
"Apa yah?!" ia berbalik dan sukses mengejutkan ketiga orang di ruang tamu.
"Sekar, masuk!" pinta pak Agus tegas, mutlak tanpa bantahan.
Raut wajah gadis itu langsung keruh sekeruh air sungai abis banjir bandang, ia langsung mencari keberadaan ibunya seraya melempar tasnya begitu saja.
"Bu," panggilnya sedikit ketus dan panik.
"Nduk, baru pulang?" seperti biasanya, ibu ini adalah orang ter-ramah di rumah ini.
Tanpa mukadimah, Sekar langsung sewot, "bu! Ini maksudnya apa? Apa kuping Sekar yang salah denger? Sekar denger mau jodohin Sekar sama Ganjar?"
Ibu menatap gamang putri tunggalnya ini.
"Duduk dulu, minum dulu." Pinta ibu, tapi Sekar menolak.
"Ga mau bu, Sekar udah makan, udah minum di rumah Azka. Sekar cuma butuh penjelasan aja?" wajahnya masih tak bersahabat, dadanya naik turun karena mengontrol gemuruh emosi yang mendadak pasang.
"Baru rencana saja, itupun ayah belum putuskan," jawab pasrah ibunya mengusap pundak dan kepala sang anak lembut, seolah menularkan rasa pasrah.
"Tapi kenapa ga bilang dulu sama Sekar bu?!" nada bicaranya meninggi tanda gadis ini sangat sangat tak setuju. Sejak dulu ia tak suka dengan Ganjar, pemuda satu itu sombongnya ampun-ampunan mengalahkan malin kundang, padahal ia hanya tong kosong, begitupun kelakuan manja dan selalu membawa-bawa nama besar keluarganya yang dia bilang kaya 7 turunan.
"Sekar masih kecil bu, baru mau kelas XI, ayah tuh guru kan bu! Harusnya pikirannya maju, bukan mundur ke masa lampau, dimana anak gadis mesti dijodohin dan berakhir di dapur dengan pendidikan seadanya!"
"Sekar, jaga nada bicaramu sama ibu," pak Agus menyela obrolan ibu dan anak ini.
"Kalau mau salahkan, salahkan ayah saja."
"Iya, selama ini Sekar selalu nurut sama ayah. Apapun itu, termasuk buat jauhin orang-orang yang ayah anggap toxic buat hidup Sekar, ikut les dimana-mana biar Sekar bisa jadi kebanggan, mengorbankan kesenangan masa remaja Sekar, Sekar anggap itu semua demi kebaikan Sekar dan masa depan Sekar. Tapi ini, maaf Sekar keberatan, selama ini Sekar anggap ayah orang paling bijak, tapi hari ini Sekar sadar itu keliru. Ayah sangat tau bagaimana Ganjar!" Sekar mengusap air mata kecewanya lalu berlari menuju lantai atas.
Baru merasakan rasanya jatuh cinta tapi sudah harus dikandaskan secara paksa. Lagipula jauh dari pikirannya untuk menikah. Masih banyak cita-cita yang ingin ia gapai.
Pak Agus menghela nafasnya. Bimbang? sudah jelas, sebenarnya ia memang seperti yang dikatakan putrinya barusan, begitu overprotektif, kolot, tapi bukan penganut orangtua yang seneng jodohin anaknya terlebih dengan anak selevel Ganjar, anak manja yang doyan ngabisin uang orangtua. Apalagi Sekar adalah anak satu-satunya.
Hanya saja, ia ingat betul ucapan keluarganya di kampung.
...----------------...
__ADS_1
"Gus, Mas Tri selalu bantu dan kirim bapak barang, mulai dari baju, makanan, dan keperluan lainnya!" ujar sepupu pak Agus di kampung yang mengurus bapaknya, kebetulan rumahnya bersebelahan.
"Saya tidak pernah meminta-minta pada mas Tri dan mbak Esti ataupun pak Anto, lagipula saya masih mampu memenuhi kebutuhan bapak, apa bapak terima pemberian mereka?"
"Bapak sih terima, tapi ia jarang memakan ataupun memakai pemberian mas Tri, banyaknya disimpan saja atau dikasih anak-anak Gus,"
"Mas Tri dan mbak Esti kepingin jadiin Sekar mantunya. Keluarga kita sudah mengenal baik, ndak enak kalo nolak! Lagipula keluarga mereka terpandang di kampung, kebayang kalo sampe nolak akan seperti apa nanti?"
Belum lagi ucapan kedua tamu yang baru saja meninggalkan kediamannya.
