
Aku udah di depan pintu rumah kamu,
Azka ❤
Sekar yang masih memakai mukena membaca pesan yang dikirimkan Azka hanya tersenyum miring. Awalnya gadis itu tak percaya, lagipula tau nomor ponsel dan alamatnya darimana.
"Bokis (boong) banget !" guman gadis itu.
Tapi setelah mendengar ayahnya sedang mengobrol dengan seseorang dari arah bawah, ia lantas melepas mukenanya dan meninggalkannya begitu saja.
Penasaran, ia mengintip.
"Bu, di luar ada siapa ?" tanya Sekar pada ibunya yang melintas di meja makan.
"Ga tau, kayanya murid ayah di sekolah."
Sekar membulatkan matanya tak percaya, ia lebih dekat untuk mengintip, tapi si_alnya terhalangi badan ayahnya yang besar.
"Ketemu saya ?" tanya pak Agus.
"Iya pak, mau ngasih ini !" ia menyerahkan sekotak martabak manis dan sekotak martabak telor special pak Kumis.
Tidak langsung menerima, pak Agus malah bertanya.
"Apa ini ?"
"Ini martabak pak, ada martabak manis ada juga yang telor takutnya bapak ga suka yang manis-manis, karena saya yakin di rumah bapak punya yang lebih manis."
Memang wedannn bahasa anak muda yang satu ini, apa ia berguru dari sun go kong atau membaca kitab suci ?
"Saya harap bapak bisa terima, anggap saja saya lagi syukuran pak !"
"Syukuran apa ?" tanya pak Agus.
"Soalnya saya sudah menemukan tujuan dan cita-cita hidup sekarang ! Makanya mulai saat ini saya berikrar akan hidup dan belajar bersungguh-sungguh seperti kata bapak," jawabnya. Kata-kata jebakan yang tak pak Agus sadari. Padahal jauh di lubuk sanubari bocah tengil ini tujuan dan cita-citanya sudah ia utarakan tadi sore, untung saja pak Agus tak bertanya lebih. Tujuannya mendapatkan restu pak Agus, cita-citanya mendapatkan Sekar dan ikrarnya karena pak Agus sendiri yang bilang untuk belajar dengan sungguh-sungguh terlebih dahulu. Masalah berhasil atau tidak, masih banyak jalan menuju Roma.
"Ini martabak pak Kumis, martabak terenak di kota ini. Kalo bapak tanya kenapa saya bawa martabak. Karena setau saya makanan manis bisa jadi moodbooster, kalo yang telor karena saya pilih yang special semoga hari bapak sekeluarga kedepannya bakalan se spesial martabak telor pak Kumis,"
Bau yang menggugah selera dan niat tulus Azka membuat pak Agus menerimanya.
"Terimakasih," jawabnya.
__ADS_1
Pak Agus menduga Azka pasti akan meminta balasan dengan bertemu Sekar setelah memberikan 2 kotak martabak, ibarat kata menyogok. Tapi nyatanya pak Agus kembali salah.
"Kalau begitu saya pamit pak, sudah masuk waktu isya...salam buat istri dan anak," imbuh Azka. Tak ingin merasa di pecun_dangi anak kecil, pak Agus menahan Azka.
"Tunggu ! Karena waktu sudah menunjukkan waktu isya, daripada kamu keteteran cari tempat solat, lebih baik kamu isya disini saja !" titahnya tersenyum, biasanya anak muda jaman kini menyebut kata ibadah biar keliatan kalo dia sholeh saja, padahal aslinya nol besar. Ia ingin tau, seberapa jauh Azka berbohong agar terlihat sempurna dimatanya.
Azka tersenyum dan mengangguk.
"Baik pak, terimakasih sudah perhatian," jawabnya, ia melepas sepatunya lalu menunduk masuk.
"Bu, ada musafir mau ikut solat !" seru pak Agus. Sekar yang sedari tadi disana melihat takjub, baru kali ini ada pemuda yang lolos dari ayahnya dan melenggang masuk ke dalam rumah, apalagi anak ini tak terlalu disukai ayahnya.
"Hay," bisik Azka.
"Udah ku bilang kan aku mau ke rumah !" Azka menaik turunkan alisnya, sedangkan Sekar masih melongo dibuatnya.
"Isshhh, nekat !" desis Sekar.
"Eh, ada murid bapak....tumben sekali. Siapa namanya ?" sapa ramah istri pak Agus.
"Azka bu," sopannya meraih tangan dan salim takzim.
