
Sekar duduk di samping Kurnia dekat dengan jendela. Sengaja gadis itu memilih posisi itu, agar bisa dekat dengan sumber angin dan juga bisa melihat pemandangan di luar mobil.
Andra yang masuk belakangan sebagai ketua OSIS duduk di depan Sekar dekat dengan bu Farida.
"Sudah semuanya ?" tanya bu Farida.
"Udah bu, total 8 orang anggota OSIS !" jawab Andra menghitung anggota OSIS yang ikut.
"Aduhhh sempit ih, geser Boy !" ujar Kinan.
"Sama gue juga sempit, loe yang pan_tatnya kegedean !" jawab Boy. Mereka terkekeh melihat perdebatan antara Boy dan Kinan hanya karena posisi duduk yang sempit.
"Ga apa-apa lah desek-desekan cuma sebentar sampai SMA 23, yang kecil di pangku !" seloroh pak Gunara menoleh kr brlakang dari bangku pengemudi.
"Kar, kamu kecil dipangku !" tawa pak Gunara.
"Ih, apaan si bapak," ujar Sekar mencebik.
"Ndra, pangku Sekar Ndra !" ujar bu Farida bercanda.
"Sok sini kupangku !" tawar Andra, membuat Sekar menggidikkan bahunya.
"Ga mau !" jawab Sekar.
"Huu, itu mah maunya kak Andra !" jawab Nata dan Kurnia.
"Jangan atuh, nanti pacarnya Sekar marah !" ujar Kurnia yang dihadiahi sikutan Sekar.
"Mmhh, anak pak Agus mulai pacar-pacaran. Sama siapa atuh Kar ?" tanya pak Gunara.
"Ah engga pak," kilah Sekar.
"Kak Azka, pak !" kompak Kurnia dan Nata, sontak Sekar memelototi keduanya yang malah tertawa.
"Beuhhh ! Si Azka ?! Yang nakal ?! Langganan pak Agus di ruang BK, waduhhh, rame atuh !" kelakar bu Farida.
"Beranian si Azka euy ! Macarin anak pak Agus !" jawab pak Gunara seraya melajukan mobil keluar dari gerbang sekolah.
Sekar mengalihkan pandangannya keluar jendela tak menanggapi candaan guru dan teman-temannya yang menjadikan hubungannya dan Azka topik pembicaraan. Namun, berbeda dengan Andra yang sedari tadi melihat ke arah Sekar, seakan moment ini adalah sebuah kesempatannya untuk bisa mendekati Sekar tanpa gangguan dari Azka.
Mereka sampai di SMA 23, disana sudah ramai oleh anak-anak dan guru dari SMA lainnya, acara yang diadakan dinas pendidikan kota Bandung yang bekerja sama dengan Kapolres kota Bandung akan memberikan penyuluhan dan bimbingan untuk anak remaja usia SMA di kota Bandung tentang narkoba dan juga geng motor yang marak di kalangan anak remaja tanggung ini.
__ADS_1
"Udah rame euy !" ucap Heru berdecak.
"Iya ih ! Rame," timpal Kinan. Mereka memasuki area lapang yang dijadikan tempat untuk acara.
Sepanjang acara Sekar tak pernah lepas dari jangkauan Andra, kemanapun Sekar pergi Andra selalu mengikuti.
...----------------...
Di tempat lain,
"A, ke markas ?" tanya Rizal.
"Mau ke pasar dulu, disuruh daddy buat cek pasar !" jawab Azka.
"Azka !" panggil Hani dari kejauhan, gadis itu berlari menuju Azka cs di parkiran.
"Azka, aku ga bawa motor ! Nebeng sampai depanlah !" pintanya.
"Mau ke pasar euy, Han..sorry !" jawab Azka menolak secara halus seraya memakai helmnya.
"Bentar atuh Ka, please...cuma sampe depan, sampe dapet angkot buat pulang !" jawab Hani memohon.
"Sama aku aja atuh Han," tawar Rizal.
Hanya nebeng sampai depan kan ? Apa salahnya, Azka memang baik orangnya.
"Cuma sampe depan jalan gede kan ?" Hani mengangguk dengan cepat, gadis remaja yang lumayan cantik ini memang selalu tampak good looking karena memang ia bisa dikatakan seorang artis, meskipun hanya seorang penyiar radio, kenal dengan beberapa publik figur, anak band dan beberapa artis, demi pekerjaannya mengharuskan gadis ini berdandan dengan baik dan tampil paripurna.