"Sengaja kami berdua datang kesini, selain karena nengokin calon besan. Tapi juga mau menanyakan kapan kiranya bisa membicarakan masalah perjodohan Sekar dan Ganjar? Toh selama ini kan keluarga sudah setuju dan dekat, kalo tidak disambungkan kan sayang,"
"Maaf dengan tidak mengurangi rasa hormat dan kekerabatan, tapi Sekar masih kecil mas, mbak. Alangkah baiknya kita biarkan saja dulu anak-anak bersekolah dan menggapai cita-citanya," jawabnya diplomatis. Sejak tadi menampilkan senyuman tipis nan getir.
"Oh bukan menikah, cukup tunangan saja dulu untuk sementara, sebagai pengikat saja. Biar tali kekeluargaan kita semakin lekat? Biar mas Agus juga ndak usah khawatir sama bapak di kampung, ada saya dan Esti yang mengurus semua kebutuhan bapak. Tak usah khawatir biaya dan semacamnya, lagipula pak Woyo dan bapak kami kan kerabat dekat,"
"Biar saya bicarakan sama istri, dan Sekarnya sendiri,"
"Mas Tri sama mbak Esti berapa lama di Bandung?" tanya pak Agus.
"Ganjar?" tanya pak Agus.
"Di rumah adik saya, mas" jawab Esti.
"Oh, adik yang di Buah Batu?" tanya pak Agus, Tri mengangguk.
...----------------...
Pak Agus lantas duduk di kursi meja makannya, ia mengusap wajahnya kasar.
"Yah," tangan hangat istrinya mengusap kedua pundak lelah.
"Kita memang sudah mengenal keluarga mas Tri dan mbak Esti, tapi bukan berarti harus memaksakan kehendak pada Sekar," ucapan istrinya selalu menenangkan.
"Sekar juga masih kecil, beberapa bulan lagi baru kelas XI SMA, masih harus lulus dan kuliah, Sekar ingin jadi dokter," lanjutnya.
"Kasih saya waktu untuk berfikir," Beberapa kali pak Agus meminta bapaknya ini untuk tinggal bersama mereka di Bandung, agar ada yang mengurus tak merepotkan sanak saudara apalagi orang lain. Tapi bapaknya yang sudah tua itu selalu memilih menetap di kampung, enggan pindah.
__ADS_1
...----------------...
Sekar diam, ia marah, ia kecewa, tapi tak sampai menangis sejadi-jadinya seperti di adegan sinetron bertemakan perjodohan.
Tak habis pikir dengan orang-orang itu, Ganjar dan kedua orangtuanya, termasuk ayahnya.
Pikirannya kini hanya terisi Azka. Apa sentuhan tadi adalah sentuhan perpisahannya dengan Azka, apakah moment tadi akan menjadi moment-moment terakhirnya dengan Azka? Dengan keluarganya? Ia lebih memilih untuk tenggelam saja di lautan lepas. Ia tak mengerti, bukankah ayahnya mengijinkan dirinya dekat dengan Azka?
Tok! Tok! Tok!
Sekar mengerjapkan matanya, tanpa sadar ia merenung sampai ketiduran, padahal ini sudah memasuki waktu magrib.
"Sudah solat? Makan dulu yuk!" ajak ibunya dari balik pintu kamar.
"Iya bu! Duluan aja, Sekar solat di kamar aja,"
Meski terdengar konyol, kini ia berharap jika ucapan absurd Azka bisa menjadi kenyataan, bila ia akan menghapus kata bukan di dunia ini.
Gadis ini menggeser kursi dan duduk disana, membuka buku paket setebal 230 halaman, meski berusaha untuk fokus tapi tetap saja otaknya kini kacau. Sebesar itu pengaruhnya. Jangankan untuk menghafal, membaca saja ia seperti anak tk.
"Sekar, makan dulu!" beberapa lama kemudian, ibunya kembali memanggil.
"Iya bu, nanti kalo lapar juga turun nyari makan!" jawabnya.
Makan?! Apa masih ada navvsuu buat makan?
Ponsel Sekar bergetar, ia melirik. Sebuah nama tertera disana, seseorang yang tak ingin ia lihat sekalipun namanya, tak tanggung-tanggung bahkan kalo bisa Sekar ingin berbeda dunia dengan si pemilik nama ini.
Gadis ini memilih tak mengindahkan panggilan itu. Ia lebih memilih rebahan di ranjang, memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ia memejamkan matanya.
"Azka.." gumamnya.
.
.
.
__ADS_1