
"Hai Sekar !" sapa Andra.
"Ka Andra ?"
Alis Azka menukik, saat melihat Sekar didatangi Andra. Terlihat jelas tutur kata lembut dan raut wajah ramah Sekar pada Andra, beda saat gadis itu bicara dengannya yang bawaannya pengen ngajak berantem.
"Niat ikutan OSIS ?" Andra menyerahkan beberapa formulir untuk para adik kelasnya.
"Oh, insyaallah ! Diliat dulu ya kak,"
"Boleh, tapi aku harap kamu sama Zahra ikutan, biar seru !" jawabnya tersenyum.
Ilman menyenggolnya, "seru versi Andra !" ledeknya.
"Apa sih Man," Andra tersipu malu.
"Cieee, Sekar sama kak Andra !" seru teman lainnya.
"Apa sih, engga !" tolak Sekar. Entah kenapa netranya kembali pada tempat dimana Azka tadi berada, dan ternyata laki-laki itu sudah tak ada di tempatnya.
Kali ini Sekar memutuskan untuk kembali jajan di area gerobak bersama Zahra. Memang area ini selalu ramai oleh anak-anak sekolahnya, selain karena makanan yang beragam dan harganya murah, rasanya pun pas di lidah.
"Ihh, udah penuh aja !" keluh Zahra.
"Biasa lah Ra, emang enak-enak sih !"
"Gara-gara bu Lina nih, lama tau ngga !" manyun Zahra.
Mata Zahra mengedar mencari apa yang diinginkannya.
"Mau jajan apa Kar ?" tanya nya.
"Emhh, aku haus Ra, tapi pengen jajan seblak juga !" jawab Sekar.
"Huffttt ! Otak panas karena pelajaran bu Lina, disiram kuah seblak yang yahuud, emang enak !" Zahra setuju.
"Widihhhh, ngantri ! Bisa-bisa keburu masuk ini mah !" bibir gadis itu kembali merengut, Sekar tertawa, "mau gimana lagi ?"
Mata Zahra mengedar melihat Azka cs sedang berada di pojokan gerobak gorengan. Cara makan yang menjadi andalannya, jongkok di atas tembok secuil dengan lontong dan bakwan di tangan.
"A Azka !!!" pekiknya memanggil Azka, membuat Sekar ikut menoleh mengalihkan pandangannya pada Azka, begitupun Azka yang tersenyum begitu melihat Sekar. Kebencian itu tak sebesar dulu. Mungkin saat isya itu, Allah telah menggerakkan hatinya meskipun hanya sedikit.
"Kenapa harus dipanggil," cicit Sekar pada Zahra.
"Kamu pengen makan cepet kan ?!" tanya Zahra.
"Apa hubungannya ?" tanya Sekar. Azka sudah berjalan mendekat.
"Ra..eh ada tulang rusuk,"
"Nama gue bukan tulang rusuk !" Sekar menggertakkan giginya, baru juga digerakkan hatinya ia sudah menyebalkan.
"Makanya kenalan atuh, diajak kenalan ga mau !" jawab Azka.
Pemuda itu mengulurkan tangannya setelah sebelumnya mengelapkan tangan berminyaknya pada baju salah seorang temannya yang lewat tanpa orang itu sadari.
"Hey bruhh jajan ?!" sapa Azka dengan menempelkan tangan berminyaknya di pundak dan punggung temannya itu membuat Zahra tertawa melihat tingkah konyol Azka.
"Hooh bruhh," jawabnya.
"Ya sok atuh, sing wareg !" jawab Azka menepuk-nepuk memberikan sentuhan terakhir. (Ya silahkan, semoga kenyang !)
"Ih be*go," tapi Sekar tertawa kecil melihat kelakuan Azka. Ada ya ?! Cowok dengan kelakuan seabsurd Azka. Tanpa sadar ia sudah terhibur oleh aksi Azka saat otaknya hampir sekarat karena pelajaran bu Lina.