Tapi tak tau kenapa, pesonanya tak pernah bisa menjangkau seorang Azkara Wisesa Al-Kahfi. Sejak dulu, Hani selalu mengagumi sosok Azka, ia berbeda dengan pemuda yang lain, Azka sosok keren yang sebenarnya berandal namun baik dan manis, berandal termanis yang pernah ia kenal. Jika pemuda lain selalu mengejar-ngejarnya, bahkan beberapa diantaranya anak band indie cukup terkenal di kota ini, tapi tidak dengan Azka.
Azka memang sosok yang baik..namun kebaikannya hanya sebatas sebagai teman, dan Hani tak mau itu, ia ingin lebih dari sekedar teman.
Hani langsung naik ke jok belakang motor Azka, tanpa aba-aba pun ia langsung memeluk perut Azka.
"Han, jangan kaya gitu. Sorry," pinta Azka.
"Kalo cowok lain dipeluk sama cewek cantik mana nolak, Ka !" jawab Hani terang-terangan.
"Janganlah, nanti aku khilaf !" kekeh Azka berkelakar seraya melajukan motornya, sementara yang lain mengekor di belakang.
"Biarin atuh khilaf juga, aku mau ko dijadiin selingkuhan ! Sekar mah masih kecil, Ka. Polos, dia mah ga akan tau kalo kitanya rapi !" jawab Hani, Azka hanya menggelengkan kepalanya dan menyeringai, mungkin jika anak muda pada jamannya akan terbiasa dengan kata selingkuh, apalagi seorang berandal macam Azka yang tampan, keren, dan juga cukup dana, tapi bagi Azka..perasaan tak boleh dipermainkan, meskipun masih dalam tahap pacaran, karena sikap gentle seorang laki-laki itu dilihat dari sebuah kesetiaan tak ada niatannya menyakiti perasaan Sekar. Azka tak pernah memiliki perasaan apapun pada Hani.
__ADS_1
Azka menghentikkan motornya setelah sampai di dekat jalanan besar, dimana angkot banyak berseliweran.
"Turun Han, udah sampe !" pinta Azka membuka kaca helmnya. Hani yang masih betah di bonceng Azka, terasa enggan untuk turun.
"Ga ada niat mau anter gitu Ka ?" Hani merengut.
"Dam, anter Hani katanya ?!" pekik Azka pada Adam.
"Ih bukan sama Adam atuh Ka, maunya sama kamu !" rengek Hani.
"Sorry Han, ga bisa. Lagi disuruh daddy ke pasar !" jawab Azka. Dengan berat hati Hani turun. Teman-teman Azka hanya terkekeh dan menggelengkan kepalanya, sudah biasa bagi mereka pemandangan ini, dimana para cewek pasti akan begitu pada Azka, modusnya minta nebeng ujung-ujungnya minta dianterin sampai rumah, beberapanya bahkan sampai pura-pura sakit.
"Mang !" Azka melambaikan tangan dan menghentikkan angkot sesuai jurusan rumah Hani.
"Angkot ini kan ?" tanya Azka turun dari motor, Hani mengangguk.
"Sok atuh naik," pinta Azka. Bagaimana pun Hani teman perempuannya, Azka menghargai itu.
Hani naik ke dalam angkot.
"Mang hati-hati ya, temen saya !" pesan Azka mengetuk mobil mengisyaratkan agar mobil untuk melaju.
Perlakuan itulah yang membuat para gadis gagal move on dari Azka termasuk Hani.
"Beuhhh, a..harus kuat iman ! Kade mewek, a !" ujar Adam pada Azka.
(Awas nangis, a !)
"Paling datang ke rumah ka si bunda sambil nangis-nangis !" timpal Yoga.
"Calon korban," sahut Rizal.
"Udah jadi korban, dari dulu !" ujar Adam.
"Kan si Hani tuh pacarnya banyak, tapi masih penasaran sama si berandal manis ini !" tawa Rizal yang bahunya di dorong Azka.
"Cinta aa Azka udah nempel di neng Sekar, udah ga bisa lepas !" tawa Rizal ditertawai yang lainnya.
"Hayuu ahh kemon ka pasar !" ajak Azka berseru menggerungkan motornya dan melajukan motornya cepat.
.
__ADS_1
.
.