
Dari mata Sekar, kini gadis itu melihat seorang Azka yang biasanya ramah dan humoris tampak garang menyikat satu persatu preman jalanan di depannya.
Terlihat Azka menendang seorang bertubuh besar dan gondrong yang badannya di penuhi tatto. Pria itu sampai terpental, Azka mengambil stick golf yang tadi terlempar dan memukulkannya pada kaki si preman. Sekar sempat terhenyak dan memalingkan wajahnya saat itu terjadi.
Ia tak melihat Adam dan yang lain. Pandangannya hanya berfokus pada Azka yang kembali meraih kerah jaket si preman dan menyeretnya ke bahu jalan, "Tong wani-wani malak di dieu ! Apalkeun beungeut urang !" ia menghempaskan kerah baju si preman yang meringis menahan ngilu di kakinya, sedangkan Azka melempar pisau lipat yang tadi sempat di ayunkan kepadanya tapi tak kena ke dalam drainase kota.
(Jangan berani-berani malak disini ! Hafalkan muka saya !)
"Ndra, loe ga apa-apa ? Masih sadar ngga ?" tanya Azka, Andra mengangguk namun lemah karena kini wajahnya babak belur dan berda_rah.
Sekar mematung disana, syok ? Jelas !
Azka tersenyum melihat Sekar, "hay, kamu ga apa-apa ?"
Sekar menggeleng.
"Dam, anterin dulu Andra ke klinik...biar diurus dulu lukanya, nanti orang rumahnya syok liat dia, terus anter pulang !" pinta Azka.
"Oke A," dijawab Adam, Rizal dan Yoga.
Azka menarik tangan Sekar dan membawanya naik ke atas motornya.
"Cari minum dulu ya, jangan pulang dalam keadaan syok gini. Nanti dikira pak Agus aku ngapa-ngapain kamu ! Kan berabe, pergi bareng Andra pulang bareng aku, udah gitu kaya orang abis diculik lagi," kekeh Azka.
Bukan cafe, atau gerai makan cepat saji seperti yang ia datangi tadi bersama Andra.
"Kalo mau jalan-jalan malam di kota, jangan ambil jalan Cikapayan, sepi kalo pas waktunya begini, jalan pasupati juga..sepi," jelas Azka.
"Ya mana aku tau kalo kak Andra mau ngajak jalan kesini," jawab Sekar akhirnya mau bersuara.
Azka menghentikkan motornya di sebuah warung pinggir jalan, bukan warung tapi lebih tepat disebut gerobak bubur kacang hijau khas Madura.
"Turun dulu," pinta Azka, Sekar menurut, gadis itu melongokkan kepalanya, melihat di dalam sana ada beberapa orang yang juga duduk untuk menikmati bubur kacang hijau.
"Ngapain disini ?" tanya Sekar ketus.
"Masa mau ku suruh ngemis, ya makan bubur kacang atuh cantik," jawab Azka menyugar rambut akibat helm, lalu menarik tangan Sekar yang belum membuka helmnya masuk ke dalam tenda. Azka memang bukan sedang menggombal seperti Andra tadi, tapi hatinya kini mekar tak karuan, sama-sama menyebutnya cantik, tapi rasanya berbeda untuk Sekar.
"Mas bubur kacang 2, campur !" ucap Azka, ia mengajak Sekar duduk di kursi plastik.
Menatap Sekar sambil terkikik, "ga mau dibuka helmnya ? Kita masih di bumi loh, aku belum ngajak kamu terbang ke bulan ?!" tunjuknya pada helm yang dipakai Sekar.
Astaga !!! Saking sibuknya menatap Azka ia sampai lupa melepas helm. Pantas saja para pengunjung melihatnya.
"Isshhh !" Sekar memukul bahunya.
"Kenapa ga bilang dari tadi sih, malu tau !" omelnya ditertawai Azka, tawa Azka renyah serenyah ciki keju yang baru kelar dibumbuin.
Azka melepaskan helm yang menempel di kepala Sekar dan menyimpannya diatas si kuda lumping.
"Aku beli air putih dulu," ucap Azka melengos ke samping tenda dimana terdapat warung rokok kecil pinggir jalan, sementara Sekar duduk di kursi plastik.
__ADS_1
"Iya, jangan lama !" jawab Sekar, ucapan itu membuat Azka tersenyum simpul.
2 mangkuk bubur kacang hijau panas tersaji di depan mereka.
"Nih, minum dulu !" Azka membukakan segel tutup air mineral dan memberikannya pada gadis yang tengah memandanginya.
"Kamu..." belum ia meneruskan Azka menyodorkan botol mineral lalu Sekar meneguknya.
"Kamu lagi ngapain ada di jalanan ?" tanya Sekar.
"Kamu sendiri ? Pacaran sama Andra ?" tanya Azka balik, pertanyaan kedua Azka sontak ditepis Sekar.
"Engga, aku bukan pacar kak Andra !" jawabnya tegas.
"Oh," jawab Azka berohria, ia meraih sendok dan melahap bubur kacang. Tiba-tiba saja Sekar menahan gerakan tangannya.
