
Bukankah mengelak adalah salah satu ciri-ciri playboy yang lagi nutupin hubungan gelapnya sama selingkuhan? Otak Sekar lagi di revitalisasi karena mendadak dangkal, baru ia tau, cemburu ternyata bikin bo*doh.
Sekar membuang mukanya, percuma saja bicara serius pada Azka, toh ujung-ujungnya selalu ditanggapi dengan candaan.
Sebal!
Dan Sekar sedang tak mood saat ini, bahkan hanya untuk sekedar bercanda. Tak taukah pemuda ini, ia sampai menahan lapar-nya gara-gara dia, gara-gara mergokin Azka sedang enak-enakan dengan cewek lain, disaat rasa khawatirnya sudah menggunung.
Azka mengangguk, feelingnya benar, dan ucapan si ketos br3ng_sek memang benar. Ada sesuatu yang disembunyikan Sekar darinya.
"Sini hape kamu!" pinta Azka.
"Mau apa?!"
"Kamu curiga sama aku, kalo aku selingkuh. Padahal kamu sendiri yang lagi enak-enakan sama kak Hani?" banyak faktor yang membuat Sekar menaikkan nada bicaranya dan memanyunkan bibirnya kali ini. Ternyata begini marahnya seorang Sekar Rinjani. Kaya gorilla mau kawin.
"Siapa yang selingkuh neng?" Ayolah, dia tidak setega itu menduakan Sekar, bukankah ia berkali-kali mengatakan jika ia tak memiliki hubungan dengan gadis manapun selain Sekar?
"Sekali buaya tetep aja buaya," desis Sekar mencoba pergi.
"Aduh!" Sekar mengaduh saat Azka menjiwir hidungnya.
Air muka gadis ini tampak keruh dan tak bersahabat menatap Azka, dia malah terkekeh-kekeh tanpa dosa, tapi sejurus kemudian Azka merebut ponsel dari genggamannya.
"Eh!"
Selain pandai berkelahi sepertinya Azka memiliki kemampuan seorang copet juga.
"Azka!!! Kembaliin!" pekik Sekar, sementara Azka sudah berlari keluar kelas Sekar membawa ponsel milik gadis itu, tak sulit untuknya membuka password ponsel Sekar, karena pacarnya itu pernah mengatakan sendiri sandi ponselnya.
"Ambil sendiri kalo bisa!" tantang Azka, rupanya Azka belum tau rasanya di amuk singa betina yang lagi diselingkuhin.
Azka mencari-cari beberapa arsip yang ingin ia ketahui.
Binggo!
Pantulan cahaya layar menunjukkan amarah dan rasa kecewanya.
"Azka!" jerit Sekar.
Klik!
5 gambar terhapus.
Sekar merebut ponsel miliknya sambil melompat, karena Azka mengangkatnya di udara.
"Ada yang mau ditanyain sama aku?" tanya Azka.
"Enggak! Mulut manusia tuh bisa boong, aku lebih percaya sama mataku sendiri!" Sekar membalikkan badannya.
__ADS_1
"Seyakin itu kamu kalo aku selingkuhin kamu, Kar?" tanya Azka.
"Mata aku ga mungkin bohong kan?" ia melipat tangannya di dada.
"Mata kamu ga boong, tapi mungkin bisa salah mengartikan." Jawab Azka mengurai lipatan tangan di dada Sekar, mengajaknya duduk.
"Bisa kan turunin itu mulutnya, udah kaya bebek ga dikasih dedak!" tawa Azka, membuat gadis itu menghadiahinya dengan pukulan keras di punggung.
Jeplak!!
"Makanya, kasih dulu orang kesempatan buat ngomong, jangan asal nyeroscos ga jelas."
"Oh iya, kamu juga ga bilang sama aku kan. Kalo kamu dapet kiriman foto aku dari orang?! Kita impas!" tunjuk Azka ke arah Sekar.
Azka membersihkan bangku taman dari dedaunan yang berserakan, membiarkan gadisnya duduk disana.
"Dia cuma datang buat ikut jelasin. Jujur aku juga ga tau kalo dia seberani itu, tapi aku ada nolak dia ko, sebelum akhirnya dia bilang semuanya!"
"Semuanya?" tanya Sekar, Azka mengangguk, tapi tangannya sibuk merapikan rambut Sekar yang tertiup angin dan membawanya ke belakang telinga.
"Mau ikut aku?"
"Kemana?" tanya Sekar mengerutkan dahinya.
"Boleh marah tapi jangan sampai cakar-cakar muka orang," kekeh Azka, sontak saja Sekar mendesis seperti ular.
Azka menarik tangan Sekar, meninggalkan tempat itu berjalan menyusuri lorong kelas. Anak-anak lain beberapanya memperhatikan sepasang muda-mudi yang tangannya saling menggenggam. Langkah Azka membawa Sekar sampai di kelas Hani.
