Berandal Termanis

Berandal Termanis
Geng cowok from nowhere


__ADS_3

Sekar tak secerah biasanya. Ia terkesan lebih muram, dan banyak diamnya. 2 pelajaran favoritnya barusan ia lewati dengan memilih diam tanpa mau menginterupsi atau menunjuk tangan saat guru menanyakan jawaban. Guru sudah keluar dari kelas padahal masih ada waktu sekitar 10 menit sebelum bel istirahat berbunyi.


"Kar, kamu sakit?" tanya Zahra, memiringkan kepalanya demi melihat wajah Sekar, gadis ini menggeleng.


"Berantem kali sama a Azka?!" bisik Nisa dari belakang namun cukup keras, memang stelan volume suara Nisa ini aga sedikit toa.


"Gue denger Nis, engga kok! Aku sama Azka baik-baik aja," jawabnya memasukkan alat tulis dan buku catatan.


Yakin, baik-baik aja? jam dinding saja mengejeknya.


"Woy ah! Sakit kena kepala!" teriak Nisa, saat kepalanya tiba-tiba kejatuhan pulpen.


"Rahman!" jerit Nisa mengejar Rahman. Zahra meneliti sambil bertopang dagu, ia tau ada yang salah dengan Sekar.


"A Azka memang usilnya kebangetan Kar, tapi dia mah baik banget kok," ujarnya mencoba menebak apa yang sedang terjadi, jarang-jarang Sekar galau begini. Tangan Zahra memilin-milin ujung rambut Sekar, tak ada ujung rambut yang pecah dan bercabang, sebab terurus.


Sekar tertawa kecil, "aku tau Ra, Azka baik kok, ini bukan soal Azka, masa iya barusan aku kan bareng Azka kesekolah, aku ga apa-apa."


"Hm, oke deh kalo belum mau cerita. Tapi seengaknya ga usah bengong gitu ah! Bentar lagi istirahat nih,"


Panjang umur sekali Azka, baru saja diomongin orangnya sudah muncul, mulut Zahra saja masih basah. Ia datang seperti seorang pengawal tanpa kuda menjemput tuan putri.


"Assalamualaikum!" salamnya datang bersama Adam, Rizal, dan Yoga.


"Tuh, dah dijemput!"


"A Azka, ini Sekar diapain?!" pekik Zahra berkacak pinggang.


"Kenapa? Pacar aa kenapa?!" Azka langsung menangkup kedua pipi chubby Sekar dan melihatnya lekat.


"Jiahhh, modus!!!" Adam mendorong pelan bahu Azka.


"Wahh! Gawat!" seru Azka, Sekar diam saja tak melawan saat kedua pipinya ditangkup Azka, malahan mata bulat nan beningnya mengerjap lucu.


"Ini mah gejala kelaparan, yuk ke tukang bubur!" lanjut Azka terkekeh.


Yoga dan Rizal tertawa, tak akan ada yang mengalahkan keabsurdan Azka di dunia ini kecuali ayahnya sendiri.


"Ikut A!!" pekik Zahra heboh.


"Aku juga!" teriak Nisa dari belakang setelah berhasil membuat Rahman mengaduh.


"Kuyy lah! Ikut," ajak Azka menarik tangan Sekar, gadis ini menurut saja, ia akan menikmati setiap detik setiap menitnya bersama Azka, seakan tak ada lagi hari esok.


"Mau jajan lumpia basah apa seblak?" tanya Azka menggenggam tangannya.


"Mau nyoba gorengan versi kamu! Tahu isi sama lontong!" jawab Sekar. Mencoba semua kebiasaan Azka, mungkin akan menjadi pengobat rindu nantinya.


"Oke gaskeun!" jawabnya langsung membawa Sekar ke gerobak gorengan, gerobak bernuansa hijau tua dengan si mamang-nya yang bertopikan michellin biru.


"Khusus kamu mah duduknya jangan jongkok, palaur alias riskan kalo cewek mah!" Azka menepuk-nepuk tempat untuk Sekar duduk.


"Ya enggak atuh," Sekar mengiyakan. Yang benar saja, pakai rok pendek mau jongkok diatas tembok begitu, mungkin Sekar sudah gila.


Tanpa aba-aba Azka mengambil beberapa gorengan untuknya dan Sekar ke dalam bungkusan kertas plus lontong isi sayur.


"Meni karunya mang!" ucap Adam.

__ADS_1


(Kasian banget, bang)


"Kenapa gitu Dam, siapa yang kasian?" tanya Rizal.


"Ini liat, aktor terkenal!" tunjuknya pada kertas bungkusan gorengan miliknya, dimana ada gambar seorang tokoh k-pop idola kaum hawa seantero jagat raya.


"Kasian gimana, dia mah udah ganteng, kerjaannya banyak dibayar mahal, pokonya mah tajir!" jawab si mamang.


"Kasian atuh, udah pose susah-susah, dandan ganteng-ganteng. Cuma dijadiin bungkus gorengan!"


"Byurrrr!


"Uhuk-uhukk!" Zahra menyemburkan minumnya.


"A Adam!!!"


Sekar, Nisa dan yang lain tertawa tergelak.


"Kenapa Ra, emang bener kan?!" Azka terkekeh, tak ada yang benar-benar waras memang geng Azka, semua satu frekuensi dengan leadernya. Padahal besar harapan geng cowok ini selain keren, tajir melintir, tampan, jago berantem dan dingin dingin manis mirip-mirip es kiko. Tapi apalah daya, ini daratan ibu pertiwi khusunya kota parahyangan, kota sejuta kisah bukan daratan Neverland.


"Aku beli minumnya dulu," Sekar mengangguk.


