
Sekar bersama Nisa dan Zahra duduk di kelas sambil menikmati seporsi siomay.
"Sayang banget Kar, kamu nolak kak Andra, bukannya kamu suka dia ?" tanya Zahra.
Sekar menggeleng, "engga. Suka, kagum ga berarti harus pacaran kan ?" tanya Sekar.
"Hilih, nanti kak Andra dapet yang lain. Kamu nyesel," cebik Nisa, Sekar hanya mengulas senyuman.
Tentu saja tidak, karena ia sekarang berstatus pacar Azkara. Andai ia bisa berkata itu saat ini, mungkin ia akan disalahkan karena kedua temannya akan tersedak siomay.
"Masih harus nunggu waktu yang pas buat bilang," benak Sekar, lidahnya serasa kelu, padahal kalimat yang sudah dirangkai tempo hari itu sudah siap meluncur dari kerongkongannya. Baru saja berfikir seperti itu, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kemunculan Azka ke kelasnya, sontak saja membuat jantungnya berdebar bukan main.
Ia melenggang masuk dengan santainya membawa sepiring nasi goreng sosis dengan teh manis dingin, lalu menyimpannya di meja Sekar. Azka menarik kursi kosong entah milik siapa tepat di depan Sekar.
"A Azka, ngapain ?" tanya Zahra sedangkan Sekar sudah melongo, dan Nisa, berteriak kegirangan.
"Makan atuh, masa bawa nasi sama minum mau qasidahan ?!" jawab Azka, Sekar mengulum bibirnya, mulut Azka memang sinkron dengan otaknya yang kurang satu strip.
"Ngapain makan disini ?" tanya Sekar memberanikan diri.
"Nah itu pertanyaan yang tepat," jawab Azka.
"Jawabannya, pengen makan sambil liatin kamu," memandang Sekar, Sekar malah tertawa sedangkan Zahra dan Nisa merasa ada yang aneh dengan keduanya.
"A Azka ga pengen liatin aku emangnya ?" kekeh Nisa.
"Aku pengen liatin sesuatu yang bisa bikin aku seneng," jawab Azka lagi. Zahra dan Sekar tertawa, melihat wajah kecut Nisa.
"A Azka apa-apaan sih disini, pergi sana A, ini temen-temenku risih !" usir Zahra.
"Kamu risih ada aku ?" tanya Azka pada Sekar membuat Sekar bingung menjawabnya.
"Tuh ! Engga kan, bukannya do'ain biar dia juga suka aku !" ujar Azka.
"Uhuukkk...uhuukkk !" Sekar terbatuk mendengar ucapan Azka begitupun Sekar dan Nisa.
"A Azka suka sama Sekar ?" tanya Zahra.
Azka mengangguk, "suka pake banget !" jawabnya mantap seraya tak lepas menatap Sekar, sedangkan Sekar sendiri sudah menunduk salah tingkah diperhatikan seperti itu.
"Aaaaa !!!" Azka menyendok nasi ke depan mulut Sekar, tapi Sekar menolak. Tiba-tiba saja Nisa beranjak dan pergi dari sana meninggalkan ketiganya.
"Nisa !" panggil Sekar ikut berdiri, tapi tangannya di tahan Azka. Sekar menatap Azka seakan memohon untuk dilepas dan Azka paham itu, perlahan Azka melepaskan tangan Sekar.
"Nisa !" Sekar menyusul Nisa yang berlalu keluar kelas meninggalkan Azka dan Zahra.
"A, ga usah rusakin pertemanan aku, Sekar sama Nisa deh. Aa kan tau Nisa suka A Azka," ucap Zahra.
"Tapi Aa sukanya Sekar, Ra.."
"Setidaknya hargai Nisa, A.." jawab Zahra.
"Kalo ga gitu, dia ga akan ngerti."
"Aa serius suka Sekar ? Sekar punya Kak Andra ?"
"Dia ga suka," jawab Azka santai menyendok nasi goreng miliknya dan menawari Zahra yang menggeleng.
"Aa tau darimana Sekar ga suka kak Andra ?" tanya Zahra. Azka menghela nafasnya, ternyata Sekar belum bilang pada kedua temannya ini masalah hubungan mereka.
...----------------...
🍁 Di kantin
"Nisa !" panggil Sekar.
__ADS_1
"Eh, kenapa Kar ?" Nisa menoleh.
"Kamu marah ?" tanya Sekar, hatinya semakin tak enak pada Nisa, apalagi jika sampai ia tau bahwa Azka dan ia sudah berpacaran.
"Marah ? Aku ga kuat lah pingin minum. Nih siomay pedes banget !" jawab Nisa.
"Ku kirain kamu marah, gara-gara A Azka..." Sekar tidak meneruskan ucapannya, Nisa meneguk teh kemasan miliknya.
"Ha-ha-ha, engga lah. Lagian ga mungkin juga kan kamu baper sama a Azka, kan kamu ga suka sama dia," jawab Nisa.
Deg !
"Emang resiko aku sih, suka sama cowok yang ramah plus suka tebar pesona sana-sini," kekeh Nisa membuat Sekar tersenyum getir.
...----------------...
Setiap pulang sekolah, jika tidak Sekar maka Azka yang menunggu di warung dekat sekolah, mungkin berjarak beberapa rumah dari sekolah.
