Berandal Termanis

Berandal Termanis
Sentuhan jari Rama


__ADS_3

Sekar mengurai pelukannya, dan mengusap air matanya bersamaan Nara membantu menghapusnya dengan ibu jari layaknya seorang ibu.


"Kangen bunda," ucapnya masih berada di pelukan Nara.


"Kenapa atuh ga ke rumah? Kalo mau maen ke rumah, main aja ga usah sungkan..bunda ada di rumah ga kemana-mana, palingan cek rumah makan sama rumah produksi beberapa hari sekali, antar jemput Azza sama Azmi, selebihnya nemenin daddy kalo cek sapi ke Pangalengan. Minta anter Azka, kalo dia mau kerja... Sekar main aja di rumah. Ada Azza, Zahra juga sering main, udah jangan nangis," jelas Nara. Sekar bukan hanya menangisi nasibnya ke depan, tapi ia terlalu takut tak bisa bertemu lagi dengan Azka dan keluarganya, dari merekalah Sekar menemukan kehangatan keluarga yang sebenarnya.


"Sekar," sela ibu Ganjar, gadis itu sampai lupa jika kini bukan hanya ada ia dan Nara saja disana, tapi semuanya ada. Ayah, ibu, ayah Ganjar, ibu Ganjar, Ganjar, daddy Azka, bahkan Azka.


Sekar segera bangkit dari duduknya, "lupa kalo disini banyak orang!" Sekar langsung berlari ke lantai atas ditertawakan ibunya dan Azka, begitupun Nara dan Rama.


"Hm, pantes aja anakku betah sama Azka Ra, ibunya Azka ternyata kamu!"


"Aku juga ga nyangka kalo ibunya Sekar kamu, Dila!"


"Jadi ibu?" tanya pak Agus pada istrinya bergantian menatap wanita cantik di samping Rama.


"Iya, Narasheila itu tetangga waktu di Jakarta! Kita sering..." mereka saling menatap dan kemudian tertawa bersama.


"Kalian sering apa yank?" tanya Rama penasaran.


"Dila nih, sering ngajakin ngintip tetangga mahasiswa.."


"Bang Haris!!" tawa keduanya.


Merasa dikacangin, deheman ayah Ganjar membuat kedua wanita ini terdiam. Azka ikut duduk, memandang Ganjar di sebrangnya yang menatap sengit.


Rama mengambil suara pertama, "saya dan istri datang kesini untuk sekedar silaturahmi dengan guru Azka sekeluarga, sekaligus minta maaf jika Azka sering berbuat salah. Meluaskan persaudaraan sesama umat muslim," jelas Rama.


"Apapun alasannya mas.. siapa namanya?" tanya ayah Ganjar pada Rama.


"Saya Ramadhan, tapi saya manusia bukan emas, terlalu berlebihan kalo saya dianggap emas, saya tidak seberharga itu.." jawab Rama.


"Maksud saya aa atau abang, mas itu panggilan laki-laki bahasa jawa.." jelas ayah Ganjar.


"Oh, bilang atuh!"


Nara hampir meledakkan tawanya.


"Ra, ke dalem dulu yu kita nostalgia!" ajak ibu Sekar, tak memperdulikan ibu Ganjar disana.


"Boleh, boleh! Tapi pesenan kita udah sampe kayanya La!"


"Pesen apa yank?" tanya Rama.


"Bunda pesen makanan?" tanya Azka.


"Ah bukan, masa makanan! Dila kan jago masak, iya kan pak Agus! Pasti bikin bolu caramelnya enak?!" Pak Agus mengangguk.


"Iya, bu Nara tau rasanya?" tanya pak Agus.


"Taulah! Kalo bikin kan suka sampe gosong!" tawa Nara, pak Agus ikut tertawa.


"Ih bongkar aib nih!" ibu Sekar yang biasa kalem ini akhirnya menunjukkan sisi manjanya sebagai wanita, belum pernah suaminya melihat Dila seperti ini, apa mungkin karena ia tak memiliki teman dekat selama ini.

__ADS_1


"Assalamualaikum!" seorang pemuda berteriak dari luar.


"Itu kayanya Dudi a, nganterin masker sama lulur!" ucap Nara.


