
"Engga, maksudku mungkin...eh, bel masuk tuh !" Sekar gelagapan, kenapa ia sampai keceplosan, bo*dohnya !!
Zahra mencium bau-bau kecurigaan di diri Sekar.
"Tungguin," Zahra berlari mengejar Sekar.
*****
Sekar mematut dirinya di depan cermin, ia memakai celana jeans panjang dan atasan sabrina berwarna hijau mint, ia menjepit rambutnya di samping dan memakai tas selempang. Ponselnya berbunyi, pesan Andra masuk, pemuda itu mengetik pesan jika ia sudah menunggu di depan kompleks rumah Sekar dengan motor Ksatria baja hijaunya. Motor yang termasuk keren di kalangan anak muda SMA saat itu, bukan dengan mobil layaknya di cerita-cerita novel ataupun sinetron. Karena mereka bukanlah kalangan jetset yang kemana-mana pergi pake mobil, sampe-sampe mobilnya ganti setiap kali pergi kaya ganti baju saking kaya rayanya.
"Bu, ayah...Sekar ijin dulu ya, mau keluar sama temen !" pak Agus mengerutkan keningnya jadi beberapa lipatan seperti roti croisant. Pasalnya anak gadisnya ini jarang sekali keluar, apalagi dari dandanannya sangat terlihat jelas jika putrinya ini tengah ingin membuat seseorang terkesan. Ia bukan tidak pernah muda.
"Kemana ? Sama siapa ?" tanya nya yang tengah duduk di kursi tengah sambil memeriksa pekerjaan murid-muridnya di sekolah.
"Kak Andra, mau jalan-jalan !" jawab Sekar. Sekar fikir jika itu Andra orangnya, ayahnya akan langsung meng-acc. Tapi nyatanya, siapapun laki-lakinya, ayahnya tetap saja seperti itu.
"Terus Andra-nya mana ?" tanya pak Agus celingukan.
"Nungguin di depan kompleks," jawab Sekar masih berdiri di depan ayahnya seperti tersangka maling mangga.
"Loh ko di depan kompleks, kenapa ga ke rumah ? Suruh kesini saja, kenapa harus di depan kompleks ?" pinta pak Agus. Sekar ambigu saat ini.
"Sekar yang nyuruh yah," nyalinya semakin ciut melihat raut wajah dingin ayahnya. Apa kabar dengan Azka kemarin, wajah ayahnya malah lebih keruh dari ini, tapi pemuda itu terlihat enjoy (nyaman) saja menghadapinya. Lalu bagaimana dengan Andra ?
Sekar mengetik pesan, menyuruh Andra datang ke rumahnya. Hanya berselang 5 menit Andra sampai disana.
"Sore pak," sapa Andra meraih punggung tangan pak Agus yang sudah siap menerkamnya di ambang pintu.
"Mau ijin ngajak jalan Sekar pak," ucapnya.
Tak ada basa-basi lain selain ijin darinya, karena suasana mulai mencekam bagi Andra ataupun Sekar.
"Lain kali kalo jemput anak gadis orang itu langsung ke rumahnya. Agar orangtua si gadis tau pemuda mana yang ngajak anaknya keluar ?" ucapan pedas itu hanya dibalas dengan anggukan dan tenggorokan yang menelan salivanya berat. Pak Agus terkenal dengan julukan guru killer bukan tanpa sebab.
Setelah drama yang menguras keringat dan sport jantung, akhirnya kedua muda-mudi ini bisa keluar dari jerat malaikat maut.
"Ayah kamu emang beneran bikin orang sport jantung Sekar," tawa Andra. Bukankah seharusnya ia sudah hafal betul watak ayahnya, secara pemuda ini adalah seniornya di sekolah, ditambah ia adalah ketua OSIS yang terbiasa berhubungan dengan pihak guru.
"Iya kak, ayah emang tegas, disiplin. Maaf ya, kaka jadi jantungan gini," kekeh Sekar getir.
"Ga apa-apa. Udah biasa sih, di sekolah juga gitu," tawa Andra, ia memberikan helm pada Sekar yang langsung disambut Sekar lalu melajukan motornya setelah Sekar naik.
"Kamu cantik," ucap Andra.
"Makasih," jawab Sekar.
"Kita mau kemana nih ? Ke bioskop aja gimana ? Terus makan ?" tanya Andra diangguki Sekar.
__ADS_1
Sepanjang menghabiskan waktu sore menjelang magrib ini bersama Andra, pemuda ini selalu melakukan hal-hal romantis yang biasa laki-laki lakukan terhadap perempuan pada umumnya. Mungkin bagi sebagian gadis hal seperti memakaikan jaket miliknya, dibilang cantik, di traktir di sebuah gerai makanan cepat saji sambil menonton film romantis atau horor akan menjadi moment paling sweet sepanjang sejarah percintaan anak muda. Tapi tak ada yang aneh, hampir semua pasangan mengalaminya termasuk pasangan muda ini.
"Apa makanan favorit kamu ?" tanya Andra saat keduanya tengah makan di sebuah mall.
"Emmh, apapun aku suka. Tapi aku lebih suka makanan manis," jawab Sekar.
"Kaya martabak ?" tanya Andra. Bukannya berseru kegirangan karena tebakan Andra benar, tapi pikiran Sekar malah mengingat si martabak di waktu isya.
Sekar mengangguk.
"Oke, kucatat..orang manis suka makanan manis juga !" serunya tertawa, tapi Sekar hanya diam dan mengulas senyum tipis saja, tak ada yang lucu menurutnya, justru ia malah mengingat wajah lucu Azka tadi di sekolah dan seketika ia tertawa sendiri.
