Berandal Termanis

Berandal Termanis
Menjenguk Azka


__ADS_3

Seperti yang sudah dijanjikan, Sekar kembali ke tempat dimana Yoga dan Adam sudah menunggu. Tak sulit untuk Yoga dan Adam untuk dari sekolah, karena mereka terbiasa kabur untuk membolos.


Sebuah pagar besi yang sengaja di bobol dan di tarik agar ada lubang untuk keluar.


Excited, mendebarkan dan memicu adrenalin. Kira-kira itu yang Sekar rasakan saat ini.


"Kak, tapi kaburnya sampai pelajaran terakhir ya. Soalnya nanti pulangnya ayah ngajak pulang bareng," ucap Sekar, diokei Adam.


Sedahsyat itu ternyata kekuatan rasa suka Sekar untuk Azka, yang tidak diketahui siapapun. Pasalnya seperti yang diketahui oleh orang-orang, Sekar bahkan terlihat seperti membenci Azka.


"Kayanya gue harus belajar ilmu pelet dari Azka," ujar Yoga pada Adam, yang langsung ditertawai Adam.


Sekar naik di boncengan Adam.


"Mau kemana kita ?" tanya Adam.


"Ke kantor polisi," jawab Sekar mantap.


"Tapi,"


"Udah ga apa-apa. Kalo Azka marah biar nanti aku yang ngomong !" jawab Sekar cepat.


Motor melaju menuju kantor polisi, dimana Azka berada.


Ternyata mereka tak sendiri, disana sudah ada bunda dan daddy, juga seorang yang lebih tua dari daddy Azka, teman satu geng Azka, dan tentunya om Gilang dan Zahra.


Hal itu sontak membuat nyali Sekar ciut untuk masuk ke dalam.


"Ayo, ko malah diem ? Udah cape-cape kesini, bela-belain bolos cuma diem di luar ?!" ajak Yoga dan Adam.


Sekar menggeleng, "di dalem rame banget, ada Zahra juga."


"Lha, emang kenapa ?!" Sekar tak bilang kejadian tadi pada Yoga dan Adam, bahwa ia dan Zahra sempat terjadi kesalahpahaman.


"Sekar ?" gumam Nara, sontak saja semua yang berada diruangan menoleh ke arah luar.


"Sekar ?!" gumam Azka dan Zahra.


"Siapa Ra ?" tanya kang Miftah.


"Narasheila versi kini, kang !" kekeh Nara.


"Bukannya masih jam sekolah ya ?" tanya kang Miftah yang mana anaknya pun seumuran dengan Azza.


"Iya," lirik Azka pada Zahra.


"Bolos kayanya," jawab Zahra.


"Kaya kamu ?!" tanya Gilang.


"Ish, papah."


"Wahhh, hebat ! Sampe bela-belain bolos. Sakituna euy !" puji Rama. (segitunya euy)


Nara keluar dari kantor polisi, "Sekar ?!" panggil Nara. Membuat perdebatan antara Adam dan Sekar terhenti.

__ADS_1


"Bun," ketiganya salim takzim.


"Sekar, Adam, Yoga. Kenapa ga masuk ?" tanya Nara.


"Eh, engga bun takut ganggu," jawab Sekar.


"Loh, masa ganggu. Kalo mau jenguk ayo. Azka ada ko, baik-baik aja," ajak Nara menarik tangan Sekar.


Dengan wajah yang malu-malu, Sekar masuk. Sedangkan Adam dan Yoga mengekor.


"Aa bro !" Adam dan Yoga bertos ria dengan Azka.


"Hey," sapa Azka membuat Sekar mendongak.


"Bunda mau beli baso dulu di depan !" ujar Nara yang tadi melihat ada tukang baso gerobak di depan kantor polisi.


"Yang mau ikut hayuu !" Nara sudah menggenggam tangan Zahra, seakan mengatakan untuk memberi Azka dan Sekar privasi.


"Ikutt yankkk !!!" pekik Rama diikuti yang lain.


"Kamu bolos ?" tanya Azka, Sekar yang masih terdiam menahan lelehan air mata yang siap menganak sungai.


Azka mendongakkan wajah Sekar, hingga kini terlihat tetesan air mata membasahi pipi chubby Sekar.


"Kamu kenapa bisa gini ? hiks..hiks...!"


"Eh, ko nangis ?" tanya Azka.


"Aku ga apa-apa, cuma masih dugaan. Aku ga salah, sebentar lagi juga pasti dibebasin sama pak polisi, sampai temenku yang bersalah ketangkep. Aku cuma dijadiin saksi," jawab Azka.


"Kalo besok-besok kamu yang jadi korban gimana ? Atau ada yang dendam terus kamu yang jadi sasaran ?" tanya Sekar berapi-api.