Seperti sekarang, Azka tengah duduk bersama beberapa temannya, diantara mereka hanya Azka yang sedang tidak merokok atau menyesap vape, bukan berarti pemuda ini tidak pernah. Sekar berjalan sendiri masuk ke warung yang tak terlalu besar.
"Eh ada Sekar ! Kapan atuh pejenya ini teh ?!" tanya Adam dan Rizal.
"Yoiii ! Kapan A ?!" tanya teman lainnya.
"Nanti atuh, kalo ada uang, baru di pejein. Bala-bala jeung gehu hiji ewang !" kelakar Azka.
(Bakwan sama tahu isi satu orang satu)
"Hati-hati a," ucap Rizal.
"Baraya !!! sim abdi uih tipayun, yu ah !" pamit Azka.
(Sodara !!! Aku pulang duluan, yu ah !)
"Oke bruhh. Dah Sekar !!" goda teman-temannya, Sekar tersenyum.
"Temen-temen kamu ngerokok ?" tanya Sekar.
Azka mengangguk, "iya."
"Kamu ?"
"Kalo iya, kamu keberatan ?" tanya Azka, Sekar menggeleng, hanya saja bibir Azka tak terlihat seperti seorang perokok, dan masih berwarna segar.
"Tapi nanti di hukum sama sekolah ? Emang ga dimarahin sama bunda ?" tanya Sekar lagi khawatir.
"Bunda ga marah, tapi sebisa mungkin ga di depan mereka. Kalo rokok'an nya di sekolah ya iya atuh dihukum," senyum Azka.
"Kalo kamu ga suka, tenang aja. Aku ga akan lakuin itu di depan kamu," ucap Azka.
Sekar naik di belakang Azka, "mau ke rumahku ?" tanya Azka.
"Boleh," Sekar mengangguk.
"Oh iya, waktu itu aku pernah nanya tapi kamu engga jawab," ujar Sekar.
"Emangnya nanya apa, ko bisa sampai aku ga jawab. Apa aku lagi jadi patung ?" tanya Azka.
"Ih, bukan gitu. Kamu jawab tapi lebih tepatnya itu bukan jawaban,"
"Oh, bukan ga jawab atuh cantik. Tapi jawabannya ga bikin puas," ralat Azka.
"Iya iya terserah kamu,"
"Aku mau nanya kira-kira kamu bakalan jawab yang bener ngga ?" tanya Sekar memiringkan kepalanya.
__ADS_1
"Yahhhh, bisa ga jangan sekarang ?" jawab Azka.
"Loh, kenapa ?!"
"Soalnya aku belum ngafalin, nanti salah lagi. Aku ga dapet nilai !" seloroh Azka, dihadiahi cubitan di pinggang dari Sekar.
"Ihhh, Azka mah !" cemberutnya.
"Serius !"
"Aku lebih serius,"
"Azka !"
"Iya cantik," Sekar kesal tapi ia merona.
"Mau nanya apa emangnya ?" tanya Azka.
"Bener ngga kata orang-orang, kalo kamu itu ikutan geng motor gitu ?!" tanya Sekar.
"Kalo menurut kamu, muka ku cocok engga ikutan kaya begituan ?" tanya Azka.
"Emhhh, engga kayanya. Muka kamu nyebelin ! Mirip sales tiger paw ! Kalo ga dibukain pintu, maksa-maksa mau masuk," tawa Sekar.
"Berarti aku ga cocok ya ikutan geng motor, terlalu ramah dan tampan !" ujar Azka sombong.
"Idih pedeee !!!"
"Tapi kalo liat kamu waktu nolongin aku sama kak Andra, ko bikin aku kepikiran, kalo kamu itu anggota geng motor ?!" ucap Sekar lagi.
"Ga usah dipikirin, cuma bikin kamu pusing. Mendingan pikiran hubungan kita, kamu belum ngomong sama Nisa sama Zahra ?" Azka malah balik bertanya.
"Iya, aku bingung gimana cara ngomongnya !"
"Kamu masih belajar ngomong ? Kaya bayi dong,"
"Yu aku ajarin ngomong !"
"Engga mau ahh, nanti malah bilang sayang tukang cendol lagi !" omel Sekar, Arka tertawa.
"Kamu gila !" ketus Sekar.
"Karena kamuuuu !!" lanjut Azka.
...----------------...
Azka memasukkan motornya ke dalam gerbang. Disana tampak mobil kesayangan Rama yang berplat nomor atas nama Nara, dan si capung juga motor ber cc besar milik Rama ada disana. Itu artinya sang empu ada di rumah.
"Itu motor siapa ?" tanya Sekar.
"Daddy,"
Deg !
Baru beberapa hari menyandang status pacar, tapi Sekar sudah dibuat sport jantung beberapa kali, ada rasa tidak percaya diri dari Sekar bertemu dengan ayah Azka, kira-kira seperti apa nanti tanggapannya melihat dirinya, sontak Sekar segera bersolek di kaca spion motor Azka.
"Ayah kamu galak engga ?" tanya Sekar membuat Azka tertawa melihat wajah panik Sekar.
"Galak ! Suka makan orang kalo dia ga suka orang itu !" tawa Azka.
"Ihh !" Sekar mencebik dan memukul lengan Azka.
.
.
__ADS_1
.