"Kenalin Azkara Wisesa Al-Kahfi, alhamdulillah masih manusia terganteng se-belahan bumi Indonesia, bernafas dengan paru-paru melewati dua lubang hidung. Mata masih 2 dan insyaallah ga ada rencana buat nambah, agama Islam forever, tinggal di belahan bumi yang masih bisa merasakan kemarau dan hujan, sepupunya Zayn Malik, adik angkatnya Iqbal Ramadhan, muridnya Kahlil Gibran, dan anak santrinya Rhoma Irama !"
Woww, perkenalan yang begitu panjang, Zahra sudah tertawa-tawa.
__ADS_1
"Sekar," jawabnya tanpa meraih tangan Azka.
"Sejak kapan bang Haji punya pesantren A ?" tanya gadis itu.
"Sejak aku mengikrarkan diri menjadi pecinta wanita," jawab Azka membuat Zahra tertawa lagi.
"Emang sebelumnya pernah cinta laki-laki ?! sieun atuh (takut)!"
"Bukan cinta, tapi mengagumi !" jawab Azka membuat Zahra dan Sekar mengangkat kedua alisnya tak percaya.
"Nabi Muhammad, Nabi Yusuf, abah haji, sama ayah, " jawab Azka, sejenak membuat kedua gadis ini terdiam.
"Kamu tau ngga wanita itu ada artinya ?!" tanya Azka.
Tiba-tiba sebuah pertanyaan lolos dari bibir Sekar, entah mulai terbawa suasana atau memang ia yang sudah mulai penasaran dengan Azka.
"Apa ?!" tanya Sekar.
"Wanita...Waktu Ayah Naik Ibu Terjadilah Aku..." jawab Azka.
"Bwahhahaha, " Zahra kembali tertawa sambil memukul bahu Azka.
"Dih, jorokk, mesum !" jawab Sekar sudah menutup mulutnya.
"Lohh, emang bener kan ?!" tanya Azka.
"Ga jajan ?" tanya Azka.
"Oh, iya ! Sampe lupa, pengen jajan tapi penuh, A !" jawab Zahra.
"Mau jajan apa ?" tanya nya lagi.
"Kar," senggol Zahra.
"Pengen jajan es teh manis sama seblak," jawabnya pelan-pelan.
"Oh,"
"Hey barudak !!!!" pekik Azka di depan antrian seblak.
"Si Aa lagi ngapain tuh ?" tanya teman-temannya, saat melihat Azka berada di depan gerobak seblak.
"Paling lagi ghosting cewek !" jawab Adam yang santai menikmati gorengan. Mereka sudah tak aneh dengan kehebohan yang diciptakan Azka.
Yoga dan Rizal pun santai mengaduk-aduk bubur ayam yang ada di mangkuk di tangan mereka.
Mereka menoleh pada Azka, Azka hitung diantara mereka adalah anak-anak murid kelas X itu terlihat dari baju seragam yang masih terlihat putih bersih dan bau pabrik. Hanya ada beberapa kelas XI dan XII.
"Tau ngga kalo di Indonesia, di tempat umum harus mendahulukan yang tua, wanita, ibu hamil dan anak-anak ?!" mereka mengangguk.
"Aku sama kamu tuaan siapa ?" tanya Azka pada murid-murid kelas X.
"Kakak," tunjuknya.
"Nah itu tau, jadi punteun (maaf) yang tua lebih dulu !" jawabnya menyela antrian membuat mereka berdecak kebingungan mau-maunya dikibulin.
"Naon (apa)kamu ?! Kita samaan umurnya ?!" tanya salah satu teman satu angkatannya.
"Lahir bulan apa kamu ?!" Tanya Azka.
"Juli !" jawabnya.
"Aku April, minggir ! Aku lebih tua !" jawab Azka. Zahra dan Sekar tertawa-tawa.
Giliran kelas XII yang ia hadapi.
"Sok, mau apa kamu Azka ?!" tanya nya sambil mendongak jumawa.
__ADS_1
"Gini teh, mau taruhan ?" tanya Azka.
"Taruhan apa ?!" tanya si kaka kelas perempuan.
"Kalo teteh bisa jawab tebakanku teteh bisa antri duluan terus ku kasih coklat juga !" tunjuk Azka mengeluarkan coklat merk sejuta umat berbungkus ungu.
