Berandal Termanis

Berandal Termanis
Siapa Azka sebenarnya


__ADS_3

Azka membawa motornya ke sisi teramai kota, dimana kehidupan malam semakin terasa sibuk.


Sekar mengerutkan dahi, tak mengerti jalan pikiran Azka. Mana ada pacaran ngajaknya ke bengkel spare part gini? Meskipun sampai nungging-nungging tetap tak bisa melihat darimana sisi romantisnya, apa harus gombal-gombalan sambil colek-colekan oli diantara jari-jari ban motor?


"Motor kamu ada yang rusak?" tanya Sekar.


"Bukan, mau ambil uang!" jawab Azka membuka helmnya.


"Kamu malak? Kaya preman di tv-tv itu?!" tanya Sekar sewot menjewer kuping Azka.


"Iya," Azka tertawa melihat wajah keruh Sekar.


"A, kita langsung ke basecamp aja ya?!" ujar Adam diangguki Rizal.


"Iya, nanti nyusul!" jawab Azka.


"Wokeh brad!" ketiga temannya meninggalkan area parkir bengkel.


"Yuk!" ajak Azka, Sekar mengikuti.


Bengkel bercat coklat beraksen hitam ini nampak ramai, beberapa pengunjungnya juga bertegur sapa dengan Azka. Letaknya cukup strategis, bengkelnya besar, terawat dengan fasilitas yang cukup lengkap, disediakan ruang tunggu yang cozy, meskipun masih berbaur dengan tempat direparasinya motor-motor pelanggan, agar si pelanggan bisa melihat prosesnya. Ada showcase tempat air minum serta rak cemilan. Tertera juga papan tulis kecil bertuliskan menu kudapan panas yang bisa dipesan seperti roti bakar dan pisang keju.


Etalase tempat produk berjajar rapi, pekerjanya terbilang cukup bersih dan wangi, meskipun tattoan, sangar pula. Di dinding atas banyak frame foto membingkai sertifikat kepelatihan bengkel para pegawainya dan penghargaan bengkel ini juga tentunya. Bila biasanya bengkel identik dengan bau oli dan bensin tidak disini, justru wangi pengharum ruangan bikin betah, yang paling bikin pelanggan senang datang kesini adalah free wifi.


Definisi bengkel keren!


Azka mengambil minuman dari showcase dan melengos menarik Sekar masuk ke dalam.


"Loh! Ga bayar?" tanya gadis itu.


"Ngutang dulu, lagi ga punya uang! Tenang aja yang punya ga gigit!" jawabnya.


"Azka ih! Nih bayar, malu-maluin anak juragan daging ga bayar ponari sweat!" sewot Sekar mengambil uang dari sakunya.


"Apa? Simpen, disini mah khusus aku gratis!" jawabnya.


"Kamu juga bisa gratis, tapi syaratnya mau jadi istri yang punya bengkel?" tanya Azka.


"Idih, ga mau lah!" gidik Sekar.


"Awas nyesel loh!" senyum Azka.


"Weitss! Aa! Bawa cewek a?" tanya seorang lelaki dari ruang etalase barusan sambil membawa satu bundel kertas dan menyerahkannya pada Azka, mungkin dia pemilik bengkel ini.


"Iya, cantik ngga?" Azka melepaskan tangan Sekar, memberikan minuman pada Sekar dan ia menerima satu tumpuk kertas itu.


"Cantik atuh, percaya lah!" decaknya kembali masuk.

__ADS_1


"Nuhun (makasih) a Eri !" jawab Azka melangkah semakin dalam menuju satu ruangan paling pojok dekat dengan tangga menuju ruangan atas.


"Teh Wiwi, hoyong pisang keju sareng roti bakarna 1 ya!" pekik Azka masuk ke ruangan.


(Teh Wiwi, mau pisang keju sama roti bakarnya 1 ya)


"Siap a!"


"Aa meni lawas tilawas ih, sono teteh!" pekiknya pada Azka.


(Aa udah lama banget ga jumpa, kangen teteh)


"Kangen kamu juga teh! Lope segede gajah lah jang (buat) teteh !" kelakarnya, terdengar suara tawa perempuan dari arah dapur.


Sekar meneliti tiap inci dari ruangan ini. Rapi, kembali ia menemukan frame foto berisi penghargaan.


Azka duduk di kursi berputar, Sekar masih bengong di ambang pintu tak percaya se kurang aj ar itu Azka.


"Ka, mau ngapain kita disini, pulang yuk! Katanya mau beli bubur kacang?" tanya Sekar, ia memang frustasi dengan niatan memaksa keluarga Ganjar, tapi tidak stres macam ini.


"Duduk atuh, jangan berdiri di pintu gitu! Kalo kata ambu, nongtot jodo!" (peribahasa sunda jodohnya keluar masuk alias jodohnya digantung) tawanya memutar-mutar kursi, seraya membuka botol minuman isotonik.


"Ga akan ada yang marah, sok duduk dulu!" pinta Azka. Azka mengambil sesuatu dari laci, dari setumpuk kartu nama berwarna silver mendorongnya di meja ke arah Sekar, lalu kembali meneguk minumannya.


...Baraya Bengkel...


...Azkara Wisesa Al-Kahfi...


...08xxxxxxxxxx...


"Ini?!" gadis ini masih diam terpaku.


"Alasan kenapa aku sering ga ada di rumah, dengan alasan bantu daddy di pasar. Alasan aku sering pulang malem dengan baju kotor, alasan aku lebih menyukai matematika dan ekonomi dibanding fisika ataupun kimia,"


Sekar mendongak tanpa berkata-kata.


