
Azka sampai di depan pasar, melihat sosok tua yang tengah membunyikan periwitnya sambil mengarahkan kendaraan masuk keluar dari pasar agar tertib dan kondusif.
"Mang ! Sehat ?" tanya nya.
"Eh, kamana wae a ?" tanya nya, umur tua tak menjadikannya bermalas-malasan untuk mencari rupiah, begitulah orang kecil.
"Kumaha aman ?" tanya Azka.
"Udah 2 hari ada anak-anak punk suka ngumpul di belakang pasar," jawabnya.
"Ngapain mang, ganggu ngga ?" tanya Yoga.
"Kadang suka ganggu, biasanya a Abay suka ngontrol tapi udah seminggu ngga ada yang ngontrol pasar," jawab si tukang parkir.
"Om Abay lagi sibuk mang, biar nanti saya sama kawan-kawan yang ngontrol mang, gantiin om Abay sama daddy !" jawab Azka, si tukang parkir mengangguk ramah.
"Biasanya suka jam berapa itu anak-anak pada ngumpul ?" tanya Rizal.
Si tukang parkir melengos untuk menanyakan waktu pada pedagang asongan.
"Jam sabaraha ayeuna euy ?" tanya nya.
(Jam berapa sekarang ?)
"Jam 2 mang," jawab si pedagang.
"Tah biasanya mah udah ngumpul di belakang, jam segini a !" jawab si tukang parkir.
"Oh oke mang, nuhun !" jawab Azka. (makasih)
"Sikat wae a ?" tanya Adam.
(Sikat aja a ?)
"Jangan dulu, kita liat dulu mereka ngapain," ujar Azka, keempatnya beranjak menuju belakang pasar.
Dilihatnya segerombolan anak punkrock jalanan tengah berkumpul di dekat kios yang kosong dan tertutup. Mereka ternyata asyik menghirup lem dengan merk Abon, lem yang biasanya dipakai untuk mengelem sepatu. Beberapanya ada yang bermain gitar tapi sambil minum opl_osan.
Azka menggelengkan kepalanya. Bagaimana tidak mengganggu, minuman yang mereka tenggak saja bisa bikin otak keblinger dan tak waras.
"Kalo di diemin bisa meresahkan a, sama bikin kejahatan." Ujar Rizal diangguki Yoga dan Adam.
Azka dan ketiga temannya menghampiri, membuat mereka menoleh pada keempat anak sekolah ini.
"Ker naraon bray ?!" tanya Azka so asik duduk di antara mereka dan dengan tanpa ijin mencomot kacang kulit dan memakannya, mereka melongo dibuatnya.
(Lagi pada ngapain, guys)
__ADS_1
Siapa dia ? Datang-datang main ambil dan makan makanan miliknya, pikir mereka. Yoga, Adam dan Rizal tertawa.
"Saha maneh ?!" tanya salah satunya, mungkin ia yang paling berani dan paling ekstrem tampilannya, Azka tebak ia pemimpin kawanan. Rambut yang dibuat spike dengan mengandalkan lem kayu nampak tinggi menjulang, bila ada balon di dekatnya mungkin akan meletus. Belum lagi warnanya campuran dari 3 warna seperti sikat toilet.
(Siapa loe ?)
Dan bajunya ? Astaga, mungkin di rumah si bunda sudah menjadikannya lap kompor hidungnya pun ditindik. Azka tebak mereka juga jarang mandi.
Azka berdiri dari duduknya, bukannya menjawab ia malah mengambil air dari toilet umum dan menyiramkannya pada anak-anak yang sedang asyik mengelem. Sontak mereka terjengkat kaget dan berhamburan.
"Gov_lok !!" seru mereka.
"Ha-ha-ha !" tawa Adam.
"Wah minta di hajar Nung," ucap salah seorangnya, wajah mereka seketika memerah karena kesal, tak ada angin tak ada hujan aktivitas mereka diganggu Azka.
Si rambut spike itu melayangkan bogeman pada Azka, tapi belum sempat mengenai Azka, kepalan tangannya sudah ditangkap Azka dan dipelintir. Dengan secepat kilat Azka melumpuhkan si rambut spike, melihat teman yang dilumpuhkan Azka, sontak lainnya bereaksi. Tak susah untuk Adam, Rizal dan Yoga karena kebanyakan dari mereka sudah dipengaruhi minuman.
Azka merasa miris, bahkan 3 diantaranya adalah perempuan.
"Neng..neng...bukannya bantu mamah di rumah !" hanya dengan satu gerakan, Azka dapat melumpuhkan si gadis punk yang terlihat sangat frontal, ia berani menyerang Azka meskipun dengan tenaga dan kesadaran seadanya.
