
Pangeran Keiji Fujiwara? Jadi pria yang sudah aku paksa untuk menikahiku adalah pangeran Keiji Fujiwara? Putra pertama dari kaisar Hanbei Fujiwara? Oh tidak! Bagaimana ini? Bahkan beberapa saat yang lalu aku sudah hampir membunuhnya dengan anak panahku ...
Batin Kikiyo mulai gelisah kembali karena menyadari sebuah kenyataan ini.
"Hhm. Persiapkan kuda untukku, Masamune-sama! Kita akan segera kembali ke istana!" titah pangeran Keiji dengan suara yang begitu tegas dan berkharisma.
"Baik, Pangeran Keiji. Akan aku persiapkan kuda untuk pangeran." sahut panglima perang Masamune dengan nada bicara yang begitu rendah.
"Oh iya. Perintahkan juga untuk para pelayan istana dan semuanya untuk mempersiapkan sebuah pesta pernikahan untukku besok! Aku akan menikahi nona Kikiyo!" ucap pangeran Keiji mulai beralih menatap Kikiyo yang saat ini malah terlihat seperti orang yang sedang ling lung dan kebingungan.
"Baik, Pangeran Keiji." jawab panglima perang Masamune dengan patuh, meskulun sebenarnya penuh dengan beberapa tanda tanya di dalam hatinya.
Seperti, menikah lagi? Tidak cukupkah memiliki 2 orang istri? Padahal kedua istrinya sangat cantik dan putri yang begitu terhormat dan memiliki keturunan yang jelas dan bermartabat. Namun mengapa pangeran Keiji masih mau menikah kembali? Dan kali ini pangeran Keiji malah mau menikahi seorang gadis pemanah yang memiliki latar belakang tidak jelas ini?
Mungkin seperti itulah yang sedang dipikirkan oleh panglima perang saat ini. Namun tentu saja semua pertanyaan itu hanya bisa dia simpan dengan sangat rapat dan rapi oleh panglima perang Masamune.
"Oh ... it-itu ... uhm ... anu ..." ucap Kikiyo menyela dan tiba-tiba saja malah menjadi tergagap dan salah tingkah.
"Tenang saja! Semua urusan pernikahan akan diurus oleh orang-orangku. Mari sekarang kita segera kembali ke istana Fujiwara, Nona." ucap pangeran Keiji dengan entengnya.
Sebenarnya Kikiyo adalah putri tunggal dari seorang tabib yang begitu terkenal di desanya. Namun karena beberapa tahun yang lalu terjadi sebuah penyerangan di desanya, sang ayah tak sengaja terbunuh oleh salah satu dari mereka.
Sementara sang ibu juga sudah meninggal cukup lama karena sebuah penyakit. Hingga akhirnya selama 3 tahun ini, Kikiyo hanyalah hidup seorang diri, dengan menjadi seorang petarung wanita dan juga sebagai seorang tabib di dalam desa kecilnya.
Pangeran Keiji mulai mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Kikiyo berdiri. Pada awalnya Kikiyo terlihat begitu ragu, namun akhirnya Kikiyo mulai menerima uluran rangan itu dan berdiri.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1
Pangeran Keiji mulai memasuki wilayah istananya dan diikuti oleh panglima perang Masamune dan para prajuritnya. Di sepangjang jalan beberapa rakyatnya selalu memberikan penghormatan untuk pangeran Keiji yang melaluinya.
Wilayah kerajaan Fujiwara terlihat begitu asri dan memiliki udara yang masih begitu sejuk dan alami. Jembatan klasik berwarna merah yang dibangun di atas sungai itu selalu terlihat memukau oleh jiwa Dazai.
Karena di masa modern jembatan, bangunan kuno seperti saat ini sangatlah langka. Kalaupun ada itu adalah di sebuah kawasan tertentu.
Rupanya kehadiran sang pangeran Keiji sudah disambut oleh kedua istrinya. Permaisuri Shiina dan putri Boa terlihat begitu berbinar saat menyambut kembalinya sang suami.
Namun senyuman kedua wanita cantik itu kini mulai memudar saat melihat pangeran Keiji yang datang bersama seorang gadis gadis yang mengenakan jubah putih besar milik sang pangeran Keiji.
Siapa gadis itu?
Batin permaisuri Shiina mulai terlihat sedikit murung kembali.
