
Sebuah mobil hitam milik salah satu guru dipakai untuk anak-anak OSIS yang mengikuti acara dari sekolah lain. Mobil sejuta umat yang bisa menampung 7 sampai 9 orang.
Sekar keluar tanpa Zahra. Dari kelasnya hanya ia seorang, dan 3 anak lain dari kelas X lainnya. Ia membenarkan jepitan ungu dirambutnya, merapikan penampilannya seraya menunggu semua berkumpul di luar ruang guru bersama Kurnia dari X1.
Ia masih melihat Azka dan kawan-kawan berada di luar kelas, baginya sudah tak aneh melihat pacarnya berada di luar kelas, itu artinya si guru belum masuk ke dalam kelasnya.
"Kar, beneran kamu pacaran sama kak Azka ?" tanya Kurnia mengerutkan dahinya.
"Kenapa emangnya ?" tanya Sekar, cukup pegal.. ia mencari bangku untuk duduk.
"Kak Azka kan nakal, ayah kamu ngasih ijin ? Ditambah kak Azka playboy, tuh liat aja !" tunjuk Kurnia. Sekar mengedarkan pandangannya ke arah dagu Kurnia, dimana Azka tengah berbicara dengan seorang gadis, interaksi mereka begitu akrab, bahkan tak jarang Azka maupun gadis itu tertawa dan tersenyum simpul.
Ada rasa seperti hawa gerah, jantungnya terpompa sangat cepat membuat aliran darahnya berdesir. Meskipun ia belum tau apa hubungan keduanya, tapi melihat Azka tertawa lepas dan tersenyum simpul bersama gadis lain itu rasanya benar-benar membuat Sekar tak nyaman. Apakah ini yang namanya cemburu ? Tapi Sekar masih waras, ia bukan gadis yang mengedepankan emosi tanpa ingin mengetahui kebenarannya.
"Oh, itu kan emang biasa. Azka emang suka gitu sama semuanya," jawab Sekar.
"Kamu ga tau itu siapa ?" tanya Kurnia.
Sekar mengangguk, "kak Hani kan ?"
"Kamu tau tapi ga cemburu ?" tanya Kurnia.
"Emang kenapa ?" tanya Sekar, Sekar menyesal, kenapa ia begitu cuek selama ini dan tak pernah ikut dengan Nisa yang selalu tau tentang gosip sekolah. Bagi Sekar cukup saja ia belajar dengan benar, dan tak ingin tau masalah apapun tentang siapapun. Yang ia tau gadis itu adalah kak Hani, kelas XI IPS cukup cantik, kak Hani juga cukup dikenal, karena ia seorang penyiar radio ternama di kota Bandung, padahal ia masih sekolah, fisik, eksistensi juga kemampuannya membuat Hani sering dipanggil oleh beberapa event organizer dari beberapa produk yang sedang promo.
"Kata anak-anak sih, kak Hani kan suka kak Azka. Beberapa kali juga keliatan kaya cari-cari perhatian kak Azka, dia cantik so pasti...dia artis, banyak juga cowok keren di sekolah ngejar-ngejar dia, tapi dianya suka kak Azka," jelas Kurnia.
"Masa sih ?" Sekar mengerutkan dahinya.
"Sekar, Kurnia ! Buruan ke mobil !" teriak bu Farida.
"Ah, iya bu !" jawab keduanya.
"Eh, kamu mau kemana ?" tanya Kurnia saat melihat Sekar malah berlari ke lain arah. Ternyata Sekar berlari ke arah kelas Azka.
"Sebentar ! Aku mau pamit dulu !" pekik Sekar, bukan hanya pamit, tapi alasannya karena ia penasaran ingin melabrak keduanya secara tak langsung.
"Azka !"
Bukan hanya Azka dan Hani yang menoleh, disana juga ada Adam, Rizal, Yoga dan beberapa anak kelas Azka lainnya.
"Wah...wah..wah..terciduk Dam," kelakar Rizal ditertawai Adam dan Yoga.
__ADS_1
"Kamu ketauan deh, bini tua ngamuk !" ujar Adam semakin menggoda. Azka menggelengkan kepalanya mendengar kelakar teman-temannya. Tapi tidak dengan Sekar yang menganggap itu bentuk setuju dari yang lain jika Azka tengah bermain api.
Terlihat jelas mereka sedang asyik tertawa, bahkan Hani tak sungkan menepuk pundak Azka dan bertingkah manja, membuat Sekar bergidik geli, mendadak hatinya dilanda kebakaran.
Dih, apaan nih cewek ! so akrab.
Azka juga, diem aja di tepuk-tepuk gitu !
