Berandal Termanis

Berandal Termanis
Panggil gua kalau kamu sudah siap bersaing


__ADS_3

"Gue ga biasa balapan liar!" jawabnya.


"Oooo!" seru Rizal dan Adam.


"Anak mama cuy!" jawab Yoga menaruh sikunya di pundak Ganjar. Wajah Ganjar memerah, tanda ia mulai kesal.


"Ya iya atuh anak mama, masa anak kang cilok! Aya-aya wae ah," sahut Azka. (Ada-ada aja)


"Saha (siapa) tadi namanya teh?" tanya Rizal.


"Ganjar, zal!" jawab Yoga.


"Dia kembali atuh?!" tanya Azka.


"Eta mah genjer A!" tawa Adam, pemuda dengan kemeja kotak-kotak biru yang diapit Yoga dan Adam itu mengeraskan rahangnya.


Ibu Sekar datang membawa nampan berisi 3 cangkir teh manis hangat.


"Eh, Azka! Kirain siapa?!"


"Bu!" sapa Azka salim takzim diikuti teman-temannya.


"Mainnya kesorean, udah mau magrib?" tanya ibu Sekar.


"Iya bu, sengaja. Mau ikut solat magrib disini, biar bisa berjama'ah sama pak Agus!" jawab Azka.


"Oh, yo wes. Bapak sudah siap-siap, mau pada ambil wudhu?" tawar ibu Sekar.


"Oh boleh bu!" jawab Azka.


Azka dan teman-temannya melinting celana dan menyimpan jaketnya masing-masing untuk ikut solat.


"Ganjar, yuk ikut solat berjamaah!" ajak ibu Sekar.


"Sudah masuk waktu magrib, solat dulu!" pinta pak Agus muncul dari dalam sudah sepaket dengan stelan koko dan sarungnya.


"Iya pak,"


Ganjar akui ia memang bisa solat, tapi terkadang ia belang-belang melaksanakan tiangnya agama itu. Berhubung ini berjamaah, ia paling awal mengambil air wudhu dengan percaya dirinya.


"Sekar sama ibu mau ikut berjamaah atau di kamar?" tanya pak Agus.


"Disini aja pak, bukannya pahala berjamaah lebih besar? iya kan a ustadz?" tanya Sekar pada Azka, pemuda ini nampak tampan dengan rambut terbasahi air wudhunya, meskipun hanya t-shirt hitam yang menjadi pakaiannya, tapi insyaallah bersih dari najis.


Sontak mata ibu Sekar, pak Agus dan Ganjar melirik ke arah pemuda dengan tampilan urakan ini.


"Insyaallah,"


"Loh emang iya?" tanya ibu.


"Iya bu, di lingkungan rumahnya Azka jadi guru ngaji loh! Ibu kan tau sendiri waktu Azka pernah jadi imam disini waktu itu!" aku Sekar memuji Azka, sedangkan si empunya nama hanya diam di dehemi teman-temannya.


Ganjar merasa panas dibuatnya, ia benar-benar kebakaran Sekar selalu memuji-muji pemuda satu ini, lihatlah! Penampilannya saja lebih baik dia kemana-mana, bisa ia tebak outfit yang dipakai Azka pun tak jauh-jauh dari baju-baju murah dan sudah lama.


"Kalo cuma baca surat, baca iqro dan bacaan solat saya juga bisa!" ujarnya, pandangan mereka jatuh ke arah Ganjar si sumber suara.


"Pak! Kalau gitu, gimana kalo Ganjar jadi imam kali ini? Suara bapak sudah sering saya, teman-teman, Sekar dan ibu dengar. Suara saya juga ga bagus-bagus amat, bukankah sebagai laki-laki yang ingin meminang Sekar seharusnya sudah bisa mengimami solatnya juga?"

__ADS_1


"Azka!" gumam Sekar tak terima dengan ucapan Azka yang menyebut jika Ganjar adalah calonnya.


