Berandal Termanis

Berandal Termanis
Hubungan baik


__ADS_3

Tak ada toleransi bagi Rama, jika ia sudah bertindak. Ayah dengan 3 anak ini menyandarkan punggung tegapnya di sandaran kursi seraya menatap sepasang suami istri di depannya tanpa ampun meskipun dengan tatapan datarnya.


"Gus, kenapa jadi begini? Niat kami baik loh, cuma menawarkan tali kekeluargaan, lagipula kalau belum mau menikah sekarang bisa nanti setelah lulus. Atau kapan saja Sekar siapnya?!" Tri mencoba menjelaskan sedetail mungkin dan perlahan, agar lelaki di depannya tak terus menyoroti mereka dengan tatapan ingin mencekik. Bahkan Ganjar sudah tak enak duduk sejak tadi, rupanya bukan hanya pemuda ini saja yang menjadi pengganggunya mendapatkan Sekar tapi ayahnya juga.


"Maaf pak Rama, ini tak ada hubungannya dengan keluarga bapak. Jadi saya harap tidak usah ikut campur masalah kami," usirnya dengan pelan.


Azka dan Ganjar hanya menjadi penonton obrolan para orangtuanya saja, dengan mimik wajah berbeda. Azka percaya jika ayahnya tak butuh juru bicara ataupun advokat dadakan, kalau pria beranting ini sudah turun tangan maka semuanya kelar. Ia hanya tinggal duduk mania saja menonton.


"Maaf mas Tri, saya menghargai niatan baik keluarga mas dan mbak atas putri saya Sekar. Tapi kembali, yang sudah saya katakan dan juga sudah pak Rama jelaskan barusan, Sekar masih dibawah umur. Jangankan untuk memikirkan masalah se-serius pernikahan, untuk mengerjakan hal sepele saja masih harus banyak diingatkan. Jadi jika bertanya hal ini sekarang, maka saya tak bisa memutuskan, karena yang akan menjalani semuanya adalah Sekar sendiri, putri saya belum cukup matang untuk itu," tegas pak Agus.


"Jadi itu artinya lamaran kami ditolak?" tanya Tri, terlihat urat-urat di pelipisnya menonjol menahan emosi. Rama rasa, ia sudah tak perlu mengeluarkan kata-kata lagi, penjelasan dan tindakan panjang kali lebarnya tadi sudah cukup membuat pak Agus atau kedua orang di hadapannya memikirkan ulang nasib Sekar.


"Iya," jawab pak Agus.


"Baik, Gus! Buk, Ganjar ayo pulang!" tanpa pamit ataupun tingkah sopan mereka beranjak.


"Tapi pak!" Ganjar merasa sangat kecewa, pujaan hati yang sudah di gadang-gadang akan bersanding dengannya kelak harus pupus, padahal ia sampai rela menolak beberapa gadis di desa untuk menjadi kekasihnya.


"Sudah Ganjar! Gadis di desa masih banyak! Tak kalah cantik kaya si Sekar!" sungut ibunya Esti.


"Sombong banget Agus pak, disini merasa ada yang bela. Tunggu saja nanti di kampung, ngga ada lagi orang yang bantuin bela. Hubungi Tono, jangan dikasih jalan irigasi buat yang tengah! Jangan pernah kasih apapun untuk pak Woyo, kalo bisa ta ambil lagi ssmua yang sudah dikasih," dumel mereka di luar, tapi masih bisa terdengar oleh ketiga orang di ruang tamu.


Pak Agus membuang nafas kasarnya, kedepannya ia dan keluarga harus menyiapkan mental karena menolak lamaran keluarga terpandang di kampungnya, menjual sawah, menyiapkan travel untuk menjemput bapaknya, lalu dengan sepupu dan keluarga pamannya? Entahlah mereka mungkin akan terkena dampaknya cemoohan dan gunjingan dari tetangga karena berani menolak. Pak Agus yakin mereka bisa melalui ini.


"Maaf pak Rama, Azka. Kedatangan keluarga bapak tidak disambut dengan baik. Jadinya, malah bapak sekeluarga harus melihat drama tak mengenakkan," ucap pak Agus.