Azka sangat menyayangkan itu. Azka menggeret si gadis lalu mengguyurnya dengan air satu ember.
"Aaa ! Dingin !"
Azka berjongkok untuk melihat juga berbicara dengan si gadis.
"Pulang neng, ga usah ngelem atau mabok segala. Ga takut dosa ?" tanya Azka, si gadis mendesis sembari menatap tajam pada Azka.
"Gimana gue, hidup-hidup gue !" jawabnya sengak, Azka sampai sedikit memundurkan wajahnya akibat bau alkohol yang menyengat.
"Ini memang hidup kamu, tapi saya peduli ! Saya memang bukan siapa-siapa, hanya saudara seiman kamu yang menyayangkan kalo hidup kamu cuma dipakai buat hal yang ga berguna dan malah bikin dosa, agama kamu islam kan ?" jelas Azka.
Semua sudah dilumpuhkan oleh Adam, Yoga, Rizal dan Azka.
"Dam, sorry euy minta tolong pesenin nasi padang di depan 15 bungkus !" pinta Azka. Setelah selesai berkelahi, Azka tak membiarkan mereka pergi dari sana dengan mudah.
Adam pergi, dan tak lama kembali dengan 15 bungkus nasi padang dan minumnya.
"Thanks bro !"
Azka malah membagikan nasi padang yang sudah dibelinya untuk anak-anak punk ini, dilihatnya sebuah gelas cup yang ditalikan pada gitar ukulele menandakan jika mereka mengamen untuk sekedar mencari jajan dan makan.
"Wah asik euy. Udah dihajar diburuhan (dibayar) nasi padang !" seru Rizal. Awalnya mereka saling pandang, tak habis pikir dengan Azka.
"Sok dimakan !" pinta Azka.
__ADS_1
"Kalo kurang tinggal nambah !" lanjutnya. Mereka saling memberi isyarat ragu, namun si rambut spike mengangguk.
"Thanks," ucap beberapanya seraya berseru senang mendapatkan makan siang, setidaknya tak perlu repot-repot ngamen dengan hasil tak seberapa.
"Anung !" si rambut spike mengulurkan tangannya.
Azka membalasnya, "Azkara Wisesa !"
"Uhukkk !" ia terbatuk.
"Azka, Azkara Wisesa anak e_ngang balap ?!" tanya si rambut spike terkejut, bukan Azka yang menjawab tapi Adam.
"Kakara nyaho maneh ?!" sarkasnya.
(Baru tau kamu ?!)
Azka tak peduli seberapa tenarnya nama Azkara Wisesa ataupun Ramadhan Restu Al-Kahfi, karena di mata Allah semuanya sama.
Pandangan sosok gadis yang barusan dibantu Azka meluruh, rupanya nama yang berhembus di jalanan tentang anak motor tampan nan baik itu nyata adanya, kini ada di depannya, dan memang benar ia baik dan juga tampan.
Tapi baru saja si gadis akan membuka bungkusan nasi padang yang Azka bagikan tadi, ia tiba-tiba berlari dan muntah di toilet umum.
"Uhuukk, huwekkk !" Azka dan yang lain ikut terkejut. Kedua gadis lainnya membantu.
Azka segera bangkit dan memesan teh manis panas ke warung terdekat. Sekembalinya ia memberikan teh manis panas itu beserta obat pada si gadis.
"Nih !"
"Kamu ga cocok mabok, lambung kamu ga bisa terima, ditambah kamu kayanya sedang tidak fit !" si gadis itu menerima.
"Nuhun bro !" ucap si rambut spike.
"Sami-sami !" jawab Azka.
Setelah beres makan, Azka memberikan pengertian pada mereka untuk tidak bergerombol sambil melakukan hal negatif apalagi sampai mengganggu kegiatan pasar.
"Ini komunitas anak jalanan, bisa datang kesini. Setiap hari selepas isya suka pada ngumpul, insyaallah banyak teman senasib." Tunjuk Azka di ponselnya pada anak-anak punk itu. Azka menunjukkan alamat jalan dan nama perkumpulan anak jalanan yang sering ia datangi bersama daddynya.
"Daripada ngumpul-ngumpul ga jelas ganggu orang. Lebih baik disana, bisa belajar memperbaiki nasib !"
Si rambut spike menunduk, Azka adalah orang luar pertama yang peduli terhadapnya dan teman-temannya, bahkan tanpa harus tau siapa mereka dan dari mana asal mereka ia dengan tulus menolong, kebanyakan orang di luar sana hanya bisa menghina dan menjudge mereka tanpa mau tau dan membantu.
.
.
.
__ADS_1
.