
Warna di antara hitam putihnya hidup...
Goresan tinta di helaian kertas kosong....
Tikungan juga belokan di jalanan lurus kehidupan...
Sekar Rinjani
________________
Semenjak mengenal pemuda berjuluk sepupunya Zayn Malik, adiknya Iqbal Ramadhan, muridnya Kahlil Gibran, dan santrinya Rhoma Irama ini, Sekar selalu dilanda rasa penasaran. Apakah esok bisa melihatnya lagi ? Apakah saat ia muncul di sekolah, ia akan muncul juga ? Ahhh, gadis itu sangat berharap setiap harinya.
"Hay guys !" Nisa merangkul kedua teman yang dinobatkannya sebagai sahabat sejak pertama bertemu saat MOS.
"Kita mau kerja kelompok dimana ?" tanyanya.
"Kalo aku sih terserah," jawab Rahman yang berada di bangku belakang Sekar.
"Di rumahku ?" tanya Sekar.
"Emhh, kejauhan Kar. Ambil jalan tengah yang jarak rumahnya ga jauh dari semua alias di tengah-tengah," timpal Nisa.
"Rumah Zahra ?" tanya Sekar, mereka menimang-nimang.
"Iya, di rumah ku aja !" ajak Zahra.
"Boleh, kayanya kalo rumah Zahra deket dari rumah kita.." jawab Rido.
"Nanti sepulang sekolah rombongan aja boncengan ke rumah Zahra," imbuh Sekar.
"Kuyyy !"
"Ra, rumahmu deket sama rumah kak Azka kan ya ?!" tanya Nisa duduk memaksakan nyempil di tengah-tengah antara Sejar dan Zahra sambil senyam-senyum sendiri kaya orang stress abis obat.
"Aduh, astaga ! Udah kaya upil aja !" aduh Sekar dan Zahra.
"Kenapa kamu ? Senyam-senyum..." Zahra tertawa bergidik ingin menghindari Nisa.
"Bisa kali Ra, mampir-mampir nyerempet ke rumahnya si Aa kece !" Nisa menggelayuti lengan Zahra, gadis itu bergidik lagi.
"Dih, ini nih...barisan fans garis kerasnya a Azka," cebik Zahra. Sekar melihatnya, Nisa pun menyukai Azka sama seperti Zahra sejak mereka masih MOS malahan, bagi gadis itu ketos macam Andra kalah saing oleh Azka, lalu bagaimana dengannya ? Apa nanti jika ia mulai suka mereka akan menjadi club Azka lovers ? Sekar bergidik geli sendiri. Jangan sampai mereka rebutan lelaki yang sama.
"Beuhh, bucinnya kak Azka !" dorong Rahman di bahu Nisa.
"Yeee, biarin aja ! Keren tau, lagian kak Azka tuh humoris ! Aku lebih suka cowok humoris daripada cowok dingin, lebih bikin nyaman. Lagian ya, kalo diliat lagi dibanding kak Andra ketos atau Ka Giza anak karate, Kak Azka tuh lebih cakep !"
"Hm, kalo ngomong sama bucin mah pasti dibagus-bagusin lah !" jawab Rido.
"Nih makan tuh bucin !" Rahman memasukkan risoles ke mulut Nisa.
"Ihhh, Rahman !" cebik Nisa memukul punggung Rahman.
"A Azka jarang ada di rumah jam pulang sekolah Sa," jawab Zahra merangkul Nisa.
"Kamu kayanya tau banget deh Ra ?" tanya Sekar disamping mereka.
"Ya pasti tau lah, orang dari kecil mereka barengan !" jawab Nisa.
Sekar beroh singkat.
*******
Sekar bersama Zahra, sedangkan Nisa dan kedua temannya membawa motor masing-masing.
"Ra, bukannya aku perasa. Tapi bener ngga sih akhir-akhir ini jarang ngeliat Azka ?" tanya Sekar.
Zahra tersenyum, "maksudnya kangen digombalin ?"
Sekar manyun, "ihh, engga lah !"
