
Tittt!
Tiit!
Sahut-sahutan bunyi klakson memekakkan telinga, jangankan kota besar seperti Bandung, jalanan setapak kampung saja jika malam minggu sudah dapat dipastikan akan padat merayap karena si Komo lewat.
Sebuah cincin bermata satu tapi bukan mata cyclope melingkar manis di jari Sekar. Azka memberikan semuanya untuk meminang Sekar, sampai receh bekas parkiran saja ia taruh di atas meja. Definisi memberikan semua yang ia punya untuk Sekar.
Hanya saja tidak sampai harus membelah dada sendiri agar Sekar tau kalau hanya ada dia di hati Azka, karena semua itu bulshittt, yang ada Azka akan mati jika dadanya dibelah dua.
Lingkaran roda itu berhenti berputar tepat di sebuah jalan menurun curam, dimana parkiran tempat tujuan mereka berada.
Lampu-lampu nan lucu menghiasi setiap ornamen taman yang dibuat, hanya satu yang membuat Sekar mengerutkan dahinya sejak tadi.
Kemana semua orang?
Apa tempat ini sepi begini setiap harinya? Tumben!
Biasanya akan ada anak-anak gaul Bandung yang sekedar nongkrong sambil nikmatin cuanki dan berselfie ria atau emak-emak sepaket dengan kacamata capung dan tongsis atau tongkat narsis.
"Ko sepi, ini tempat ngga libur kan? Kita salah hari apa gimana ini?" tanya Sekar, matanya menyapu seluruh inci tempat ini, benar hanya mereka.
"Ga tau!" jawab Azka acuh membuka helmnya.
"Yuk!" ajak Azka menarik tangan Sekar.
"Bentar Ka, ini ko sepi. Pulang aja yuk, cari tempat lain!" tangan sebelahnya menahan tangan Azka.
"Kalo tutup, ngapain kita bisa masuk terus parkir...mungkin orang-orang sengaja mau bikin aku seneng!"
"Maksudnya?" tanya Sekar membeo, ia akhirnya ikut melangkah masuk ke area taman bersama Azka.
"Biar bisa berduaan sama kamu," jawab Azka.
__ADS_1
"Ih, belum halal..nanti digerebek?!"
"Ga apa-apa, paling langsung dinikahin. Lumayan kan aku ngirit biaya,"
"Ihhh," Sekar mendorong bahu Azka yang terkekeh.
"Kamu ngga bosen kesini?" tanya Azka membawa Sekar berjalan-jalan menuruni anak tangga, yang langsung berhadapan ke arah aliran sungai.
Sekar mengerutkan dahinya mendapati beberapa lilin aromatheraphy mengambang mengikuti aliran sungai. Sangat indah, mirip cerita rapunzel, hanya saja bedanya saat ini Sekar tidak sedang naik perahu dan tak ada lampion berterbangan.
Mereka melanjutkan langkah berjalan dijembatan pendek yang menyambungkan sisi lain dari taman.
Jembatan besi berwarna merah dimana keduanya berjalan sekarang, Sekar kembali menautkan alisnya saat menemukan salah satu pendopo terdapat banyak sekali balon berwarna pink dan biru.
"Ini kita ga salah hari kan?" tanya Sekar.
"Sini duduk!" pinta Azka.
"Ka, ini punya siapa? Jangan sampe kita duduk di tempat orang?!" khawatir Sekar.
Layaknya menonton konser atau suatu pentas, tiba-tiba disana sudah ada teman-teman Azka dan Sekar semasa SMA, sambil berjejer dan bernyanyi.
Bila nanti saatnya tlah tiba, kuingin kau menjadi istriku, Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan, berlarian kesana kemari dan tertawa...
Namun, bila saat berpisah tlah tiba, ijinkan ku menjaga dirimu, berdua menikmati pelukan di ujung waktu, sudilah kau temani diriku....
Akad--Payung Teduh
Sekar menutup bibirnya yang menganga, 3 tahun tak bertemu dengan mereka, Azka berhasil mengumpulkan teman-teman dekatnya semasa SMA malam ini khusus untuk dirinya.
"Nostalgiaan, mereka saksi kita ketemu..maka mereka pula yang bakal jadi saksi kita melangkah ke jenjang berikutnya..." ucap Azka.
"Karrr! Bilang i will kitu!" pekik Nisa.
__ADS_1
"Udah!" jawab Sekar.
"Asikkk, malam minggu ini kenyang euyyy!" teriak Adam.
"Aduhhh, a Adam berisik ih! Kuping Zahra budeg!"
"Eh maaf atuh cantik," jawabnya.
Sekar tertawa bisa melihat keabsurdan mereka lagi. Azka membawa tangan Sekar sedikit maju ke depan agar dapat melihat ke bawah dimana lilin aromatheraphy itu sudah membentuk love dan nama Sekar.
"Masyaallah! Bagus banget Azka," Sekar menoleh dan sontak memeluk Azka.
"Hey !!! Kalian ga laper gitu? Da perut mah ga akan kenyang cuma liatin lilin nyala!" pekik Rizal. Ternyata di sebrang teman-temannya sudah menikmati jajanan yang Azka sediakan seperti prasmanan atau mungkin lebih tepatnya seperti kantin sekolah dengan gerobak seblak, lumpia basah, gorengan, cakwe, bubur kacang hijau, martabak, es teh, semua itu makanan bersejarah untuk hubungan mereka.
"Azka, makasih banyak!" ucapnya dengan maya berbinar.
"Tapi ini mahal," lanjutnya.
"Dan itu pantes buat kamu, buat hubungan kita..." jawab Azka menempelkan kening mereka berdua.
.
.
.
...The End...
Makasih banyak sayang-sayangnya mimin, cerita ini memang dibuat dengan alur pendek, hanya sebagai hiburan saja. Jadi jangan dicari-cari apa pelajarannya ya🤭 Makasih atas dukungannya meskipun di tengah-tengah alur mimin mengalami stuck writer alias buntu karena suatu dan lain hal, tapi akhirnya bisa sampai akhir juga.
Jangan bosen-bosen untuk singgah di karya receh bin absurd ga jelas mimin ya 😜 sebagai penutup mimin ucapkan mohon maaf jika cerita tidak sesuai ekspektasi, ini hanya hiburan semata, untuk melepas kepenatan jika ada kesamaan tokoh, alur dan nama tempat ini murni hanya kehaluan mimin yang hakiki.
Sampai jumpa di karya mimin selanjutnya...
__ADS_1
...❤❤See you guys❤❤...