Berandal Termanis

Berandal Termanis
Azka's plan


__ADS_3

Dan disinilah mereka terdampar, menyatroni gerobak es goyobod di pinggir pohon.


Dua cangkir besar es goyobod sudah di tangan.


"Kenapa?" tanya Azka menarik dagu Sekar, tenggorokannya tak jua terasa segar meski ia sudah minum, bukan karena haus tapi karena sesuatu yang ingin ia keluarkan dari hati.


Sekar menggeleng, "Azza ultah kapan sih?"


"Emmhh, pas liburan kenaikan. Kamu ikut ya? Nanti aku mintain ijin, semuanya ikut kok, malah Nisa juga diajakin biar nemenin Zahra sama kamu, rame-rame sekeluarga bareng keluarga cs'nya daddy juga sambil liwetan," jelas Azka.


"Insyaallah,"


"Ada yang mau disampein sama aku?" Azka memang bukan cenayang yang tau isi pikiran Sekar tapi dari gelagat dan mata Sekar, Azka dapat melihat jika ada sesuatu yang mengganggu.


"Engga, aku cuma mau tanya sesuatu!" dadanya terasa sesak kali ini, Sekar menyimpan gelas besar goyobodnya dengan isi tinggal setengah.


"Apa?" Azka menggenggam tangan Sekar dan menatap gadisnya ini, bersiap mendengarkan keingin tauan Sekar.


"Kalo pelukan dosa ga sih?" tanya nya.


"Hm, sebenernya karena kita bukan mahrom itu dosa. Tapi manusia kan gudangnya dosa," kekeh Azka membuat Sekar tersenyum nanar.


"Kalo gitu, gini aja boleh kan?!" Sekar menaruh kepalanya di pundak Azka dengan menghadap ke belakang, agar Azka tak dapat melihat matanya yang sudah berkaca-kaca, sambil ia mengusap sudut mata.


Azka mengerutkan dahinya aneh.


"Kamu wangi, padahal udah keringetan, kena sinar matahari juga," Sekar menghirup aroma Azka dalam-dalam. Meski tak memeluknya, begini saja sudah tercium. Jelaslah wajahnya menempel di pundak Azka.


"Kamu kenapa sih?" tanya Azka.


Si mamang goyobod hanya melirik sekilas, anak jaman sekarang memang suka bikin ngiri, istri mana istri...


"Cuma mau kaya gini aja, siapa tau nanti aku bakalan kangen."


"Kangen mah tinggal bilang aja, nanti aku samperin ke rumah!" jawab Azka tak pernah lepas dari senyum.


"Pulang yuk!" ajak Sekar, rasanya matanya tak bisa berlama-lama menahan rasa melow.


"Kamu sakit, capek? Mau pms?" tanya Azka.


"Kayanya," bohong Sekar seraya memakan sisa campuran roti, kelapa muda, tape dan hunkwe itu.


"Ya udah aku bayar dulu," jawabnya mengeluarkan selembar uang hijau.


Pegangan tangan Sekar di jaket Azka mengencang, seperti tak ingin ada yang melepaskan, dan itu semua tak luput dari kekhawatiran Azka.


Azka menarik rem motor, hingga ban motor kini berhenti tepat di depan gerbang rumah Sekar.


"Bobo siang ya, siapa tau kita ketemu lagi!" titah Azka melepas helm di kepala Sekar.


"Di mimpi?" tanya gadis ini.


"Iyalah, masa di kamar kamu." Sekar ikut tertawa kecil, di sela-sela tawa renyah keduanya.


"Sekar, baru pulang?!" raut wajah manis Sekar menjadi datar, ia mendadak pucat.

__ADS_1


Sorot matanya tajam sangat kentara jika ia tak suka pemuda yang baru saja keluar dari rumahnya.


"Ngapain kamu disini?" tanya Sekar dingin. Wajah Sekar sama dengan wajahnya saat pertama diganggu Azka, bahkan mungkin lebih keruh dari itu.


"Nyari kamulah, maaf kemarin ga dateng sama mama sama bapak. Baru sempet sekarang,"


"Siapa?" tanya Azka.


"Dia Ganjar, kerabat ayah dari Jawa." Jawab Sekar.


"Oh," mulut Azka membentuk huruf O.


"Baiknya ga usah kenalan sama dia," pinta Sekar dengan tegas.


"Loh, kok?"


"Aku masuk dulu, hati-hati di jalan," ijinnya pada Azka mengusap pipi Azka sekilas lalu membuka pintu pagar.


"Minggir! Lebih baik kamu pulang aja, aku lagi ga pengen diganggu. Bagus kamu ga usah datang lagi kesini!" sarkas gadis itu masuk ke dalam, ia segera berlari ke kamarnya, membanting pintu dan menguncinya.


"Sekar?!"


...----------------...


Azka membuka helm dan jaketnya, duduk di ayunan yang biasa dipakai Azza, lalu membuka sepatunya.