"Tapi kalo teteh ga bisa jawab, teteh harus relain saya antri duluan ?"
Si kaka kelas melirik temannya, yang mengangguk, kan lumayan coklat.
"Boleh, sok apa tebakannya?" tantangnya, Azka tersenyum.
"Oke, laki-laki kejebak di gua gelap..dia punya lilin sama obor, kira-kira yang harus dinyalain apa dulu ?" tanya Azka.
Dengan mantap ia menjawab, "ya lilin atuh, da nyalain obor mah suka mati lagi mati lagi, susah ! kalo lilin mah langsung nyala, jadi bisa nyalain obor berkali-kali nantinya, kalo pake lilin mah terang dulu," jawabnya.
"Salah !"
"Ya nyalain dulu korek apinya atuh, setelah itu mah ya terserah mau nyalain lilin apa obor suka-suka dia, teteh minggir !" jawab Azka.
"Mang pesen seblak 2 porsi !" si mamang saja menggelengkan kepalanya dan tertawa.
"Aya-aya wae (ada-ada aja) kamu mah Azka !" siapa yang tak kenal Azka, semua pedagang gerobak disini semuanya tau siapa pemuda tengil ini. Waktu setahun begitu mudah bagi Azka untuk mengenal semua pedagang yang ada di sekolah, bukan karena ia yang selalu jajan di kala istirahat tapi ia yang selalu nongkrong disaat jam pelajaran, dan lebih memilih main ular tangga bareng pedagang ketimbang belajar.
Azka menarik tangan kedua gadis ini lalu membawanya ke depan gerobak yang menunjukkan topping seblak beraneka ragam. Bukan meminta request'an Sekar dan Zahra.
Jika kemarin Andra belagak bak hero yang siap menahan teriknya matahari, letihnya berdiri dan mengantri demi pesanan Sekar dan Zahra. Lain halnya dengan cara Azka, pemuda ini memang unik, punya caranya sendiri untuk menjadi hero. Bukan superman ataupun ironman yang ia jadikan panutan.Tapi justru, ia adalah sosok hero yang baru. Bukan membawa apa yang Sekar inginkan, tapi membawa Sekar pada apa yang gadis itu inginkan, memberinya kebebasan untuk memilih.
"Sok atuh tinggal pilih mau seblak apa, biasanya kan cewek mah mau yang campur-campur murah meriah !" mata Sekar dan Zahra berbinar, padahal tadi yang ada di otaknya hanya seblak kerupuk tapi jika sudah begini kedua gadis ini pasti kalap. Sekar hanya meminta bumi, tapi Azka memberikan jagat raya beserta isinya.
"Mang, kalo campur komplit berapa ?" tanya Azka.
"Satu porsi 15 ribu !" jawab kang seblak.
"Dua porsi 30 ya, nih !" Azka membayar seblak kedua gadis ini di muka.
"Eh, A...jangan, ini aja udah makasih banget !" cegah Zahra diangguki Sekar.
"Ga apa-apa, itung-itung jajanin calon ibu..." jawabnya membuat kening kedua gadis ini berkerut.
"Ibu siapa ?" tanya Zahra.
"Ibu dari anak-anakku atuh, masa ibu kita Kartini," jawabnya.
"Ka, kembaliannya !" ujar si kang seblak saat melihat Azka melengos.
"Eh astagfirullah, lupa kang ! maklumlah kalo udah sama bidadari suka kaya kesirep (terhipnotis) jadi lupa dunia," kekehnya.
"Dikirain kembaliannya buat akang," ujar si akang memberikan selembar hijau.
"Jangan atuh kang, nanti selir saya si kuda lumping mau dikasih minum apa ?!" jawabnya.
"Dadah Sekar," lambaian tangannya, diangguki Sekar.
Gadis itu mengernyitkan dahi pada Zahra yang tengah asyik memilih topping seblak.
"Siapa kuda lumping ?" tanya nya.
"Motornya, " jawab Zahra ebuat Sekar cekikikan.
"Kirain pacar,"
"Ga punya pacar dia mah," jawab Zahra.
.
.
__ADS_1
.
.