Berandal Termanis

Berandal Termanis
Makasih sudah jaga jodoh saya


__ADS_3

Azka bersiap-siap, ia mengganti bajunya dan kembali meraih kunci motor.


Sementara di luar sudah ada ketiga cs setianya.


"Mau pada kemana sii?!" tanya Azza duduk membawa setoples cemilan. Adik Azka satu ini memang doyan ngemil, badannya memang tidak terlihat gemuk seperti donat, tapi jika diangkat mungkin akan membutuhkan 2 sampai 3 orang untuk melemparnya ke sungai.


"Mau...." Rizal mencomot cemilan Azka.


"Mau kemana aja boleh!" kelakarnya.


"Cih! Pasti mau berantem!" tuduh Azza.


"Ko tua?!" tanya Adam tertawa.


"Tau," ketus Azza.


"Itu tempe," seloroh Adam lagi.


Yoga hanya tersenyum saja menyimak ketiganya bercanda. Dari keempat orang ini memang Yoga yang paling mendekati definisi dinginnya seorang berandal. Dari tadi pemuda ini tak sedetik pun lepas dari memandangi adik Azka ini. Menyukai Azza? Jawabannya iya, tapi ia hanya bisa memendamnya saja dalam hati, menganggap itu hanyalah angan-angan semu, Azka pasti akan sangat protect terhadap adik perempuannya, begitupun Ramadhan, sudah pasti berharap jika anak perempuan satu-satunya, mendapatkan kekasih atau jodoh dengan akhlak mulia dan latar belakang yang bagus, tidak sepertinya.


"Aa mau kemana ih?! Kata bunda anterin Azza ke teh Enok, mau sewa kebaya buat perpisahan nanti?!" teriak Azza melihat kakanya turun dengan gaya berandalnya seperti biasa, berandal manis...


"Sama Azmi dulu atuh, pake motor si bunda, aa ada perlu!" jawabnya menyugar rambutnya.


"Yuk! Cabut!" ajak Azka memakai helm.


"Meni rombongan gini, curiga mau berantem?! Awas bunda tau, udah mau naik kelas 3 a, jangan bikin ulah terus!"


"Bukan!" jawab Azka.


"Mau ngapain atuh?" tanya Azza.


"Mau nganter manasik haji,"


Azza sampai tersedak makanannya, "uhuk! Uhukk!"


"Minum Za," Yoga meraih teh kotak dari meja, teh kotak milik Azza.


"Dasar sableng!" ujar Azza kepayahan menahan pedas, sementara kakanya ini tertawa puas.


"Masa manasik haji bajunya kaya orang mau ngamen di bus kota?!" sarkasnya.


"Mau pada kemana ini teh ?" tanya Nara masuk dari belakang dengan membawa sepiring goreng sukun.


"Mau halan-halan bun," jawab Azka melahap sukun goreng yang masih panas.


"Masih panas bun," keluhnya.


"Suruh siapa main comot aja?"


"Aa pamit bun, assalamualaikum!"


Azka melahap habis makanannya lalu menyalakan motornya. Tak seperti kebanyakan adegan film berandal-berandal keren di tv, mana ada berandal mau beraksi nyemil dulu sukun goreng, yang ada itu permen karet atau minuman beralkohol.


"Kata Cundil, belum ada tanda-tanda si Genjer mau keluar dari rumah Sekar. Ini udah mau magrib. Pasti dia mau sampe malem!"


"Kagok a mau magrib ?" ucap Adam. (tanggung)


"Solat magrib disana aja, pak Agus juga ga akan marah," Azka tertawa, seperti ada yang akan ia rencanakan.


Keempatnya meluncur menuju kediaman Sekar menembus angin jalanan yang semakin sore semakin dingin, Cundil masih setia stay di pintu depan komplek rumah Sekar, ia bahkan bisa mengakrabkan diri pada satpam disana meskipun penampilannya awur-awuran kaya sisa nasi yang diacak-acak kucing.


Terdengar suara motor Azka dan ketiga lainnya di depan pos satpam kompleks Sekar.

__ADS_1


"Pak! Apa kabar?!" sapa Azka, sedikit tips dari Azka, jika kamu menyukai seseorang, yang kamu dekati bukan hanya ayah, ibu nya saja, tapi satpam kompleknya juga. Agar kelak suatu hari disaat kamu lagi menyatroni rumah si cem-ceman ga digrebek massa.


Dengan membawa sebungkus martabak, ia masuk ke pos satpam dimana Cundil sedang mengobrol bersama 2 orang satpam sambil ngopi. Kulit kacang dan bungkusan kuaci berserakan disana.


"Eh nak Azka!!" sapanya, Azka meraih punggung tangannya dan bersalaman.


"Ini pak, biar ngobrolnya makin mantep!"


"Wah apa ini?" diraihnya kresek merah berisi sekotak martabak bangka.


"Ojo repot-repot Le!" jawab si satpam yang satunya lagi.


"Ka, sejak kapan nama loe jadi Le?"bisik Cundil.


"Sejak kenal Sekar, suka-suka mereka weh lah! Yang penting ga jadi cong!" jawab Azka diokei pemuda bertindik dan bertatto itu.


"Pak, maaf ga bisa lama. Soalnya masih ada urusan ke rumah pak Agus!" pamit Azka.


"Oh gitu, ya udah atuh sok mangga dilanjutkan!" jawabnya.


"Le, matur suwun nggeh!" ucap si satpam bernama pak Cipto.


"Yang mana rumahnya Ka? Seumur-umur baru sekarang nyamperin rumah guru killer!" ujar Adam.