"Tak apa pak, santai saja. Jujur, saya sengaja datang atas permintaan Nara istri saya, setelah mendengar cerita dari Azka kalau Sekar jadi murung dan sering menangis akhir-akhir ini," jawab Rama. Azka masih terdiam diantara ayah dan ayah Sekar. Pandangan pak Agus sedikit demi sedikit mulai melunak pada Azka, anggapannya salah. Azka bukan seperti kebanyakan pemuda yang sering ia temui. Pemuda dengan kebiasaan buruk berfoya-foya, kekanakan, berandal, trouble maker, dan minim ilmu juga akhlak, dan yang jelas ia tulus.


"Azka, terimakasih sudah mau menjadi teman yang pengertian untuk Sekar," Azka dan Rama saling menatap, tak lama Rama terkekeh. Bagi pak Agus tak etis rasanya menyebut Azka dengan sebutan pacar putrinya di depan ayah Azka, sedangkan ia sendiri tak pernah mendengar kebenarannya langsung dari Sekar ataupun Azka, yang ada harga dirinya akan jatuh kembali karena kepedean.


"Usahamu masih belum maksimal mboy!"


"Sama-sama pak," Azka menyeruput minumnya, mendadak tenggorokannya terasa gatal, karena sebuah kalimat tak bisa keluar dari mulutnya hanya tertahan di tenggorokan.


"Pak, saya tinggal sebentar. Mau menelfon saudara dan bapak di kampung," ijin pak Agus.


"Oh iya mangga pak, silahkan!" Rama mengangguk. (monggo, silahkan)


Selepas kepergian pak Agus, Rama memandang putranya, tatapan yang susah dijelaskan dengan nalar.


Tuk!


Ia menjitak kepala Azka, "kamu ga gentle! Masa masih jalan di tempat, dianggap temen! Ga berani?!"


"Si daddy...pak Agus galak, belum ijinin Sekar pacaran. Jadi masih backstreet," jawab Azka mencomot makanan di atas meja, sayang kalo dianggurin tanpa disentuh dan masuk perut.


"Usaha atuh! Mau terima apa engga, jujur mboy!"


"Iya, udah ini otewe jujur!" jawabnya.


"Si bunda kemana lagi? Lama!!" Rama melihat jam di pergelangan tangannya, sengaja meluangkan waktu hari ini buat Sekar dan sisanya untuk pacaran.


"Mau kemana?"


"Emangnya kamu aja yang pengen pacaran?!" sengak Rama, Azka tertawa kecil.

__ADS_1


"Hey cowok! Udah ketawa-tiwinya?" tanya Nara bersidekap di pintu penghubung antara ruang tengah dan ruang tamu.


"Bun, udah maskerannya?" tanya Azka.


"Yang pake masker mamahnya Sekar, sekalian promo!" Nara tertawa mendekat.


"Lain kali ga usah pamer gitu yank, jelek! Riya," Rama menepuk sofa di sampingnya agar diduduki sang istri.


"Gatel!! Pengen atuh liatin atm, masa cuma di-peuyeum doang di dompet, lagian yang kojo mah ga pernah dipake!"


"Kenapa atuh ga dipake, sini sama aa pake bun, buat dibeliin sepatu!" jawab Azka.


"Mau beli apa pake black card, engga laku buat dibeliin baso garut mang Entis mah!"


Sesosok gadis hadir diantara obrolan unfaedah keluarga itu, ia menggigit bibir bawahnya malu.


"Bunda, om Rama..makasih!" ucapnya duduk di sofa bekas ayahnya.


Perhatian ketiganya teralihkan pada Sekar.


"Sama-sama," Nara mengusap garis wajah gadis manis di depannya.


"Jangan jadi kepikiran lagi, sekarang mah fokus aja ujian, tapi kalo Azka yang lamar mau engga?" tanya Nara.


Sontak saja wajah Azka dan Sekar merah padam.


"Yank, masa nanya nya gitu!" tembak Rama.


"Terus gimana atuh? Kamu juga kan gitu dulu," sewot Nara.


"Gimana hayoo?! Kan gitu dulu, Nara mau ngga kalo aku lamar, aku ajak kamu ke KUA, sekarang di depannya aja dulu kalo udah lulus baru ijab di dalem," tanya Nara menjabarkan salah satu gombalan Rama dulu, kini malah sepasang suami istri ini yang berdebat, sementara Sekar kini sudah bisa cekikikan melihat kedua orangtua Azka berantem sayang.


