Berandal Termanis

Berandal Termanis
Ada bapakmu diantara aku dan kamu


__ADS_3

Azka menjemput Sekar di depan rumahnya. Justru dengan peringatan pak Agus, Azka semakin menunjukkan jika ia tidak main-main menjaga Sekar. Disaat pak Agus meragukan, ia justru menunjukkan kalau ia adalah seorang pemuda yang gentle.


Sekar keluar dengan seragam yang sudah rapi dan tas yang digendongnya.


Pak Agus mengangkat alisnya sebelah, mungkin pikirnya Azka adalah pemuda nekat.


"Kamu ngapain pagi-pagi sudah disini ?" tanya pak Agus.


"Mau ngajak bareng ke sekolah pak," jawab Azka.


"Sekar bareng saya !" jawab pak Agus.


"Ya engga apa-apa pak, yang penting judulnya kan bareng. Justru bagus kalo ada bapak, jadi ada penengah. Biar jatohnya ga fitnah," jawab Azka nyengir.


"Maksud kamu biar ga dua-duaan. Takut yang jetiganya s3_tan. Terus yang ketiganya saya gitu ?!" tanya pak Agus.


"Saya ga bilang loh pak, bapak sendiri yang menyimpulkan !" kekeh Azka.


Cara Azka mengajak Sekar berpacaran memang beda, ia tak keberatan jika diantara ia dan Sekar ada pak Agus.


"Kamu ngapain kesini ? Beneran mau bareng ?" bisik Sekar pada Azka saat pak Agus masuk ke dalam untuk mengambil tas miliknya.


"Iya, bukannya untuk dapat restu sama kepercayaan, memang perlu pembuktian ?" tanya Azka.


"Tapi..."


"Ga usah khawatir, biarin untuk saat ini ada bapakmu diantara aku dan kamu !" Sekar terkikik dengan jawaban Azka, mungkin jika bukan Azka pemudanya, dia sudah kabur duluan menghadapi ayahnya yang super overprotektif.


"Sekar, pakai helmmu !" pinta pak Agus.


"Pinggirin motor berisik kamu," pinta pak Agus pada Azka. Bukannya sakit hati, Azka malah dengan senang hati menyingkir dan membukakan gerbang untuk motor pak Agus.


Pak Agus melajukan motor miliknya, diikuti Azka.


Sepanjang jalan Azka nyeroscos menceritakan tempat jajanan yang biasa ia datangi saat melintasi beberapa jalanan. Lama pak Agus diam, lama-lama ia tertarik dengan penjelasan Azka, bahkan Sekar kini bisa menyunggingkan senyumnya, jangankan ia..ayahnya saja yang terkenal dingin bisa luluh oleh Azka.


Kedua motor itu sudah sampai di parkiran sekolah.


"Eh, itu pak Agus kan !" tunjuk Jojo menepuk pundak Andra.


"Wedannnnn !!! Beneran dong, bareng camer !" tawa Adam dari depan kelas saat melihat Azka datang bersama Sekar dan pak Agus.


"Prokkk !! Prokk !"


"Emejing lah ! Keren, salut !" ucap Rizal.


Andra memicingkan matanya, rupanya setiap laporannya pada pak Agus bukannya memperburuk hubungan Azka dan Sekar tapi malah membuat Azka semakin memukau.


Yoga menyunggingkan senyuman menggelengkan kepalanya.


"Gue rasa ada seseorang yang bakalan ngalangin jalan Azka buat dapetin Sekar," ucap Yoga.


"Yoi !" angguk Adam setuju. Selalu saja ada yang tak suka, dunia memang selalu dipenuhi oleh sikap cemburu makhluknya.


"Itu !" tunjuk Nisa. Pandangan Zahra mengikuti telunjuk Nisa.


"Kayanya kita harus ikhlasin a Azka buat Sekar, Ra."


...----------------...


"Kamu langsung ke kelas, jangan mampir kemana-mana dulu !" pinta pak Agus pada Sekar.


"Azka titip Sekar,"

__ADS_1


"Ya ?!" ucap Azka dan Sekar bersamaan tak percaya. Pak Agus begitu mudah mengubah keputusannya.


"Kompak banget ?!"


"Maksud saya bukan berarti kalian boleh berduaan saja. Kalian bisa jaga amanat saya kan ?" tanya pak Agus, sontak Azka mengangguk.


"Siap pak !"


"Jaga anak saya Azka," jawab pak Agus.


"Siap pak,"


"Ayah ?" beo Sekar.


"Ayah masuk ke ruang guru," pamit pak Agus.


"Silahkan tuan putri," ucap Azka, Sekar tertawa.


"Ayah tuh kemasukan apa sih ?" tanya Sekar sambil berjalan.


"Abis dapet ilham kayanya tadi di jalan," kekeh Azka.


Sekar berjalan bersampingan dengan Azka.