__ADS_1
"Hati-hati, aku bilang juga benci sama cinta beda tipis loh Kar !" jawab Zahra.
"Engga lah !"
"Oh iya, kemarin kamu jadi jalan sama kak Andra ?" tanya Zahra, suara mereka terkadang harus beradu dengan angin.
"Jadi," kecutnya, Zahra tertawa melihat wajah Sekar.
"Loh, ko jadi tapi malah kecut gitu mukanya ? Kamu ditinggal di pinggir jalan, kaya cabe-cabean ? Atau malah bayar makan sendiri ?" ledek Zahra.
"Enak aja ! Engga gitu juga, cuma..."
"Cuma apa ?" tanya Zahra yang tetap fokus mengendarai motor.
"Kita baliknya dicegat begal,"
"Hah ?!" seru Zahra.
"Iya, emang kamu ga tau hari ini kak Andra ga masuk kenapa ?"
"Ga tau," jawab Zahra.
"Makanya acara penerimaan calon anggota OSIS baru ditunda, gara-gara kak Andra digebukin !"
"Ya Allah, jadi dia sakit tuh gara-gara digebukin ?! Astaga ! Terus kamu ga apa-apa ?" tanya Zahra.
"Kaya yang kamu liat, aku sehat wal'afiat. Tau siapa yang nolongin ?" tanya Sekar, terlihat kepala Zahra yang tertutup helm menggeleng.
"Azka,"
"Hah ?!"
"Hah-huh..hah-huh...Azka ! kayanya aku percaya deh kalo Azka anak geng motor kaya yang kamu bilang. Ya walaupun Azka ga bilang iya, tapi feeling aku gitu !" jawab Sekar.
Zahra tertawa kecil, "ya kali dia ngaku, nepangkeun...abi teh anak geng motor !" (kenalin, saya tuh anak geng motor)
Sekar menepuk punggung gadis yang tertawa itu.
"Karena orang belum kenal a Azka Kar, jangan hanya karena segelintir orang yang jahat atau beberapa kelakuan negatif lantas kamu menghakimi kalau semua anak geng motor itu buruk sampai ke tulang."
Sekar hanya memandangi jalanan yang dilewatinya, Zahra memang ada benarnya.
"Terus perkembangannya gimana ? Kak Andra nembak kamu ?" tanya Zahra, Sekar terdiam mengingat pernyataan cinta Andra, tapi tak tau kenapa ia sekarang begitu malas mengingat itu.
"Ga usah dibahas Ra, gue lagi ga mood !" jawabnya.
Mereka sudah memasuki sebuah gang yang tak besar, cukup asri karena di sepanjang jalanan yang dilewati, rata-rata rumahnya masih banyak ditumbuhi pepohonan besar dan tanaman pagar. Laju motor harus mereka pelankan karena banyaknya hewan yang melintas seperti ayam, kucing dan bebek entok. Belum lagi anak-anak yang melintas bergerombol dengan gulungan senar layangan di tangan, ada pula anak-anak perempuan yang bermain di halaman sepaket dengan mainan masak-masakan.
Di jaman seperti ini sudah jarang kampung yang seperti ini, dengan segala aktivitas warganya yang masih merakyat.
Tiba-tiba Zahra menghentikkan motornya di depan sebuah rumah bergerbang hitam.
"Udah sampe ?" tanya Sekar.
"Bukan, mau ambil kunci !" jawab Zahra.
"Raaaa...ini rumahnya a Azka kan ?! ikut ke dalem lah !" seru Nisa.
"Idih si Nisa, lebay parah !" cebik Rahman.
"Jangan Ra, ntar malah malu-maluin lagi, minta makan !" timpal Rido.
"Loe berdua sibuk ihhh, ga punya gebetan sih !" sinis Nisa.
"Gebetan ? Ha-ha-ha, sejak kapan kak Azka mau sama klepon ?!" tawa Rahman dan Rido, ditertawai Zahra dan Sekar.
"Ihhh, temen ga ada akhlak !!!" pekik Nisa.
"Ikut Raaa !!"