"Sebentar, aku mau ambil receh buat gantiin uang bensin!" Nara membuka tas selempangnya merogoh-rogoh isi di dalamnya sampai mengeluarkan semua isinya mulai dari kedua ponsel no kaleng-kalengnya, dan dompet. Tak ada barang spesial di dalamnya.


Ia pun mengambil dompet, "sebentar Di, masuk dulu!" ucap Nara.


"Nyari apa bun?"


"Nyari uang,"


Orangtua Ganjar maupun Ganjar, hanya tersenyum miring. Orang ga mampu kalo so so'an mau nyaingin orang kaya ya gitu dramanya apalagi melihat kendaraan yang mereka pakai, pikir mereka, sudah tertebak seperti drama sinetron.


"Ada Ra?" tanya Dila.


"Ada atuh! Sebentar,"


Semua mata melihat kegiatan Nara yang sibuk membongkar tasnya, padahal Nara sengaja melakukannya agar dianggap seperti drama sinetron, ingin melihat seperti apa reaksi para tamu pak Agus yang katanya keluarga sultan merendahkannya.


"Biar saya bayar bu Nara, kalo cuma uang cash mau berapa pun saya ada!" jawab Esti menyebalkan, Nara mendengus dalam hati sambil tertawa.


"Makasih loh bu Esti baik banget, tapi insyaallah ada, cuma nyempil aja. Maklum lah kalo orang kampungan macam saya suka disempil-sempilin takut hilang, soalnya ga ada lagi! Sayang, takut kebeliin cilok,"


"Yank? Punyaku aja," Rama menyusupkan tangannya ke saku celana.


"Ga usah, bentar!" Dudi menunggu di ambang pintu rumah.


Apakah Nara adalah bunda semua orang? sampai-sampai kurir saja memanggilnya bunda? alis ibu Ganjar mengangkat sebelah.


Nara membuka dompet berwarna coklat kopinya, "keheula suka nyempil kalo uang bensin teh!"


(nanti dulu, suka nyempil kalo yang bensin tuh)


Nara menurunkan setiap kartu atmnya yang berjejer di dalam dompet. Azka sampai mengulum bibirnya melihat aksi sang ibu yang seperti ibunya tomingse. Emak-emak kalo udah tandukan ga jauh-jauh dari pamer, padahal daddy nya selalu menegur, yah! Namanya juga emak-emak iye kan?!


Satu


Dua


Tiga


sampai terakhir black card yang ia miliki bersama bang Akhsan, iseng-iseng bikin padahal belum pernah sekalipun ia pakai.


"Bun," tegur Rama, kalau sudah memanggil dengan panggilan bunda, itu tandanya Rama serius.


"Tah gening!" selembar uang 50 ribu terlipat-lipat nyempil diantara kartu atm dan ktp. (Ini dia!)


"Kesel tu da!" desisnya pada Rama sudah menahan-nahan emosinya, jiwa miss Queen nya berkobar, akhirnya tangannya gatal juga untuk menampar keduanya, karena sejak tadi sebelum kedatangan Sekar dan Azka, sepasang suami istri di hadapannya selalu dan selalu membicarakan harta benda, tanah di kampung, terlihat betul pak Agus, Dila sudah jengah. Ditambah Sekar datang-datang langsung menangis pertanda anak itu tertekan. (abisnya kesel !)


"Di, makasih ya udah mau nganterin!" Nara berjalan menuju pintu mengambil paper bag, satu set masker dan luluran serta skincare produk usahanya bersama ka Nisa sang kaka ipar.


Nara meraup semua kartu atm dan credit card miliknya, kembali memasukkannya begitu saja ke dalam tas layaknya memasukkan kerikil ke dalam kresek.

__ADS_1


"Wes to pak, ck..ck..sultan," bisik wanita dengan emas berkarat-karat melekat di leher, pergelangan tangan dan jemarinya pada sang suami.


"Yuk La, kita perawatan aja sementara bapak-bapak ngomongin perjodohan anak kamu, kan kalo jadi ibu hajat harus glowing!" ajak Nara.


"Neng Sekar, hayuk turun! Mau ikut bunda sama ibu maskeran engga?! Kan calon penganten mah harus cantik atuh!" pekik Nara.


"Biarin bun, pengantennya kan mau bunuh diri," jawabnya turun.


