Become The 6 TH Heaven Lord Demon With System

Become The 6 TH Heaven Lord Demon With System
Di Dalam Hutan Bayangan


__ADS_3

Dazai yang berada pada barisan paling depan kini mulai menghentikan pacuan kudanya dan terlihat begitu ragu untuk melanjutkan perjalanannya kembali. Karena hutan ini benar-benar terlihat sangat kelam dan mencekam!! Bahkan sudah membuat bulu kuduk Dazai berdiri.


"Pangeran Keiji, ada apa?" pertanyaan dari panglima perang Masamune kini mulai membuyarkan angan Dazai.


"Oh, tidak ada! Masamune-sama! Kamu majulah dulu! Sebagai bawahanku, seharusnya kamu memastikan terlebih dulu bukan jika yang akan kita lalui aman?" ucap pangeran Keiji yang menurut panglima perang Masamune tidak seperti biasanya.


Karena pangeran Keiji yang mereka kenal adalah sosok pemberani dan tak akan pernah takut kepada apapun. Namun tanpa banyak bertanya lagi, akhirnya panglima perang Masamune mulai memimpin jalan untuk memasuki hutan bayangan yang begitu gelap itu.


Lalu mulai diikuti oleh pangeran Keiji dan para prajurit lain yang didominasi dengan para pemanah dan penembak. Bahkan hanya sedikit prajurit pedang.


Dan semua ini tentu saja atas perimtah pangeran Keiji. Entah mengapa kali ini pangeran Keiji memerintahkan lebih banyak pemanah atau penembak untuk membersamainya. Yang pasti, semua itu sudah dipikirkannya dengan matang.


"Ugh ... dingin sekali hutan bayangan ini." gumam pangeran Keiji pelan dan masih menarik pacuan kudanya dengan pelan sambil mengawasi sekitarnya yang sudah dipenuhi dengan pepohonan.


Sudah cukup lama mereka menyusuri jalanan setapak di dalam hutan bayangan itu, dan suasana di dalam hutan juga menjadi semakin gelap karena hari yang memang sudah semakin petang.


Kenshin, aktifkan elemen cahayaku!


Titah pangeran Keiji membatin sambil mulai memfokuskan titik energi pada tangannya yang sudah bersiap untuk menghubungkannya dengan pedang wields miliknya yang sudah dia cabut dari sarungnya.


[ Baik, Tuan Dazai. Elemen cahaya level 7 akan segera diaktifkan. ]


DING ...


Setelah beberapa detik saja kini pedang wields milik pangeran Keiji sudah bercahaya dengan begitu terang. Dan pangeran Keiji menggunakannya untuk menerangi jalan yang akan dilaluinya, meskipun sebenarnya beberapa pengawal juga sudah membawa lentera.


"Masamune-sama! Dimana kita bisa menemukan tanaman obat itu?" tanya pangeran Keiji sudah tidak sabaran.

__ADS_1


"Ada di balik hutan bayangan ini dan berada di lembah yang dijaga oleh seekor naga, Tuan." jawab panglima Masamune.


"Kalau dijaga dengan naga, lalu bagaimana kita bisa mendapatkan tanaman obat itu? Apakah kita harus mengalahkan naga itu? Atau bagaimana?" tanya pangeran Keiji.


"Biasanya naga itu akan memberikannya kepada orang yang dia kehendaki. Dan sebelum itu naga penjaga akan memberikan sebuah persyaratan." jawab panglima perang Masamune yang pernah sekali menemani prajurit istana untuk mengambil tanaman obat itu.


"Tapi dia tidak akan membunuh kita bukan?" tanya pangeran Keiji merasa sangat was-was.


"Semua itu tergantung. Jika tidak bisa menghadapinya dan membuatnya marah, mungkin saja naga itu akan berusaha untuk memusnahkan kita." ucap panglima perang Masamune yang membuat pangeran Keiji terperanjat.


Sangat tidak lucu bukan jika pangeran Keiji akan gugur di tangan seekor naga. Terlebih semua itu tidak pernah dipelajari Dazai dalam pelajaran sejarahnya. Itu artinya Dazai pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Tapi bagaimama?