"Hooh lah! Bawaannya horor!" gidik Rizal.


"Itu!" tunjuk Azka pada rumah berpagar putih, di parkiran masih ada motor gede mirip motornya Valentino Rossi milik Ganjar.


"Si Genjer masih ada! Berani juga Ka?" tunjuk Rizal pada motor gede berwarna hitam kuning.


Suara knalpot motor Azka menyadarkan lamunan Sekar, dari tadi gadis ini hanya bisa merenungi nasib sambil sesekali menghembuskan nafas jengah. Menatap langit-langit kamarnya dalam waktu lama, seraya memikirkan nasib kedepannya, membuat kepala mumet dan air mata tak terbendung.


"Azka?!" Sekar turun dari kasur, berjalan menuju jendela kamarnya dan menyingkabkan tirai jendela.


Netranya menghangat dan cerah melihat pangeran berkuda besinya ada di luar, tangannya terampil membuka jendela kamar.


"Ka, meni kasian. Kayanya abis nangis!" sahut Rizal.


"Mau dimainin apa langsung disikat?" tanya Yoga.


"Sikat pake sikat gigi Ga," jawab Adam.


"Aku turun ya!" Sekar menutup jendela kamarnya dan segera turun dari kamarnya.


Ganjar sedang berada di ruang tamu bersama pak Agus, sepaket dengan alis berkerut dan urat yang tertarik tegang karena otaknya yang muter bagaimana bisa melewati benteng untuk mengalahkan bidak Ratu pak Agus.


"Sekar?!"


"Yah, ada temen-temen Sekar di luar!" Sekar langsung membuka pintu depan dan setengah berlari menuju pagar. Angin sore mengayunkan rambutnya menampilkan mata sembab, dan hidung memerahnya.


"Hay, maaf lama. Pada masuk yuk!" gadis ini masih menyisakan sesenggukannya membuka pagar besi.


"Tunggu!" Azka meraih pergelangan tangan Sekar.


"Kamu abis nangis?" Azka mengusap pipi Sekar, gadis ini menggeleng.


"Jangan bilang kelilipan, kelilipan apa sampe pada sembab gini?!" Sekar malah terkekeh.


"Bilang sama aku, kamu kenapa? Sama siapa?" tanya Azka, Sekar menggigit bibir bawahnya.


"Nanti aku cerita tapi ngga sekarang dan engga disini," jawabnya dengan mata memohon.


"Ka Yoga, ka Adam, ka Rizal parkirin aja motornya disini!" tunjuk Sekar di carportnya, berdampingan dengan motor Ganjar dan motor ayahnya.

__ADS_1


"Siap!"


"Nih! buat kamu sama ayah, ibu!" Azka menyerahkan martabak manis seperti biasanya.


"Favorit kamu, double keju!" lanjutnya.


"Makasih, yu masuk!" ajak Sekar menggengam tangan Azka.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam," Pak Agus mendongak melihat kedatangan Azka cs begitupun Ganjar.


"Pak," Azka langsung meraih punggung tangan pak Agus bersama ketiga temannya.


"Azka? Adam, Rizal, Yoga?" alisnya bertaut. Ada apa rombongan anak-anak penghuni BK mendatangi rumahnya, apakah akan melakukan demo?


Dengan secara sengaja Adam dan Yoga menghimpit Ganjar duduk di sofa, membuatnya tak nyaman.


"Om, mereka temen-temen Sekar?"


"Ini, yang tadi anterin Sekar pulang kan?" tunjuknya pada Azka.


"Iya, mereka temen-temenku. Kenapa? Ga suka?" tanya Sekar sengak.


"Dan Azka ini..."


"Kar, bawa martabaknya ke dalem mumpung masih panas!" pinta Azka.


"Oke,"


"Sekar, ganti celana kamu," pinta pak Agus.


"Ya Allah, Sekar lupa yah!" gadis ini langsung berlari ke dalam.


"Ada apa ini Azka, datang ramai-ramai ke rumah saya?" tanya pak Agus.


"Mau silaturahmi pak, kebetulan sudah mau kelas 3. Sebentar lagi lulus, takutnya ga pernah punya kesan baik diantara kita sama bapak. Makanya kita kesini mau bikin kesan baik, biar punya kenangan manis..."


"Oh," meskipun tak mengerti maksud si anak bandel ini, setidaknya satu yang pak Agus tangkap disini, Azka sedang membuat Ganjar tak nyaman dan ingin membatasi ruang gerak Ganjar.


"Boleh juga,"


"Kalo gitu saya ke belakang dulu, ambil minum!" Pak Agus beranjak meninggalkan para pemuda ini di ruang tamu.


"Maaf, ini siapa ya?" tanya Azka pada Ganjar.


"Gue Ganjar, calon penjaga hatinya Sekar!" jawabnya jumawa, Azka menyodorkan tangannya lalu dijabat oleh Ganjar.


"Kenalin saya Azka, hamba Allah yang terpilih untuk jadi jodoh Sekar!"


"Baru calon penjaga hati kan?" tunjuk Azka.


"Makasih ya udah mau jagain jodoh saya! Untuk selanjutnya, biar saya jaga sendiri," lanjutnya.


"Motor loe keren bruhh! Bisa meren (kali/kayanya) balapan?!" Adam menepuk pundak Ganjar yang terlihat lembek dan merangkulnya.


"Iya, dimodif dikit bisa pake nyalip di tikungan tajam. Bukan nyalip anak gadis orang!" Yoga menepuk dan mencengkram pundak satunya.


Gleukk! Ganjar menelan salivanya berat.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2