
Bukan hanya sampai di depan kompleks saja. Bahkan keenam motor itu mengawal sampai depan rumah Sekar. Membuat siapa saja yang berada di kompleks itu termasuk satpam terbengong melihat mereka, saking terkejutnya. Segerombolan preman bermotor menyambangi kompleks yang biasanya damai dan tentram, penghuni mana yang tak kaget.
Pak Agus menurunkan koran yang tengah dibacanya saat mendengar suara motor yang ramai berhenti di depan rumah, ia berdiri dari duduknya dan setengah berlari menghampiri Sekar.
"Assalamualaikum, yah."
"Waalaikumsalam, Sekar ! Mereka siapa ?" saat dengan sopannya mereka salim takzim pada pak Agus termasuk Rido.
"Ini, mereka temen-temennya kak Azka yah..."
"Astaga !" jika pak Agus memiliki riwayat penyakit jantung mungkin saat ini ia sudah pingsan dan dibawa ke rumah sakit.
"Ada apa memangnya ? Sampai rame-rame begini ?!" tanya pak Agus, Sekar saja sampai terkekeh melihat reaksi ayahnya.
"Ga ada apa-apa yah, cuma nganterin Sekar pulang aja dari rumah Zahra," jelas Sekar.
"Kar, gue balik ya !" ujar Rido.
"Sekar, pak..kita pulang dulu !" ucap Cundil.
"Iya."
Rido pamit bersama para preman tadi. Sekar mengangguk pada Cundil, "makasih."
"Sama-sama," Cundil mengangguk.
"Kamu ngga kenapa-kenapa kan ? Diapain sama mereka ?" tanya pak Agus meneliti badan putrinya, melihat putri semata wayangnya dikawal segerombol Grandong hati bapak mana yang tak khawatir.
"Engga diapa-apain yah, mereka baik, ngawal Sekar takut di jalan ada apa-apa," tawa Sekar.
"Azka ini, ada-ada saja !"
****
Sekar terbiasa bangun pagi termasuk hari minggu. Terlahir dengan ayah yang disiplin, membuatnya tak pernah merepotkan sang ibu, apalagi pasal seragam dan segala keperluan milik pribadinya.
"Bu, gantungan baju dimana ? Ko di jemuran ga ada ?" tanya Sekar saat ingin menjemur seragam putih abunya.
"Di dekat mesin cuci Kar," jawab ibunya. Sekar menenteng ember hitam kecil yang masih berisi seragam basah ke jemuran belakang seraya membawa gantungan baju.
"Ayah mana bu ?" tanya Sekar.
"Ayah olahraga pagi," jawab ibunya.
Suara bel berbunyi.
"Biar ibu yang buka,"
Sekar sibuk menjemur bajunya. Tak lama ibunya datang kembali.
"Kar, itu ada temen sekolah. Siapa tuh namanya ibu lupa !" Sekar mengerutkan dahinya, "siapa bu ? Zahra ?"
"Bukan, laki-laki."
Rasanya ia belum pernah mengajak teman sekolah laki-laki ke rumah selain Andra, Rido dan Azka tentunya yang datang tanpa diundang.
"Andra ?" tanya Sekar.
"Yang pernah ikut solat disini loh !" jawab ibu.
"Azka ?!" Sekar melotot.
"Iya, itu ! Temuin dulu sana," Sekar segera menyimpan seragamnya yang basah lalu berjalan ke arah pintu masuk.
"Azka ?" Azka berbalik, sepaket senyuman hangat tak pernah tertinggal dari Azka. Pakaian seperti biasa, celana jeans panjang t shirt hitam dan jaket parka hijau army juga sepatu warior dengan tambalan plester coklat.
"Hay, lagi nyuci ya ? Rajin !" tanya Azka.
"Ada apa ?" tanya nya.
"Katanya mau jalan-jalan di kota kembang ? Jadi ngga ?" tanya Azka.
__ADS_1
"Hah ?! Siapa yang bilang ?" tanya Sekar, rasanya ia tak pernah meminta Azka untuk mengantarnya jalan-jalan.
"Aku barusan, yu ! Udah selesai belum nyucinya ?" tanya Azka.
"Udah si, tinggal di jemur," jawab Sekar.
"Ya udah jemur dulu, tapi jangan sampai kamu gantungin aku juga. Aku tunggu disini !" terkesan memaksa memang tapi itulah Azka. Sekar memgangguk,
"Tapi aku belum siap-siap."
"Kamu udah cantik, ganti baju aja sama baju yang panjangan, biar ga dikira cabe-cabean," jawab Azka.
Sekar masuk kembali ke dalam rumahnya, untuk menjemur baju seragamnya lalu masuk ke kamar. Ia segera membuka lemari, hatinya tergerak memilih baju terbaik menurut versinya.
Akhirnya, celana jeans panjang dan t shirt putih, serta jaket levis pink ia pakai.
"Mau jalan ?" tanya ibunya baru saja menuangkan masakan di piring.
"Iya bu," jawab Sekar memakai sepatu putihnya.
Seorang pria paruh baya dengan stelan olahraganya masuk ke dalam rumah.
"Azka,"
"Pak," Azka salim takzim.
"Sedang apa kamu disini ?"
"Ini pak, mau ijin ngajak Sekar keliling kota, sambil buat jejak sejarah." Pak Agus mengerutkan dahinya, ia selalu dibuat tak habis fikir dengan anak jurusan Bahasa ini, ada saja kalimat yang harus otaknya cerna terlebih dahulu.