"Mau ngapain ketemu dia?" bisik Sekar, wajahnya keruh sepaket dengan mata tajamnya pada Azka.
"Han," panggil Azka, gadis itu tengah serius melihat layar ponsel dengan teman-temannya.
"Eh, Azka..Sekar," gila saja gadis ini mencoba membuat hubungannya dan Azka berantakan tapi wajahnya tak memperlihatkan rasa bersalah sama sekali, seperti baginya hal ini adalah hal yang wajar. Entah memang ia sudah terbiasa begini, Sekar saja yang kampungan masih menganggap hubungan pacaran itu harus didasari kesetiaan.
"Bentar woy, aku keluar dulu!" ijin Hani pada teman-temannya.
"Santai atuh Kar, mukanya meni ga santuy!" kekeh Hani melihat wajah Sekar seperti istri tua siap yang siap mencakar wajah pelakor.
"Aku emang suka Azka, tapi Azka ga pernah mau jadi pacar aku, padahal aku rela mutusin semua pacar aku buat Azka, loh!" tawanya sungguh tak lucu untuk Sekar.
"Azka, pacar kamu meni serius!" Azka ikut tertawa, mencolek Sekar.
"Makanya hati-hati kalo ga mau dicakar Han, jangan macem-macem, pawangku galak kan?" tanya Azka mengalungkan tangannya ke pundak Sekar.
"Ish!" Sekar menurunkan tangan Azka.
"Aku ajakin selingkuh aja dia ga mau! Dia emang berandalan Sekar, tapi ga br3ng_sek! Lebih br3ng_sek yang tampangnya kalem."
"Intinya?" tanya Sekar dingin. Azka mengulum bibirnya melihat Hani sedikit tercengang dengan kemarahan Sekar, baginya cukup menyeramkan seperti pak Agus, aura dingin permusuhan juniornya ini patut diacungi jempol.
__ADS_1
"Andra nyuruh aku buat godain Azka, dia juga nyuruh temennya buat intilin Azka, buat foto-foto dia sama cewek lain, terus Voalah..dikirimin ke kamu! Apesnya, tadi pagi pas lagi ngobrolin rencana ke depannya, kepergok Azka, berantem deh mereka. Aku-nya lari!" lanjutnya menyebalkan, cuci tangan setelah melakukan dosa.
"Oh ya by the way itu nomorku loh! Yang kirim foto sama kamu, sombong amat deh ga dibales cuma di read doang!" ucap Hani.
"Oh ya sama yang tadi, sorry kelepasan usap-usap pundak Azka. Cuma ngasih support aja buat Azka!"
"Support?" Sekar melirik Azka yang berada di sampingnya.
"Oke, urusan aku dah selesai kan? Aku masuk deh, lagi liatin sale di sho*pee." Hani langsung berlari kecil masuk ke kelasnya.
"Udah ga marah lagi kan?" tanya Azka, Sekar diam ia malah kembali bertanya.
"Jangan bales pertanyaan aku sama pertanyaan lagi Azka! Support apa?" alisnya menukik.
"Baik-baik di sekolah, ada Zahra sama Nisa. Ada Adam, Rizal sama Yoga juga!"
"Kenapa emangnya, kamu mau kemana?" tanya Sekar.
"Aku kena skorsing gara-gara yang tadi,"
"Skorsing? Berapa lama?!" Sekar refleks memegang tangan Azka.
"4 hari,"
"Terus kak Andra nya sendiri ga dihukum gitu?" tanya Sekar.
"Sama. Jabatan dia malah ditangguhkan."
Ada rasa lega sebenarnya di hati Sekar jika ayahnya tak pilih kasih, tapi ia tetap merasa bersalah. Azka begini karena membela hubungan keduanya, tapi ia malah marah-marah pada Azka.
"Pasti kangen dijewer kamu pas lagi jajan gorengan!" jawab Azka masih bisa tersenyum.
"Ga mau !" tanpa diduga, Sekar menghambur memeluk Azka.
"Kalo ga ada kamu aku gimana?!" tangan Azka terulur mengusap kepala Sekar.
"Cuma 4 hari aja, abis itu aku janji ga akan berulah lagi. Biar bisa terus ada deket kamu. Sebelum nanti aku lulus!"
"Kamu ga akan diamuk bunda sama daddy? Itu gara-gara belain hubungan kita?" Sekar mendongak.
"Engga, paling bunda ngomel-ngomel. Tapi ga apa-apa, udah biasa buat aku kalo bunda ngomel, asal jangan kamu marah kaya tadi, sumpah nyeremin marah kamu, kaya mau makan orang!" tawa Azka.
"Nyebelin ih!" Sekar melepaskan pelukannya dan memukul Azka. Wangi maskulin Azka sudah terdata di otaknya, dan akan menjadi wangi favoritnya.
.
.
.
__ADS_1
.