Berandal Termanis

Berandal Termanis
Bersama Azza


__ADS_3

"Masih mau disini apa mau pulang ?" tanya Azka melihat jam di dinding.


"Emang kamu mau kemana ?" tanya Sekar.


"A, kata ustadz Hasan sama ustadz Firman diantos," ucap Azza melintas, ia baru saja datang dari warung membawa satu kresek jajanan.


"Iya," jawab Azka mengangguk.


"Kamu lama engga ?" tanya Sekar.


"Cuma 1,5 jam. Kamu tunggu aja dulu sama Azza, nanti sebelum magrib kuanter pulang," jelas Azka.


"Za !!! Mau es krim ngga ?!" pekik Azka.


"Engga, Azza punya jajanan !" jawabnya tak kalah memekik.


Azka beranjak dari sofa tengah menuju kamar adiknya.


"Za," Azka mengetuk pintu kamar Azza.


"Apa a ?!" tanya nya menyembulkan kepalanya dari pintu kamar.


"Temenin dulu Sekar, aa mau ke masjid dulu !" pinta Azka.


"Bayarannya apa ?!" tanya Azza.


"Tadi ditawarin es krim ngga mau," jitak Azka di kepalanya


"Mau dimsum," jawab Azza.


"Oke, nanti aa beliin dimsum di mang Dayat !"


"Ih beda atuh, itu mah baso tahu siomay bukan dimsum !"


"Sama aja, murah meriah ! Dimsumnya orang sunda, pake bumbu kacang !" kekeh Azka, tiada hari tanpa mengganggu adiknya.


"Aa mah pelit, kereee !" pekik Azza.


"Iya nanti dibeliin dimsum sama tukang dimsumnya kalo perlu !" jawab Azka.


"Oke," Azza keluar dari kamar, begitupun Azka yang berganti pakaian masuk ke dalam kamarnya.


"Teh Sekar, keliling kampung yu ! Sambil jajan ! Jajanan disini enak-enak !" ajak Azza.


Sekar menoleh ke arah Azza dan mengangguk, "boleh Za, yuk !"


Sekar melongo saat seseorang turun dari tangga, ia hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Za, cubit aku dong !" pinta Sekar berkedip-kedip.


"Kenapa teh ? Kaget ya ?!" Azza tertawa. Melihat seorang pemuda yang biasa berpakaian berandal, kini memakai koko biru dongker plus sarung senada dan peci hitam di kepalanya. Bisa kacau dunia persilatan.


"Nih, takut Sekar mau jajan ! Jangan pake uang kamu," Azka menempelkan uang biru di jidat adiknya.


"Ihhh !" cebik Azza cemberut.


"Asikk, dijajanin a berandal manis !" seru Azza.


"Sekar aja, kembaliannya balikin !" lanjut Azka, membuat Azza manyun mendadak.

__ADS_1


"Dasar pedit ! Kalo kata orang India, meregehese !" cebik Azza.


"Aku ke masjid dulu, kamu sama Azza dulu ya," ujar Azka pamit.


"Assalamualaikum !"


"Waalaikumsalam,"


"Yuk teh !" ajak Sekar.


"Mau pada kemana ?!" tanya Nara yang tengah berada di teras bersama Azmi dan Nia.


"Mau jajan bun," jawab Azza dan Sekar.


"Ini calon-calon kaya teh Nara ?!" seloroh Nia.


"Kayanya, asal harus tahan banting aja Nia," jawab Nara, ditertawakan Nia.


Sekar dan Azza berjalan, keluar dari gerbang rumah.


"Teh, beneran teh Sekar pacaran sama aa ?" tanya Azza.


"Kayanya," jawab Sekar malu-malu.


"Ko kayanya ? Jadi ga yakin dong ?!" seloroh Azza.


"Pasti karena gayanya yang slengean ya teh, karena aa geng motor juga ?" tanya Azza membuat Sekar mengerutkan dahi. Pertanyaan yang selalu menggantung di langit-langit hatinya bahkan tak dijawab oleh Azka sekalipun, kini terjawab sudah oleh Azza.


"Azka sejak kapan ikutan begituan Za ?" tanya Sekar, keduanya menyusuri jalanan tanah berbatu, terkadang harus melihat ke depan takut, jika ada motor melintas atau ayam dan kucing.


"Udah lama teh, dulu sih sering ikut daddy. Karena daddy juga sama, tapi sih kalo fix ikutannya sejak smp kelas satu," Azza mengangguk-anggukan kepalanya.


"Aa emang bandel teh, sering pulang malem, sampe bunda sering pusing. Aa juga sering tawuran, bolos. Aa ga pernah takut dan kapok, padahal pernah masuk RS, ga jarang juga pulang bawa luka sama lebam, bunda sering marah karena pas pulang jaket selalu jadi korban."


