Berandal Termanis

Berandal Termanis
Saat saling tertutup, maka percikan api yang terjadi


__ADS_3

Sinar mentari sudah naik sekitar 30 derajat di timur. Suasana di bumi kian menghangat sehangat suasana hati Sekar, gadis itu tak terganggu meskipun foto-foto Azka masih tersimpan di memori ponselnya. Perlakuan posesif Azka kemarin membuat Sekar tak memusingkan foto-foto itu.


Baru saja ia akan menekan icon tong sampah di ponselnya, selepas Azka mengantarnya masuk ke kelas ia dikejutkan dengan suara siswa-siswa yang berhamburan keluar seraya berseru.


"Kar, kak Azka berantem sama kak Andra di warung samping sekolah !"


"Ha?!" Sekar langsung berdiri dari duduknya dan berlari mengikuti salah satu teman sekelasnya yang barusan memberinya info.


Sekar sampai tak mempedulikan rambutnya yang berantakan karena ia berlari menuju luar sekolah, pikirannya hanya satu, secepatnya sampai di tempat mereka berkelahi.


"Kar ! A Azka !" seru Nisa menunjuk-nunjuk ke arah luar sekolah.


"Dimana ?" tanya Sekar panik.


"Warung bu Elis!" jawab Nisa tak kalah heboh.


Sekar sudah keluar dari gerbang sekolah, ia langsung belok ke arah kanan dan kembali berlari, di mana dari gerbang saja terlihat kerumunan anak-anak.


Sekar membelah lautan siswa yang menutupi jarak pandangnya.


"Misi...misi !" Sekar memasuki area warung di luar kekuasaan sekolah, warung yang tak cukup besar dengan spanduk rokok terpampang diatasnya dan beberapa bangku kayu usang yang biasanya dipakai para pengunjung warung untuk sekedar menikmati kopi hangat, jika jam-jam istirahat atau pulang sekolah, maka warung ini akan disambangi para siswa sekolahnya.


"Astaga, Azka !!!" Sekar mencoba memisahkan Azka dan Andra yang sudah berada di lantai kotor warung saling memiting dengan Andra, dengan teman-teman dari pihak keduanya yang saling melerai namun juga saling membela temannya satu sama lain, disana juga ada Zahra, gadis itu terlihat kesulitan memisahkan keduanya.


"Stop Azka! Kak Andra!" pekik Sekar. Keduanya berdiri, dan Sekar memberanikan diri berdiri diantara keduanya dengan menghadap Azka.


Tatapan gadis itu menukik tajam. Tak disangka kedatangan Sekar, berbarengan dengan datangnya pak Agus, seruan dan kehebohan para siswa membuat pak Agus penasaran dan mengikuti kemana arah anak-anak berlari.


"Kalian berdua!!"


"Pak Agus!"


"Ayah!"


Mereka terkejut dengan kedatangan pak Agus.


"Ikut saya ke ruang BK, memalukan!" tatap sangar pak Agus.


"Dan kalian, yang ikut-ikutan. Ikut saya juga ke ruang BK, yang lain bubar dan masuk ke kelas masing-masing!" ujarnya lantang nan tegas.


Perkelahian itu, berakhir dengan digeretnya Azka dan kawan-kawan juga Andra dan kedua temannya oleh pak Agus ke ruang BK.


Mata Sekar mengikuti Azka dengan menatap nanar, dengan dada yang naik turun mengatur nafas.


Azka tersenyum pada Sekar meskipun baju seragamnya nampak kotor dan sudut bibirnya tampak lebam.

__ADS_1


"Aku ga apa-apa," jawabnya pelan mengusap lengan Sekar sebelum pergi dari pandangan diikuti teman-temannya dan Andra cs.


"Ini ada apa sih ?" tanya Sekar pada Zahra. Siswa yang berkerumun mulai membubarkan diri, ditengah kegalauan hatinya, para siswa lain malah dengan asyiknya membicarakan peristiwa barusan sambil tertawa-tawa.


"Aku ga tau awalnya gimana Kar, tau-tau liat aa ngehajar kak Andra, terus kak Andra bales a Azka, jadinya berantem !" jawab Zahra.


"Azka ngehajar Andra duluan ?" tanya Sekar tak percaya.


Sekar dan Zahra segera masuk ke kelas. Ia gelisah memikirkan apa yang akan terjadi dengan Azka.


Perkelahian ketos dan berandal sekolah menjadi trending topic hari ini.


