
Sekar akhirnya mau diantar Azka, tapi bukan Azka jika langsung pulang.
"Jajan dulu cendol, haus !" imbuhnya saat mereka berhenti di pinggir jalan, Sekar mengangguk.
"Mang, cendol 2 !" seru Azka.
"Siap !" jawab si mamang.
Azka mengusap-usap tembok pembatas bahu jalan dari selo_kan samping, untuk tempat mereka duduk dibawah pohon sukun.
"Sok, udah bersih !" ujarnya.
"Makasih," jawab Sekar.
Dua gelas cendol dingin mendarat di tangan keduanya.
"Tadi abis ngapain di lapang ?" tanya Azka.
"Hm ?" gadis yang sedang asyik mengaduk-aduk gula aren dan santan dalam cendol mendongak.
"Oh, tadi. Pelantikan calon anggota OSIS baru," lanjutnya.
"Oh, ikutan OSIS ?"
Sekar mengangguk, "kamu sendiri ngapain sama anak musik, ekskul musik ?" tanya Sekar.
Azka menggeleng, "bukan, cuma diminta bu Tari buat ngiringin paduan suara nyanyi sama ekskul angklung, nanti di acara rapat orangtua," jawab Azka.
Sekar berohria.
"Soal tadi, kenapa langsung pergi ?" tanya Sekar penasaran.
"Kan udah selesai," jawab Azka. Sekar beroh singkat dengan wajah yang terkesan getir. Apa yang ia harapkan, Azka cemburu ?
"Andra ngajak tawuran ?" tanya Azka, membuat Sekar mengerutkan keningnya.
"Engga, emang kenapa gitu ?"
"Itu tadi rame-rame gitu, kaya lagi nyorakin balapan merpati ?!" Sekar tertawa.
"Kamu tuh ih ! Ga usah pura-pura be*go deh, masa nyorakin merpati ada tulisan i love you nya !" celoteh Sekar.
"Kak Andra nembak aku buat yang kedua kalinya," Azka menoleh dengan mengangkat alisnya sebelah.
"2 kali ? Wahhh !" Azka memukul pa_hanya sendiri, "kalah start atuh euy !"
"Kenapa ?!" tanya Sekar mengulum bibirnya.
"Masa Andra udah 2 kali, aku baru sekali !" jawab Azka.
"Anjlok pasaran playboy kamu ya ?!" kelakar Sekar.
"Ha-ha-ha, playboy ? Ga bener," Azka menggelengkan kepalanya.
"Iya, kamu kan playboy kata anak-anak," jawab Sekar.
"Anak-anak siapa ? Anak-anak TK ?" seloroh Azka.
"Sering gombalin cewek-cewek. Kata Zahra sampe pada gagal move on terus ngadu ke bunda !" jawab Sekar menantang sedangkan Azka hanya tertawa.
"Ko tua ?!" goda Azka, membuat Sekar manyun seraya memukul lengan Azka, "tauuuu !"
"Termasuk kamu ?" goda Azka lagi.
"Ih, engga ya !"
Keduanya terdiam, hanya terdengar suara kendaraan yang melintas dan suara gelas yang beradu dari si mamang cendol.
Terlintas di benak Sekar kalimat Nisa, memalukan memang ! Tapi Sekar memang gadis yang apa adanya, sebutlah ia si tukang menelan ludahnya sendiri, ia tak peduli, tapi apapun yang menjadi uneg-uneg di hatinya harus tersampaikan.
__ADS_1
"Azka," gadis itu menoleh gugup.
"Hm,"
"Aku suka kamu," Sekar langsung meneguk cendolnya hingga tandas.
What the f*ck !!! Sekar malu sendiri dengan dirinya. Jika ada tanah ia akan mengubur dirinya sendiri sekarang.
Azka tertawa melihat tingkah Sekar yang menggemaskan.
"Kalo orang cantik bilang suka kaya gini ya ?" godanya membuat wajah Sekar semakin merona.
"Tapi," Sekar mendadak sendu.
"Tapi apa ?"
"Nisa sama Zahra suka kamu juga, kamu tau kan ?"
"Terus ayah..." Sekar tak melanjutkan kalimatnya.
Azka menganggukan kepalanya mengerti jika itu yang menjadi masalahnya.
"Zahra udah kuanggap kaya adikku sendiri, om Gilang udah kaya keluarga daddy sama bunda. Ada amanat di sana untuk menjaga Zahra, tapi tak ada perasaan lebih selain itu. Zahra udah kaya Azza buatku. Kalo masalah pak Agus, pantang untuk seorang Azka nyerah, karena pada dasarnya ayah kamu itu baik loh, sayang sama anak. Kamu ga boleh anggap ayah kamu jahat, ngekang kamu !" jawab Azka.
