
Pacaran mereka ga jauh-jauh dari basa-basi boneng, jalan jalan receh sambil ketawa-tiwi kaya orang baru gilanya.
"Udah sore Ka, aku pulang ya?" wajah merindu yang sejak tadi pucat kini kembali menghangat bak siomay dalam kukusan.
"Kamu tunggu dulu disini, aku ambil jaket sama kunci motor dulu!" pinta Azka.
"Sayang! Aku pergi ya! Tapi pintu kamar jangan dikunciin nanti," Sekar tertawa cekikikan mendengar suara obrolan Rama dan Nara, tak menyangka dia yang kaku bisa tersangkut di tengah hangat dan ramainya keluarga Azka.
"Bo*do amat A! Kalo kemaleman aku kunci, kamu tidur bareng aa mboy kalo ngga Azmi!"
"Sayang, tau ngga yang kamu lakukan itu jahadddd!" teriaknya.
"Berisik ya?! Daddy mah suka lebay, untung anaknya kalem kaya bunda!" jawab Azka jumawa.
"Haha, iya Azmi emang kalem kaya bunda. Kalo kakanya 100 persen mirip daddynya, kalo diliat-liat kamu jiplakan daddy kamu banget!" penilaian Sekar memang tepat sasaran.
"Gantengnya?" tanya Azka memakai jaket.
"Kelakuannya absurd, lebay.." kekeh Sekar.
"Aku bilangin ahh!" Sekar tersentak
"Eh, jangan! Ih canda-canda!"
"Daddy!!" pekik Azka, Sekar langsung menahan lengan Azka.
"Azka ih!" bibirnya cemberut.
"Aku mau pamit deh sama bunda," Sekar mencangklok tas yang se-siang tadi diacak-acak Azka. Entah apa yang ia cari, tapi Sekar sama sekali tak keberatan dengan apa yang dilakukan Azka, toh dia tak mencuri apapun, selain hatinya dimana ia sudah ter-Azka Azka, alay ga sih?! Bo*do amat lah!
"Boleh, yuk!"
Hangat, itu yang Sekar rasakan di tangannya. Tangan Azka memang selalu hangat menyambutnya.
"Bun, ada yang mau pamit pulang katanya. Sekalian minta salam tempel," Sekar sudah melotot dan menggoyangkan tautan tangan keduanya.
"Cihh, itu mah kamu!" sembur Nara.
"Daddy mana, bun? mau sekalian pamit," tanya Sekar sudah tak canggung lagi.
"Daddy udah pergi. Mau reunian katanya sama temen cowok SMA, biasalah pesta bujang, bujang lapuk!"
"Oh jadi om Rifal beneran nikah bun?" tanya Azza main sambar saja dari sofa tengah sambil nyemil chesse stick.
"Jadi atuh, masa mau ngejomblo terus, bunda aja udah 3 ekornya!" jawab Nara.
"Udah ketuaan atuh bun, udah hampir 37!" kembali, Azza memang selalu jadi biang gosip dengan mulut nyinyir. Wajahnya saja sudah mirip netizen maha benar yang kalo senyum itu terkesan meledek.
"Bocah dilarang nyinyir!" Azka melempar lap meja pada Azza, pas tepat sasaran kena wajah adiknya itu.
"Aduh! Rese ih, teh Sekar liat tuh, a Azka mah gitu sama adek sendiri, dzolim!" adunya bukan lagi pada bundanya.
__ADS_1
"Ya udah atuh hati-hati ya, a jagain anak gadis orang, siapa tau besok-besok ini teh calon mantu bunda!" jawab Nara mengusap kepala Sekar.
"Iya bunda, makasih!" Tak tau perasaan dan keinginan datang darimana, yang jelas kini gadis berambut panjang ini memeluk bunda, seakan bukan pada Azka saja ia rindu.
"Sering-sering main kesini, biar bunda ada temen orang warasnya!" Azmi saja yang baru turun dari kamar sampai cengengesan dibuatnya.
"Ih, bunda mah! Emang Azza odgj apa?!" jawab Azza tak terima.
"Nah ngaku kan! Aa mah da engga kaya Azza, aa termasuk golongan orang-orang berakal sehat!" kilah Azka membela diri.
"Justru kamu yang paling ga waras," kekeh Sekar berani, ditertawai Azza.
"Tos teh!" Azza mengacungkan telapak tangannya dari jauh.
"Salam baktos kanggo ibu sama bapaknya Sekar dari bunda sama daddy," senyum Nara selalu menguarkan ketenangan.