Tok..tok..tok!


"Punteun! (permisi) A ini pesenannya!" ujar perempuan berumur 27 tahun berkerudung jingga.


"Eleuh-eleuh! Geulis a, kabogoh?!" tanya nya menaik turunkan alisnya.


(eleh-eleh! Cantik a, pacar?!)


"Calon is...do'ain ya teh!" jawab Azka menerima sepiring pisang keju dan roti bakar.


"Pasti atuh, di do'ain. Do'a janda mah pasti di dengar!" jawabnya.

__ADS_1


"Aamiin! Move on atuh teh!" ucap Azka.


"Udah move on ini juga, sama aa!" pekiknya sambil tertawa.


"Dia teh Wiwi, mantan tkw Arab asal Sumedang, susah-susah cari uang, dikumpulin buat bangun rumah sama buat kirim orangtua dan anak. Datang ke Indonesia suaminya malah hidup sama selingkuhan. Mereka yang kerja di depan, awalnya cuma copet, pengamen, hidup di jalanan ga tau kemana harus melangkah karena ga sekolah akhirnya terdampar di lampu merah ketemu daddy,"


"Disini ga ada yang hidupnya sempurna termasuk aku.. Sekar, hidup diantara keluarga berkecukupan tidak menjadikan daddy memanjakan aku dengan uang, tapi beliau selalu memberikan pelajaran..yang namanya laki-laki akan menjadi imam, ga usah jauh-jauh mikirin nafkahin anak orang. Tapi ada banyak orang kurang beruntung yang butuh kita imami, kita arahkan kapal kehidupannya, mengajarkan dan membawa mereka menjadi nahkoda kapalnya sendiri. Ga bisa merubah dunia, tapi setidaknya merubah nasib segelintir orang termasuk kita sendiri. Daddy sama bunda hanya meminjamkan uangnya untuk modal dengan catatan harus dikembalikan. Maaf kalo selama pacaran aku cuma mampu beliin kamu gorengan, seblak, atau lumpia, bubur kacang, martabak. Belum bisa ajak kamu ke cafe mahal. Karena hasil bengkel masih harus balikin uang daddy sama bunda."


Sekar sudah menitikkan air mata di pipinya, Azka benar-benar jago menipu orang. Dari luar dia terlihat begitu... harus sebut apa, berandal, terlihat sarkas, preman, bandel, urakan, trouble maker, siswa bo*doh, selalu buat masalah, siswa paling argghh...tapi kini ia merasa benar-benar malu! Tenggorokannya sampai tercekat.


"Aku memang masih dikasih uang jajan dari bunda. Kata daddy itu adalah bentuk tanggung jawab orangtua untuk anaknya, sampai nanti bunda dan daddy bisa melepas satu persatu anak-anaknya. Akan ada masanya Azmi pun akan sama sepertiku, mungkin terkecuali Azza,"


Azka mengusap air mata Sekar dari pipinya, ia tertawa "diminum dulu, terusin lagi jangan ceritanya?"


"Terusin," jawab Sekar.


"Semua yang kukasih ke kamu, mulai dari martabak, jajanan lain itu murni pake uangku sendiri! Jadi tenang aja, ga usah malu pacaran sama aku, karena aku ngapel bukan pake uang bunda atau daddy," jawabnya menikmati pisang keju dengan santai, padahal Sekar saja sudah sesenggukan di depannya.


"Jangan nangis atuh, da bukan cerita yang suka si Azza sama bunda tonton di rumah, bukan cerita azab juga," Sekar tertawa dalam tangisnya.


"Malu," cicit Sekar.


"Kan pake baju, kenapa harus malu?" tanya Azka kembali mengusap air mata Sekar dengan tissue.


"Dulu selalu menjudge kamu itu berandal, preman, cowok kurang aj ar, ga tau malu, trouble maker, (biang masalah) pokoknya semua yang jelek-jelek!" Sekar sesenggukan.


Azka berjongkok di depan Sekar, "hey, ga apa-apa. Bukan cuma kamu aja, tapi aku ga peduli sama omongan orang, ga akan bikin perut kenyang."


"Kalo kamu ga berenti nangis, aku mau lap ingus sama air mata kamu pake apa? Tissuenya abis. Apa pake kanebo aja?" tanya Azka tertawa bersama Sekar.


"Aku cerita kaya gini, biar kamu tau kalo aku ga sama kaya Ganjar. Hanya tinggal setahun lagi kita bakalan jarang ketemu. Jadi kalo kamu nyari aku, terus aku ga ada di rumah, kampus, pasar, atau basecamp. Aku pasti disini!" refleks Azka memeluk Sekar yang sedang duduk.


"Katanya dosa kalo peluk-peluk?" tanya Sekar parau.


"Oh iya lupa, tinggal tobat aja kalo gitu! Semoga Allah nerima tobat aku," jawabnya. Sekar memukul punggung Azka.


"Besok daddy sama bunda mau maen ke rumah kamu katanya, mau silaturahmi sama ayah, ibu kamu!" ucap Azka.


Gadis itu mendongak seraya mengerutkan dahinya tak mengerti apa yang akan dilakukan keluarga Azka.


"Bukan mau lamar kamu cepet-cepet, kamu sama aku masih sama-sama sekolah. Tapi daddy sama bunda mau bantuin hubungan kita,"


.


.


.

__ADS_1


Greget ngga sih, ko mimin greget sama Azka ya🤔 bentar lagi end kayanya.


__ADS_2