
Kini pandangan permaisuri Shiina mulai terfokus pada sebuah kue yang sudah diberikan oleh sang suami beberapa saat yang lalu.
Karena melihat bentuk dari kue itu yang sedikit lucu dan berwarna-warni, kini akhirnya permaisuri Shiina mulai memakan sepotong kue itu. Dan karena permaisuri Shiina merasa jika kue itu enak dan lezat, bahkan perutnya bisa menerimanya tanpa rasa mual dan muntah, akhirnya permaisuri Shiina mulai memakan beberapa potong kue itu.
Setelah beberapa saat, akhirnya pangeran Keiji sudah datang kembali dengan membawakan satu set cangkir kuno yang sudah berisi dengan susu coklat hangat yang baru saja dibuatnya di dapur istana.
"Shiina. Minumlah ini. Kau pasti menyukainya." ucap pangeran Keiji sambil memberikan secangkir susu coklat hangat itu.
"Apa ini?" tanya permaisuri Shiina menatap benda cair berwarna coklat yang berada di dalam cangkir kuno itu.
"Ini adalah susu coklat hangat. Minumlah ... rasanya hampir seperti coklat yang saat itu kamu makan kok." bujuk pangeran Keiji agar permaisuri Shiina mau meminumnya.
Akhirnya permaisuri Shiina mengangguk pelan dan meneguknya dibantu dengan pangeran Keiji.
"Bagaimana? Apa kamu menyukainya?" tanya pangeran Keiji sangat ingin tau.
Permaisuri Shiina mulai menarik sudut-sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman manis dan mengangguk pelan.
"Aku tak pernah miminum minuman seperti ini sebelumnya. Ini enak sekali." gumam permaisuri Shiina mulai meneguknya kembali.
"Syukurlah. Jika belum bisa makan apapun, kamu boleh meminta pelayan untuk membuatkannya untukmu. Kebetulan aku masih memiliki beberapa lagi. Yah ... meskipun tidak banyak sih." ucap pangeran Keiji.
"Hhm. Iya ..."
"Kalau tau aku akan terlempar ke jaman Muromachi ini, pasti aku akan membawa banyak bekal deh. Karena sebenarnya aku juga rindu beberapa makanan cemilan kesukaanku." gumam pangeran Keiji tanpa sadar.
"Hhm? Apa? Apa yang sedant kamu bicarakan, Suamiku?" tanya permaisuri Shiina dengan kedua alis indahnya yang berkerut saling berdekatan.
"Oh ... itu ... tidak kok!! Tidak ada! Aku hanya ingin kamu baik-baik saja. Hehe ..." kilah pangeran Keiji sedikit gelagapan. "Baiklah, sekarang tidur dan istirahatlah. Aku akan menemanimu hingga kamu tidur."
__ADS_1
"Hingga aku tidur saja?" tanya permaisuri Shiina kembali murung.
"Bukan. Maksudku adalah ... uhm ... aku akan menjaga dan menemanimu malam ini. Tidurlah, Sayang." ucap pangeran Keiji sedikit gelagapan.
"Hhm. Baiklah ..." sahut permaisuri Shiina mulai tersenyum kembali.
"Kemarilah. Mari kita tidur ..." ucap pangeran Keiji sambil berbaring miring dengan tangan kanan masih menopang kepalanya.
Sementara permaisuri Shiina juga mulai berbaring miring menghadap pangeran Keiji. Disaat itulah pangeran Keiji mulai melingkarkan tangan kirinya di atas tubuh permaisuri Shiina, karena kini mereka tidur bersama di atas pembaringan yang sama.
"Apa sudah merasa lebih baik? Tidak merasa mual lagi?" tanya pangeran Keiji begitu lirih dan sedikit membelai rambut panjang sang istri.
"Tidak kok. Tapi rasanya masih lemas sekali." jawab permaisuri Shiina semakin menenggelamkan kepalanya pada dada bidang pangeran Keiji.
"Hhm? Setelah bersama denganku kamu merasa tidak mual? Apakah itu artinya kamu sedang merindukanku, Shiina?" ucap pangeran Keiji dengan nada jenaka menggoda sang istri.