"Makasih udah perhatian, tapi ngomong-ngomong kamu bolos diajakin siapa ?" tanya Azka.


"Tepatnya aku yang minta tolong sama kak Adam sama kak Yoga," jawan Sekar.


"Lain kali kamu ga boleh bolos lagi, nanti dimarahin ayah. Dikira aku yang bawa pengaruh buruk buat kamu,"


"Emang iya, gara-gara kamu aku sering senyum-senyum sendiri, nangis-nangis sendiri !" jawab Sekar sewot dikekehi Azka yang mengacak rambut Sekar.


"Siapa yang ditusuk siapa ?" tanya Sekar.


"Orang lain ditusuk orang lain," jawab Azka.


"Ish !" decih Sekar menggeplak tangan Azka.


"Ih, galaknya pacar Azka !" kekeh Azka.


"Zahra marah sama aku," ujar Sekar melihat ke arah luar.


"Kenapa ? Kamu punya salah apa ?" tanya Azka.


"Aku udah bilang sama Zahra sama Nisa soal hubungan kita,"


"Semua salah aku, yang nelen ludah sendiri. Udah sampe bersumpah ga akan pernah suka sama kamu. Dan sekarang aku jilat sumpahku sendiri,"

__ADS_1


"Zahra pasti ngerti, kasih dia waktu. Dia emang gitu ko, nanti juga baik sendiri."


"Aku heran deh, keluarga kamu ko keliatan tenang banget, liat anaknya masuk kantor polisi ?" tanya Sekar saat melihat Rama dan yang lain malah asik makan baso sambil bercanda.


"Lagian apa yang perlu di khawatirin, toh..aku ga ngerasa ngapa-ngapain, ga lakuin kejahatan apa-apa, selain udah nyuri hati anak gadis pak Agus," Azka menaik turunkan alisnya sontak Sekar mencubit punggung lengan Azka.


Benar, dengan Azka apapun masalahnya, seberat apapun cobaan yang dihadapi, pasti akan terasa tenang, sebenarnya apa yang pemuda itu punya ? Sekar menggeleng tak mengerti.


...----------------...


Sekar melirik jam ditangannya,


"Udah jam segini. Aku ga bisa lama-lama, soalnya aku harus balik ke sekolah, ayah ngajak pulang bareng," ijin Sekar.


"Yahhh, ko waktu cepet banget. Bisa ga sih, minta sekolah buat belajar full 24 jam ?" tanya Azka.


"Kalo sekolahnya 24 jam kasian yang lain, nanti aku kesini lagi, insyaallah kalo nanti dengan ijin ayah !" jawab Sekar.


"Ya udah, hati-hati di jalan ! Maaf udah bikin kamu khawatir," jawab Azka, tangannya terulur mengusap rambut panjang Sekar.


"Pegang-pegang dosa ga ya ?!" kekeh Azka ditertawai Sekar.


"Pegangnya udah, nanya nya baru sekarang !"


Semua sudah kembali ke dalam kantor polisi.


"Bunda, daddy. Sekar pamit dulu, mau balik lagi ke sekolah, takut ayah marah, soalnya barusan bolos," ujar Sekar polos.


"Iya sayang, makasih udah jenguk Azka ya. Do'ain aja nih anak insyaf !" desis Nara di kalimat terakhirnya.


"Iya, hati-hati bawa motornya Dam, Yoga !" imbuh Rama menerima salim dari Sekar.


"Siap dad !" jawab Adam memakai helmnya.


"Ra, aku balik ke sekolah ya ! Maaf," Sekar berujar tulus yang hanya mendapat anggukan dari Zahra lalu gadis itu mengalihkan pandangannya, ada rasa sedih kenapa ia harus bersikap sedingin ini pada Sekar, tapi jujur ia masih marah, terutama marah pada dirinya sendiri yang merasa iri pada Sekar padahal Sekar adalah temannya.


"Assalamualaikum !"


"Waalaikumsalam,"


Kang Miftah menerima telfon dari Yuda, lalu mendapatkan kabar jika Gugun sudah ditemukan dan digelandang.


"Beres Ram,"


"Ka, lain kali. Jangan ceroboh, tidak semua harus kamu lindungi dengan mengorbankan diri sendiri. Yang bersalah maka ia yang dihukum."


Azka mengangguk, ia ingat kejadian dimalam saat ia menuntun Sekar do'a tidur, disaat ia memberikan pelajaran untuk orang yang membuat Kiki masuk ICU, tak sengaja Gugun menusuk seseorang hingga ia terkapar dan meregang nyawa, lalu Azka berada bersama Gugun menolong si korban hingga masuk rumah sakit, namun naas belum sempat mendapat tindakan, nyawanya tak tertolong.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2