
"Mau kemana ?" tanya Sekar saat Azka mengajaknya ke arah lapang.
"Mau nonton atlit NBA tanding ngga ?" tanya Azka, pertanyaannya ini sungguh meyakinkan Sekar.
"Atlit ? NBA ?" tanya Sekar, Azka mengangguk.
"Kapan ? Di gor mana ?" tanya nya lagi.
"Di sini, di sekolah kita !" Sekar mengerutkan dahinya.
"Masa sih sekolah kita se pemes itu ?! Sampe datengin atlit NBA segala," jawabnya tak percaya. Rupanya Sekar masih belum mengenal siapa pacarnya.
"Please atuh Kar, jangan mau di be*goin a Azka ! Paling-paling lagi narsis !" ucap Zahra yang berada di samping Sekar. Azka membawa Sekar duduk di kursi favoritnya.
"Disini, view lapangan keliatan. Dan yang pasti dari tengah lapang, kamu keliatan jelas !" Azka mengedipkan matanya sebelah pada Sekar.
"Kamu mau kemana ?" tanya Sekar.
"Tunggu aja disitu !"
Andra sudah mengambil bola basket dan mendribble nya secara jumawa, Azka menitipkan tasnya pada Sekar.
"Titip ya, ada harta berharga di dalemnya !" membuat Sekar mencebik, yang benar saja..paling isinya buku selembar yang ia linting dan sebuah pulpen.
Jika Andra sudah bersiap dengan seragam basket dan sepatu olahraga lengkap. Beda halnya dengan Azka yang hanya membuka seragam menyisakan t shirt hitam bertuliskan guns and roses.
"Titip juga ini ya, takut si bunda marah. Baru hari selasa soalnya, masih dipake buat hari kamis !" kekeh Azka, Sekar mengangguk.
"Ini ada apa ya ?!" tanya Sekar membeo pada Zahra.
"Kayanya kak Andra ngajak a Azka tanding basket deh !" jawab Nisa.
"Apa jangan-jangan anak-anak tau kamu pacaran sama a Azka ?" tanya Zahra, Sekar menggidikkan bahunya tak tau.
"Terus urusannya apa sama kak Andra ?" tanya Nisa.
"Peak ! Kan kak Andra suka sama Sekar, gitu aja nanya !" jawab Zahra.
Andra mendribble bola di depan Azka, seolah-olah tengah mengejek Azka jika ia lebih jago dalam hal apapun dibanding pemuda berandal di depannya ini.
"Sampe berapa ?" tanya Azka.
"Cukup 15 poin aja. Gue yakin cuma 5 menit sih !" ucapnya sombong tertawa bersama teman-temannya. Adam, Yoga dan Rizal tampak baru duduk menemani Sekar, Zahra dan Nisa.
Sekar khawatir, "aduh ! Ngapain Azka terima tantangan kak Andra, emang Azka bisa ?" tanya Sekar, membuat Adam, Yoga, Rizal dan Zahra terkekeh.
"Kalo Azka kalah gimana Kar ?" tanya Zahra.
"Ya ga gimana-gimana. Emang setau aku, Azka ga ikut ekskul apapun kan ?! Lagian aku terima Azka bukan karena dia jago apapun," jawabnya.
Adam tertawa, "liat aja nanti Kar !"
Azka menatap tatapan meremehkan dari Andra untuknya.
Saat bola memantul ketiga kalinya dari tangan Andra, tanpa basa-basi Azka langsung menepis bola ke samping dan merebutnya dari Andra, Andra sampai terkesiap terkejut.
"Oyyy !" Andra mengejar, namun dengan lincah Azka mendribble dan mengecoh Andra sambil menyunggingkan senyumnya.
"Ndra ! Rebut oy !" pekik teman-temannya.
"Bentar, kalem aja bro..belum panas !" pekiknya.
Azka mendribble, membawa bola basket, melempar dan
Shottt !
__ADS_1
Bola masuk tepat ke dalam ring lalu kembali memantul bebas. Skor unggul untuk Azka.
Tak banyak bicara, poin-poin berikutnya terbalas Andra meskipun tak sebanyak poin Azka. Aksi kedua pemuda itu memancing para siswa yang baru saja bubar dari dalam kelas untuk menyaksikan mereka. Utamanya, mereka tak menyangka orang baru, yang biasanya Azka akan meramaikan pamor ruang BK, tapi kini menjelma jadi bintang lapangan.
"Itu Azka kan !"
"Ga nyangka ternyata basketnya bagus !"
"Kak Andra aja kalah poin !"
Kuping Andra terasa terbakar. Pemuda itu mencoba bermain kasar dan main sikut, tapi rupanya Azka sudah tau cara bermain seperti ini. Dengan sengaja Azka malah mempermainkan Andra,
"Diatas langit masih ada langit, Ndra !" ucap Azka.