"Kamar mandi sebelah sana, saya tunggu untuk salat isya berjamaah !" titah pak Agus mutlak. Azka kembali mengangguk lalu ia membuka jaketnya, dan melinting celananya.
"Iya yah," jawab Sekar lembut.
"Azka, coba kamu jadi imam !" pinta pak Agus. Sungguh emejing kan, Allah begitu menyayanginya, baru bawain martabak saja sudah disuruh jadi imam keluarga, apalagi nanti dibawain beras sekarung, pasti langsung disuruh bawa seperangkat alat solat dibayar tunai dan nafkahin anaknya.
"Baik pak," jawabnya mantap. Pak Agus tersenyum miring, jangan sampai adegan sinetron malu karena pura-pura pintar solat dan mengaji terjadi pada Azka, kalau begitu, ia jadi tak usah repot-repot mengusir Azka agar gugur sebelum merebut hati Sekar sekeluarga.
Jujur, Sekar pun tak percaya dengan Azka, apalagi tampilannya lebih tepat disebut berandal, ia yakin iqro pun Azka tak hafal. Azka menyugar rambutnya dan menurunkan celananya, mata memang tak bisa berbohong Azka terlihat keren dan tampan, saat pandangan mereka bertemu Sekar memilih menunduk dan memalingkan pandangannya.
"Ayah, ko baru datang sudah disuruh jadi imam. Kasihan Azka pasti masih capek," istrinya mengusap punggung pak Agus.
"Azka, apa kamu keberatan ?" tanya pak Agus dengan tatapan tajam.
Azka menggeleng, "insyaallah engga pak."
"Nak Azka, maaf ya."
"Tidak apa bu, malah saya senang !" jawabnya.
__ADS_1
Azka mengambil posisi di depan, lalu membaca niat solat isya. Pak Agus sekeluarga sudah merapikan shaf-nya.
Azka menarik nafas dan mulai takbiratul ihram, saat ia memulai bacaan solat dan suratnya, alangkah tercengang pak Agus dan Sekar.
Lantunan ayat yang dibaca mulus tanpa cela, merdu dan syahdu.
Baru kali ini perhitungannya pada Azka selalu keliru, ia salah menilai orang. Maka sepanjang solat isya, mereka melaksanakannya dengan jiwa yang bergetar memohon ampun pada Allah karena sudah berprasangka buruk.
Sekar benar-benar takjub dibuatnya. Selama ini ia tak pernah menemukan pemuda macam Azka, unik, langka, dan apa lagi yang bisa ia jabarkan untuk menggambarkan sosok Azka. Meskipun saat ini ia belum merasakan apapun untuk Azka, tapi setidaknya rasa benci itu mulai terkikis.
Azka kembali memakai jaket dan sepatunya.
"Terimakasih pak, bu, Sekar..sudah mengijinkan saya solat disini. Kalau begitu saya pamit dulu," pamitnya.
"Lho ko buru-buru, ngga mau minum dulu ?" tanya istri pak Agus.
"Minum dulu, saya tidak mau dibilang tuan rumah kurang aj_ar dengan membiarkan tamu kehausan, bukan adab menerima tamu itu !" pinta pak Agus, Azka mengangguk, ia duduk di kursi tamu di sebrang pak Agus seperti seorang pesakitan.
Pak Agus tak habis pikir, dibalik sifat tengil, berandal dan pakaian layaknya preman, ada kemampuan plus tersembunyi dari diri Azka. Bukan hanya Sekar saja yang merasa, tapi ia pun jadi merasa penasaran dengan sosok Azka, murid badungnya.
Mata pak Agus meneliti Azka dari atas hingga bawah, seakan ingin melu cuti dan menerkam.
"Sejak kapan bisa baca qur'an ?" tanya nya.
"Alhamdulillah sejak ayah saya selalu bawa lidi jika tidak mau mengaji," kekehnya.
"Kenapa tidak ikut ekskul Rohis saja ? Kamu ada bakat untuk jadi penghafal Qur'an,"
"Saya belum sepintar orang lain pak, lagipula hobby saya masuk BK, bukan kumpul-kumpul ngomongin acara keagamaan," jawabnya.
"Kamu ini merendah untuk meroket, bilang saja kamu ga bisa bandel lagi kalo ikut Rohis,"
"Itu bapak tau,"
"Diminum dulu nak Azka," istri pak Agus membawakan secangkir teh manis hangat.
Sedangkan Sekar, daritadi sudah mengintip, tak sedetik pun ia ingin berkedip melihat Azka dan ayahnya.
.
.
__ADS_1
.
.