Terdengar cekikikan Azza dan Zahra dari dalam.


"A, kirain teh Sekar ikut lagi ke sini?" tanya Azza meng emoet permen berbatang.


"Engga, kayanya sakit."


"Sakit? Sakit hati kali, baru sadar salah terima cowok!" tawa Azza.


"Azza! Neng!" panggil Nara dari dalam.


"Apa bun?!" teriaknya.


"Kalo dipanggil orangtua teh jangan cuma teriak gitu jawabnya, samperin orangnya, Azza," ucap Azka.


"Iya maaf."


"Iya bun!"pekiknya segera masuk ke dalam.


"A, yakin Sekar sakit?" tanya Zahra, Azka menoleh pada Zahra.


"Iya, ada yang aneh sama Sekar. Ga biasanya kaya gitu," jawab Azka.


"Di kelas ada masalah?" tanya Azka lagi pada Zahra.


"Engga, bukan masalah di rumah." Dengan jawaban Zahra saja Azka tau Sekar memang sedang tidak baik-baik saja.


"Jadi?"


"Sekar dijodohin a," jawaban itu sukses meluncur bebas dari mulut Zahra.

__ADS_1


"Dijodohin?!" tanya Azka cukup terkejut, alisnya kini bertaut, menandakan jika masalah kali ini cukup serius.


"Jadi pak Agus ada rencana, tepatnya sih keluarga si calonnya ini yang ngebet pengen jadiin Sekar mantu. Makanya desak pak Agus buat terima perjodohan mereka. Katanya Sekar sih, selain karena kekerabatan mereka merasa berjasa gitu karena jadi orang pertama yang absen buat urus kakenya Sekar. Pamrih dong ya, kalo kaya gitu! Mereka orang kaya dan terpandang di kampungnya a," terang Zahra bernada sumbang. Sekaya apa mereka? Apa bisa membeli benua Eropa? Atau se terpandang apa mereka? Apakah jika berdiri di Bandung masih bisa terlihat dari Timika? Rasanya, dimata Allah semua makhluk sama saja.


"Sekar-nya mau?" tanya Azka.


"Ya engga lah, makanya dia kaya orang sakit gitu!" Zahra tersenyum dibalik pengaduannya, setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan untuk membantu Sekar dan Azka.


"Kenapa Sekar ga jujur sama aa?" tanya Azka.


"Ya aa tanya sendiri atuh sama Sekar, mungkin karena dia sungkan, dia bilang gini sama Zahra...."


"Masalah Azka tuh udah banyak Ra, dia juga sering dihukum karena bikin masalah. Jangan sampai gara-gara masalah aku, dia jadi masuk lagi ke pusara permasalahan baru. Setaun lebih lagi dia mau lulus, biar fokus sekolah aja!" tiru Zahra.


Azka mengeraskan rahangnya, "siapa cowoknya?"


"Kalo ga salah namanya tuh Ganjar gitu?!" Zahra memutar bola matanya ke atas mencoba mengingat-ingat.


"Ganjar?" Azka teringat pemuda yang tadi ada di rumah Sekar.


"Aa mau ngapain kalo udah gini?" tanya Zahra.


Ia menyeringai, "masih belum ada jawaban dari pak Agus kan? Lagian kalaupun pak Agus sudah memutuskan iya, selama janur kuning belum melengkung. Bisalah di cegat dulu di jalan!"


"Jangan sadis-sadis a, lagian ini mah bukan lagi masalah anak muda, udah melibatkan keluarga." Pesan Zahra.


"Kaya yang ga tau si bunda sama daddy aja kamu Ra, dikirain ada masalah apa! Sampe kaya orang sakit aja,"


"Dih, pacarnya mau dijodohin sama orang lain, masih bisa senyam-senyum!" Zahra menyeru sewot, bola matanya mengikuti gerakan Azka yang menyimpan sepatu dan masuk ke dalam rumah.


"Engga say goodbye sambil mewek bombay atau menikmati moment-moment terakhir gitu a? Kaya di film?!" tanya Zahra berteriak.


"Ngapain? Biar dilirik sutradara?" jawab Azka tertawa sinis.


"Makanya jangan kebanyakan nonton drama bollywood, biar tetep realistis!" jawab Azka menyampirkan tas di sebelah bahunya masuk ke dalam kamar.


Ceklek!


Blugh!


Pintu kamar Azka tertutup, ia merogoh ponsel di saku celananya.


"Hallo, assalamualaikum braderr! Hampura (maaf)ganggu, bisa minta tolong satronin rumah di perumahan Cempaka Asih blok G nomor 14?"


(..)


"Iya rumah Sekar,"


"Kalo ada yang keluar dari sana info! Hatur nuhun brader, assalamualaikum!"


.


.


Noted :

__ADS_1


Liwetan: makan nasi liwet bareng-bareng.


__ADS_2