"Jejak sejarah ? Kamu mau ngajak saya main tebak-tebakan ?" tanya pak Agus duduk di kursi samping Azka.
"Engga pak, memang jejak sejarah. Ayah saya pernah bilang kalo museum Geologi adalah jejak sejarahnya, kalo Dilan di jl. Buah Batu, kalo negara sahabat kan di gedung Asia-Afrika nah saya sama Sekar juga kan warga Bandung, masa ga punya jejak sejarah," jawab Azka.
"Ayah kamu ? Museum Geologi ? Ayah kamu fosil ?" tanya pak Agus, sedetik kemudian Azka terlihat berfikir.
"Iya ya pak, museum Geologi kan isinya fosil !" jawabnya mengangguk, membuat pak Agus tertawa. Woww ! Emejing, pria dingin sedingin dan sejutek pak Agus bisa tertawa.
Sekar yang sudah mendengar percakapan ayahnya dan Azka dari balik pintu memutuskan untuk diam terlebih dahulu demi mendengar ayahnya tertawa. Sekar keluar dari dalam rumah.
"Yah, udah pulang ? Sekar mau ijin keluar dulu," ijinnya.
"Azka sudah ijin barusan, ayah ijinkan, hati-hati di jalan !" Sekar kira karena kejadian preman kemarin ayahnya akan melarang ia dan Azka berteman apalagi jalan, ternyata perkiraannya salah.
"Makasih pak, insyaallah !" jawab Azka.
"Sekar jalan dulu yah,"
Pak Agus masuk ke dalam rumahnya. Azka yang sudah naik ke atas motor meraih helm di depannya dan hendak memasangkannya di kepala Sekar.
"Biar aku pasang sendiri aja," pinta Sekar.
"Eh, biar aku aja. Takut kamu ga bisa," jawab Azka.
"Bisa lah ! Emang aku bocah apa !" sungutnya.
"Dih, ga nyadar !" tunjuk Azka di wajah Sekar.
"Ihhh, ga usah tunjuk-tunjuk !" tepis Sekar.
"Ku tanya sekarang, umur kamu berapa ?" tanya Azka.
"16 tahun."
"Udah dapet KTP ?" Sekar menggeleng.
"Berarti masih bocah.. bocah cantik," jawab Azka.
Klik !
Azka memasangkan helm di kepala Sekar lalu di akhir ia mengetuknya.
__ADS_1
Tuk ! Tuk !
Sontak Sekar melotot dan memukul lengan Azka.
"Cuma mau ngetes, kuat apa engga sama benturan. Sakit engga ?" tanya nya tertawa padahal memang pada dasarnya pemuda ini saja yang usil.
"Engga !" ketus Sekar langsung naik di belakang Azka.
"Pegangan," pintanya pada Sekar. Baru saja Sekar hendak memegang pinggangnya Azka kembali berucap.
"Tapi jangan erat-erat, nanti aku khilaf, pengen terus dipegang. Terus meletus deh kaya balon hijau !" lanjutnya.
"Azka ihh, becanda mulu !" Sekar memukul pundak Azka, pukulan kedua hari ini.
"Sekarang boleh aja mukul," Azka menengadahkan kepalanya ke belakang.
"Besok ?" tanya Sekar.
"Besok-besok dielus !" jawab Azka menjalankan si kuda lumping yang suara knalpotnya menggelegar.
"Huu ! Maunya," Sekar mengulum bibirnya sambil mencubit pinggang Azka.
Perjalanan bersama Azka tak pernah terasa bosan, ada saja ulah dan celotehannya yang membuat Sekar tertawa kadang juga mencebik kesal.
"Kamu baru ya ?" tanya Azka.
"Baru apa ?"
"Baru gilanya ?" tawa Azka membuat Sekar kembali mencubit pinggangnya.
"Baru jadi warga kota Bandung-nya," jawab Azka.
"Iya, tahun ini tahun ke-2 aku di Bandung, jadi belum begitu hafal sama jalannya."
"Aku tau asal kamu dari mana !" ujar Azka.
"Darimana, coba tebak !" tantang Sekar.
"Dari laut, temennya tuan crab ! Soalnya suka cubit-cubit kaya kepiting !" tawa Azka.
"Ihhh, kamu ngeselin !" manyunnya.
"Bukan deh, kamu mah kayanya dari langit. Karena kamu bandel, jadi Allah ngirim kamu ke bumi, sengaja katanya, buat lengkapi hidup hambanya yang paling ganteng," jelas Azka.
"Siapa ?!" tanya Sekar terkikik.
"Aku," jawab Azka.
"Idihhh narsis !!!" decih Sekar.
"Narsis ga apa-apa asal jangan berlebihan. Nanti dikira gelo (gila)!" lanjut Azka.
"Mau kemana kita ?" tanya Azka.
"Ko nanya aku ! Kan kamu yang tau jalan, kamu juga yang ngajak, aku disini pendatang baru," jawab Sekar.
"Kalo gitu kita tanya Dora, biar tau jawabannya !" tawa Azka diballas tawa juga oleh Sekar.
"Mau jajan ngga ?" tanya Azka.
"Mau !" seru Sekar mengangguk.
"Ahh, kamu mah mau aja, diajak nikah mau ?!" tanya Azka.
Sekar terdiam.
.
.
.
__ADS_1
.