Azka memandang Sekar dan menganggukkan kepala, kode untuk Sekar agar diam.


"Boleh, silahkan Ganjar!" pinta pak Agus mundur. Jantung Ganjar berhenti mendadak, jika bisa ia ingin menghilang dari sana seperti merpati yang masuk ke dalam topi pesulap.


Ingin mundur tapi gengsinya terlalu besar untuk ia turunkan, jika maju ia sebenarnya tak paham dengan hukum tajwid, makhrajul huruf, ia juga hanya hafal beberapa surat pendek saja.


"Ba..baik!" jawab Ganjar tergagap, Azka tersenyum.


"Oke saya yang iqomah," ujar Azka.


Azka melafalkan kalimat iqomat, dan pak Agus meminta mereka merapikan shaf'nya.


Ganjar maju dengan ragu dan pelan, bahkan lututnya yang tremor tak bisa dikondisikan lagi. Adam dan Rizal hampir meledakkan tawanya jika Azka tidak menegur keduanya, wajah Yoga pun sudah memerah menahan tawa.


Awalnya saat takbiratul ihram semua berjalan lancar dan khidmat, tapi saat Ganjar mulai membacakan surat Al-fatihah, tiba-tiba suara Azka menyela untuk membenarkan bacaan Ganjar yang salah.


Berkali-kali ia salah dan Azka selalu membenarkan, sampai-sampai salat magrib yang seharusnya dilaksanakan hanya dalam waktu 10 sampai 14 menit jadi mo lor hampir 25 menit.


"Solat magrib paling lama yang pernah gue alamin!" bisik Rizal tertawa pada Yoga.


Ganjar sudah menunduk malu, tak tau semerah apa wajahnya, pak Agus berkali-kali berdecak kesal.


"Yaa! Kan martabaknya jadi keburu dingin!" keluh Sekar.


"Diangetin nduk, mau?" tanya ibu.


"Ga usah bu, ini kalo udah dingin juga tetep enak!" seru gadis itu.


"Mau jalan-jalan ngga?" tanya Azka memakai kembali jaketnya.


"Beli bubur kacang," kekeh Azka.


"Minta ijin ayah dulu ya!" seakan tak mempedulikan kehadiran Ganjar disana, Azka malah mengajak Sekar jalan-jalan.


"Ayah, aku mau jajan dulu sama Azka sambil jalan-jalan malam bareng yang lain!" tunjuk Sekar, pak Agus mengedarkan netranya pada Azka, Adam, Rizal dan Yoga.


"Maaf ganggu pak, bu. Saya mau ajak jalan Sekar keliling kota Bandung?" ijinnya sopan.


"Jangan berduaan, jangan pulang malem!" pintanya menikmati martabak yang dibawa Azka.


"Siap ayah!"


"Siap pak!"


"Om Agus?!" Ganjar terkejut dengan jawaban pak Agus yang memberikan putrinya bersama Azka cs.


Sekar langsung ganti baju dan memakai jaket, pamit pada kedua orangtuanya.


"Sekar, aku disini loh!" Ganjar sedikit kesal pada gadis ini, sejak siang tadi ia sudah menunggu Sekar, sampai menemani pak Agus main catur padahal baginya hal itu sungguh membosankan dan memusingkan, lalu mengimami solat meskipun banyak salahnya, tapi gadis ini malah tak menganggap kehadirannya sama sekali.


"Kar!" Ganjar meraih dan menarik pergelangan tangan Sekar.


Mata Sekar mengilat, layaknya elang terhadap anak ayam.


"Apa sih?!" ia menepis kuat, Azka terkekeh, ia tau betul Sekar tak akan mudah tersentuh orang. Termasuk dirinya dulu, mati-matian bersusah payah mengejar Sekar si gadis jutek dan galak.

