
Azka menyambar tas miliknya, bagi-nya mau ujian ataupun sekolah normal, sama saja. Tak banyak isi di tasnya, hanya cukup membawa satu buku dan satu pulpen, kasihan...saking miskinnya dia 😂. Bukan karena ia tak mampu membeli, tapi kebanyakan bukunya ia sumbangkan di sekolah, beberapa lembar untuk membuat pesawat kertas, dan sebagian lain ia pakai untuk catatan. Tak pernah ia membawa bukunya kembali ke rumah, dengan alasan bukunya menyayangi penjaga sekolah, jadi mondok disana.
"A mboy, yang bener ujiannya. Bunda mah ga pernah minta macem-macem lah. Yang penting naik terus lulus aja!" Nara menaruh piring berisi goreng ayam untuk sarapan kali ini, mau ngikutin gaya hidup si upin ipin.
"Azza mana bun?" tanya Azka sejak tadi duduk tak melihat keberadaan adiknya, tak mungkin gadis ini melewatkan sarapannya.
"Azza udah duluan, katanya ada urusan dulu di sekolahnya."
"Udah lulus juga, so sibuk!" Azka menyeruput susu hangat.
...----------------...
Ujian sudah berakhir, disini Nara lebih sibuk dari ibu manapun. Apalagi saat pengambilan raport anak-anaknya.
"Aa ambil punya Azza, aku ambil punya Azmi sama a mboy, atau mau gimana?" roll rambut masih menempel di beberapa helaian rambutnya, belum lagi sapuan alat make up tak menyurutkannya untuk terus mengoceh.
"Yang mana ajalah, sama-sama anak. Nambah lagi seru yank kayanya!" kekeh Rama memakai bajunya. Kilatan mata Nara sampai ke arah belakang, desisannya bak ular derik.
"Kalo ngomong yang bener!" seiring cubitan yang ia sarangkan di lengan Rama.
"Aduh!"
"Ini mah kan usul, kayanya seru gitu." Memang seringkali Rama harus mengontrol mulutnya yang sering ceplas ceplos karena ujung-ujungnya ia pasti kena cubitan Nara.
"Engga mau, udah tua juga. Anak udah pada bujang, mereka juga malu kalo punya adek lagi, akunya capek ah!" tolak Nara.
Tahun ini Azza masuk SMA favorit di kota kembang, dan tahun depan Azmi yang masuk smp.
"Cung ! Siapa yang mau diambilin rapotnya sama bunda, siapa sama daddy?" tanya Nara. (kalimat perintah tunjukkan tangan)
"Biar adil, semuanya sama daddy!" jawab Azka membuat Rama melotot.
"Adil darimana a?" tanya Azza.
"Adil lah, kan selama ini bunda yang ambilin raport kalo tiap dibagi rapot, jadi sekarang gantian..."
"Setuju!!! Bunda mendingan main ke emoll," jawab Nara. (mall)
"Azza mau sama daddy ah!"
Akhirnya sudah diputuskan jika si kecil Azmi lah yang bersama Nara dan Rama bersama kedua anak-anak abg-nya.
****
Siapa bakal menyangka papa muda ini, ternyata sedang bersama anak-anaknya. Semua akan mengira jika Rama adalah kaka dari Azka dan Azza.
"Aa duluan dad, kan daddy mau ke sekolah Azza dulu. Nanti daddy langsung ke sekolah aa," ujar Azka memakai helmnya.
"Oke," jawab Rama. Azza naik ke atas motor gede Rama dengan sedikit lompatan.
"Bisa ngga neng?" tanya Rama menoleh.
"Bisa dad," ia memeluk pinggang ayahnya seperti koala.
"Si bunda keren lah diajakin pacaran pake beginian tiap pulang sekolah. Dulu kan motor gini paling keren, iya kan dad?" Azza berdecak kagum.
"Justru si bunda mah ga mau. Katanya pegel pinggang sama punggung." Jawab Rama melajukan motornya menuju sekolah Azza.
Kedatangan Rama ke sekolah Azka jadi sorotan, terutama para siswi. Rupanya mereka dapat lihat Azka bisa seperti itu karena memang ayahnya pun berpenampilan tak seperti ayah-ayah siswa disini pada umumnya. Mungkin hanya satu-satunya disini wali murid yang memakai anting selain ibu-ibu dan siswi, rambut cool yang acak lebih seperti menolak tua.
