Berandal Termanis

Berandal Termanis
Manusia hanya bisa berharap Allah yang menentukan


__ADS_3

Sekar sudah kembali ke sekolah bersama Adam dan Yoga, tepat disaat bel sekolah berakhir. Tapi sayangnya kedatangan mereka yang memasuki celah pagar kawat terlihat beberapa orang.


Bagi Adam dan Yoga, mereka sudah terbiasa akan hal itu. Tapi saat seorang Sekar melakukannya ? tentulah akan menjadi sorotan.


Sekar tengah berjalan menuju ruang guru untuk menemui ayahnya.


"Sekar, hari ini rapat OSIS.." ucap Andra.


"Maaf kak, kayanya aku ijin untuk agenda rapat kali ini. Soalnya hari ini aku pulang bareng ayah, ada kepentingan mendadak."


Wajah Andra berubah masam, ia mengepalkan tangannya, terlebih saat Sekar meninggalkannya tanpa pamit.


"Ayah !" panggil Sekar.


"Sudah keluar ?" tanya pak Agus, Sekar mengangguk.


"Sudah ijin kegiatan OSIS ?" tanya pak Agus lagi, Sekar kembali menganggukan kepalanya.


...----------------...


Azka sengaja datang ke rumah Sekar sepulangnya dari kantor polisi.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam, bentar !" Sekar yang baru saja pulang dari rumah kerabatnya bersama sang ayah dikejutkan dengan kedatangan Azka.


"Surprise !!!"


"Azka !" seru Sekar, refleks ingin memeluk namun tertahan, akhirnya keduanya tertawa bersama.


"Duduk dulu, aku buatin minum !" pinta Sekar.


Azka duduk di kursi depan, dengan sesekali mengedarkan pandangan ke arah dinding. Dimana lukisan maha karya anak negeri terpampang besar dalam sebuah figura kayu.


"Eh, ada tamu rupanya !" seru ibu Sekar dari arah dalam. Azka langsung beranjak dan menyalami sang empunya rumah.


"Azka ?" sapa pak Agus tak percaya.


"Pak,"


"Bukannya ?"


"Sudah dibebaskan pak. Cuma dibutuhkan sebagai saksi." Jawab Azka, pak Agus menganggukkan kepala paham.


"Saya harap ini jadi pelajaran buatmu Azka. Jangan ikut-ikutan kelompok tak penting seperti itu, cuma bisa bikin rugi !" Azka hanya mengangguk saja sambil tersenyun sedangkan Sekar berdehem, karena ia tau untuk urusan satu itu, Azka tak akan mendengar siapapun. Pak Agus beranjak masuk kembali menuju ruang tengah.


"Ka, aku lagi bantuin ibu masak. Gimana dong ? Mau nungguin aku sebentar ngga ?" tanya Sekar.


"Cie, calon istri soleha ! Ga apa-apa, yuk biar aku sekalian bantuin. Siapa tau nanti sepulang dari sini aku langsung dapet gelar chef !" kekeh Azka.


"Beneran ?" tanya Sekar, Azka mengangguk dan mengikuti Sekar ke belakang.


"Eh, ko tamunya malah dibawa ke dapur Kar ?" tanya ibu yang sedang memilah-milih bahan masakan.

__ADS_1


"Iya bu, tamunya bandel, pengen ngikut ke dapur. Mau minta makan !" jawab Sekar ngasal.


"Nak Azka kalo di rumah sering bantu ibu juga ?" tanya ibu Sekar.


"Suka bu," jawab Azka membuat Sekar menoleh dan langsung meledakkan tawanya, karena tau jika kali ini manusia yang kadar ketebalan percaya dirinya setebal kulit badak itu sedang berbohong.


"Bagus dong, ga cuma anak gadis saja yang harus bantu ibu di rumah, anak bujang juga." Azka mengangguk-angguk.


"Bantu masak ?" tanya ibu Sekar lagi.


"Iya bu," Sekar kembali tertawa hingga mendapat cubitan di lengannya dari Azka.


"Wahh hebat ! Nantinya calon chef," jawab ibu Sekar.


"Coba apa buktinya kalo kamu sering bantu bunda masak ?" tanya Sekar menantang Azka.


"Motong bawang ?" tanya Azka. Kebetulan sekali saat Sekar sedang memotong bawang, gadis itu menyerahkan pisau berikut bawang merah dan talenan ke hadapan Azka.


"Nih, liat chef Azka kalo lagi beraksi !" ucapnya jumawa.


Azka mulai memotong bawang merah pelan-pelan, mengukurnya dengan naluri agar terpotong secara presisi.


"Kamu tuh mau motong bawang apa mau ngukir kayu ?" tanya Sekar.


"Biar rapi," jawab Azka.


"Idih, ga usah rapi-rapi yang penting terpotong kecil-kecil. Toh ga akan di nilai sama pak Camat ko setiap ukurannya,"


"Justru itu kamu salah, biar setiap potongannya itu mengandung nutrisi dan vitamin yang sama secara merata,"


Ibu Sekar tertawa melihat perdebatan manja antara Sekar dan Azka. Jika memang putrinya memiliki hubungan yang sehat semacam ini dengan Azka, sudah tentu ia akan merestuinya.


