
"Sekar, kuanter pulang ya !" Andra menahan lengan Sekar, sepulang dari SMA 23 mobil kembali ke titik awal yaitu sekolah, sedangkan sekarang di sekolah sudah jam pulang, otomatis semuanya sudah pulang.
"Ga usah kak," Sekar menarik tangannya dari pegangan Andra.
"Daripada pulangnya kamu sendirian,"
"Ga usah kak, soalnya...."
"Assalamualaikum cantik !" keduanya menoleh ke sumber suara, ternyata Azka sudah duduk manis di atas motornya menunggu Sekar di parkiran sekolah hanya saja ia memarkirkan motornya agak tertutup pohon.
"Azka," seru Sekar melambaikan tangan dan berlari hendak menghampiri Azka.
"Maaf kak, aku duluan ya !" pamit Sekar, Andra mencebik kesal baginya Azka seperti kuman. Sedangkan Azka sendiri sudah menatap tajam Andra yang selalu mengekori Sekar, dan mencari-cari kesempatan untuk mendekati pacarnya, kaya minta dipaketin ke bulan. Heran saja, sudah tau pacar orang tapi masih berusaha, padahal tak sedikit siswi di sekolah yang menyukainya juga, kenapa harus Sekar ? Kegiatan OSIS boleh saja ia punya kuasa tapi jika sudah diluar ranah OSIS maka jangan harap Azka akan mengalah hanya karena ia merupakan siswa paling disegani. Jika ditarik waktu ke belakang, seharusnya saat ini Andra menjaga jaraknya dari Sekar, atas kekalahannya dari Azka sewaktu main basket. Tapu nyatanya, ia malah terus saja mengganggu Sekar.
"Lama-lama kaya debu yang suka nempel nyempil di baju. Kaya minta diusir sekampung !" ucap Azka, pandangannya tak lepas dari Andra.
"Kamu kalo lagi kaya gitu nakutin Ka," ujar Sekar mengusap wajah Azka pelan dan lembut.
"Kaya anj_ing galak ya ?" tanya Azka tersenyum pada Sekar.
"Iya, rawrrr !" jawab Sekar tertawa renyah.
"Hati-hati, mode senggol bacok !" tambah Sekar memetakan tangannya di udara.
"Bagus tuh, buat dijadiin name tag terus di gantungin di leher," jawab Azka.
"Lagian udah tau pacar orang, masih aja usaha," lanjutnya melihat kembali ke arah Andra yang ternyata sudah pergi.
"Udah pergi, jangan diliatin terus nanti aku cemburu !" kelakar Sekar.
Azka terkekeh, "aku masih suka yang cantik, belum mau pindah ke yang ganteng ! Mau langsung pulang ?" tanyanya.
"Maunya sih jalan-jalan dulu !" jawab Sekar.
"Kemana ?" tanya Azka.
"Terserah kamu,"
"Emh, cewek mah gitu. Kalo ditanya terserah kamu, giliran dikasih nanti ga suka,"
Sekar mengangkat kedua alisnya, "cewek mana tuh ?!" sewotnya.
"Bunda, Azza, Zahra, kamu..." colek Azka di hidung Sekar.
"Ish," Sekar mengerucutkan bibirnya, Azka memasangkan helmnya di kepala Sekar.
"Dih, itu bibir mau saingan sama si donal !" Azka mencomot bibir Sekar.
"Ih, Azka ! Tangannya kotor, dicuci dulu engga ?" sewot Sekar.
"Lupa, biarin atuhlah vitamin. Barusan abis pegang pan_tat ayam," jawab Azka membuat Sekar menghadiahinya dengan beberapa pukulan, bukannya kesakitan Azka malah tertawa seraya melindungi kepala dan wajahnya dengan lengan, tapi tak menghindar atau pergi.
"Bukkk !"
__ADS_1
"Bukkk !"
"Jorokkk !"
"Cieeeee !" goda Kurnia, Nata dan Kinan, membuat Sekar menghentikkan pukulannya dan menoleh. Seketika wajah Sekar memerah dibuatnya, sedangkan Azka hanya tersenyum acuh.
"So sweet ihhh, sampe bela-belain di jemput !" goda mereka lagi yang baru saja keluar dari ruangan guru dan hendak pulang.
"Mau juga atuh ihhh !" rengek Kurnia.
"Jomblo mah harap diam sambil ngiler aja lah ! Coba pesen ojol deh, biar samaan ada yang jemput," jawab Kinan.
"Engga bapak ojol juga atuh Nan," jawba Kurnia.
"All, aku duluan ya !" pamit Sekar.
"Dadah Sekar ! Dah kak Azka !" Kurnia, Nata dan Kinan melambaikan tangan. Andra yang ikut keluar naik ke atas motornya tanpa mempedulikan mereka, meskipun hatinya dilanda gemuruh panas.
Sekar naik ke jok belakang Azka dan berpegangan di jaket Azka, "udah ?" tanya Azka.