"Astagfirullah, ga boleh gitu atuh! Life must go on, kalo ayah kamu tetep setuju nikahin kamu, bunda bantu kabur, bunda siapin kereta malam tuh di depan komplek!" tawa Nara, ditertawai Sekar dan ibunya.


"Ga ada relnya bun,"


"Gampang lah eta mah! (mudahlah itu!) Kita minta tolong sama Bandung Bondowoso, bikin candi 1000 aja bisa kok dia, piraku (masa) bikin rel kereta dari sini ke rumah abah ga bisa," para perempuan itu kembali tertawa, seakan keluarga Rama diciptakan untuk membuat semua orang di dunia bahagia dan terhibur.


"Kita lanjutkan obrolan tadi, maaf atas iklan skin care dari istri saya," ujar Rama.


"Saya dan istri datang kesini untuk menanyakan lamaran dan perjodohan Sekar dengan Ganjar, to the point saja Gus..mau minta mahar apa, sawah, tanah, uang, emas, kambing? Kalo urusan pak Woyo tak usah khawatir, hidupnya akan terjamin oleh kami, begitupun sawahnya yang ada diantara sawah kami, akan aman tidak akan ada yang mengganggu!" pak Agus mengeraskan rahangnya, selama ini ia diam untuk menghargai Tri dan Esti karena keduanya kerabat dekat dan pak Anto adalah sahabat ayahnya, tapi melihat betapa tersiksanya Sekar, dan sifat merendahkan harga dirinya juga betapa sombongnya mereka pak Agus hanya bisa memohon pada ayahnya untuk ikut bersamanya ke Bandung.


"Maaf mas Tri, bukannya saya tak menghargai, tapi disini ada tamu saya. Tidak etis rasanya kalau membicarakan masalah ini di depan orang luar yang tak tau menau."


"Oh tak apa-apa pak Agus, siapa tau dengan ini pak Agus dan Azka putra saya bisa menjadi saksi atas pelaporan yang akan saya ajukan," Tri, Esti, Ganjar dan Azka langsung menoleh pada Rama.


"Pelaporan apa?" tanya Tri dan Esti.


"Pelaporan atas tindakan menikahkan anak dibawah umur, apa Sekar sudah memiliki ktp?" tanya Rama.


"Belum, umurnya belum genap 17 tahun," jawab pak Agus kini tau maksud Rama kemana.


"Oke," Rama mengambil ponselnya. Maaf, kapan kakeknya Sekar akan ke Bandung?" tanya Rama, pria berkemeja hitam ini mulai serius, tak ada gurat candaan lagi di wajahnya.


"Kalau pak Agus sibuk saya bisa suruh orang saya jemput bapak kalau bapak sudah siap. Tak usah khawatir saya akan mengungkit biaya, jasa atau meminta ganti, membantu sesama itu hukumnya wajib bagi semua umat muslim, saya malah sangat berterima kasih selama ini sudah membantu saya mendidik dan membimbing Azka. Selama saya mampu, why not? Silahkan buat perjanjian hitam diatas putih, jika saya mengungkit atau meminta ganti rugi apalagi sampai menyalahi aturan negara, dimana hak Sekar saya permainkan seperti alat tukar bayar maka saya harus membayar kerugian. Anak itu bukan alat bayar, harga diri seorang laki-laki terutama ayah untuk menjaga martabat keluarga tidak bisa diukur dengan uang dan jasa. Langkah pak Agus membujuk bapak sudah betul, karena Sekar dan masa depannya tak dapat ditukar dengan materi, biarkan ia tumbuh dengan kebebasan dan menikmati masa mudanya tanpa beban, jika di kampung sana sebagian gadis sudah terbiasa dinikahkan sebelum lulus sekolah sma, tapi tidak disini, perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki," sentuhan jari Rama di ponsel, menscroll nama Yusuf temannya.


"Assalamualaikum Cup!"


"Waalaikumsalam papa!"


"Maaf ganggu, lagi tugas?"


"Ah, buat papa apa yang engga? Iya lagi di Wamena!"


"Bisa minta nomor Briptu Hamzah si konyol dari kelas XI IPS, di saya ga sengaja kehapus kemaren waktu bersiin hape!"


Obrolan Rama barusan sontak membuat kedua orangtua Ganjar dan Ganjar tergelonjak kaget.


"Pak Rama, maaf..jangan begitu pak,"


"Gus..bisa kita bicarakan baik-baik,"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2