(Salam hormat buat ibu sama ayahnya Sekar)
"Iya bunda, nanti Sekar sampein! assalamualaikum,"
"Dah Azza!" Sekar berdadah ria dengan Azza.
"Dah teteh!"
"Udah dia mah ga usah di dadahin, nanti ketularan nyinyir!" Azka menjauhkan Sekar dan membawanya ke samping lain agar tak kontak fisik dengan Azza.
Keduanya berjalan bersama keluar rumah, langit ternyata sudah sejingga ini.
"Insyaallah nanti aku boyong kamu ke keluarga yang bentukannya kacau ini!" jawab Azka memakaikan helm pada Sekar.
"Kalo kita bukan jodoh gimana?" tanya Sekar. Membicarakan perihal jodoh, diwaktu mereka masih umur segini kejauhan. Meskipun tak ada yang tak mungkin bagi Allah.
"Kalo bukan jodoh, bakalan kuhapus kata bukan di dunia ini!" jawab Azka, selalu saja ada jawaban Azka yang membuat Sekar bisa tersenyum.
...----------------...
Hanya memakan waktu sekitar 20 menit motor sudah terparkir di kediaman Sekar.
"Ada tamu ya?" tanya Azka celingukan ke arah rumah Sekar, dimana ada sebuah mobil dan beberapa pasang sepatu di teras.
Sekar mengangguk kecil, "kayanya tamu ayah,"
"Mau masuk?" tanya Sekar menyerahkan helm dan merapikan rambutnya. Seragam atas yang sudah keluar dari tempatnya tak ia masukkan lagi, mengingat ini bukan lagi di area sekolah.
"Kayanya kapan-kapan aja kalo kesini lagi, ga enak lagi ada tamu. Aku pulang ya," pamit Azka.
"Oh ya udah, hati-hati!" wajah Azka memerah kala tangan Sekar mulai nakal menyentuh pipi Azka, dan mengusapnya lembut sepaket dengan senyum manisnya. Bolehkah kini ia melompat ke bulan, saking senang dan melelehnya. Preman bisa meleleh dan blushing? Bisalah kan preman juga manusia bukan patung yang tak punya hati.
Ia segera menyadarkan kembali pikiran dan hatinya, jangan sampai nanti pulang digebukin massa gara-gara nabrak mobil orang karena jiwanya masih melayang di awan.
Azka tersenyum, Sekar begitu lekat memperhatikan Azka.
__ADS_1
"Jangan ngumpul-ngumpul yang ga penting. Aku ga mau kamu kenapa-napa," ucapnya.
"Siap bos! Kamu juga jangan lupa..."
"Jangan lupa apa?" Sekar sudah harap-harap cemas menunggu jawaban romantis dari Azka.
"Jangan lupa mingkem kalo tidur, nanti kejatohan cicak!"
"Ih Azka!" Sekar memukul lengan pacar absurdnya ini.
Azka tertawa-tawa sudah berhasil mengerjai Sekar.
"Ya udah aku pulang, assalamualiakum!" pemuda dengan tampilan berandal kece ini memundurkan dan membelokkan stang motornya, suara bising knalpot khas ini akan selalu Sekar nantilan setiap harinya.
"Waalaikumsalam,"
Gadis itu masuk ke dalam rumah dan mengucap salam, dilihatnya ada sepasang suami istri.
"Nah ini dia anaknya baru pulang!" ucap pak Agus.
"Eh, ini to cah ayu! Wes makin ayu!" puji si perempuan itu mengusap punggung Sekar.
"Padhe, budhe.." salamnya.
"Ko sore, nak?" tanya pak Agus.
"Tadi ke rumah Azka dulu yah," jawab Sekar, pak Agus mengangguk sementara kedua orang di depannya ini masih saja tersenyum penuh makna pada Sekar.
"Masuk dulu, bersih-bersih. Sudah makan?" tanya pak Agus.
"Udah tadi bareng bunda Nara yah," jawab Sekar.
"Oalah dari rumah temen to," ucap si pria.
"Yah, padhe, budhe..Sekar masuk dulu ke dalam, permisi.." ucapnya sopan. Sekar sebenarnya tak terlalu suka pada kedua orang ini, bukan pada sepasang orangtua ini tapi lebih tepatnya pada putra dan sikap memanjakan keduanya.
Belum benar-benar menghilang, Sekar sempat mendengar sedikit ucapan si perempuan.
"Wes, jadi kapan kita mau adain tunangan Ganjar sama Sekar?"
Seketika tubuhnya membatu di tempat.
"Apa? Tunangan?"
.
.
.
.
__ADS_1