"Udah," jawab Sekar.
"Maksudnya udahan marahnya apa masih mau diterusin ?!" tawa Azka tak habis-habis menggoda gadisnya.
"Azka ihhh ! Minta dicekek !" gemas Sekar membuat gerakan akan mencekik Azka.
"Cekik aja neng, aa mah rela dicekik sama neng..."
"Ih udah gila !" cebik Sekar.
Pak Agus sudah terbiasa melihat pemandangan Sekar yang cekikikan di sore hari sambil di antar Azka, meskipun ia tidak mengatakannya tapi secara tidak langsung pria itu mengijinkan anaknya berteman dekat dengan Azka.
"Mau mampir dulu ngga ?" tanya Sekar menengok ke arah teras dimana ada pak Agus mengangguk saat Azka mengucapkan salam.
"Udah sore, kapan-kapan aja."
"Oh ya udah, makasih udah jemput terus anterin ke rumah dalam keadaan sehat walafiat kecuali kejiwaan yang udah mulai gila dan tanpa kekurangan satu apapun kecuali hati yang udah dirampok sama kamu," ucap Sekar. Darimana gadis ini berucap seperti ini, tentulah pemuda di depan jawabannya, Azka tertawa.
"Sama-sama, lain kali mah ga mau cuman ucapan makasih doang ah, ga kerasa !" jawab Azka, Sekar menautkan alisnya.
"Mau apa atuh, ko pamrih sih ! Ga bisa kecup-kecup kaya biasanya, ada ayah !" bisik Sekar.
"Ahh ! Penonton kecewa," raut wajah Azka memelas.
"Ya udah atuh, aku pamit ya ! Tapi besok kesini lagi," lanjutnya.
"Iya, jangan kangen !" jawab Sekar.
"Pasti kangen, gimana atuh ? Boleh bobo bareng ngga ?" tanya Azka.
"Eh !" Sekar menepuk lengan Azka.
"Bobo bareng, aku dikasurku kamu dikasurmu !" kekeh Azka melanjutkan.
__ADS_1
"Oh !" Sekar tertawa.
Pak Agus yang menjadi nyamuk hanya sesekali melirik, dulu jika ia mengapeli ibunya Sekar rasanya pamit tidak selama ini, apa yang sedang mereka bicarakan sebenarnya? ia berdehem membuat kedua sejoli ini menoleh.
"Ayah kamu kasih minum tuh, " ucap Azka.
"Itu tandanya kamu disuruh pulang Ka," jawab Sekar.
"Oh, kirain tenggorokannya gatel. Padahal mau kukasih biji kedongdong biar tenggorokannya ga gatel lagi." Sekar tertawa mendengar guyonan Azka.
"Ya udah aku pulang ya, bye !" Azka kembali memakai helm dan menyalakan motornya.
"Pak, pamit dulu. Assalamualaikum !" teriak Azka. Pak Agus mengangguk, "waalaikumsalam,"
Sekar melambaikan tangannya dan masuk.
"Pamitnya jangan kelamaan, udah sore !" ucap pak Agus membuka lembaran koran berikutnya.
"Iya yah," Sekar masuk sambil mengulum bibirnya, ternyata iri dan cemburu tak kenal umur.
"Assalamualaikum bu,"
"Waalaikumsalam, udah pulang nak," ibu Sekar menerima salam anaknya.
"Udah, ibu lagi bikin apa ?" tanya Sekar.
"Oh itu kolak ubi."
"Tumben," jawab Sekar menaiki tangga.
"Tadi Azka kirim ubi kesini, katanya hasil panen keluarganya yang di Sumedang kalo ngga salah," jawaban ibunya sontak membuat Sekar kembali turun.
"Hah ?!!!"
"Azka tadi kesini bu ?" tanya Sekar terkejut.
"Iya. Jam berapa ya, Kayanya jam setengah dua siang apa jam berapa ya, lupa ! Sebentar sih, tapi sempet main catur sama ayah."
"Ihh, ko Azka ga bilang !" ucapnya kembali menuju kamarnya.
"Kamunya kan belum pulang," jawab ibunya memekik karena Sekar sudah naik beberapa anak tangga.
Rupanya tadi setelah dari pasar, Azka sempat pulang karena permintaan bundanya untuk mengantarkan ubi hasil panen kebun di Sumedang pada keluarga Sekar lalu kemudian menjemput gadis itu di sekolah.
Sekar melepaskan seragamnya lalu pergi mandi.
*******
Seperti biasa, selepas isya Sekar pasti berada di meja belajarnya di kamar, ponselnya berdering saat ia sedang menghafal materi untuk esok.
"Nomor siapa nih ?" gumamnya.
Sekar diam dan melongo melihat foto-foto yang dikirimkan ke nomor whatsappnya.
__ADS_1
Mendadak hatinya dilanda panas, berdebar dan berdenyut, ia sedang cemburu....