
"Berikan padaku ... biarkan aku yang menggendongnya sebentar." ucap pangeran Keiji dengan hangat.
Tanpa banyak berkata, kini dengan patuh permaisuri Shiina segera memberikan pangeran kecil Yan kepada pangeran Keiji. Dan betapa terkejutnya mereka berdua ketika pangeran kecil Yan seketika berhenti menangis dan mulai tertidur lelap saat berada dalam gendongan dan pelukan dari sang ayah.
Pangeran Keiji dan permaisuri Shiina saling bertatapan sebentar lalu kembali menatap pangeran kecl Yan dengan senyuman hangat.
"Rupanya pangeran kecil Yan sangat merindukan ayahnya dan ingin digendong serta dipeluk ya." gumam permaisuri Shiina begitu lirih karena khawatir ksatria kecilnya akan terbangun kembali.
Pangeran Keiji hanya tersenyum hangat saja dan masih menatap bayi kecil dan mungil itu.
Kelak, kamulah yang akan memimpin dan menggantikan pangeran Keiji setelah kamu tumbuh dewasa, pangeran Yan. Disaat itulah panglima perang Masamune akan mengembalikan semua hak-hakmu, Pangeran Yan ...
Batin pangeran Keiji masih menatap lekat bayi yang saat ini sudah tertidur dengan begitu pulas.
...⚜⚜⚜...
"Tuan putri kecil Rie Fujiwara! Kelak kamu akan menjadi sosok seorang putri kerajaan yang begitu anggun dan selalu disegani. Setiap ucapan dan perintahmu akan selalu mereka ingat dan akan selalu mereka lakukan dengan suka rela. Nasehat-nasehatmu akan selalu membawa kekaisaran Fujiwara semakin membaik dan berkembang." ucap pangeran yang lebih menyerupai sebuah doa untuk putri kecilnya yang lahir dari putri Boa.
Dan sebenarnya memang itulah yang akan terjadi di masa depan. Putri keduanya cukup berpengaruh dan sangat bijaksana saat memberikan nasehat-nasehat untuk istana Fujiwara.
Bayi kecil yang begitu cantik dan sangat lucu itu mulai tertawa lebar saat mendengarkan ucapan dari pangeran Keiji. Sementara Boa yang berada di dekatnya juga tersenyum hangat menyaksikan semua itu.
Rasanya tentu saja putri Boa merasa sangat bahagia, karena saat ini masih diberi sebuah kesempatan untuk merasakan semua kebersamaan dan kehangatan itu bersama suami dan putrinya.
__ADS_1
"Boa, selalu jagalah putri kita dengan baik. Kelak dia akan menjadi seorang putri yang sungguh luar biasa! Dan tentu untuk mewujudkan semua itu, semua adalah dimulai dari kamu. Kamu harus menjadi selalu kuat untuknya." ucap pangeran Keiji mulai beralih menatap putri Boa dan tersenyum hangat.
Tanpa ada rasa curiga sedikitpun, putri Boa hanya mengangguka dan tersenyum hangat lalu mengusap lembut kepala sang putri kecil Rie yang terlihat selalu ceria saat bersama dengan kedua orang tuanya itu.
...⚜⚜⚜...
Di sebuah taman istana terlihat Kikiyo sedang berjalan-jalan bersama pangeran Keiji menikmati keindahan sore itu. Warna-warni dari bunga itu terlihat begitu indah dan mempesona. Sesekali wanita cantik itu dan pangeran Keiji mengusap perut Kikiyo yang sudah semakin besar dan hanya tinggal menghitung hari saja untuk menantikan kelahirannya.
"Matsu ... berikan nama itu untuk putri kita, Kikiyo. Nama yang cantik seperti putri kita kelak. Dan kelak dia juga akan menjadi seorang putri yang begitu mahir dalam memanah dan bela diri lainnya lagi. Keberadaannya juga akan semakin memperkuat kekaisaran Fujiwara. Dan dia akan selalu berada bersama pangeran Yan di medan pertempuran." ucap pageran Keiji sambil mengusap lembut perut Kikiyo.
Kikiyo hanya tersenyum lebar dan mengangguk pelan untuk mengiyakan perintah dari sang suami.
