Berandal Termanis

Berandal Termanis
Mode pemburu vampir


__ADS_3

"Ra, aku mau nanya deh sama kamu !" ujar Sekar.


"Nanya apa Kar ?" tanya Zahra.


"Selain anak geng motor, Azka tuh anak punk juga ya ?" tanya Sekar.


"Ha ? Anak punk?" Zahra terlihat asing.


"Kalo buat anak jalanan, a Azka memang banyak kenal. Selain dia yang sering di jalanan. Om Rama sering bawa a Azka ke komunitas anak jalanan gitu," jawab Zahra mengunyah cakue mininya.


"Oh,"


"Kenapa emangnya Kar ?" tanya Zahra.


"Engga papa sih, cuma nanya doang !"


Zahra menyipitkan matanya, "ada sesuatu ya, ga mungkin ga apa-apa ?" tebak Zahra, tak biasanya Sekar bertanya-tanya, seperti ini.


"Engga apa-apa Ra, suka suudzon deh !" jawab Sekar mencubit pipi Zahra.


"Siang ini OSIS ya ?" tanya Zahra.


"Iya, seneng banget ngadain kumpulan !" cebik Sekar malas bertemu Andra.


"Agenda tahunan kali Kar," jawab Zahra merasakan keresahan Sekar.


...----------------...


"Ka, pulangnya duluan aja. Aku ada OSIS," ujar Sekar menghampiri Azka di tempat biasa Azka berada jika istirahat, pemuda itu berjongkok di atas tembok yang sudah runtuh bekas tembok pembatas halaman sekolah.


Sesaat sebelum masuk, Sekar menyempatkan menemui Azka untuk bicara ini agar Azka tak menunggunya.


"Aku tungguin," jawabnya menyuapkan lontong dan gorengan ke mulutnya sendiri.


"Engga usah takut lama," Azka mengusap tembok untuk tempat Sekar duduk di sampingnya.


"Duduk dulu, ngopi dulu !" pintanya mencomot gorengan kembali lalu menyodorkannya di depan mulut Sekar, Sekar menggeleng.


"Enak, coba dulu !"


"Udah mau masuk Azka," tolak Sekar.


"Kasian atuh si mamang kalo kamu kesini cuma mampir doang, ga jajan. Nanti nangis ! Ga kasian gitu, liat bapak-bapak nangis guling-guling di tanah ?" jelasnya.


"Gelo !" gumam Yoga menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Azka, ia bersama Adam, Rizal dan teman-teman Azka lainnya tengah mengobrolkan hal unfaedah lain sambil mengerubungi tukang gorengan. Entah apa hal yang mereka bicarakan, hanya saja bagi Sekar mereka begitu asyik sampai tertawa-tawa.


"Pokonya aku tungguin !" jawab Azka kekeh, titik, tanpa koma dan tanpa debat.


"Ya udah lah terserah kamu," jawab Sekar pasrah. Bel masuk berbunyi, tapi pacarnya ini seperti tak ada niatan untuk segera masuk ke kelas.


"Ka, suara bel masuk."


"Iya tau, kata siapa suara tukang es," kekehnya. Sekar yang kesal karena pacarnya ini tak pernah serius, menjewer kuping Azka dan menyeretnya ke kelas.

__ADS_1


"Ishhhh ! Ayo masuk !"


"Aduh neng cantik, masa dijewer gini ?!" Azka mengaduh namun tak menolak, tangannya menyuapkan suapan lontong terakhir.


"Dam, bayarin dulu ! Nanti kubayar, bakwan 2, lontong 2, tahu isi 1 !!!" pekiknya.


"Ha-ha-ha, akhirnya ada pawangnya juga ! Ngeri oy !" tawa Adam diangguki yang lain seraya membayar.


Yoga terkekeh dan menarik kerah baju Adam dan Rizal.


"Sekarang loe berdua ! Yu masuk !" ucap Yoga.


"Ga oy ! Leher gue ke cekek ini !" keluh Adam terbatuk-batuk karena digeret masuk kelas.


Hani, Andra dan beberapa anak yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa melongo, pasalnya hanya guru saja yang berani membuat Azka sampai begitu, termasuk pak Agus salah satunya.


"Bener-bener titisan pak Agus !" tawa Nisa.


"A Azka nemu pawangnya," timpal Zahra melihat dari jendela kelas yang dibuka kacanya.


...****************...


Sekar, Zahra dan anggota OSIS lain berada di dalam kelas, tapi rapat mereka sedikit terganggu oleh suara tawa beberapa anak. Sekar tau itu Azka cs, entah apa maksudnya Azka melakukan itu.


"Kar, itu A Azka kan ? Ngapain sih, tumben amat sampe ganggu ?! A Azka ga pernah loh, sampe ganggu orang ?" bisik Zahra.


"Aku ga tau Ra, udah ku suruh tunggu di tempat biasa kalo dia nongkrong atau di kelasnya tapi kekeh mau disitu," jawab Sekar.