__ADS_1


"Maaf Jar, bukannya kamu datang buat pamer sama ayah, buat ngobrol sama ayah? Buat maksa-maksa ayah biar bisa sama aku? Selagi kamu lakuin itu semua, aku mau pergi!" jawabnya mengajak Azka keluar dari rumah.


"Assalamualaikum!" salam Azka.


Mereka pamit meninggalkan Ganjar bersama kemarahannya di ruang tamu.


Tanpa pamit ataupun salam, Ganjar ikut keluar dari rumah Sekar, menjalankan motornya dengan menggerungkan gasnya keras.


****


"Loh! Kenapa berenti disini?" Sekar memiringkan kepalanya, posisi mereka masih berada di dekat komplek rumah Sekar.


Azka malah mematikan mesin motornya, ternyata yang dinantikan datang juga.


Dari kejauhan motor menyilaukan mata dan terlihat mengkilat baru itu makin mendekat.


Azka cs menghadang jalan Ganjar.


"Azka, kamu mau ngapain?" tanya Sekar.


"Dia kan, alesan kamu nangis sampai sembab tadi?" tanya Azka menunjuk Ganjar.


"Azka," Sekar menggelengkan penuh arti, tangannya memegang jaket Azka.


"Ga usah cari-cari masalah Azka, please!" pinta Sekar memohon. Ganjar yang tau jika Azka cs menjegalnya menghentikan motor di depan mereka. Tatapan Azka begitu mematikan, tak ada keramahan sama sekali disana untuk Ganjar, seperti tadi.


Pemuda ini mendengus, ia tertawa sumbang, "ternyata ini aslinya! Berandal."


Azka membuka helmnya, ingin menghampiri Ganjar, tapi Sekar malah memeluk lengannya dan menggeleng kuat.


"Ga usah takut aku ngapa-ngapain atuh, dia 'ga akan aku apa-apain," ucap Azka mengusap kepala Sekar.


Yoga sudah duduk bersandar di jok motor seraya menyalakan sebatang rokok.


Azka melangkah menghampiri Ganjar, "Jangan pernah datang lagi meminta Sekar, bilang sama ayah ibumu jangan pernah ganggu lagi keluarga Sekar. Ini baru awal saja, salam perkenalan dari gua! Gua Azkara Wisesa Al-Kahfi, tandai muka gua! Biar besok-besok kalo loe sudah punya kemampuan untuk bersaing di depan orangtua Sekar loe panggil gua," ucap Azka.


"Loe cuma anak jalanan, berandal ga jelas. Loe ga tau power apa yang orangtua gue punya buat neken pak Agus sekeluarga!" ancamnya.


"Silahkan bawa semua yang loe dan orangtua loe punya, gua tunggu disini! Yang jelas, ga akan semudah itu kebebasan Sekar loe beli pake uang yang ga seberapa, loe pikir ini jaman apa, jangan sombong. Diatas langit masih ada langit bruhh!" dengus Azka kembali, Ganjar mengeratkan kepalannya.


"Sekar!! besok orangtuaku datang ke rumah buat ketemu orangtua kamu! Denger kan?!" ucapnya lantang sarat akan ancaman. Sekar diam, ia malah menatap senyuman Azka untuknya.


"Ga usah di dengerin," Azka membawa tangan Sekar untuk kembali ke motor.


"Mau langsung beli bubur kacang atau mau ikut aku dulu?" tanya Azka.


"Ikut kamu dulu!" mata Sekar melihat kilatan kemarahan dari Ganjar.


"Hey! Di depan sana ada tukang tambal ban, sekedar info!" pekik Rizal tertawa, menyalakan kembali motornya.


Motor Azka dan teman-temannya melaju meninggalkan Ganjar, ia naik kembali ke motornya, saat akan distater dan melaju, motornya terasa berat juga tak nyaman.


"Si@*lan!! Ban motor gue digembosin!" kesalnya.


"Argghhh!" pekiknya menendang ban motor dan menepis angin.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2