"Ayahnya Azka keren, maulah jadi sugar baby nya kalo modelannya kaya gitu mah!" kekeh Hani.
"Udah kaya adek kaka sama Azka, itu yang dibawa pasti adiknya Azka," ucap salah satu teman Hani. Keduanya kebetulan melihat kedatangan Rama dan Azza disambut Azka.
"Azza!!"
__ADS_1
"Teh Sekar?! Zahra?!" seru Azza.
"Om," sapa Sekar dan Zahra sedangkan Nisa masih melongo dibuatnya. Keduanya salim takzim pada Rama.
"Ra, siapa yang datang?" tanya Rama pada Zahra.
"Mamah, om. Kan papah lagi di Pangalengan,"
"Oh iya lupa!" kekeh Rama.
"Udah tua," jawab Azka dan Azza bersamaan.
"Sekar, nanti ikut juga ya ke Pangalengan?" tanya Rama.
Gadis ini tersenyum, "insyaallah om,"
"Kalo ga dibolehin aku culik aja ya?!" sahut Azka.
Tuk!
Kepala Azka dijitak Rama.
"Culik, culik...ai mau nyulik teh jangan bilang-bilang atuh!" anak-anak ini tertawa, mereka kira Rama akan memarahi Azka.
"Ya udah masuk dulu atuh," pamit Rama.
"Azza disini aja, sama teh Sekar sama Zahra," ijin Azza.
"Ya udah, daddy masuk dulu ke kelas."
"Nanti ketemu lagi," pamit Azka pada Sekar yang melambaikan tangannya.
Kini ketiga gadis itu berjalan menuju kantin sambil bercanda, membicarakan Azza yang masuk ke SMA favorit.
...----------------...
"Ra, titip anakku Sekar ya," Dila menutup sambungan telfonnya.
"Kamu harus siap kalau Sekar sudah mulai beranjak dewasa, sudah tau rasanya jatuh cinta. Dan atas keberaniannya dan sikap Azka, juga keluarganya aku ijinin Sekar pacaran sama Azka," Dila mengusap lengan suaminya.
Pak Agus menatap mata sang istri, tak ada kekhawatiran di wajahnya seperti saat keluarga Ganjar meminta Sekar.
"Iya ayah, Sekar pacaran sama Azka, Sekar bisa jaga diri. Azka pun sangat menghormati Sekar. Kayanya Sekar ga perlu jelasin Azka gimana, soalnya ayah bisa nilai sendiri selama ini Azka gimana?"
Ucapan Sekar masih terbayang jelas di otaknya. Akhirnya runtuhlah pertahanan pak Agus, ia merestui hubungan keduanya, meskipun terkadang ia masih was-was.
...----------------...
Senyum gadis ini tak pernah luntur dari wajahnya, selalu mengembang dan hangat.
Ia menghirup rakus udara sejuk disini. Baru kali ini ia merasa bisa sebebas ini. Ayahnya bisa menurunkan ego dengan memberikan kelonggaran tingkat hubungannya dengan lawan jenis, mungkin karena Azka orangnya. Rupanya definisi benci jadi cinta bukan hanya perempuan pada laki-laki saja atau sebaliknya, tapi kebencian memang beda tipis dengan rasa suka. Terlalu menganggap Azka badboy dan sangat menghindari namanya, membuat ayahnya justru kini malah menyerahkan sang putri pada si badboy ini. Badboy yang sering ia hukum di sekolah.
Hamparan perkebunan teh dan kebun warga membentang hijau dimata Sekar.
"Ga bosen liatin warna ijo-ijo? Ga pengen gitu liatin warna coklat, item, biru?" tanya Azka menunjuk pakaian dan kulit wajahnya mengejutkan Sekar. Teman-temannya berkumpul di teras depan sambil bercanda dan bermain gitar, sementara ibu-ibu sibuk di dapur dan para ayah di ruang tengah, tapi gadis ini lebih memilih menyendiri melihat pemandangan belakang villa keluarga Azka.
"Liatin kamu maksudnya?" kekeh Sekar.
Bad boy dengan swetter hoddie hitamnya ini berdiri di samping Sekar.
"Kita ga bakalan tau kedepannya bakalan kaya gimana, ketemu siapa aja, hidup itu selalu penuh kejutan. Termasuk ketemu sama kamu..." Sekar menoleh tersenyum pada Azka, dimana pemuda itu juga sedang menatapnya.