Hanya selang 10 menit saja Azka sudah kembali. Sekar tersenyum dan tertawa kecil melihat cara Azka makan, terkesan terburu-buru tapi lucu.


"Laper aa ustadz?" tanya nya.


"Laper, pelajaran matematika bikin otak sama lambungku langsung berlubang!" jawabnya.


"Ah, otak aa nya aja yang cetek!" mulut Zahra memang patut disamakan dengan Azza.


"Ka, baliknya jangan dulu balik! Kelas XI IPS 5 ngajakin tanding futsal!" pinta Hendi salah satu teman sekelasnya.


(Siapa aja sih kelas XI IPS 5?)


"Ada si Genta, si Obi..." Hendi mengabsen satu persatu personel siswa laki-laki kelas XI IPS 5.


"Wah rame a, pemain bodor hungkul! Itung-itung reunian," jawab Adam.


(Wah rame a, pemain kocak semua)


"Okelah hayuk!" jawab Azka disela-sela kunyahannya.


"Kamu mau futsal dulu?" tanya Sekar.


"Iya, mau nonton engga?" tanya Azka.


Sekar mengangguk cepat, "mau."


Tanpa sadar Azka refleks mengacak rambut Sekar pelan.


"Azka ih!! Tangan kamu kan bekas gorengan?!" manyun Sekar mengusap rambutnya.


"Lupa neng, ga apa-apa lah anggap aja minyak urang-aring!" kekeh Azka, padahal dia sudah mengelapnya dengan tissue basah sebelumnya.


......................


Azka berlarian kesana kemari, sesekali ia berselebrasi dan tertawa bersama. Sementara Sekar masih menunggu bersama Zahra di pinggiran tempat teduh.

__ADS_1


Arah matanya memperhatikan Azka, tapi pandangannya begitu kosong.


"Kar, masih ga pengen cerita? Kamu beda loh! Aku tau, karena aku punya mata," sentuhan tangan Zahra mengejutkan keterdiaman Sekar.


Sekar menunduk dan tersenyum penuh kecewa, "aku dijodohin, namanya Ganjar."


Mata bulat itu hampir saja terjun ke bawah dan menggelinding bersama bola futsal.


"What?!" Sekar langsung membekap Zahra, sampai gadis itu benar-benar tenang.


"Ko bisa? Kamu masih kelas X loh, oke memang hanya tinggal ngitung minggu aja kita naik, tapi tetep aja masih bocil?!" Zahra memekik tertahan.


"Iya, tapi nyatanya memang setragis itu. Pikiran seterbuka ayahku aja bisa diem kalo menyangkut balas jasa, kehormatan, dan status sosial." Pandangannya sedikit kabur, angin sepoi-sepoi mengandung bawang baginya, entah memang air mata yang sudah dibendung sejak kemarin ingin meledak dan jebol sekarang.


Zahra mengusap bahu Sekar, "sabar ya Kar, udah bilang ke a Azka?"


Sekar menggeleng lemah, "bingung, ga kepikiran mau bilang kaya gimana, lagian ini masalah keluargaku, Azka kan orang luar yang ga ada urusan di dalamnya."


"Tapi dia pacar kamu,"


"Pacar, belum ada hak apapun. Kita juga masih kecil, buat lulus aja masih jauh. Akan dianggap apa anak kecil? Halu?! Cinta mon yet?! Aku masih pengen lulus dan kuliah, aku masih pengen gapai cita-citaku jadi dokter."


Bukannya prihatin Zahra malah terkekeh, "kalo a Azka bilang selama janur kuning belum melengkung, kamu masih bukan punya siapapun masih boleh ditikung. Yang melengkung aja masih bisa dilurusin!"


Sekar tertawa kecil, "kamu ketularan Azka sama Azza."


Sekar boleh saja tidak memberitahu Azka, tapi ia tidak melarang Zahra untuk memberitahu Azka. Zahra tersenyum penuh arti.


"Aku kan temen main mereka dari orok, Sekar!" Zahra menyenggol bahu Sekar.


"Oh iya, Ra! Kamu sama kak Adam?!" Sekar tersenyum simpul menggoda Zahra.


"Ih, engga ada! Papahku aja yang ga ada kerjaan narik motor punyaku, terus nitip aku ke a Adam. Ga mau ahhh, a Adam mah jorok, suka ngupil! Aku seneng sama a Yoga!"


"Diem, kalem, ganteng, cool, tapi sadis!" Zahra sedikit menggeram saat menyebut katas sadis.


Dari suaranya, para pemuda itu sudah selesai, peluh membanjiri mereka, terang saja main futsal di tengah hari begini ya jelas lah!


Beberapa dari mereka ada yang membuka t shirtnya, tapi tidak dengan Azka. Ia menghargai Sekar dan Zahra.


"Yuk pulang! Ada les ngga hari ini?" ajak Azka, gadis itu menggeleng, "ga ada."


"Kamu meni keringetan gini!" Sskar mengeluarkan tissue dari dalam tasnya, dan menyeka Azka, tentu dengan senang hati Azka menerima perlakuan Sekar dengan menyingkirkan rambutnya ke belakang agar Sekar lebih leluasa.


"Aduh hareudang euy!! Pengen juga di lapin atuh," goda yang lain. (gerah)


"A Adam buru! Film favorit mau mulai ih!" omel Zahra.


"Iya Ra, iya!" Adam segera memasukkan seragamnya ke dalam tas.


"Palingan juga si rainbow ruby!" sahut Yoga ditertawai Rizal.


"Nyari yang seger-seger dulu yuk!" ajak Azka menarik tangan Sekar.


"Boleh," angguknya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2