Berandal Termanis

Berandal Termanis
Sumpah yang mulai dilanggar


__ADS_3

Azka mengerutkan dahinya.


"Bohong ? Kapan ? Ko ga kerasa ?!" kekeh Azka, disaat serius pun pemuda ini selalu bercanda hingga membuat Sekar kesal sendiri.


"Kamu kemana dulu, semalem ? Katanya jam 21.30 udah di kasur mau tidur ? Tapi ada yang bilang kamu pulang malem banget, terus ini !" tunjuk Sekar pada luka-luka di wajah Azka yang membiru dan mulai mengering.


"Semalem emang aku udah di kasur, tapi bangun lagi. Ini, ga usah khawatir ya, laki-laki mah biasa," jawabnya enteng. Padahal gadis ini terlihat begitu khawatir.


"Berhubung udah kesini, mau jajan bareng engga ?" tanya Azka.


"Engga ! Udah mau masuk, aku balik !" ketusnya marah.


"Ya udah aku anter ke kelas," tanpa meminta jawaban dari Sekar, Azka membawa tangan Sekar di gandengannya dan berjalan menuju kelas Sekar. Sekar tertarik dan menurut.


"Aku udah bilang kan, jangan marah. Aku makin sayang nih, padahal lagi digantung sama kamu," ujar Azka.


Wajah Sekar merona, seketika rasa kesal yang ia rasakan memudar. Padahal jika dipikir-pikir, kenapa Sekar harus marah ? Sekar kan bukan siapa-siapa Azka.


Sekar tak yakin dengan perasaannya sekarang. Ia akui, ia mulai menyukai Azka. Rupanya sumpah yang pernah ia ucapkan tak mampu mencegah hatinya untuk berdebar saat dekat dengan Azka.


"Udah nyampe," ucapan Azka membuyarkan lamunan Sekar.


"Eh," Sekar yang ukuran tubuhnya lebih kecil dari Azka, melangkah dari belakang Azka. Sontak Zahra dan Nisa melongo dibuatnya.


"Itu..." tunjuk Nisa, Zahra mengerjap.


"Ya udah, belajar yang bener ya. Bukan karena mau bilang biar bisa ajarin anak-anak kita. Tapi karena kalo kamu belajar ga bener, kamu ga bakalan lulus, nanti dimarahin pak Agus, nanti aku ikut sedih, lama lagi dong lamarnya," Azka terkekeh.


Sekar sudah bereaksi hendak menyemburnya dengan kata-kata, tapi Azka buru-buru memotongnya.


"Lamar kerjaan maksudnya," Azka terkekeh lalu meninggalkan Sekar.


"Sekar !" sentak Nisa.


"Kamu ngapain sama a Azka ?!"


Deg !


Ia lupa, jika barusan ia berpegangan tangan dengan Azka.


"Kamu ?!"


"Engga, bukan gitu Sa..aku bisa jelasin !" jawab Sekar.


"Kar, " Zahra menghampiri keduanya.


"Tadi cuma kebetulan aja ketemu, kalian berdua kan tau sendiri kak Azka gimana orangnya, gue ga ada apa-apa sama kak Azka," Sekar menggigit bibir bawahnya, takut jika mereka salah paham. Tapi tunggu, kenapa ia harus takut ? Apa takut karena dianggap pengkhianat, atau dianggap menelan air ludah dan sumpahnya sendiri yang sudah dengan angkuh tak akan menyukai Azka.


Pelajaran kali ini terasa membosankan untuk Sekar. Cuaca yang mendukung berikut angin sepoi-sepoi masuk melalui celah-celah ventilasi kelas, mengusap lembut kelopak mata untuk terpejam.


"Mata gue udah tinggal beberapa watt lagi nih, ngantuk banget !" bisik Nisa.

__ADS_1


"Sama, si ibu tuh nerangin kaya lagi nina boboin," jawab Zahra.


"Kar, kamu tidur ?" tanya Zahra.


"Hem? Belum, ga tau kalo 5 menit lagi," jawab Sekar. Gadis yang biasanya pendiam ini berkelakar membuat kedua temannya terkekeh.


"Tumben biasanya murid teladan," ujar Nisa.


"Kalo kamu murid telat'an," ujar Zahra, ketiganya tertawa, membuat guru di depan berdehem menegur.


Ketiganya terdiam. Baru saja Sekar memfokuskan mata untuk melihat penjelasan guru di depan, dari arah pintu luar, terlihat beberapa murid tengah dihukum oleh ayahnya di tengah lapangan, tapi satu yang membuatnya mengalihkan pandangannya, disana ada Azka, entah apa yang dilakukannya kali ini. Begitupun Azka yang melihat Sekar, melambaikan tangannya.


Sekar langsung mengalihkan wajahnya ke arah buku. Tapi beberapa kali ia mencuri-curi pandang ke arah luar dan selalu bertemu dengan mata Azka yang memandangnya.


Azka terlihat membawa sapu, sepertinya hukuman yang di dapat hari ini adalah menyapu halaman sekolah.


Azka melihat wajah suntuk Sekar.


"Kelas X 3 pelajaran siapa ?" tanya Azka pada Yoga sambil menyapu halaman sekenanya.