Untaian kata dari permaisuri Shiina seketika membuat pangeran Keiji merasa tersudut dan merasa sangat bersalah. Namun bukan Dazai namanya jika dia tidak bisa menyelesaiakan kegundahan hati dari permaisuri Shiina.
"Aku minta maaf jika memiliki waktu yang tidak cukup banyak untukmu, Sayang. Aku berjanji akan lebih banyak menemanimu. Aku ingin melihat tumbuh kembang putra kita. Dan aku juga ingin menemanimu." ucap pangeran Keiji mengecup hangat kening sang istri.
"Sekarang tidur dan istirahatlah ..."
"Hhm ..."
...⚜⚜⚜...
Sementara itu di dalam sebuah kamar bernuansa merah maroon, terlihat seorang gadis sedang berdiri menatap langit malam yang bertaburan dengan bintang dari balik jendela kamarnya.
Wajah ayunya terlihat begitu murung dan sesekali dia menghembuskan nafas kasarnya di udara. Seperti ada sebuah kesedihan dan kegusaran yang sedang dirasakannya saat ini.
__ADS_1
"Ini sudah sangat malam. Mengapa pangeran Keiji belum juga datang kembali? Apa dia sedang mengerjakan sesuatu? Atau ... apakah bersama istrinya yang lain?" gumam gadis yang tak lain adalah Kikiyo itu terlihat begitu murung.
"Huft ... sepertinya pangeran Keiji memang tidak pernah menginginkan aku untuk menjadi istrinya. Bahkan mungkin dia tidak akan pernah tertarik denganku. Lagipula saat itu, akulah yang merengek untuk dinikahi oleh pangeran Keiji. Sungguh memalukan sekali ... aku sungguh tidak menyangka sebelumnya jika rupanya dia adalah pangeran Keiji. Huft ..." gumam Kikiyo mulai menutup jendela kamarnya dan memutuskan untuk segera beriatirahat saja.
...⚜⚜⚜...
Hari demi hari berlalu dengan begitu cepat, bahkan kini permaisuri Shiina sudah melahirkan seorang putra yang diberi nama Yan Fujiwara. Seorang bayi yang sangat lucu dan menggemaskan tentunya. Dan tenrunsaja Yan Fujiwara sangat tampan seperti pangeran Keiji.
Dan kelahiran Yan Fujiwara tentunya membuat seluruh anggota keluarga istana dan rakyat Fujiwara begitu berbahagia. Seakan telah mendapatkan sebuah keberuntungan besar karena mendapatkan penerus kelak.
Namun Kebahagiaan itu tak dirasakan oleh pangeran Azai dan Magoichi. Karena mereka juga menganggap kehadiran Yan Fujiwara akan mengancam dan menghambat pangeran Azai untuk menjadi seorang kaisar kelak.
Tiga pekan berlalu dengan cepat,dan disaat itulah putri Boa juga melahirkan seorang putri yang diberikan nama Rie Fujiwara. Seorang putri yang begitu cantik dan menggemaskan.
Sebenarnya Rie Fujiwara sangat mirip dengan pangeran Keiji. Atau mungkin bisa dikatakan pangeran Keiji dalam versi seorang gadis.
Sementara saat ini Kikiyo juga sudah hamil dengan usia kehamilan yang sudah cukup besar. Kira-kira kehamilannya berusia 8 bulan.
...⚜⚜⚜...
"Tak aku sangka aku bisa terjebak di jaman Muromachi begitu lama. Apakah waktu di jaman ini berlangsung sama dengan waktu di masa modern, Kenshin?" tanya pangeran Keiji mulai merindukan kedua orang tuanya dan segala hal yang berda di masa modern.
[ Tidak, Tuan. Satu tahun berada di masa Muromachi ini akan lebih singkat di waktu modern. Tuan Dazai tenang saja. Tubuh tuan Dazai di masa tuan masih baik-baik saja dan saat ini sedang berada di rumah sakit tak sadarkan diri. ]
Jawab Kenshin sang pemandu sistem.
"Wah ... seperti itu ya? Syukurlah jika memang seperti itu. Kasihan ibu dan ayah jika terlalu lama bersedih melihatku koma. Aku takut mereka melupakanku dan malah membuat adek baru untukku ..." gumam Dazai dengan raut wajah murung.
[ ???? ]
__ADS_1