Berandal Termanis

Berandal Termanis
Aku mau ikut kamu tawuran !


__ADS_3

Azka mendekat dengan santainya namun tetap waspada. Ia tidak bisa gegabah dalam mengambil sikap, padahal jika tidak ada Sekar dan Zahra, ia akan langsung menyerang tanpa basa-basi.


Mata Sekar tak sedetik pun teralihkan dari sosok pemuda dengan jaket jeans pudarnya itu. Wajah ramah dan manis Azka berubah dingin dengan tatapan mata tajam setajam elang, Sekar menggelengkan kepalanya, kenapa jika sedang seperti ini Azka justru terlihat keren, mirip seperti tokoh-tokoh mafia di komik yang selalu ia baca.


"Sasaran kalian, gue kan ?! Sekarang udah ketemu malah pada mundur, berlindung di badan perempuan ?! Sok sini atuh, maju !" pinta Azka, saat tanpa sadar para berandal itu menjadikan badan Sekar dan Zahra tameng sekaligus senjata mereka.


"Masa berlindung di cewek ?! Preman apaan ?" tanya Adam.


"Bawa ke markas !" pinta si berandal yang sepertinya memimpin aksi ini.


"Ngapain harus di markas, sok disini aja, biar gampang lempar ke UGD nya, rumah sakit deket dari sini !" jawab Azka. Sekar yang melihat kesempatan, saat Azka tengah bicara menginjak kaki si berandal sekencangnya hingga membuat ia mengaduh dan melepaskan tangan Sekar, Sekar juga tak segan-segan menjambak rambut preman yang memegang Zahra hingga ia meringis kesakitan.


"Lari Ra !" kedua gadis itu berlari, Azka tak tinggal diam, ia maju bersama yang lain hingga perkelahian tak terelakkan untuk melindungi Sekar dan Zahra, agar kedua gadis ini bisa menjauh.


Bukannya meneruskan tangisannya, Zahra malah tertawa mengingat berandal tadi diinjak dan dijambak Sekar, ternyata Sekar memang cocok untuk Azka, sama-sama jago berantem. bakat terpendamnya Sekar...


Azka menendang, memukul dan menyerang para berandal itu bersama teman-temannya. Sekar kini kembali melihat bagaimana Azka berkelahi untuk kedua kalinya. Rupanya seperti ini tawuran.


"Azka awas !" pekik Sekar saat melihat lawannya membawa alat senjata dan hendak dilayangkan pada Azka, bahkan Zahra sudah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tapi Azka sudah terbiasa dengan hal ini, sehingga ia dapat menghindar.


Badan salah satu berandal malah sampai terperosok ke parit kecil yang ada disana. Karena letak jalanan tempat mereka berkelahi berada diantara rumah-rumah warga, dan menyebabkan keributan, beberapa warga melihatnya. Tapi diantara mereka tak ada yang berani melerai, malah mem-videokan kejadian tersebut, kebiasaan warga +62.


Sampai tiba, seorang ibu berdaster membawa seember air bekas rendaman pelembut pakaian dan menyiramkannya ke arah mereka seperti menyiram kucing di masa kawin.


"Byurrrrr !"


"Woyyyy ! Dasar anak-anak bandel, kalo mau tawuran jangan disini !" pekiknya dengan bibir tersungging. Seketika perkelahian terhenti.


"Udah sore, pada pulang sana ! Bukannya pada ngaji !" lanjut si ibu membawa serta sapu dan mengacungkannya ke udara.


Para berandal itu mendengus kesal sekaligus menghela nafas lega kegiatannya harus terhenti karena si ibu, karena sudah sudah dapat dipastikan mereka kalah oleh Azka cs jika seandainya si ibu tidak datang, itu terbukti dari kondisi mereka yang sudah berantakan di obrak-abrik Azka cs.


Azka menyugar rambutnya, menghampiri Sekar, Sekar seketika tertawa.


"Basah ?" ia membaui rambut Azka, "bau mo_lto !"


"Iya kesiram dikit," tawa Azka.


"Si ibu nyiram ga bilang-bilang. Padahal mau request sabun sekalian !" Sekar semakin tergelak.


"Kamu ga apa-apa ?" tanya nya, Sekar menggeleng.


"Cuma tangan aku berminyak, bekas rambut cowok tadi !" jawab Sekar menunjukkan tangannya.

__ADS_1


Zahra tertawa, "ihhh jijik, kayanya belum mandi !"


"Dih, yang udah mau mewek malah ketawa ?!" ujar Rizal.


"A Adam lama sih jemputnya, jadi keburu disamperin preman !" ketus Zahra.


