anak manusia ini kini mulai terhanyut dalam kekagumannya masing-masing dan kehangatan malam yang begitu dingin ini.
"Kamu sangat cantik ..." ucap Dazai tanla sadar, ataukah sebenarnya raga dari pangeran Keiji yang membuat Dazai mengatakan hal itu. Entahlah ...
Mendengar pujian yang diberikan oleh sang suami, membuat putri Boa merona dan tersipu malu. Wajah putihnya yang begitu cantil itu, kini mulai terlihat memerah.
"Bukan hanya wajahmu yang cantik. Namun hatimu juga sangat cantik ..." imbuh pangeran Keiji dengam hangat dan jujur. "Rupanya sejarah tak pernah berbohong ..." imbuh pangeran Keiji keceplosan.
"Sejarah?" gumam putri Boa dengam kening berkerut karena tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh sang suami.
"Uhm ... maksudku adalah ... kelak kau akan dikenal sebagai selirku yang begitu lembut dan baik hati. Semua orang akan mengenalimu dan sangat mengagumi dirimu. Karena selain baik dan lembut, kamu juga sangat pemberani dan tak pernah takut untuk menghadapi kematian yang ditawarkan oleh kaisar Hito saat itu. Kamu sungguh wanita yang sangat luar biasa." ucap pangeran Keiji begitu takjub dan kagum.
Untaian kata dari pangeran Keiji membuat Putri Boa termenung beberapa saat. Dan mungkin putri Boa merasa sedih kembali saat mengingat malam kematian dang ayah saat itu. Namun setelah beberapa saat akhirnya putri Boa mulai tersenyum tipis kembali.
"Semua wanita pasti akan memilih hal yang sama, Pangeran." jawab putri Boa tersenyum hangat menatap pangeran Keiji dan mulai menyudahi membalut bagian luka pada tubuh sang suami.
"Tidak ... tidak semua wanita akan melakukan hal yang sama sepertimu, Boa. Terkadang rasa takut dari seseorang bisa mengalahkan semuanya. Namun cinta dan kasihmu lebih besar dibanding dengan rasa takutmu. Kamu wanita yang sungguh luar biasa!" ucap pangeran Keiji mulai menyibak rambut samping putri Boa ke belakang telinganya.
Perlahan pangeran Keiji mulai memiringkan wajahnya dan semakin mendekati wajah putri Boa yang sudah semakin merona karena merasa malu. Namun tiba-tiba saja secara reflek putri Boa mulai menutup sepasang matanya dan bersiap untuk menyambut sesuatu dari sang suami.
Kecupan hangat itu mulai terjadi dengan begitu manis dan lembut. Bahkan pangeran Keiji juga semakin mendorong tubuh putri Boa dan membuatnya berbaring di atas pembaringan bernuansa merah maron itu.
Ada apa denganku? Mengapa akhir-akhir ini aku semakin tak bisa mengontrol dan menahannya? Apakah ini adalah karena raga dari pangeran Keiji yang menginginkannya? Oh ... aku tidak tau ...
__ADS_1
Batin Dazai yang sudah mulai berusaha untuk melakukan hal lainnya lagi.