"Ha-ha-ha, lucu ya ?!" tanya Andra.
"Iya lucu," jawab Sekar, lucu disini mungkin beda persepsi antara pemahaman Sekar dan Andra.
"Kak, aku ke toilet dulu sebentar ya !" ijinnya.
"Oke," jawab Andra. Tak ada yang salah dengan Andra, tapi kesalahan ada pada otak Sekar, kenapa selalu sosok Azka yang muncul. Padahal baru juga beberapa kali ia bertemu dengan pemuda absurd itu. Tapi segitu besar efeknya, susuk apa yang ia pakai terhadap Sekar.
Sekar segera membasuh tangan dan wajahnya lalu mengelapnya dengan tissue dan kembali menepuk-nepuk spons bedak remaja di kulitnya secara tipis.
Andra sudah membayar makanan keduanya.
"Tadaaaa !!" ia menunjukkan dua corong es krim untuk dirinya dan Sekar.
"Strawberry," Sekar mengambil salah satu ice cream di tangan Andra
"Makasih."
"Dari awal aku udah liat kamu itu beda dari siswi lainnya, mungkin pertemuan kita baru beberapa kali. Tapi...sejak awal liat kamu aku udah suka sama kamu," ucap Andra berbalik pada Sekar dan memegang sebelah tangan gadis itu, tapi gadis itu diam seribu bahasa, bukan karena specchless (tak bisa berkata-kata), tapi karena hatinya tidak melting (meleleh) layaknya es krim di tangannya. Oke, Andra memang sweet, tapi rasanya boring, hambar, tak ada jedag-jedug di hati Sekar. Rasanya ia hanya suka dan kagum, itu saja. Tanpa rasa lebih lagi.
Sekar menarik tangannya dari Andra, "maaf ka, tapi aku ga bisa jawab."
Andra terkekeh, "ga perlu jawab sekarang, Kar."
Sekar berbalik, ia lebih memilih menji_lati es krim miliknya.
"Setelah ini mau kemana ?" tanya Andra.
"Pulang aja kak, aku mau pulang."
"Oke !"
Keduanya pulang setelah hari menjadi gelap. Disaat sisi gemerlap dunia malam, mulai menyapa dan menunjukkan eksistensinya.
Niat hati mengajak Sekar berkeliling kota Bandung, biar keliatan romantis kaya Dilan-Milea, apalagi di malam hari. Tapi ternyata Andra salah perhitungan. Dunia malam tidak begitu ramah malam itu.
__ADS_1
Oke, Andra memang good looking (enak dipandang), pintar, murid teladan, dan cakap dalam bicara, juga jago basket. Tapi tak ada manusia yang sempurna. Ketika ia terlalu sibuk dengan dunianya, ia melupakan ada sisi jalanan kota yang diisi manusia jahat.
Ia salah memilih jalanan yang sedikit sepi dan terkenal rawan penjambretan, alhasil keduanya malah terjebak di situasi yang mencekam. Di jegal oleh beberapa orang pemuda di tengah jalan dengan pisau lipat dan tongkat golf. Tampilan preman jalanan yang tengah mabuk tanggung.
Percayalah, Sekar sudah ingin menangis sejak tadi, jika ia tidak memikirkan rasa malu. Ia mengeratkan pegangannya di jaket Andra.
"Bagi duit, hape !" bentak salah seorang berwajah penuh tatto dan tindikan. Sungguh sangat seram seperti ogoh-ogoh Bali.
"Kasih aja kak, daripada nyawa jadi taruhannya !" cicit Sekar setelah sebelumnya melakukan perlawanan tapi sia-sia.
"Kalo gue ga mau, loe semua mau apa ?!" bentak Andra dengan lagak so heronya, malu saja rasanya di depan gadis yang disuka kalau tidak melakukan perlawanan.
Salah seorang preman mengeluarkan pisau lipatnya, membuat Andra dan Sekar terkejut.
"Udah kak, kasiin aja ! Paling uang pun ga seberapa, hape juga ga lebih berharga dari nyawa," paksa Sekar.
"Kalo aku bilang lari, kamu lari juga !" bisik Andra pada Sekar diangguki gadis itu.
"1...2...3...lari !!" Andra menendang salah satu preman untuk jalan lari mereka dan meninggalkan motor miliknya disana.
"Oyyyy !!! pekik mereka mengejar. Agar memberikan Sekar waktu dan jarak untuk berlari, Andra sebisa mungkin memukul dan melawan para preman. Ia memang jago bela diri, karena selain basket ia pun mengikuti karate, meskipun baru sabuk kuning.
Tapi kenyataan tidak seindah cerita di novel, sejago-jagonya ia, tetap saja kalah jumlah. Andra kewalahan melawan 6 orang preman, ia hampir saja babak belur jika beberapa motor tidak datang.
Suara berisik knalpot motor menghampiri Sekar yang sudah kewalahan berlari.
"Sekar ?!" seru Azka.
"Azka," ia mendongak, dan terlihat senang, setelah seharian memikirkannya, pemuda ini muncul di hadapannya sekarang.
"Ka, kak Andra !" tunjuk Sekar ke arah belakangnya.
"A...si Andra di gulung (Andra di keroyok) !" pekik Adam.
"Kamu tunggu disini," pinta Azka.
"Pu, jagain ini cewek !" pintanya pada salah satu teman gerombolan motornya.
"Iya," jawab Sekar mengangguk lalu melihat ke arah Azka pergi.
Azka dan kawan-kawan menolong Andra yang sudah hampir jadi perkedel.
.
.
.
__ADS_1
.