Berandal Termanis

Berandal Termanis
Sekilas Kesan Tentangnya


__ADS_3

"Kalo mau, kamu mau apa ? Terus kalo aku ga mau, kamu juga mau apa ?" tantang Sekar kini tak mau kalah.


"Kalo mau yuu ke KUA, buat latihan !" jawab Azka.


"Kalo ga mau, aku bawa kamu ke tengah laut, kutinggalin kamu pas lagi dikerubungi hiu. Sampai kamu bilang mau !" lanjutnya.


"Ih, sadis !"


Azka melajukan motornya ke arah gasibu, memperlihatkan gedung yang menjadi icon kota ini, gedung sate. Tanpa sadar Sekar semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Azka untuk mendengar ucapan dan ocehan Azkara.


"Kenapa disebut gedung sate ?" tanya Azka.


"Karena diatasnya ada beberapa buletan, kalo cuma satu disebutnya..." jawab Sekar.


"Gedung cilok !" kompak keduanya tertawa, pemuda itu membelokkan motornya ke arah jalan Dipatiukur dimana terdapat deretan stand jajanan.


"Masih siang, jadi belum pada jualan ! Nanti kalo sore pasti mulai rame," jelasnya melajukan lagi sepeda motornya. Sampai tiba mereka di daerah yang cukup terkenal di sini, dimana hawanya dingin, dan banyak pepohonan besar sampai akar gantungnya condong ke arah jalanan.


"Ini tuh daerah Tamansari kan ?" tanya Sekar.


"Iya,"


"Katanya jangan lewat kesini ?"


"Itu kan kalo malem, kalo masih siang mah rame atuh cantik. Itu juga daerah rawannya bukan disininya."


"Itu kalo kesana kebun binatang Bandung kan ?" tanya Sekar menunjuk jalanan ke arah lain.


"Iya, itu ! Mau kesana ?" tanya Azka.


"Mau ngapain ?" Sekar mengerutkan dahinya.


"Kali aja mau nyamain muka sama yang di dalem !" tawa Azka sontak mendapat pukulan telak dari Azka.


Motor melaju di sudut jalanan, dimana tembok jalanannya di hiasi mural di daerah Baksil, sebuah aliran sungai yang disulap menjadi taman super kece ada disana.


"Itu apa Ka ?" tunjuk Sekar, Azka celingukan melihat jalanan untuk menyebrang.


"Itu pohon ! Masa ga tau,"


"Azka ih serius !" tapi Azka malah tertawa, baginya menggoda Sekar sangat mengasyikan.


"Mau liat kesana, Teras Cikapundung ?" tanya Azka.


"Mau !" seru Sekar.


Mereka menghabiskan waktu disana sampai selepas dzuhur, hanya untuk sekedar mengobrol dan menelusuri taman dengan aliran sungai tak seberapa.


"Aku ke mushola dulu buat dzuhur ya, kamu tunggu disini.." ijin Azka, Sekar mengangguk.


Beberapa jam bersama Azka, tapi rasanya baru beberapa menit karena tak ada kata bosan disana. Beda rasanya saat bersama Andra, sejam saja berasa setahun.


Pemuda itu menghampiri Sekar sepaket dengan rambut basah hasil air wudhu, membuat Sekar ternganga terpesona, segera Sekar menyadarkan lamunannya. Azka memang tidak setampan artis korea idaman anak muda atau aktor bollywood idaman ibu-ibu. Tapi Sekar tak dapat memungkiri jika Azka memang enak dipandang.


"Nih, diminum dulu ! Biar nanti ga oon," ujarnya tertawa.

__ADS_1


"Ih, ngatain aku oon !" tapi Sekar menerima air mineral dingin dari tangan Azka dan meminumnya.


"Kalo orang pintar kan minumnya jamu tolak bala, kalo kamu...air putih aja," Azka duduk di samping Sekar yang tengah memperhatikan aliran deras air sungai.


"Bandung sekarang mah udah berkurang kesegarannya, udah banyak polusi sama sampah !" ujar Azka.


"Tapi makin indah, tau kenapa ?" tanya Azka.


"Karena pemerintah sama anak mudanya pada kreatif ?!" jawab Sekar.


"Salah satunya, salah lainnya ?" tanya Azka.


"Ga tau," Sekar menggidikkan bahunya tak ingin berfikir.


"Karena ada kamu."


"Uhukk..uhukkk...!"


"Yu, mau cari makan siang ngga ? Tapi kalo nanti mau makan sama jajan, aku ga bisa ngajak nonton, soalnya uang saku pelajar kaya aku mah miris," kekehnya sambil berdiri dan menepuk-nepuk celana bagian belakang. Sekar tertawa, Azka memang hanya pemuda biasa, meskipun ia tau rumahnya seperti apa. Tapi ia tetaplah pemuda biasa, bukan anak konglomerat, ataupun kaum hedon macam di cerita dongeng yang bertabur harta, hingga uangnya saja tak akan habis 7 turunan. Jika Azka sampai begitu, mungkin setiap hari ia akan membuat kota Bandung hujan uang.