"Asik, dah dapet restu euyyy !" tawa Azka sambil beryes ria membuat Sekar tertawa melihat tingkah absurd Azka.


"Kamu ih, lebay ! Udah Azka ih, malu-maluin tau !" cegah Sekar melihat Azka berjoget-joget ria.


Keduanya sampai di kelas Sekar, lalu terdiam saat melihat Zahra.


"Azka, aku udah bilang sama Zahra. Tapi mungkin dia nunggu kamu, kamu ajak ngobrol dulu gih," Sekar mengangguk pada Azka.


"Cemburu ngga ?!" goda Azka.


"Ih, ya engga atuh !"


"Kapan aku kaya gitu," ucap Sekar.


"Oh, pacar pengertian. Makasih ya," jawab Azka mendekati Zahra yang duduk di bangkunya sambil menangkup dagu dan melihat ke arah buku.


"Hay Ra, senyum atuh ! Jangan cemberut terus kaya tutut !" ujar Azka mencolek pipi Zahra.(keong sawah)


"Masa adek aa manyun terus ! Mau dibeliin seblak ngga ?" rayu Azka. Sekar membiarkan Azka merayu Zahra, memberikan waktu untuk keduanya.


"Nis, anter aku ke kantin yu ! Aus nih !" ajak Sekar segera menarik Nisa.


"Eh, Kar !"


"Aku traktir !" jawab Sekar segera.


"Beneran ya ?!" tanya Nisa.


"Iya beneran !" jawab Sekar.


Sementara Sekar dan Nisa sedang di kantin, Azka duduk di samping Zahra.


Awalnya gadis ini tak ingin menggubris perkataan Azka.


"Ra, aa sudah anggap Zahra kaya..."


"Azza, tau A..ga usah diperjelas," potong Zahra.


"Zahra tau A, aa sukanya sama Sekar, dan sekarang Sekar juga suka sama aa." Zahra tersenyum.

__ADS_1


"Kamu ga marah ?" tanya Azka.


Zahra menggeleng, "Sekar temen Zahra, Zahra cuma kaget aja."


Azka mengacak rambut Zahra,


"A Azka ihhh !" Zahra mengaduh, rambutnya yang sudah rapi jadi berantakan.


Bel masuk berbunyi.


Sekar dan Nisa kembali ke kelas, dimana Azka sudah tak ada pamit ke kelasnya.


Sekar duduk canggung di sebelah Zahra.


"Hay Ra,"


Zahra tersenyum, "gimana pacaran sama a Azka ? Dia ga ngapa-ngapain kamu kan ?" tanyanya.


Sekar tersenyum, "menyenangkan, tapi kadang nyebelin."


"Suka dan benci beda tipis Kar," kekeh Zahra, diangguki Sekar.


"Tapi percaya deh, a Azka mah orangnya baik," Sekar kembali mengangguk setuju.


...****************...


Langkah Azka terhenti saat namanya dipanggil.


"Azka,"


"Loe deket sama Sekar ?" tanya nya.


"Ada urusan apa ?" tanya Azka.


Andra memperhatikan Azka, tak sangka dimata Sekar ternyata sosok keren seorang ketua OSIS kalah oleh berandal macam Azka.


Azka tersenyum miring, "jadi ini orang yang selalu laporan sama pak Agus ?"


Andra sedikit terkesiap, tapi sejurus kemudian tanpa rasa bersalah ia menantang Azka.


"Man to man defense ? Yang kalah jauhi Sekar ?!" Azka sungguh tak tertarik. Sekar bukanlah barang untuk dipertaruhkan, bukan berarti ia takut. Azka memang tak pernah terekspos, apalagi pasal kemampuan ekskul, karena ia pun tak mengikuti ekskul apapun. Andra tersenyum jumawa, karena ia pikir Azka tak memiliki kemampuan apapun selain berkelahi, tidak seperti dirinya siswa dengan sejuta kemampuan dan pesona.


"Takut ?!" tanya Andra menghentikkan langkah Azka.


Azka berbalik dan tersenyum miring, "ga ada dalam kamus gue untuk takut !"


"Oke jam pulang sekolah ?" tantang Andra dan kawan-kawan.


"Lain kali kalo ngajak man to man defense ga usah kaya ngajak orang tawuran bos. Cuma mau ngajak tanding aja mesti bawa satu kelas," Azka mendengus tertawa.


Azka berbalik kembali tanpa menjawab.


"Gue tunggu Ka !" pekik Andra.


"Gue mau liat, cowok yang dipilih Sekar tuh bisa apa selain berantem !" pekiknya lagi seperti seorang perempuan.


Yoga yang melihat menepuk pundak Azka.


"Sekali-kali mah liatin aja A, biar dia tau !"


Azka menimpali ucapan Yoga dengan tertawa dan candaan, "langsung di rekrut atuh sama pak Doni masuk tim basket ?!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2