Yoga mengalihkan pandangannya ke kelas Sekar lalu menggidikkan bahunya, "teuing !" (ga tau)


"A, mau kemana ?" tanya Rizal, melihat Azka yang berjalan menuju kelas Sekar.


"Nyapu atuh, masa nyapu bergerombol disitu, kan sekolah ga cuma sebatas itu aja !" jawabnya realistis, diangguki yang lain sedangkan Yoga mendengus menggelengkan kepalanya, tau trik Azka.


"Modus," dengus Yoga.


Sekar sudah mengulum bibirnya. Beberapa kali Azka bolak-balik di depan kelas Sekar.


"Tu orang ngapain sih," Sekar terkikik, Zahra ikut menoleh.


"A Azka ?" gumam Zahra.


Sekar benar-benar ingin tertawa dengan ulah Azka, karena kini ia melintas dengan gaya jalan bebek, lalu jalan kepiting. Bahkan suara gesekan sapu lidi yang ia bawa mengganggu suara bu Erni, dan memecah konsentrasi murid di kelasnya, hingga kini sebagian murid justru memperhatikannya.


"Azka ! Kamu sedang apa disini, kenapa ga belajar ?!" Bu Erni yang terganggu, akhirnya keluar.


"Ini juga lagi belajar bu," jawabnya.


"Belajar apa ? Pasti kena hukuman lagi," ucap bu Erni.


"Lagi belajar nyapu, kata pak Agus laki-laki juga harus bisa beres-beres, biar nanti pas udah nikah bisa bantu istri di rumah."


"Ihhh, uwu banget a Azkanya aku !" gumam Nisa, sedangkan Zahra sudah tertawa.


Sekar menggelengkan kepalanya gak habis pikir, benar kata Zahra..Azka memang kurang waras, tak ada takut-takutnya dengan guru dan hukuman. Hukuman seperti makanan sehari-hari baginya, dilahap habis !


"Ga usah ngada-ngada kamu, ga mungkin pak Agus bilang kaya gitu ! Sudah ! Jangan nyapu disini, suara sapu kamu berisik, ganggu kelas saya lagi belajar !" usir bu Erni, sementara kelas Sekar kini tertawa kecil melihat aksi absurd seniornya yang memang terkenal bandel sedang berdebat dengan bu Erni.


"Masa saya nyapu ga boleh bu, saya mah baik, bagian kelas orang juga saya sapuin. Kurang baik apa saya coba ?!" tanya Azka.

__ADS_1


"Iya, tapi jangan sekarang, suara sapu kamu ganggu suara saya !" jawab bu Erni sudah benar-benar geram di debat oleh Azka.


"Justru sekarang, mumpung saya lagi baik bu. Kalo nanti saya malas, ada pepatah mengatakan bu, niat baik harus disegerakan, jangan dinanti-nanti !" debatnya.


"Terserah kamulah suka-suka kamu !" membuat Azka tersenyum menang.


Bu Erni sudah menggertakan giginya tanda kesal dan meninggalkan Azka sendiri di luar, daripada harus menghadapi murid gendeng macam Azka, ia lebih memilih masuk kembali, melanjutkan pelajarannya. Tapi bukannya pergi, Azka malah mengekor masuk ke dalam kelas, membuat semua melongo dibuatnya.


"Kamu ngapain ikut masuk kesini ?! Ini bukan kelas kamu !" bu Erni menengok dengan wajah keruhnya, menghadapi Azka memang menguras emosi.


"Ibu gimana sih, katanya terserah saya, suka suka saya...ya saya maunya masuk ikut ibu,"


"Ya maksudnya engga ikut saya juga Azka !!!" geramnya melemparkan spidol ke lantai saking kesalnya.


"Oh, bilang dong bu, kan saya jadinya tau kalo ibu ga mau saya ikut masuk," jawab Azka, pemuda itu memungut spidol itu.


"Ngapain saya harus bilang juga. Kamunya saja yang tidak tau diri,"


"Kalau saya ga tau diri, saya ga akan nengok ibu panggil saya Azka, bu, saya pasti udah ngaku jadi Justin Beiber,"


"Keluar !" pinta bu Erni.


"Jangan marah bu, iya saya keluar ini...tapi janji ya bu..."


"Janji apa lagi, Allahuakbar..!" gemasnya.


"Janji jangan manggil-manggil saya lagi, deal ?!" tanya Azka.


"Ngapain saya harus manggil kamu, ga penting !" dengusnya.


Azka melambaikan tangannya pada Sekar yang langsung menunduk.


"Dahhhh," gumamnya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Sekar.


Zahra jelas melihat itu, sedangkan Nisa gemas sendiri, ia salah kira..karena posisinya yang berada di belakang Sekar.


"A Azka ngedipin gue !"


"Sudah, jangan dianggap gangguan barusan, kita lanjutkan lagi pelajarannya. Sampai mana barusan ?" Bu Erni celingukan mencari spidol, ia baru ingat jika barusan spidolnya dipungut Azka.


"Azkaaaa !!!!!" pekiknya.


Murid-murid kelas X 3 tertawa.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2