Cinta bersemi di dapur


"Kamu awas dulu !" Azka memegang kedua lengan Sekar dan mengangkatnya ke samping.


"Eh," Sekar terhenyak saat tau tubuhnya melayang sekejap dan berpindah posisi.


"Jangan ganggu konsentrasi asisten koki !" lanjut Azka, membuat Sekar melipat kedua tangannya.


Beberapa menit kemudian, Azka selesai memotong bawang dan menyerahkannya pada ibu Sekar.


Sekar tiba-tiba meledakkan tawanya melihat kondisi Azka.


"Ha-ha-ha !"


"Gengster ko kalah sama bawang, gengster macam apa ?" ia mengambil tissue dan mengusapkannya di ujung mata Azka.


"Jangan di kucek, sini aku bantu !" ucap Sekar.


"Ekhem !"


Keduanya terkejut mendengar deheman pak Agus yang melintas meminta kopi pada istrinya.

__ADS_1


"Sini pak, rame ini kalo ada nak Azka !" ajak istrinya.


"Saya di luar saja," jawab pak Agus.


"Kalo bunda di rumah sukanya masak apa ?" tanya Sekar mengawali obrolan, setelah terganggu ayahnya.


"Bunda lebih suka masak perkedel kentang, sop kesukaan daddy, kalo bunda tuh lebih seneng ditemenin pas nonton drakor !" jawab Azka.


"Oh ya ?! Wah, kayanya satu tipe sama aku !" seru Sekar.


"Iya, tapi ujungnya kalo ibu-ibu ya gitu. Ah, lebih ganteng daddy dibanding si Cha Eun woo mah !" Azka berujar sambil berkacak pinggang menirukan gaya bunda Nara, membuat Sekar dan ibunya tertawa. Ada senyuman tipis dari pak Agus, mendengar dari tadi acara memasak di rumahnya lebih ceria dan penuh tawa sejak kehadiran Azka .


Pak Agus yang tengah membaca buku menoleh saat ponselnya berdering. Ia menghela nafasnya lelah.


...----------------...


Makanan sudah tersaji. Kali ini mau tidak mau Azka ikut makan bersama keluarga pak Agus. Kencan ala Azka dan Sekar kali ini adalah masak-masakan, sebelum nanti berlanjut ke tahap masak beneran.


"Ayah harap untuk saat ini kalian cukup hanya sebatas teman saja, kalian masih kecil, sekolah yang rajin dulu," ucapnya datar, penuh penekanan dan dingin. Sekar dan Azka saling melirik, acara makan yang seharusnya suka cita menjadi hening dan mendadak menegangkan.


"Insyaallah pak," jawab Azka mantap, padahal kaki Sekar sudah mencolek kaki Azka, seakan memberi isyarat bahwa ia sedang khawatir.


"Pertemanan yang membawa dampak positif," lanjutnya lagi. Azka dan Sekar mengangguk. Sepertinya jalan Azka untuk mendapatkan restu pak Agus tidaklah mudah.


"Pak, sudah. Ini tuh acara makan, ko kaya lagi acara interogasi aja ! Nak Azka, silahkan dimakan," pinta ibu Sekar.


"Iya bu, makasih." Azka mengambil nasi dan lauk pauknya.


Mungkin ini bedanya Sekar dan Azka. Azka memang sudah terbiasa dengan keadaan tertekan seperti ini. Entah ia yang tak takut dengan intimidasi atau memang inilah Azka si pemuda unik, ia terlihat biasa saja dengan perkataan pak Agus. Padahal Sekar saja sudah benar-benar tak bisa bernafas, jantungnya hampir copot dari jantungnya.


"Insyaallah pak, amanah bapak akan saya jaga."


Azka kembali mencairkan suasana menjadi hangat.


"Azka," panggil Sekar.


"Hm ?"


"Ko aku ngerasa aneh ya, ayahku ko tiba-tiba ngomong kaya tadi. Kaya ada yang ngehasut, padahal kan sebelumnya ayah ga pernah larang-larang atau gimana. Malah seneng-seneng aja kalo aku sama kamu, tadi aja pagi..ayah keliatan khawatir sama kamu !" keduanya kini tengah berada di kursi teras.


"Ada ataupun engga orang yang ngehasut, aku hormatin keputusan ayah kamu. Kan beliau ga larang kita pacaran," jawab Azka, membuat Sekar mengernyit.


"Coba tadi ayah kamu bilang apa ?" tanya Azka.


"Ayah harap hanya sebatas teman,"


"Manusia hanya boleh berharap, tapi Allah yang menentukan. Toh Allah sudah menentukan kalo kita berdua udah cemewew..." jawab Azka terkekeh, sontak Sekar tertawa.


"Iya ya, ko aku ga kepikiran kesitu !" tawa Sekar lagi.


.


.

__ADS_1


.


Hay guys, maaf jika updatenya tersendat-sendat. Berhubung kondisi kesehatan mimin masih belum membaik. Mimin sangat sangat berusaha untuk bisa update, tapi jika Allah menghendaki mimin istirahat maka update an harus mau bersabar. Semoga masih tetep setia ya guys 🤗


__ADS_2