Berandal Termanis

Berandal Termanis
Sebuah kesederhanaan


__ADS_3

"Udah dibikinin roti bakar, pisang keju sama teh Wiwi. Dimakan atuh, kalo mau bubur kacang nanti pulangnya kubeliin jangan nangis gini," Sekar menyeka air matanya dan menghapus semua jejak-jejak air di wajahnya.


"Kamu ngga jijik aku nangis sampe ingusan gini?" tanya Sekar.


"Engga, aku aja kalo sakit suka ingusan, kan di lapnya juga pake tissue atuh bukan tangan," jawabnya.


"Kamu udah nangis dari sore, apa dari siang? Udah jangan nangis terus atuh ah, kalo kata daddy nanti air mata kamu abis!" pinta Azka tanpa rasa jijik membantu Sekar. Sekar jadi penasaran apa ayahnya Azka pernah membuat bundanya menangis?


"Daddy pernah bikin bunda nangis?" tanya Sekar.


"Pernah, sering atuh!" Sekar menaikkan kedua alisnya.


"Kenapa?" pikirannya kenapa hanya menggambarkan Rama yang nakal, minum minuman atau....tak mungkin.


"Kalo bunda lagi serius nonton drama korea terus tiba-tiba dimatiin daddy, gini nangisnya teh..."


"Kamu mah jahat sama aku! Itu si Lee nya mau mati ketabrak ninggalin si Hara, malah kamu matiin beneran! Tidur di luar!!!" tiru Azka, Sekar tertawa tergelak.


"Daddy kamu usil, kaya kamu!" tangan Sekar beralih menyugar rambut Azka.


Ingin rasanya Sekar meminta pada Allah untuk menghapus kata bukan di kalimat Azka bukan jodohnya. Belum pernah sekalipun Sekar merasa tak nyaman apalagi dikasari oleh berandal ini.


"Sok dimakan," (silahkan)


Azka duduk kembali di tempatnya, menatap satu persatu kertas di depannya, jika tengah serius begini Azka terlihat keren, Sekar berpura-pura memainkan ponselnya dan memotret Azka seraya memakan roti bakarnya.


Selama ini ia tak memiliki potret Azka di ponselnya.


Akan kuceritakan nanti pada anak, cucuku kalau aku pernah bertemu dengan berandal termanis di dunia, Azkara Wisesa Al-Kahfi namanya.


......................


Sesuai janjinya, Azka membeli 7 bungkus bubur kacang, untuk orang di rumah Sekar 3 bungkus dan sisanya ia bawa pulang.


"Udah sampe, nih buat ayah sama ibu juga!"


"Makasih,"


"Azka.."


"Hm?" Azka terhenti saat sedang memundurkan motornya.


"Hati-hati. Will miss you!" ucap Sekar, Azka tersenyum, "miss you like crazy!"


"Kamu emang udah gila dari sana-nya!" jawab Sekar terkikik.


"Tidurnya baca do'a biar ga mimpi buruk!"


"Iya!" pekik Sekar sudah menjauh beberapa langkah.


"Sekar?" ibu dan ayahnya mendengar suara pintu dibuka.


"Bu, ini ada bubur kacang tadi Azka yang beliin. Dibuka aja dulu, Sekar belum isya bu!"


"Yo wes isya dulu nak, nanti turun. Ada yang mau ibu bilang sama Sekar,"


Sekar melakukan solatnya dengan begitu khusyuk, kali ini pintanya adalah dibukakan pintu dan hati kedua orangtuanya.


Sekar turun dari kamar bergabung bersama kedua orangtuanya di ruang tengah.

__ADS_1


"Sudah makan?" tanya ayahnya.


"Udah yah,"


"Hm, Azka jaga anak ayah dengan baik." Ada segaris senyuman di wajah cantiknya, tapi kemudian senyum itu sirna saat mendengar laporan ayahnya.


"Azka ngapain Ganjar?"


"Ngapain? Ga ngapa-ngapain! Dia ngadu apa ke ayah?"


"Katanya ban motor digembosin, dia dikeroyok juga." tuduh pak Agus, meskipun pak Agus tak mempercayai setiap satu katapun yang Ganjar adukan pada orangtuanya.


"Dia ngadu gitu sama ayah? Dia laki-laki apa perempuan?! Mendingan pake rok aja lah!" ketus Sekar.


"Fitnah lebih kejam dari pembunuhan, ada engga bukti kalo Azka gembosin atau keroyok dia?" sewot Sekar terbakar rasa marah.


"Azka emang kaya gitu penampilannya aja, tapi orang-orang ga tau dia di sampe ke dalemnya. Don't judge the book from the cover!"


"Sudah selesai marahnya?" tanya pak Agus.


"Belum," sungutnya lagi melipat kedua tangannya di dada.


"Besok orangtua Ganjar kesini,"


"Besok daddy sama bunda juga mau kesini!" jawabnya tak mau kalah.