Air mukanya keruh seperti air hujan saat mengenai tanah. Bibirnya mengerucut layaknya bebek, jelek ? Bo*do amat, ia sudah tak peduli lagi !
"Hai cantik," Azka menjawab.
"Aku cuma mau pamit, pergi dulu !" ujar Sekar ingin tau reaksi Azka, "ya udah hati-hati ya."
Sekar melongo,"begitu doang ?" dan semakin kesal, ia bahkan bisa melihat jika Hani tersenyum penuh kemenangan, merasa Azka mengacuhkan Sekar.
"Ih, ga peka !" Sekar menatap tajam pada Azka, membuat Azka tertawa renyah, Sekar yang kesal lebih memilih berbalik dan hendak pergi.
"Kar !" Azka tertawa menyusul, tau dengan raut wajah keruh Sekar.
"Beuhhh, kasian atuh jangan diusilin Ka !" ucap Adam.
Tapi tanpa diduga dari arah depan, Andra datang.
"Eh," kini gantian Azka yang menatap dengan alis terangkat atas perlakuan Andra terhadap Sekar, Azka segera berlari menyusul dan menghampiri keduanya.
Ia memegang tangan Andra, dan melepaskannya dari tangan Sekar.
"Bisa dilepas ? Pacar orang !" Azka menatap tajam Andra.
"Yu, aku anter sampai parkiran," ucap Azka kini menarik tangan dan membawa Sekar darisana meninggalkan Hani yang terbengong, dan Andra yang menatap penuh kebencian.
Setelah dirasa aga jauh, Sekar melepaskan tangannya dari genggaman Azka.
"Lepas !" ketusnya membuat Azka menoleh ke arah Sekar.
"Kamu tuh curang ! Giliran kamu tadi asik-asikan sama kak Hani, aku kaya dikacangin. Giliran aku sama kak Andra kamu marah !" Sekar memukul lengan dan dada Azka, tapi pemuda itu malah tertawa.
"Kalo kamu bisa, aku juga bisa !" sewot Sekar.
Azka mengacak rambut Sekar, "iya maaf, cuma canda Kar.. cuma mau tau kalo kamu liat aku sama cewek lain gimana ?"
__ADS_1
"Ga lucu !" ketus Sekar.
"Kalo kak Hani emang nganggapnya kamu ada respon sama dia gimana ? Tau deh yang dikejar-kejar sama cewek cantik !" dumel Sekar, bisa saja Azka menganggap biasa untuk mengusili Sekar, tapi lain halnya dengan Hani.
"Cie cemburu !" colek Azka, Azka meraih kembali tangan Sekar, dan mengajaknya sampai di mobil rombongan.
"Ga usah colek-colek, bukan bumbu rujak !" pelotot Sekar, tapi ia pun mengulum bibirnya ingin tertawa, mengingat keusilan Azka yang ingin melihat dirinya cemburu.
"Jahat ih !" manyunnya.
"Jangan nakal, jangan deket-deket Andra, aku tau loh kalo kamu deket-deket cowok lain. Radar aku bunyi !" terang Azka.
"Gimana bunyinya ?" tanya Sekar.
"Uwiw...uwiw...Sekar minta digeret ke KUA !" jawab Azka.
"Hilih, mana ada radar suaranya kaya gitu !" tawa Sekar.
"Kamu juga ! Aku tau kak Hani ngejar-ngejar kamu karena dia suka sama kamu, jangan deket-deket !" omel Sekar.
"Siap !" jawab Azka.
"Berarti sama ayah kamu juga jangan deket-deket ?!" tanya Azka, Sekar mengerutkan keningnya.
"Kan ayah kamu juga suka ngejar-ngejar aku ?! Kenapa ga kepikiran yah, jangan-jangan ayah kamu juga suka aku, selama ini suka ngejar-ngejar ?!" tanya Azka mengernyit, Sekar tertawa, "ha-ha-ha, ga mungkin atuh !"
"Kamu pikir saya sudah tidak normal, suka sama kamu !" pak Agus datang dari arah belakang dan menjewer kuping Azka tanpa diduga kehadirannya, Sekar menutup mulutnya dengan tangan di tengah tawanya.
"Ayah ?!"
"Aduh, pak...canda pak !" aduh Azka, Sekar kembali tertawa. Azka sudah berhasil membuatnya kesal sekaligus tertawa lepas dalam satu waktu.
"Masuk ! Ini sudah masuk waktu belajar !" Pak Agus membawa Azka menuju kelasnya.
"Dadah ! Jangan lupa kabarin !" pekik Azka.
Sekar melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil disusul Andra.
.
.
__ADS_1
.
.