Azka membawa Sekar menyusuri kawasan Ciumbuleuit lalu berhenti di kawasan yang disebut Punclut. Banyak rumah makan bergaya lesehan dengan nasi merah dan kawan-kawan sebagai menu utamanya.


"Rame," gumam Sekar.


"Ya iya atuh rame, kalo mau makan yang sepi mah di kuburan," jawab Azka. Pemuda ini membuka helmnya dan menyugar rambutnya.


Azka berjalan masuk membawa Sekar masuk. Mata Sekar berbinar melihat tumpukan teman nasi, tapi ia menoleh saat seorang dari sana menyapa Azka.


"Mboy !"


"Kumaha, kumaha (gimana, gimana)...daddy ? Bunda ?" tanya laki-laki berumur kira-kira 37 tahun.


"Alhamdulillah om, bunda sama daddy baik. Om sendiri gimana ? tante Tasya ?" tanya Azka.


"Alhamdulillah baik, Mih !" panggil Tian.


"Ya ?"


"Ada mboy Azka-nya papa Rama, mama Nara !" jawab Tian.


"Mboy ?!" sapa seorang perempuan sedikit mungil.


"Tante,"


"Cieee, ini siapa ?!" tanya Tasya.


"Ini calon..."


"Calon apa, masih kecil udah calon-calonan !"


"Calon jodoh," tawa Azka, membuat Sekar mencubitnya.


"Ha-ha-ha, Rama banget !"


"Yang ini, Nara banget !" tunjuk Tasya pada Sekar yang manyun pada Azka.

__ADS_1


"Mau makan, sok atuh makan dulu ! Bisi nanti pingsan disini," ujar tante Tasya.


***


Pengamen berlalu lalang masuk ke dalam rumah makan. Azka yang sudah selesai makan, melengos mencuci tangannya.


Kawasan berhawa dingin ditambah makanan, dan pemandangan menyejukkan mata membuat Sekar terhanyut. Sampai telinganya mendengar suara yang tak asing baginya. Ia menoleh ke arah tengah, Azka kini sedang duduk memetik senar gitar milik pengamen disana sambil bernyanyi. Bukan lagu cinta yang biasanya sang pria akan persembahkan untuk perempuan saat sedang kasmaran, melainkan lagu milik Kuburan band, lupa-lupa ingat, membuat Sekar tertawa. Dimana letak romantisnya ?


Tidak sedikit yang bertepuk tangan mengagumi permainan gitar Azka dan suaranya, hingga membuat mereka memasukkan uang recehnya ke dalam kotak yang berada di depan Azka.


Selesai lagu, Azka tidak mengambil uang di dalam kotak, tapi ia berikan pada si pengamen yang meminjami gitarnya.


"Nuhun kang," (makasih kang)


"Sami-sami," (sama-sama)


Sekar bertepuk tangan, "kenapa uangnya ga diambil ?"


"Buat dia, itung-itung simbiosis mutualisme !" jawab Azka.


"Aku bisa ngehibur kamu, karena ga bisa nonton ke bioskop plus dapet pahala. Dia yang minjemin aku dapet duit tanpa harus cape nyanyi," jawab Azka meraih gelas berisi air teh tawar. Sekar menatap Azka lekat, disinilah letak romantis seorang Azkara Wisesa, romantis pada semua orang. Ia belum mengenal Azka sepenuhnya. Tapi, ia sudah tau jawabannya, kenapa Zahra sampai menyukai pemuda ini, kenapa Nisa pun menyukainya. Dan kenapa kini hatinya merasakan getaran...


Apa sekarang Sekar harus menelan ludahnya sendiri atas keangkuhannya ?


"Azka,"


"Ya,"


"Kenapa kamu bisa kenal sama preman-preman kemaren ?" tanya Sekar.


"Kamu percaya ngga kalo aku kenal mereka di pengajian ?" jawabnya dengan pertanyaan lagi.


"Ya enggalah !" tukas Sekar.


Azka tersenyum, "100 buat Sekar !" serunya.


"Buat saat ini, kamu cukup tau kalo mereka temanku dan mereka tidak akan menyakitimu," jawab Azka.


"Kalau aku mau tau lebih ?" tanya Sekar.


"Statusmu juga harus lebih," jawab Azka meraih kelapa dan menyeruputnya.


"Maksudnya ?" beo Sekar. Azka mencari-cari sesuatu, dan matanya tertuju pada daun kemangi, lalapan makan tadi.


"Pacaran yu !" ajak Azka menyodorkan setangkai kemangi yang sudah meleyot atau hampir layu.


.


.


.


Noted :


Simbiosis mutualisme : Hubungan antar makhluk hidup yang saling menguntungkan.

__ADS_1


__ADS_2