
Perkelahian yang didasari karena balas dendam, bukan semata-mata hanya ingin membuat lawan jera saja, tapi lebih kepada ajang pembuktian dan harga diri bagi anak muda yang di masa itu jiwa mudanya sedang deras mengalir dalam darah.
Azka kembali mendorong motornya setelah memasuki jalanan dekat rumah. Tawuran barusan membuahkan hasil sabetan clurit di jaketnya dan luka di sudut bibir dan tulang pipi tapi ia berbangga diri karena geng lawan terkapar, area kekuasaan mereka semakin luas, nama mereka semakin dikenal. Setidaknya itu yang mereka yakini. Bagi anak muda di masa itu, hal itulah yang disebut dengan keren.
Terdengar suara pintu gerbang dibuka. Azka langsung mendongak. Si penguasa alam semesta-nya ternyata sudah menunggu di depan pintu gerbang sambil bersidekap.
"Ga usah pulang aja sekalian, A." Ia melipat kedua tangannya di dada. Padahal Rama sudah bersiap untuk menyusul si mboy nakalnya ini jika dalam 5 menit lagi Azka belum pulang.
"Simpen motornya disitu aja. Mau bunda loak besok !" ucap Nara membuat Rama yang ikut berada di belakangnya ikut menaikkan alisnya. Nara lebih kejam dibanding Ambu-nya dulu.
"Teh, loakkan pak Haji nerima motor bekas, teh.." kekeh Wawan. Malam ini masih ada Wawan dan beberapa karyawan yang bangun. Biasanya mereka bergadang untuk melepas penatnya hari dengan secangkir kopi hitam di pendopo belakang bersama si tuan rumah. Bukan hal aneh lagi jika mereka sering jadi penonton setia Azka yang diguyur oleh Nara.
"Sip ! Pak Haji punya kiloan besi kan ? Cocok !" jawab Nara.
"Jangan atuh bun, nanti ga bisa bawa calon mantu jalan-jalan," ujar Azka.
"Ga usah ngada-ngada, ga ada cewek yang mau sama tukang tawuran !" Nara mendaratkan tangannya di kuping Azka.
"Jangan marah-marah. Kamu dulu mau sama aku yank ? Padahal aku tukang tawuran," bisik Rama mendapatkan tatapan tajam dari Nara. Tau peribahasa jangan dekati singa jika sedang marah, maka kamu akan ikut diterkam olehnya, hal itu berlaku untuk Rama saat ini, Azka tertawa melihat ayahnya ikut kena imbasnya. Jarak umur yang tak membentang jauh membuat keduanya seperti adik kaka.
"Astagfirullah ! Itu bibir sama pipi kenapa ?! Ini jaket, ya Allah !!!" decak Nara melihat Azka keseluruhan.
"Lama-lama jaket abis !" desis Nara masuk ke dalam rumah. Malam ini ia sedang berbaik hati tak mengguyur putranya itu dengan air dingin.
"Ganti aja pake karung A, kalo jaket di rumah abis !" pekik Asep dari pendopo di okei Azka tanpa wajah berdosanya.
Azka membuka jaketnya dan menggantungkannya di jemuran belakang, ia mencuci tangannya di keran yang biasa di pakai menyalurkan air untuk mencuci mobil, motor, dan tanaman. Sebercak darah menempel di jaket dan tangannya. Untung saja bunda tak menyadari itu, pikirannya melanglang buana, saat perkelahian tadi, ia menghela nafasnya lelah, apa yang akan terjadi nanti ? Ia menutup matanya.
Semarah-marahnya Nara, ia tetaplah seorang ibu yang menyayangi anak-anaknya. Azka masuk ke ruang tengah, dimana Nara sudah menunggunya dengan air hangat dan lap handuk sepaket P3K.
"Mau sampai kapan aa kaya gini ?" tanya Nara.
"Sampai bosen, sampai Bandung aman dan tentram.." jawab Azka sekenanya duduk di hadapan sang ibu, sedangkan Nara mengelap wajah kotor putra sulungnya dan membubuhinya dengan betadine.
"Aa bukan walikota, aa juga bukan polisi ataupun tentara. Bandung kota besar, tidak akan sanggup kalo pemuda seperti aa mencoba menertibkan warganya, terlalu banyak sekarang otak jahat. Mau jadi apa, pahlawan kesiangan ?" cerocos Nara.
"Setidaknya aa mau menghukum yang salah, darah dibayar darah, mereka seenaknya ganggu dan melukai yang ga punya salah bun, yang kaya gitu harus ditindak," debat Azka. Jika seperti ini, Azka adalah foto copy Nara.