Sekar beberapa kali melongokkan kepalanya ke arah luar lapangan, ia semakin dibuat risau tatkala melihat lapangan tak terlihat anak-anak yang tadi pagi dihukum ayahnya termasuk Azka. Apa kini hukuman ayahnya akan lebih berat, pasalnya Azka sudah sering sekali dihukum.


"Bu ! Ijin ke toilet !" interupsinya.


"Mau kemana Kar ?" tanya Zahra.


"Ke toilet," bohongnya, Zahra tau Sekar pasti sedang berbohong, karena setaunya temannya ini selalu minta ditemani jika ke toilet.


Sekar berlari keluar setelah mendapat ijin, ia berlari menuju kelas Azka, tapi sayangnya langkahnya terhenti saat melihat sosok yang dicari ada di depannya matanya beralih ke samping Azka dimana Hani ada disana seraya mengusap-usap pundak Azka.


"Orang yang selalu kamu belain tuh kaya gitu kelakuannya," ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Sekar.


"Apa yang bikin kalian berantem? Ga nyangka juga kak Andra tuh ketos tapi kaya gini kelakuannya, kalo dah tau Azka berandal, kenapa harus diladenin ?" tanya Sekar.


"Alasannya karena belain kamu !" Sekar yang berniat kembali ke kelas terhenti.


"Aku ga rela kamu dibo*dohi Azka, kamu terlalu baik Kar," lanjutnya.


"Aku bukan cewek bo*doh kak, catat itu !"


"Kalo bukan bo*doh apa namanya masih mau-maunya jalan sama berandal hobbynya berantem sama colek cewek tiap tikungan ? Kamu ga tau kan Azka seperti apa aslinya ?" tanya Andra.


Sekar merasa kacau, hatinya yang semula adem kini kembali memanas mengingat Hani yang ada di dekat Azka, ia memilih mengurungkan niatnya menemui Azka, dan kembali ke kelas.


Kenapa harus kak Hani yang disana ?


...----------------...


"Kar, istirahat yuk! Jajan?" ajak Zahra dan Nisa, Sekar menggelengkan kepalanya.


"Kalian aja, aku ga selera," jawab Sekar hanya mencoret-coret belakang bukunya tak beraturan, terkadang membuat pola bentuk love, namanya, ataupun hanya garis-garis abstrak.


"Kamu ga apa-apa kan, Kar?" tanya Zahra khawatir.

__ADS_1


"Kamu sakit, Kar?" Nisa menempelkan punggung tangannya di dahi Sekar.


"Engga apa-apa. Cuma ga selera jajan aja, kalian duluan gih! Nanti keburu penuh tukang seblaknya!"


"Iya Ra, kang seblak kan primadona disini," jawab Nisa.


"Ya udah, kita duluan ya?!" ujar Zahra diangguki Sekar.


Kedua temannya keluar dari kelas, perutnya memang lapar, tapi mendadak lidahnya kehilangan navssu makan. Ia kembali merogoh ponselnya dan melihat galeri, dimana foto Azka bersama dua gadis masih tersimpan rapi belum sempat ia hapus.


"Apa aku tanyain aja? Tapi sebenernya percuma sih, kalaupun ditanyain pasti ngelak. Siapa juga yang mau dituduh, maling aja kalo ditanya pasti ngelak !"


Wingggg ! Sebuah pesawat kertas terbang bebas ke arahnya.


"Aduh !" Sekar mengerjap saat moncong pesawat mengenai keningnya.


"Apa tuh ?!" ia melirik ke arah jatuhnya pesawat kertas itu dan memungutnya.


"Eh," ia lantas mendongak ke arah sekeliling dan mendapati Azka sedang bersandar di pintu kelasnya sambil tersenyum.


Sekar membuka lipatan kertas polos bergaris yang menabrak keningnya.


Ada rasa geli dan hangat tapi kedua rasa itu kalah oleh rasa kesal dan marahnya oleh kilasan ingatan Hani.


Azka menghampiri Sekar, ekspresinya selalu hangat untuk gadisnya.


"Engga istirahat, atau nungguin di jemput dulu ?" tanya Azka.


"Ngapain kesini?" tanya Sekar.


"Loh, ko ngapain?! Mau ketemu kamu lah,"


"Oh kirain masih asyik dielusin kak Hani," ada rasa sesak saat mengucapkan ini.


"Hani ?" Azka mengerutkan dahinya.


"Kapan aku dielusin Hani ?" tanya Azka.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2