"Triple point !" Azka melempar bola dengan jarak jauh.
Blushhh !!!
Bola kembali masuk meskipun jaraknya jauh, dan menghasilkan 3 poin, bahkan anak basket saja belum tentu bisa melakukannya.
Sekar sampai melongo dibuatnya.
"Si@*llll !" umpat Andra, saat mendengar tepuk tangan yang jelas bukan untuknya.
Andra sudah banjir keringat, tapi Azka masih tersenyum dan mendribble bola, seperti menghadapi Andra bukanlah perkara sulit.
"Si*@l si Azka ! Gue kira dia ga bisa basket !" gumam Andra. Jika begini caranya bukan hanya gagal menjauhkan Sekar dari Azka tapi ia juga mendapatkan malu.
Sekali lagi sebagai penutup Azka berlari mendrible bola lalu melompat dan melakukan slam dunk.
Blushhh !
Ia sampai sempat bergantung di ring basket sesaat sebelum bola jatuh bebas ke bawah dan Azka mengakhiri permainannya.
"15 poin ! Meskipun lebih dari 5 menit." Andra tak berkutik dibuat bungkam oleh berandal kampung yang ia pikir tak bisa apa-apa itu.
Azka menghampiri Sekar yang masih melongo tak percaya, meraih seragam dan jaketnya lalu tasnya.
"Barusan liat atlit basket tanding kan ? anggap aja michael jordan versi kini !" ucap Azka.
"Mau pulang atau mau minta tanda tangan ?" tanya Azka menggoda Sekar, Adam tertawa.
"Wahhhh, aku patut berbangga diri dong !" ucap Sekar.
"Kenapa ?" tanya Zahra.
"Di ojekin sama Michael Jordan !" jawab Sekar.
"Dih !" Zahra mencebik.
"Pasangan sengklek !" desis Yoga.
"Kamu sejak kapan bisa basket ?" tanya Sekar, tanpa mempedulikan Andra yang membeku bersama teman-temannya mereka pergi dari sana menuju parkiran motor.
"Jangan salah Kar, sebutan boleh anak kampung. Tapi kemampuan ga kalah sama anak terlatih. Di deket rumah juga ada lapang baaket sama voli, ada lapang bola meskipun cuma seadanya !" jawab Rizal.
"Sok duluan, nganter dulu Sekar !" pamit Azka pada yang lain.
"Kenapa ga ikutan ekskul basket ? Pasti nanti kamu ga kalah eksis ?!" tanya Sekar.
"Emang kamu ridho gitu, aku jadi eksis, banyak yang suka ?!" goda Azka.
"Engga," geleng Sekar terkekeh.
"Biar kamu dianggap berandal aja !" Azka menjitak kepala Sekar.
__ADS_1
"Ih Azka !" bibir Sekar mengerucut.
Diantar Azka kini lebih terasa menyenangkan.
"Kalo besok ga usah dianter, aku mau kerja kelompok dulu di rumah temen !"
"Ya engga apa-apa, kalo pulang kabarin aja !" jawab Azka.
"Ga apa-apa aku naik angkot aja bareng yang lain !"
"Aku kawal !"
"Sama cundil ?" tanya Sekar.
"Ko Cundil, kamu seneng sama cundil ?" tanya Azka.
"Ya engga, dulu kan gitu waktu ngawal aku dari rumah Zahra,"
"Engga, sama aku !" jawab Azka.
"Oh, ga usah lah lagian cuma kerja kelompok deket !" ujar Sekar.
"Kabarin aja, aku takut..."
"Takut apa ?" tanya Sekar.
"Takut kamu hilang, ditelan angkot !" jawab Azka.
"Kan kalo naik angkot, emang masuk ke dalem angkotnya kan ?" tanya Sekar.
"Nah iya, makanya !"
"Terus aku naiknya gimana, kalo ga ditelen angkot. Masa mau naik diatas atapnya ih ! Ngaco kamu mah !"
"Di bempernya," kekeh Azka.
Laju motor berhenti di depan rumah Sekar.
"Hati-hati di jalan," ujar Sekar.
"Ga mau kiss bye ?" tanya Azka.
"Kaya bocah !" Sekar melirik ke kanan dan ke kiri, dirasa sepi.
Ia menempelkan dua jarinya di bibirnya lalu kemudian berpindah ke pipi kanan dan kiri Azka, membuat Azka tertawa.
"Jadi ceritanya di sun ini teh ?" Sekar mengangguk.
"Cuma pipi doang ? Ko ga kerasa !" goda Azka.
"Udah ah, sun aku mahal !"
"Nanti aku ganti," jawab Azka.
"Pake apa ?"
"Pake sun go kong !" jawab Azka lagi.
"Emang aku mo_nyet !" seru Sekar.
.
.
.
__ADS_1
.