Pemuda itu bukan hanya mengerutkan dahinya, tapi juga alis yang menukik tajam, musuh ada dalam area jangkauannya warning ! Kira-kira seperti itu bunyi alarmnya.


Azka sedang menunggu Sekar bersama teman-temannya sambil bersenda gurau.


"Kalian ngapain disini ?" tanya Andra.


Azka celingukan, sementara yang lain menghentikan tawa mereka.


"Ngomong ke gue ?" tanya Azka, bahkan Rizal dan Adam sudah mengulum bibirnya, menahan tawa. Mereka bukan tidak tau jika ketua OSIS sekolah mereka ini mengincar Sekar, meskipun Sekar sudah dengan Azka. Dan mirisnya, ia selalu menggunakan kekuasaan ketua OSIS nya untuk membuat Sekar selalu bersamanya, seperti kemarin.


"Loe kira gue ngomong ke siapa ?" tanya Andra dengan sedikit nada tinggi.


"Oh," Azka beroh singkat dengan santainya.


"Siswa udah pada balik, kalian kenapa ga balik ? Ini lagi pada rapat OSIS, jadi mendingan kalian ga disini, berisik, ganggu !" ucapnya sengak.


Pemuda tengil itu celingukan seperti mencari sesuatu.


"Tapi disini ga ada bacaan, area ini dilarang di duduki oleh Azka !" jawab Azka.


Tentu saja Andra sudah jengkel dibuatnya.


"Ka, gue harap loe ngerti. Atau mau gue lapor pihak sekolah karena sudah mengganggu rapat OSIS ?!" Azka bereaksi, ia berdiri tepat di depan wajah Andra, pemuda ini mendengus.


"Gue harap kemarin yang terakhir kalinya loe gunain kekuasaan ketos loe buat deketin Sekar, loe ga inget sama taruhan dan janji yang udah loe buat sendiri ?! Tapi dengan gampangnya loe lupain itu, inget ! Laki-laki itu yang dipegang ucapannya," ujar Azka tak main-main, ia bahkan sudah menatap Andra tajam dan dingin mengeluarkan aura permusuhan.

__ADS_1


Sekar keluar bersama Zahra.


"Azka," Sekar buru-buru menengahi Azka dan Andra yanh sudah saling berhadapan dengan tatapan laser, sebelum keduanya bertengkar dan berkelahi.


"Ikut aku yuk," ajak Sekar menarik Azka, ia masih menatap Andra tajam, begitupun Andra yang menatap Azka sama tajamnya. Adam, Yoga, Rizal dan lainnya ikut mengekor induknya.


"Ka, bisa kan ga nyari-nyari masalah. Please jangan bikin diri kamu sendiri rugi dan malu," bujuk Sekar.


"Aku cuma mau mengingatkan dia, kalau dia sudah salah."


"Iya, tapi tidak dengan mengganggu yang lain juga atau kegiatan yang sifatnya umum demi kepentingan sekolah Ka," pandangan Sekar dibuat selembut mungkin melihat Azka sepertinya sedang berada di puncak kekesalan.


"Please," Sekar mengatupkan kedua tangannya di depan Azka. Azka mengacak rambut Sekar gemas.


"Aku ga mau liat kamu deket-deket lagi sama dia, ataupun cowok lain."


"Janji !" jawab Sekar berseru.


"Ya udah, aku tunggu disini." Azka duduk bersama yang lain di depan kelasnya.


"Aku rapat OSIS dulu ya," pamit Sekar, Azka mengangguk.


Gadis itu berlari membuat rambutnya ikut bergerak kesana kemari.


"Udah aja ini teh A ?" tanya Okta.


"Udah dulu cukup, kalau setelah ini dia masih ngeyel. Biar itu jadi urusan gue aja," jawab Azka.


"Wah, ketos ga bener atuh, menyalahgunakan kekuasaan buat deketin cewek," ujar Aryo.


"Dalam cinta mah semua masuk akal, fair..fair aja Yo ! Selama si dia bisa direbut, kenapa engga ?!" jawab Yoga.


Azka duduk menatap ke ruang OSIS yang berjarak lumayan jauh dari jarak pandangnya.


"Azka kalo marah nyeremin," bisik Sekar pada Zahra meskipun mata mereka menatap ke depan.


"A Azka tuh bakalan kaya gitu, kalo orangnya udah keterlaluan Kar, emang nyeremin kaya om Rama," jawab Zahra.


"Kalo bunda Nara ada yang ngeceng, wahh aura pemburu vampirnya keluar !" kelakar Zahra.


"Dikira Van Helsing," kikik Sekar membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh pada kedua gadis ini.


"Ada yang mau disampaikan Sekar, Zahra ?" tanya Lana.


"Engga kak, maaf."


Sekar menyenggol Zahra, begitupun Zahra.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2