"Maaf, nunggu Azka..katanya sekalian mau jemput Sekar !" Zahra naik ke atas motor Adam.


"Tadi Zahra sama Sekar kira itu anak-anak a Azka, tapi ternyata bukan !" adu Zahra.


"Anak-anak kita mah ga ada yang ga mandi kaya dia atuh !" jawab Rizal tak terima.


"Berandal tapi wangi, bersih !" tambah Adam.


"Eh, jangan salah...dia juga tadi glowing ! Buktinya tangan Sekar sampe berminyak !" ujar Azka menimpali candaan mereka.


"Glowing apaan ?! Glowingnya karena berminyak !" sewot Sekar mengambil tissue dari tasnya.


"Beneran ngga apa-apa ?" tanya Azka, khawatir...karena sudah 2 kali Sekar mengalami kejadian begini, Azka takut Sekar akan trauma, terlebih kejadian ini ada hubungan dengannya, tepatnya gara-gara masalahnya.


"Engga, ternyata berantem itu seru ya !" seru Sekar tanpa di duga, Azka dan yang lain sampai specchless. Lihatlah siapa yang berucap ? Seorang Sekar Rinjani, si anak baik-baik.


"Kapan-kapan aku mau ikut kamu tawuran lah !" Azka menepuk jidat Sekar.


"Aduh, ihhh kenapa ditepok jidat aku ?!" gerutunya.


"Kamu tuh lucu, masa berantem seru ?! Aku kira kamu diem gitu mau nangis ?!" jawab Azka.


"Nangis ? Seru tau, tadi sempet deg-degan...tapi pas bisa jambak sama nonjok orang apalagi abis kesel gara-gara otak ngebul tuh asik ! Kaya memacu adrenalin, pantesan kamu ikutan geng beginian !"


"Idih, si Sekar ketularan gelo !" jawab Zahra.


"Besok-besok ajarin aku berantem dong ! Ga rame kan kalo cuma bisa jambak sama nginjek kaki doang !" Azka tertawa melajukan motornya.


"Bahaya atuh !"


"Iya, jadi kalo kamu nanti macem-macem, selingkuh, bisa ku kasih pelajaran !" jawab Sekar.


Baru beberapa minggu pacaran dengan Azka, Sekar sudah mengalami yang namanya bolos, memukul dan menjambak orang, bahkan melihat tutorial tawuran. Berkat Azka masa mudanya jadi lebih berwarna.


"Cewek mah jangan tawuran. Di rumah aja belajar masak bantuin mama, biar nanti pinter nyenengin suami !" ucap Rizal.


"Idih, A Izal pikirannya kolot ! Cewek juga harus bisa berantem buat jaga-jaga !"

__ADS_1


"Iya biar ga mewek kaya kamu tadi !" timpal Yoga membuat Zahra manyun.


"Besok Zahra mau belajar sama papa !"


Motor Azka melaju membelah kota di sore hari.


"Besok-besok kalo mau kemana-mana, biar kuanter jemput !" Azka tidak mau kejadian ini sampai terulang kembali.


"Azka, kalo geng ini malah membahayakan kamu, mendingan kamu keluar aja." Pinta Sekar.


Azka tertawa renyah, "ga usah khawatir, justru aku minta maaf sama kamu...gara-gara aku, kamu ikut keseret. Apa sebaiknya hubungan kita...."


Sekar mengeratkan pegangannya di jaket Azka.


"Aku ga mau putus !" potongnya cepat.


"Astaga, yang minta putus siapa ? Maksudku, kamu ada benernya juga, apa hubungan kita backstreet aja ? Biar orang-orang ga ada yang tau, ga menutup kemungkinan kedepannya bakalan ada preman preman lainnya ?" jawab Azka kini sendu, mengingat karenanya lah kini Sekar harus ikut terseret ke dalam kehidupannya yang keras.


"Aku baik-baik aja Ka !" jawab Sekar, tanpa sadar tangan gadis itu memeluk perut Azka.


"Lusa aku ikut acara OSIS, jadi dikasih dispensasi dari sekolah. Sayang kamu ga ikut OSIS," ujar Sekar merengut.


"Andra ?" celetuk Azka.


Sekar mengangguk, "awas jangan macem-macem, kalo nakal nanti aku susul !" jawab Azka.


"Biarin ah, aku mau affair sama kak Andra," tawa Sekar.


"Bener ? Mau kuseret, terus ku gendong kaya karung beras ?!"


"Ga apa-apa ! Aku ga takut !"


Azka melirik ke samping sekejap lalu menarik hidung Sekar yang sedari tadi menempel di pundaknya.


"Awww ! Azka !"


"Biar mancung kaya pinokio !" tawa Azka.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2