Tidak seperti putri Boa yang masih bisa sedikit menutupi keresahannya dengan senyumannya. Meskipun sebenarnya di dalam hatinya juga begitu ingin tau, siapa sebenarnya gadis yang kali ini dibawa pulang oleh sang suami.
"Shiina, Boa ... dia adalah Kikiyo. Dan aku akan menikahinya besok. Tolong kalian bantu Kikiyo untuk pernikahannya esok." ucap pangeran Keiji terdengar begitu berwibawa dan bijak, seperti sosok aslinya.
"Pernikahan?" celutuk permaisuri Shiina begitu terkejut seakan masih tak percaya akan apa yang baru saja dia dengar dari sang suami.
Keningnya berkerut dan terlihat ada sebuah kekecewaan yang terlukis pada wajah ayu permaisuri Shiina. Sementara putri Boa lebih memilih untuk diam dan patuh dengan apa yang sudah diperintahkan oleh sang suami.
"Ya, Istriku Shina. Aku harus menikahi Kikiyo. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu nanti." jawab pangeran Keiji dengan pelan dan menatap lekat istri pertamanya berharap permaisuri Shiina bisa menerima kehadiran Kikiyo.
"Istriku Boa. Tolong antarkan Kikiyo ke kamarnya dan bantu dia untuk membersihkan dirinya." ucap pengeran Keiji beralih menatap putri Boa.
"Baik, Pangeran." putri Boa menyauti dengan pelan dan begitu patuh lalu mulai mengajak Kikiyo untuk segera pergi ke kamar barunya.
__ADS_1
Sebelum Kikiyo meninggalkan mereka, gadis cantik itu juga memberikan salam penghormatannya untuk permaisuri Shiina dan pangeran Keiji.
Permaisuri Shiina masih saja terlihat begitu murung sambil melihat punggung putri Boa dan Kikiyo yang sudah berjalan semakin menjauh darinya.
"Istriku Shiina sayang." ucap pangera Keiji sambil meraih kedua baju istrinya dan menghadapkannya.
Namun rupanya permaisuri Shiina segerq menepis kedua tangan sang suami dan berpaling kembali.
"Aku akan beristirahat sebentar. Aku merasa tidak enak badan." ucap permaisuri Shiina mulai melenggang meninggalkan pangeran Keiji.
Namun rupanya pangeran Keiji malah mengikutinya hingga sampai ke kamarnya.
"Aku mau istirahat. Kepalaku pusing sekali ..." ucap permaisuri Shiina kembali saat mereka sudah sampai di kamar.
"Apakah perlu aku panggilkan tabib istana? Atau ... uhm ... bagaimana jika Kikiyo saja yang memeriksamu, Sayang? Biar bagaimanapun Kikiyo adalah juga seorang tabib." ucap pangeran Keiji mengusulkan.
Mendengar nama itu disebutkan kembali oleh sang suami seketika kembali membuat permaisuri merasa semakin kesal kembali.
Yeap! Wanita mana yang rela ketika harus berbagi suami bersama wanita lain? Saat berbagi dengan putri Boa saja, permaisuri Shiina merasa begitu sakit dan sesak. Kini dia harus merasakannya kembali, karena suaminya akan kembali menikahi seorang gadis.
Perasaan wanita mana yang tidak hancur ketika melihat semua itu? Meskipun pangeran Keiji menikahi para wanita itu dengan sebuah alasan, namun tetap saja alasan itu tidak akan bisa mengurangi lara dalam hati.
"Aku mohon padamu ... saat ini aku tidak ingin membahas tentang dia ..." ucap permaisuri Shiina begitu lirih dan sepasang matanya sudah mulai terlihat berkaca-kaca.
"Shiina ... aku minta maaf padamu. Tapi aku harus menikahinya, Shiina. Desa dia diserang oleh sekawanan perompak. Dan lagi-lagi karena ... uhm ... dan karena sesuatu ... aku harus menikahinya." pangeran Keiji berusaha untuk menjelaskan kepada permaisuri Shiina.
"Apakah akan selalu seperti ini? Apakah kamu harus selalu menikahi seorang gadis disaat kamu membantu hidup mereka?" tanya permaisuri Shiina terdengar begitu bergetar dan menyesakkan.
__ADS_1
Dan tentu saja ucapan dari permaisuri Shiina cukup membuat pangeran Keiji menjadi merasa bersalah.