Mungkin seperti itulah yang sedang dipikirkan oleh Dazai saat ini. Dan Dazai cukup dibuat pusing untuk menyelesaikan misi kali ini.


"Tenang saja, Tuan Keiji. Makhluk surgawi itu tak akan sembarangan musnahkan manusia. Karena naga dianggap sebagai simbol kedermawanan, pelindung manusia kebijaksanaan, kekuatan, kekuasaan, kebaikan dan keberuntungan. Bahkan naga bisa disamakan dengan kedudukan seorang kaisar." ucap panglima perang Masamune yang masih memimpin di depan.


"Masamune-sama! Apa kamu dengar itu? Siapa gadis yang menyanyi di tengah hutan yang begitu gelap seperti ini?" tanya panglima Keiji yang masih berada di sisi samping belakang panglima perang Masamune.


"Jangan hiraukan suara itu dan tetap maju untuk segera mendapatkan apa yang sedang kita cari, Pangeran! Itu hanyalah ilusi yang akan membuat kita tersesat di dalam hutan bayangan ini." jawab panglima perang Masamune masih fokus menatap ke arah depan.


Pangeran Keiji tak menjawabnya lagi dan berusaha untuk tetap fokus untuk berkuda dan mengikuti Masamune. Namun kini dia malah melihat seorang gadis cantik yang sedang mengintipnya dari balik sebuah pohon besar.


Ai, teman kuliah satu fakultasku. Mengapa dia juga ada di jaman ini? Apa dia juga sedang terjebak di masa ini seperti aku? Wah ... aku harus menemuinya.


Batin Dazai yang masih melihat gadis cantik yang dianggapnya teman di jaman modernnya.


"Masamune ..." ucap pangeran Keiji mulai memanggil Masamume dan masih menatap gadis cantik dengan pakaian almamater kampusnya itu.

__ADS_1


"Jangan hiraukan, Pangeran! Itu hanyalah halusinasi pangeran saja. Tetap fokus pada tujuan utama, Pangeran." ucap Masamune kembali mengingatnya.


Mengapa pangeran Keiji masih saja membayangkan gadis lain? Padahal dia sudah memiliki 3 orang istri yang sangat cantik dan baik hati. Apakah permaisuri Shiina, putri Boa dan putri Kikiyo masih belum cukup untuknya?


Batin Masamune tidak memahami semua itu.


Halusinasi? Ilusi? Jadi dia bukan Ai teman satu fakultasku? Hhm ... apakah ilusi ini begitu memahami tentang diri semua orang yang sedang mengunjunginya? Keren sekali! Tapi juga mengerikan!! Hiii ...


Batin Dazai mulaii mempercepat pacuan kudanya kembali untuk mengejar Masamune.


Setelah beberapa saat akhirnya mereka semua mulai keluar dari hutan bayangan dan melihat sebuah lembah yang terbentang cukup luas di hadapannya itu.


Bentangan alam yang dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan itu terlihat begitu gelap dan hanya bercahayakan dengan cahaya rembulan saja.


Mereka mulai memacu kembali kuda mereka hingga mereka mulai berhenti kembali saat melihat seeokor makhluk besar yang memiliki sayap, tanduk, empat kaki, dan memiliki bentuk seperti ular mulai terbang ke udara dengan pelan. Makhluk itu mulai mendongak ke atas dan mulai mengeluarkan nafas api.


KKKEEKKKK ...


SWWOOSHHH ...


Pangeran Keiji yang melihat semua itu seketika kembali bergidik ngeri dengan sepasang mata yang membulat sempurna. Karena di seumur hidupnya, ini adalah pertama kalinya dia melihat makhluk seperti itu.


"Astaga ... besar sekali hewan itu. Hanya dengan melihatnya saja sudah membuatku bergidik ngeri. Lalu bagaimana aku bisa menghadapi hewan itu dan membuatnya menyerahkan tanaman obat itu padaku?" gumam pangeran Keiji pelan dengan tubuh yang sedikit bergetar.


Sementara sepasang netranya masih mengawasi makhluk besar yang masih terbang di udara itu.


"Kenshin, kini apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa menyelesaikan misi kali ini? Ini sungguh menakutkan sekali ..." gumam pangeran Keiji sangat lirih.

__ADS_1


__ADS_2