"Engga, kan nanya nya juga di depan kelas, Nara will you marry me?! Eh malah si meri yang nyaut! Aya naon pah?!(ada apa pah?!)" jelas Rama mempraktekkan acara lamarannya yang malah jadi bahan candaan sekelas karena meri muncul ditengah moment romantisnya bersama Nara.


Azka melihat wajah berseri Sekar, "bakalan kujaga senyum manis kamu sampai nanti saatnya senyum itu cuma buatku."


"Ra, pak Rama makasih banyak!" Mamah Sekar memeluk bunda Nara.


"Sama-sama, lagian aku sama suami ga ngapa-ngapain. Cuma melakukan hal yang memang semestinya kita lakuin, Sekar masih kecil, masih waktunya menikmati masa muda tanpa beban, bebas...seperti apa yang dia mau dan cita-citakan!"


"Kalo ada apa-apa, atau berdampak buruk. Merasa butuh bantuan, bisa hubungi saja Azka pak, nanti bisa disampaikan langsung ke saya," tambah Rama.


"Terima kasih banyak pak, insyaallah bisa saya atasi," angguk pak Agus.


"Dila, kapan-kapan main ke gubuk reotku!" ajak Nara.


"Dih, bisa aja juragan! Mana mungkin gubuk reot," decak Dila.


"Sekar tau alamat rumahku, nanti mainlah, tapi maaf masuk ke kampung bukan komplek gini," senyum Nara.


"Oh iya, nanti syukuran Azza kalau kalian ngga sibuk ikut kita ke Pangalengan, sekalian liburan bareng!" ajak Nara lagi.


"Azza ultah ya bun?" tanya Sekar.


"Iya, Sekar ikut ya?! Ada Zahra, sama temen-temen lain juga kayanya, Azka juga undang temen-temennya,"

__ADS_1


Sekar mendongak pada ibu dan ayahnya, keduanya mengangguk.


"Insyaallah bun,"


Nara naik ke boncengan Rama, tak ada rasa malu dari keduanya naik motor begini, mereka tak mempermasalahkan penampilan ataupun pandangan orang.


"Bun, dad..aa langsung ke bengkel!"


"Iya, hati-hati!"


"Pak, bu, Sekar kami pamit!" Rama memakaikan helm di kepala Nara. Sekar bagai melihat sosoknya dan Azka jika akan bepergian, rupanya sifat manis ini memang diturunkan dari Rama.


Sekar memeluk ibunya dari samping melambaikan tangan pada keluarga barunya itu di depan pintu pagar bersama sang ayah. Jarang-jarang lelaki ini mau mengantar tamu, bahkan menunggui mereka sampai para tamunya hilang dari pandangan.


"Yu masuk!" ajak Dila.


"Yuk!" Sekar membuka pagar, tapi belum sempat ia menyusul ibunya masuk, ayahnya sudah bertanya.


"Kamu sama Azka pacaran?"


Deg!


Di jalan...


"Yank, emang aku udah keliatan tua?" tanya Rama, Nara memiringkan wajahnya ke samping agar bisa melihat ketampanan suaminya yang sudah menikah selama hampir 19 tahun dan dikaruniai 3 anak ini.


"Kenapa gitu? Buatku kamu tetep ganteng, keren!"


"Ko tadi Sekar manggil kamu bunda, tapi ke aku om? Tadi Dila manggil kamu Ra, ke aku manggilnya bapak?" tanya Rama, kurang mudakah penampilannya, stelan kemeja hitam dan jeans hitam serta anting tempelannya?


"Ha-ha-ha, kayanya a..ga tau mungkin mata mereka kelilipan, Sekar kelilipan air mata, Dila kemasukkan masker!"


"Iya kayanya, mata mereka yang gangguan!" jawab Rama.


"Lagian kamu ngapain peduliin kata orang, cukup ganteng di mataku aja a!"


Rama tersenyum, "iya atuh harus! Kalo kamu bilang aku jelek, atm kamu aku tarik semua," suara mereka beradu diantara angin.


"Eh, tapi diliat-liat pak Agus ganteng ya?!" ucap Nara.


Rama dengan sengaja menarik gas lebih cepat, membawa si papatong hejo melesat membelah jalanan kota.


"Aaa!!!"


.


.


.


Noted :


Di-peuyeum : diperam.


Kojo : jagoan.

__ADS_1


__ADS_2