"Jawab dulu, kamu lagi ngapain di jalanan,udah gitu gerombolan, kaya geng motor ?!" tanya Sekar penasaran mencoba memancing Azka.
"Emhhhh, ngapain ya ?!" Azka malah mengetuk-ngetuk kepalanya.
"Ihhh," gerutu Sekar.
"Lagi menikmati keindahan kota Bandung pada malam hari sambil menghirup oksigen, mumpung masih gratis," jawab Azka terkekeh membuat gadis di sampingnya merengut tak puas.
"Kurang kerjaan !" sarkas Sekar.
"Tadi siang kamu kemana ? Ko ga ada di area gerobak ?"
Azka terkekeh, "nyariin ya ?" godanya.
"Bukannya kamu lagi asik pacaran sama Andra ? Ko nyariin aku ?"
"Udah dibilangin juga, aku sama kak Andra ga pacaran ihhh ! Ga percaya !" omelnya kesal.
Azka kembali tertawa, "iya, iya ga usah ngegas neng. Tadi aku di belakang sekolah, abis...abis apa ya ?" Azka kembali mengetuk-ngetuk keningnya membuat Sekar kembali menggerutu.
"Ihhh, nyebelin !" Sekar memukul lengan Azka.
"Dimakan dulu bubur kacangnya, nanti keburu dingin. Biar ada energi buat pulang, wajah kamu juga biar ga pucet lagi," ujar Azka.
"Kenapa harus bubur kacang ? Kaya abis donor darah aja," jawab Sekar.
"Kenapa ga boleh bubur kacang, takut kesaingin ya manis-manis gurihnya ?!" goda Azka.
"Tenang aja, kamu juaranya !" lanjut Azka setengah berbisik.
"Ihh, Azka !" rengeknya melotot memukul Azka, jujur Sekar sudah berflower-flower kali ini, beda rasanya jika Azka yang berucap terasa manis dan jedag-jedug.
Seakan tenda milik berdua, keduanya malah saling bercanda tanpa menghiraukan pengunjung lainnya yang sudah melihat mereka ikut merasa geli dengan gombalan Azka untuk Sekar.
"Anak muda jaman sekarang," gumam mereka menggelengkan kepalanya. Sweet-sweetan di depan orangtua tak tau malu.
__ADS_1
.
.
Akhirnya Azka mengantarkan Sekar pulang setelah dirasa jika Sekar sudah baik-baik saja.
Bukan hanya sampai depan kompleks, tapi Azka memaksa mengantarkan Sekar sampai ke depan pintu rumah dan orangtuanya.
"Azka ?" gumam pak Agus kebingungan. Bingung karena setaunya Sekar pergi bersama Andra.
"Kenapa jadi bareng Azka ?" tanya nya lagi. Azka meraih dahulu punggung tangan pak Agus dan salim takzim.
"Iya pak, tadi ketemu di jalan. Sekar lagi nangis kejer di pinggir jalan. Katanya ga dibeliin balon sama Andra, jadi saya yang bujuk Sekar buat pulang !" jawab Azka.
Bukkk !
Sekar mendaratkan pukulan telaknya di bahu Azka yang malah terkekeh.
"Enak aja ! Engga yah, tadi kak Andra ada keperluan mendadak, ga sengaja ketemu Azka di jalan jadinya dianterin," jawab Sekar. Sekar sebenarnya tak berniat berbohong, tapi ia rasa kali ini ia perlu berbohong, untuk menjaga agar kedua orangtuanya tak khawatir, dan tentu saja nantinya akan berimbas pada kebebasannya untuk keluar rumah.
"Oh, ya sudah. Mau mampir dulu ?" tanya pak Agus.
Azka menggeleng, "makasih pak, tapi maaf sudah malam. Nanti orangtua saya mencari kalo terlalu malam," jawabnya membungkuk.
"Cih, boong banget !" gumam Sekar tanpa bersuara, pasalnya setau Sekar, Azka sering pulang larut malam bahkan dini hari.
"Ya sudah, bagus kamu tau waktu. Hati-hati dan terimakasih sudah mengantarkan Sekar," ucap pak Agus.
"Sama-sama pak, saya permisi. Assalamualaikum," pamit Azka.
"Waalaikumsalam," jawab keduanya.
Pak Agus berlalu meninggalkan Sekar yang mengunci pintu. Dari sana saja ia sudah tau dan dapat menilai jika ternyata Andra bukanlah pemuda bertanggung jawab.
"Tadi ko suaranya beda sama yang tadi jemput kamu, Kar ?" tanya ibunya.
"Iya bu, itu tadi Azka. Kalau yang jemput tadi kak Andra," jawab Sekar.
"Lho kok ?!"
"Bu, Sekar ke atas dulu deh, capek ! Belum isya juga," imbuhnya.
Sampai di kamarnya yang bernuansa merah muda, gadis itu senyam-senyum sendiri mengingat kejadian hari ini. Ia membaringkan badannya di ranjang sambil cekikikan sendiri.
"Udah gila kali ya aku ?!"
.
.
.
__ADS_1