"Aa bukan hakim yang bisa menjatuhi orang lain hukuman. Aa bukan penegak hukum, biarlah semua berjalan seperti adanya. Karena itulah hukum alam, orang-orang cari duitnya seperti itu."
Rama bagai melihat Nara dan Nara kecil sekarang yang sedang berdebat.
"Dulu cita-cita aa pengen jadi si buta dari goa hantu bun,"
__ADS_1
Rama melotot dan tertawa mendengar pengakuan anaknya, apakah tak ada yang lebih keren lagi sosok pahlawan di mata Azka.
"Emang superman udah ga keren gitu ?!" tanya Rama.
"Engga," jawab Azka.
"Lebih warasan si buta dari Goa hantu, dad !"
"Superman lebih sixpeck badannya. Lebih ganteng kalo kata perempuan," jawab Rama.
"Ganteng tapi otaknya kurang sesendok,"
"Ngaco ! Kamu yang kurang sesendok," sarkas Nara.
"Iyalah, masa ca_wat dipake di luar celana. Kan kaya orang ga tau malu !" jawab Azka.
"Tapi ga jadi bun. Kalo harus buta dulu biar bisa numpas kejahatan dan jadi jagoan terus punya monyet buat teman hidup, aa ga mau. Masa iya seumur-umur kenalnya mo_nyet, mau nikah sama mo_nyet ?" ujar Azka.
Rama semakin tergelak.
Nara mendorong kepala anak absurdnya yang tentu saja gen Rama.
"Setidaknya aa jadi pahlawan buat beberapa orang, menyadarkan beberapa orang juga. Itu bisa bikin perubahan buat orang-orang yang udah aa tolong. Setidaknya mereka tau, jika macam-macam disana maka mereka akan dapet ganjarannya."
"Terus pake apa, orang-orang kaya gitu tuh hanya tau otot ! Namanya juga anak muda bun, cari jati diri !" jawab Azka bertos ria dengan Rama.
"Mau tau caranya ?" tanya Nara, Azka mengangguk.
"Gini nih,"
"Waaannn ! Minta air seember sama sabun mandi ! Mau mandiin anak muda yang lagi cari jati diri tengah malem !!" pekik Nara.
"Kaburrr !!!" Azka langsung menghambur dan melompat ke arah tangga.
*******
Azka duduk di depan kelas bersama teman-temannya. Ia bernyanyi ria sambil gitaran dan menabuh sisi bangku, alat musik ala kadarnya.
Sekar berada di kelasnya, seraya memandang keluar kelas.
"Ra, tumben telat ?" tanya Sekar saat Zahra baru saja datang.
"Iya, papahku abis ngandangin dulu si kuda lumping dari empunya !" jawab Zahra.
__ADS_1
Sekar mengernyitkan dahinya, "kuda lumping ? Motor Azka ?" tanya nya.
Zahra mengangguk, "iya. Soalnya yang punya nya bandel, jadi bunda jabel dulu motor A Azka buat beberapa hari ke depan,"
"Bandel kenapa ?" tanya Sekar.
"A Azka semalem pulang jam 12 lebih, pas pulang udah bonyok, palingan kaya biasa tawuran di jalan," jawab Zahra seperti itu bukanlah hal yang aneh lagi.
Zahra mengerutkan dahinya, bukankah semalam Azka bersamanya, lalu Azka bilang kemarin hendak tidur bersamaan saat pukul 21.30 wib.
Sekar berlari ke arah luar kelas,
"Eh, mau kemana Kar ?!" pekik Zahra. Sekar tak peduli teriakan Zahra.
Sekar berlari menuju arah kelas Azka, kebetulan pemuda itu ada di luar.
"Sut," senggol Yoga, dagunya menunjuk Sekar.
Azka yang disenggol menoleh, lalu tersenyum.
"Eh, calon ibu ?! Ada apa, tumben " tanya Azka beranjak dari duduknya. Pandangan Sekar jatuh pada luka di tulang pipi dan sudut bibir.
"Bisa bicara sebentar ?" pinta Sekar.
"Banyak juga boleh," kekehnya.
"Berdua aja," Azka mengangkat kedua alisnya tak percaya.
"Brayyy ! Diajakin dulu pacaran !" ijin Azka pada teman-temannya.
"Ha-ha-ha, gaskeun A !! Cihuyyy, pejenya ahhh !" jawab cs Azka. Sekar mencubit Azka, kapan ia menerima pernyataan perasaan Azka.
Sekar berjalan lebih dulu, diikuti Azka.
Setelah dirasa tempatnya aga sepi, Sekar berhenti.
"Kamu bohong sama aku ?" tanya Sekar.
.
.
.
__ADS_1
.