"Azka, makasih udah ikut andil mewarnai kisah remajaku. Kisah yang aku sendiri cuma punya crayon hitam dan putih. Tapi kamu datang bawa crayon warna lainnya, kanvas itu sekarang penuh dan bagus!" Sekar duduk di atas batu besar, tak tau apa alasannya batu besar itu disana, padahal halaman ini terlihat sudah rapi dan cantik. Padahal jika diteliti batu besar ini cukup bikin mata ga srek.
Azka ikut melebarkan senyuman, "Kalo gitu buka lagi halaman berikutnya, yang masih kosong...kalo kemarin kita masing-masing gantian menggoreskan crayonnya, sekarang kita barengan?" Azka mengulurkan tangannya di depan Sekar. Mata gadis itu jatuh pada uluran tangan Azka.
__ADS_1
"Dari awal aku ga pernah bilang ini sama kamu Azka..." Sekar menaruh tangannya di tangan Azka.
"Apa?"
"Aku sayang kamu, Azkara.." ucap Sekar tak lagi malu mengakui perasaannya.
"Aku sayang cowok yang ngajakin aku ke Punclut, terus kasih kemangi layu buat nembak aku. Aku sayang cowok yang ngajakinnya jajan bubur kacang sama bawain martabak tiap apelnya, cowok yang kirimin preman sangar buat anterin aku pulang ketimbang maksa-maksa aku buat diajak pulang,"
Azka tertawa mendengar semua kelakuannya selama ini.
"Aku sayang cowok yang selalu menghormati ayahku meskipun dia selalu jutek, aku sayang sama cowok yang diam-diam melakukan keajaiban tak terduga dibanding berbuat di muka semua orang,"
"Kamu sayang sama cowok preman ga jelas yang motornya butut terus ngajakinnya jajan gorengan, seblak sama lumpia basah?" Sekar mengangguk tertawa.
"Kamu sayang sama cowok yang ga punya apa-apa kaya aku?" Sekar kembali mengangguk.
"Wow! Kayanya pelet aku masih ngaruh sama kamu!" jawabnya terkekeh.
"Aku sayang sama semua yang kamu lakuin buat aku, kesederhanaan kamu justru bikin kamu begitu spesial."
Azka yang berdiri di samping Sekar sembari menggenggam tangan Sekar mengulurkan tangan yang satu lagi merapikan rambut Sekar.
"Makasih, ternyata kamu buta juga.." Sekar mengerutkan dahinya disebut buta.
"Ko buta?"
"Cinta kan emang buta, ga percaya? Kamu lebih milih gorengan (aku) dibanding es krim (Andra), kamu lebih milih martabak (aku) dibanding sawah, tanah, kambing dan emas (Ganjar)."
"Iya ya?!!" keduanya tertawa lagi.
"Ekhemmm!!!"
"Cie...ciee!!!!"
"Witwiwww!"
"Hey, ingat pesan nenek jangan berdua-duaan!"
Tiba-tiba segerombol anak-anak mengganggu acara romantis-romantisan Azka dan Sekar. Kehebohan villa itu tak usai, baru saja kehebohan anak-anak, di luar terjadi kehebohan lain.
.
.
"Papa!!! Mama!!! Cupid balik ma bawa ayank Muti sama anak-anaknya!"
"Anak loe cupid, itu kecebong loe!" seru Tian.
"Penganten bauuu ikut kesini, mau indehoy?! Pa, usir om Rifal jauh-jauh nanti berisik!" tunjuk Yusuf.
"Anak-anak loe otewe nanem bibit berjamaah dong Ram! Kalo penganten baru dibawa kesini?!" ujar Gilang.
"Ga boleh ada yang satu kamar sama pasangan! Ini acara anak-anak!!!" Nara datang dari dapur dengan mengacungkan spatula.
"Oh tidak!!!" seru para laki-laki ex MIPA3
"Itu ada apa?" tanya Sekar pada Azka dan Azza.
"Biasa itu anak-anak ABG \= angkatan babeh gue," jawab Azka.
.
.
.
__ADS_1
.
Kalau ada yang bingung siapa itu Yusuf atau cupid, Rifal dan anak MIPA3, boleh dibaca chat storyku satu-satunya MIPA 3 in your area, dijamin bikin kalian mengenang masa-masa sekolah. Chat story memang sedikit berbeda ya guys bacanya ditekan-tekan ga langsung muncul setiap katanya seperti novel umum.