"Dia akan tumbuh menjadi putri yang cantik dan tangguh. Seperti kamu, Kikiyo. Selain itu, dia juga begitu menguasai segala jenis pengobatan dan akan menjadi seorang tabib tingkat tinggi." ucap pangeran Keiji yang lagi-lagi terlihat seperti sedang memberikan sebuah doa dan harapan untuk putrinya yang akan segera terlahir ke bumi dalam waktu dekat ini.
...⚜⚜⚜...
Beberapa pangeran, panglima perang dan prajurit sekutu lainnya juga masih menghabiskan waktu berbahagia ini di istana Fujiwara yang begitu megah dan kokoh itu.
Kebahagiaan itu semakin lengkap disaat Kikiyo juga akan segera melahirkan seorang putri yang saat ini sedang dibantu oleh seorang tabib istana.
...⚜⚜⚜...
Suatu hari disaat pangeran Keiji sedang beristirahat dan berada di kuil Honnoji bersama beberapa prajurit saja. Salah satu orang kepercayaannya Akechi Mitzunari, rupanya malah menggunakan kesempatan ini untuk melenyapkannya.
__ADS_1
Entah karena apa dan mengapa? Namun di dalam sejarah yang tertulis orang itu sebenarnya adalah sudah seperti seorang psikopat gila.
Akechi Mitzunari menerima sebuah perintah untuk segera kembali ke markas besarnya, Istana Mitzunari. Lalu dia mengadakan pertemuan dengan beberapa penyair terkemuka dan memperjelas tujuannya untuk memberontak, dengan alasan pemerintahan yang dipimpin oleh pangeran Keiji begitu tidak realistis dan kejam.
Akechi Mirzunari merasa inilah saat yang tepat untuk bertindak karena pangeran Keiji sedang berada dalam keadaan tidak siap di kuil Honnoji dan sebagian besar daimyo, jenderal dan panglima perang klan Fujiwara sedang sibuk berperang di berbagai daerah saat itu. Sedangkan pangeran Keiji sedang beristirahat saat ini hanya dengan beberapa pasukan daja.
Kemudian, Akechi Mitzunari mulai memimpin pasukannya ke Kyoto dengan alasan pangeran Keiji ingin menyaksikan sebuah parade militer. Tidak ada satupun yang curiga di sepanjang perjalan yang dilalui oleh pasukan Akechi Mitzunari yang sebenarnya masih di bawah pimpinan klan Fujiwara.
Karena hal seperti ini bukan pertama kalinya untuk pangeran Keiji melakukan parade militer untuk memamerkan kekuatan pasukannya yang begitu terlatih dengan baik dan diperlengkapi dengan senjata api.
Selain itu Akechi Mitzunari juga dikenal sebagai salah satu bawahan yang paling dipercaya oleh pangeran Keiji. Hingga akhirnya ketika sudah tiba di dekat kuil Honnoji, Akechi Mitzunari mulai berseru kepada pasukannya.
“Musuh berada di dalam kuil Honnoji! Cepat segera bakar!!" seru Akechi Mitzunari mulai memberikan sebuah komando dan mengangkat tangan kanannya ke atas. "SERANG!!!!"
Sebelum fajar menyingsing, pasukan Akechi Mitzunari telah mengepung rapat-rapat kuil Honnoji itu. Panah-panah api itu kini mulai ditembakkan sehingga api menjalar membakar bangunan itu.
Pangeran Keiji dan para pengawalnya berusaha untuk melawan dengan begitu gigih, namun karena dalam keadaan sedang tidak siap dan kalah jumlah mereka tak bisa berbuat apa-apa.
Bahkan saat itu Kenshin sang sistem pemandu juga sudah tak ada lagi keberadaannya ketika Dazai mulai memerintahkan untuk mengaktifkan beberapa elemennya.
"Kenshin!! Aktifkan elemen es milikku!! Aku harus melindungi semua pasukan yang sedang ada bersama denganku di kuil ini!" titah pangeran Keiji mulai panik ketika api sudah semakin menjalar dan mengepung mereka di dalam bangunan kuil Honnoji.
Tak ada jawaban apapun dari Kenshin sang pemandu sistem. Dan tentu saja hal ini semakin membuat Dazai semakin panik dan kebingungan. Karena seluruh pintu keluar maupun jendela sudah terbakar oleh api yang semakin membesar.
__ADS_1