"Tapi bunda sama daddy masih ijinin ?" tanya Sekar.


"Orangtua mana sih teh yang ngijinin anaknya cari bahaya ? Tapi bunda sama daddy ga pernah sampe larang-larang yang ekstrem. Karena kalo menurut bunda, anak muda semakin dilarang semakin sengaja. Biarkan dia mengeksplore sampai dia sendiri merasa bosan dengan syarat, aa harus bisa jaga diri dari obat-obatan terlarang, minum minuman keras, sama perempuan."


Sekar mengangkat kedua alisnya tak percaya lagi. Pemuda pintar gombal begitu ? Apakah yakin tak pernah menyentuh perempuan, ataupun berhubungan dengan perempuan. Apalagi jika disebutkan perempuan yang menyukai Azka banyak, menurut penuturan Zahra.


"Ah, masa ? Ga mungkin kayanya !" jawab Sekar.


"Mang Dayat !!!" pekik Azza.


"Teh sambil jajan yu ! Ini baso tahu mang Dayat enak loh ! Murmer !" Azza mengajak Sekar mengantri bersama anak-anak kecil dan orang dewasa yang hendak membeli juga.


"Neng Azza, pesen berapa ?!" tanya mang Dayat.


"Dua porsi, 10 ribuan. Campur mang, tapi jangan pake pare !" jawab Azza.


"Teh Sekar pake pedes ngga ?" tanya Azza.


"Pake dikit Za,"


"Za, terusin dong yang tadi," pinta Sekar.


"Yang mana ? Cerita aa ?" tanya Azza, Sekar mengangguk.


"Kepo ya teh," tawa Azza.

__ADS_1


"Aa mah keliatannya aja sering gombalin gitu teh, tapi aslinya mah ga pernah pacaran. Ga pernah deket-deket sama perempuan kalo bukan digangguin doang terus ditinggal. Baru teteh aja yang diajakin ke rumah, makanya kan si daddy heran ! Tadi aja sempet di interogasi !" tawa Azza.


Semakin Azza bercerita, justru Sekar semakin penasaran dengan apa yang berkaitan dengan Azka. Pemuda macam Azka memang unik, bahkan langka.


"Interogasi apa ?!" kekeh Sekar menerima bungkusan baso tahu.


"Katanya, bawa cewek harus hati-hati. Inget batasan, inget orangtuanya juga. Cewek itu buat dihargain, karena ibu dan adek kamu pun cewek..." Azza sudah menyuapkan baso tahu miliknya ke dalam mulut. Sedangkan Sekar, jiwanya bergetar mendengarkan penuturan Azza.


Sekar benar-benar specchless dengan modelan Azka dan ayahnya. Pria macam apa mereka, bahkan seorang Andra yang terlihat baik dan sopan nyatanya ??? Ia benar-benar sudah gila. Pantas saja Zahra....


"Teh, beli minumnya dulu yu !"


"Dimana ?" tanya Sekar.


"Tuh warung ceu nyai," tunjuk Azza ke sebuah warung dekat dengan pertigaan gang.


Mereka mengambil minuman kemasan dingin dari dalam showcase.


"Teh, duduk disana yu !" ajak Azza menunjuk bangku pos ronda, dimana biasanya Azka dan kawan-kawan sering nongkrong.


"Bunda ga takut kalo sewaktu-waktu Azka khilaf ? Biasanya kan kalo ikut-ikutan geng motor gitu identiknya sama hal negatif," tanya Sekar.


Azza menggeleng, "mungkin kalo ketakutan pasti ada teh, namanya juga ibu... Tapi daddy suka mantau aa," jawab Azza.


"Dari tadi Azza terus yang cerita. Sekarang gantian Azza yang tanya teteh ah !" Sekar menoleh.


"Boleh, mau nanya apa ?!"


"Kapan aa nembak teteh ?" tanya Azza.


Sekar terlihat berfikir, "kapan ya, lupa..pokonya waktu ngajak makan !" jawab Sekar, gadis yang masih duduk di bangku smp itu mengangguk.


"Teteh dikasih apa waktu ditembak ?" tanya Azza.


"Dikasih kemangi sisa lalapan,"


"Byurrrr !!!"


Azza menyemburkan minumannya dari dalam mulut.


"Masa ?!" Azza langsung tertawa, Sekar mengangguk sambil kembali menikmati baso tahunya.


"Terus teteh mau gitu ?! Ih, kalo Azza mah ga mau, apaan ga modal, ga romantis !" cebik Azza menggidikan bahunya.


"Teteh sendiri suka sama aa ?" tanya Azza, Sekar menghentikan kunyahannya.


.


.


.


Noted :


*Diantos : ditunggu.


* Dasar pedit : dasar pelit.


*Meregehese : ngasih aja susah (dalam bahasa sunda)

__ADS_1


*Murmer : murah meriah.


__ADS_2