Sekar tersenyum, keputusan hatinya lebih memilih menyukai Azka memang sudah benar.
"Mau pulang atau mau nambah lagi cendolnya ?" tanya Azka.
"Mau pulang aja," jawab Sekar.
"Jadi ?" tanya Azka.
"Jadi...." Sekar membeo.
"Jadi aku diterima ini ?" tanya Azka, Sekar mengangguk malu-malu.
Azka tertawa, dan malah menepuk pundak si mamang cendol.
"Denger jang,"
"Kalo gitu ikutin aku," pinta Azka pada Sekar.
"Ikutin apa ?" tanya Sekar.
"Aku...."
"Aku,"
"Sayang,"
"Sayang,"
"Sama...."
"Sama," Sekar mengerutkan dahinya, apalagi aksi konyol pemuda satu ini.
"Tukang cendol," kekeh Azka.
"Tukang cendol ?" beo Sekar mengerutkan dahinya membuat Azka tertawa.
"Mang denger ngga ?" tepuk Azka di pundak mamang cendol lagi.
"Cewek saya ga bener, masa baru jadian dia selingkuh ! Pacaran sama saya, tapi sayangnya sama tukang cendol ?!"
Ingin sekali Sekar menjedotkan kepalanya ke bahu jalan dengan tingkah konyol Azka.
Si mamang cendol malah ikut tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Maaf ya mang, dia emang kurang waras !" jawab Sekar pada tukang cendol.
__ADS_1
"Berapa mang cendolnya ?" tanya Sekar ingin menyudahi kegilaan ini, apa ia yakin menerima Azka, karena lama-lama dengannya ia bisa jadi ikutan gila.
"Ih, jangan. Taro lagi uangnya. Kan sekarang kamu resmi jadi pacar aku, jadi aku yang bayarin jajan kamu !" jawab Azka melarang Sekar membayar.
Sore itu, adalah sore pertama mereka setelah berstatus sebagai pacar.
"Tapi sementara sampai Nisa sama Zahra tau, please bersikap biasa-biasa aja ya," pinta Sekar.
"Emang biasanya aku gimana ? Kan biasanya juga gini ?" tanya Azka.
Sekar sedikit berfikir, memang benar kata Azka, dia kan memang seperti ini juga sebelumnya, ia terlalu takut jika Nisa dan Zahra marah.
"Kenapa harus ditutupi, justru mereka bakal marah kalo mereka tau dari orang lain. Dan masalah baru buat kamu, aku, kita."
Sekar menimbang-nimbang, memang setiap kata yang Azka katakan benar.
"Oke, aku bakalan bilang sama Zahra dan Nisa," jawab Sekar.
Keduanya sampai di rumah Sekar.
"Hape kamu mana ?" tanya Azka.
"Buat apa ?" tanya Sekar seraya menyerahkan ponsel miliknya.
Azka terlihat mencari-cari nomor miliknya di ponsel Sekar.
"Nomor aku ga disave ? Ck ck," Azka menjiwir hidung Azka.
"Engga," Sekar terkikik.
Terlihat Azka mengetik sesuatu di ponsel Sekar.
"Nih, nanti kalo orang ini telfon diangkat aja. Nanti kamu nyesel kalo ga angkat," Azka menunjukkan layar ponsel Sekar pada si empunya.
❤ Orang Tampannya Sekar ❤
Sekar mengangguk, "kalo ga keangkat ?"
"Ya kutelfon terus,"
"Kalo ketiduran, atau lagi ke kamar mandi ?"
"Apa perlu aku suruh Cundil susulin kamu terus bangunin kamu atau ngintipin kamu di toilet ?"
Sekar melotot dan menepuk Azka, "ya jangan atuh ! Masa kamu rela gitu, pacarnya diintipin orang lain ?!"
"Paling udah ngintip aku pukulin sampe babak belur !" seloroh Azka.
"Ga mau mampir dulu ?" tanya Sekar.
"Udah sore banget, nanti lain kali aja aku mampir. Salam buat ayah sama ibu," ucap Azka.
"Iya, makasih." Sekar melambaikan tangannya pada Azka.
Kini hatinya berbunga-bunga, inikah yang namanya jatuh cinta dan pacaran, ko seneng !!!
Tapi sejurus kemudian ia teringat Nisa dan Zahra hingga membuat raut wajahnya berubah takut dan khawatir.
.
.
.
.
Noted :
*Sok : silahkan.
__ADS_1
*henteu : tidak.
*jang : ujang, panggilan anak laki-laki.