Alisnya dan mata pak Agus sampai menyipit, mendengar panggilan itu dari mulut Sekar, sampai sedekat itu putrinya, itu artinya mereka orang-orang istimewa.


"Siapa nduk, daddy sama bunda?" tanya ibunya.


"Ayah ibunya Azka, bu."


"Ya sudah, masak bu. Besok kita kedatangan banyak tamu penting!" jawab pak Agus.


"Ralat, orangtua Ganjar orang ga penting!" sengaknya.


"Sekar, sebenci-bencinya kamu. Mereka tetap orang yang lebih tua dari kamu, hormati mereka. Ayah tidak pernah mengajarkan kamu jadi anak yang tidak sopan."


"Mereka yang mulai, mereka yang ga hargai perasaan Sekar. Dipikir Sekar ini barang, bisa dibeli pake uang mereka yang ga seberapa. Ayah jangan diem aja dong!" amarahnya memuncak, air matanya kembali mengalir.


"Sekar masih punya impian, cita-cita. Bukan berakhir terjebak di keluarga modelan keluarga Ganjar," ia mengusap air matanya kasar.


...----------------...


Jam pelajaran sudah berakhir, rasanya gadis ini tak ingin cepat-cepat pulang. Ingin rasanya ia menginap saja bersama bangku dan papan tulis, tak ingin mengetahui keadaan di rumah.


"Kar, hayuk pulang!" ajak Zahra.


"Azka masih ada satu jam pelajaran lagi katanya, mau nungguin Azka aja," jawabnya. Zahra duduk di sampingnya.


"A Azka tau Kar, maaf ya aku yang kasih tau." Zahra meringis meminta maaf.


"Ga apa-apa, toh aku juga udah cerita semuanya."


"Kata Azka, daddy sama bunda mau ke rumahku hari ini, Ra!" seru Sekar senang.


"Oh ya?! Ko aku ga tau, bunda ga bilang apa-apa sama mama,"


"Tapi aku juga ga tau, bener apa engganya. Ngapain juga mereka ngurusin masalah orang?" sendunya menunduk, membayangkan jika sampai itu tak jadi.

__ADS_1


"Eh, bunda sama om Rama mah ga akan kaya gitu! Apalagi masalah yang menyangkut anak-anaknya, kalo a Azka udah bilang om Rama sama bunda bakal datang, pasti datang!" jawaban Zahra memberikan Sekar secercah harapan.


Azka membawa Sekar sampai ke depan pintu pagar rumahnya, hati Sekar terasa langsung jatuh ke dasar bumi demi melihat mobil orangtua Ganjar, tapi tak menemukan kendaraan lain selain motor ayahnya.


"Azka," ia berbalik melihat Azka menumpahkan semua ketakutannya.


"Yu masuk!" ajak Azka.


"Aku takut," tangannya sedingin es.


"Ngapain takut, mereka makan nasi sama kaya kamu?!"


"Orangtua kamu?" tanya Sekar. Azka malah menarik Sekar ke dalam.


Deg!


Dilihatnya di ruang tamu cukup banyak orang, Sekar sampai tak bisa bernafas melihatnya.


"Bunda?!" air matanya kembali tumpah.


"Eh, ko nangis?!" Sekar langsung menghambur memeluk Nara, seakan ingin menumpahkan semua masalahnya yang akhir-akhir ini membebani pikirannya. Entah sirep (sihir, pelet) apa yang Nara miliki sampai anak orang saja selalu ingin memeluknya.


Flashback on


Setelah Azka menceritakan semua masalah yang dialami Sekar, Nara sedikit kesal drngan keluarga Ganjar. Jarang-jarang anak sulungnya ini berkeluh kesah jika bukan masalah yang tak bisa ia tangani sendiri.


"Ya udah, mboy bilang sama Sekar besok bunda sama daddy ke rumahnya buat silaturahmi!"


"Aa!!!" pekik Nara memanggil Rama.


"Besok mau maen ke rumah calon besan ngga?!"


Azka menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan ibunya.


"Aku udah ganteng belum yank?" tanya Rama.


"Always! Antingnya jangan dipake dulu atuh, nanti dikira mau ngajak nge-band!"


"Biarin, justru mereka harus tau kita luar dalam, untuk menilai secara keseluruhan!"


"Mau pake si Meong atau si papatong hejo?" tanya Nara.


"Malu engga kalo pake begituan?"


"Pak Agus dan keluarga harus menilai ketulusan kita," jawab Nara.


"Sekalian nostalgia ya?!" Nara mengangguk. Tak ada perhiasan mewah sebesar buah maja di leher atau tangan Nara, hanya perhiasan-perhiasan kecil terbilang sederhana yang ia pakai.


Noted:


Si meong \= mobil Alphard putih milik Rama.


Si papatong hejo\= pasti udah pada tau 😂 motor buluk, berisiknya Rama.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2