__ADS_1
"Yu, masuk ! Mamahku di dalem biasalah solmet'nya bunda jadi kemana-mana barengan kaya upil ipil, di rumah ga ada siapa-siapa soalnya papah lagi kerja, jadi ambil dulu kunci," terang Zahra.
Zahra masuk mengajak teman-temannya.
"Gue sama Rido nunggu aja di luar, jangan lama !" ujar Rahman.
Sekar ikut masuk, ia sama penasarannya seperti Nisa.
Zahra membuka pagar hitam yang lumayan cukup tinggi meskipun tak setinggi tembok penjara, kini terpampanglah sebuah rumah cukup besar, bukan cukup lagi, tapi memang besar.
"Wedyaannnn, kupikir rumahnya biasa-biasa aja ! Ga nyangka tau ngga ! Makin cinta sama a Azka-nya aku !" seru Nisa.
"Dih, malu-maluin kamu Sa..di rumahnya ini !" omel Sekar.
"Abisnya kamu ga rasain sih Kar, sini deh tangan kamu !" Nisa meraih tangan Sekar dan menempelkannya di dadanya.
"Eh,"
"Kerasa ngga ? jedag-jedug nya ? Mau ketemu camer !" seru Nisa.
"Idih, mimpi ketinggian..." cebik Sekar memutar bola mata jengah dan menarik tangannya, tak tau kenapa ia kesal melihat tingkah Nisa yang kecentilan.
"Assalamualaikum !"
"Waalaikumsalam,"
"Masuk Ra," pinta bunda. Bukan dari arah pintu depan, tapi Zahra membawa kedua temannya ini ke arah samping rumah yang langsung menghadap pada teras rumah luas yang menyatu dengan halaman belakang, mungkin biasa dipakai tempat olahraga, karena terbukti ada tiang untuk mengaitkan jaring net di sisi kanan kirinya.
Melewati jalan setapak yang ditumbuhi rumput jepang, dan tanaman berpot Zahra langsung masuk ke dapur.
"Wowww luas binggow !" decak kagum Nisa.
Dari sana keluarlah seorang perempuan berambut pendek sebahu, yang langsung menyerahkan kunci rumah pada Zahra, Sekar tebak ia adalah ibunya Zahra, tapi tak lama ikut pula keluar seorang perempuan cantik berambut panjang, dan gelombang di ujungnya. Memang cantik, juga ramah.
"Bunda," Zahra salim takzim diikuti Sekar dan Nisa.
"Ini temen-temennya ?" tanya Nara.
"Iya bun, ini Sekar..ini Nisa !" jawab Zahra.
"Oh," Nara tersenyum.
"Oh iya bun, temen Zahra ini suka jadi sasaran gombalan A Azka !" adu Sekar, satu frekuensi dengan Azza tukang mengadu.
"Yang mana ? Pasti yang ini !" tanya bunda menyentuh pundak Sekar lembut, sementara Sekar tersenyum getir.
"Iya, "
"Maklum cantik sih, maafin Aa mboy ya neng, emang gitu orangnya ! Aduhhh, bunda mah lieur ! Udah taluk," keluh Nara.
Aa mboy ?!!! Sekar mengulum bibirnya saat mendengar julukan manja bunda Nara untuk si preman jago gombal cap jahe itu.
"Ga apa-apa bun," jika dulu ia akan mengatakan tidak apa-apa untuk menghargai orangtua, beda halnya sekarang, hatinya memang sudah nyaman dengan sikap impulsif Azka. Bahkan tanpa gadis itu sadari saat ini ia berharap bertemu Azka, ia merindu...
Hanya saja gengsi setinggi letak bintang diangkasa-nya membuat Sekar enggan untuk mengakui hal itu.
Tanpa diduga dari arah belakang ketiga gadis itu, terdengar suara pemuda.
"Assalamualaikum bundanya Aa !!!" suara yang memang ingin Sekar dengar kini menggema.
"Panjang umur diomongin !"
.
.
.
Noted :
__ADS_1
Lieur : pusing
Taluk : angkat tangan / menyerah.