Berandal Termanis

Berandal Termanis
Bagaikan mimpi buruk yang menjadi kenyataan


__ADS_3

Azka mengantarkan Sekar pulang setelah ngaler ngidulnya bersama Azza. Ketakutannya akan keluarga Azka tidak terbukti adanya, justru kehangatan dan keceriaan lah yang ia dapat.


"Kamu ngajar ngaji anak-anak sejak kapan ?" tanya Sekar memiringkan kepalanya.


"Sejak...sejak masih dikandung badan," kekehnya.


"Ih ! Kebiasaan deh, ga pernah serius kalo ditanya !" cebiknya.


Flashback on


"Za, emang Azka kaya gitu ya orangnya. Ga pernah mau serius kalo ditanya-tanya. Bawaannya becanda terus !"


Azza tertawa, "apalagi kalo ditanya-tanya tentang dirinya sendiri ya teh ?!" tanya Azza, Sekar mengangguk cepat, "bener !"


"Dia selalu bilang, biarlah kelebihannya hanya menjadi urusannya sama Allah. Kalo manusia tau, ya itu bonus buatnya. Ga ngerti deh," gidik Azza acuh.


Flashback off


Sekar kini mencebik, tapi hatinya tersenyum. Azka memang langka, seharusnya pemuda ini dimuseumkan saja biar awet dan 'ga hilang.


...----------------...


Kini selalu ada moodbooster untuk Sekar, selalu ada harapan Azkalah orang pertama yang ingin ia lihat di sekolah setiap harinya.


Tapi baru saja merasakan rasanya jatuh ke dalam sebuah rasa dari mata turun ke hati, senyumnya harus pudar.


Pagi itu Sekar sedikit siang datang ke sekolah karena motor ayahnya bocor di jalan.


Sebuah mobil polisi terparkir di sekolahnya. Tak ada mimpi buruk menyapa, tiba-tiba dari ruang guru keluarlah dua orang aparat membawa seorang siswa yang ia kenal.


"Azka ?!"


Hampir satu sekolah geger dibuatnya,


"Ayah, ada apa ini ?!" tanya Sekar.


"Ga tau," pak Agus langsung mendekat dan menghampiri kedua polisi itu.


"Ada apa ini pak, saya kesiswaan disini ?" tanya nya.


"Maaf, kami sudah bicara dengan guru dan kepala sekolah disini, jadi nanti beliaulah yang akan menjelaskan, permisi."


Azka diam dan hanya melemparkan senyuman pada pak Agus dan Sekar.

__ADS_1


"It's oke ! Ga usah khawatir, sementara ada Zahra sama yang lain, selama aku ga ada," ucapnya sebelum benar-benar pergi dari hadapan Sekar. Gadis itu hanya mematung tanpa bisa berkata-kata, menatap kepergian pemuda yang sore kemarin masih dalam keadaan tenang dan baik-baik saja.


Memandang punggung Azka yang hilang masuk ke dalam mobil polisi.


Usapan di pundak Sekar menyadarkan lamunannya.


"Yah, ini ada apa ? Azka itu orangnya baik yah, jadi ga mungkin dia jahatin orang ?!" tanya Sekar.


"Biar ayah tanyakan dulu, kamu masuk ke kelas," pinta pak Agus. Meskipun pak Agus belum tau hubungan Sekar dan Azka, bahkan tidak pernah mengucapkan kata memperbolehkan putrinya itu berpacaran, tapi ia tetaplah seorang guru, dan Azka adalah anak didiknya. Setaunya, Azka memang pemuda yang baik, kenakalannya hanya sebatas kenakalan-kenakalan remaja pada umumnya. Dan satu poin plus untuknya, ia pandai mengaji, jadi tak percaya rasanya jika Azka melakukan kesalahan fatal.


Sekar melangkah menuju kelas, mencari keberadaan Zahra. Dilihatnya teman-teman sekelas sedang heboh membicarakan kabar viral hari ini, Azka yang digiring polisi mendadak jadi trending topik, tak sedikit yang mencerca dan menghinanya, tapi tak jarang pula yang membelanya.


Nisa terlihat sedih begitupun Zahra.


"Ra, Azka kenapa ? Dia salah apa ?" tanya Sekar khawatir, tak peduli jika Zahra dan Nisa akan curiga dengan hubungannya dan Azka.


"A Azka terlibat kasus penusukan minggu lalu, jadi si korban melaporkan geng nya A Azka, dan beberapa orang termasuk A Azka," Sekar terkejut bukan main.


"Ha ?!!! Serius kamu ? Ga mungkin Azka nusuk orang Ra !" seru Sekar menggeleng keras.


"Setauku dia baik, dia tuh orang paling baik yang ku kenal, orang paling ramah, pemuda soleh ?! Ga mungkin dia nusuk orang, ya..aku tau dia anggota geng motor..tapi aku berani bersaksi loh, waktu aku pernah ditolong pun, lawannya yang babak belur aja sampe dia kasih minum juga ! Dia juga guru ngaji, hormat banget sama orangtua, sama anak-anak juga dia ga galak padahal anak-anak yang diajarin dia nakal-nakal,"


Zahra dan Nisa sempat terkejut dengan pengakuan Sekar, ternyata di belakang mereka, Sekar dan Azka sedekat itu.


"Sejak...sejak kita jadian.." cicit Sekar.


"Apa ?!!!!" pekik Zahra dan Nisa.


"Maaf, aku bener-bener minta maaf sama kalian. Ga ada maksud buat boong atau nikung," Sekar sudah menunduk, bahkan dia sampai berlutut di depan kedua temannya ini.


"Kalo kalian mau marahin aku, aku terima, kalian mau pukul aku, aku juga bakalan terima. Tapi please jangan benci aku, cuma kalian temen aku," lanjutnya.


Memang ada rasa kecewa dari Nisa dan Zahra, jelas saja...mereka yang menyukai tapi Sekar yang mendapatkan. Terlebih lagi Zahra, ia menyukai Azka dari kecil.


"Ra," Zahra pergi meninggalkan Sekar dan keluar dari kelas.


"Aku kaget plus kecewa Kar, denger kamu jadian sama a Azka. Tapi aku juga ga bisa marah, karena aku bukan siapa-siapa. Kamu susul deh tuh, Zahra..pasti dia yang lebih sakit dari aku."


Sekar mengangguk, ia kemudian berlari mencari keberadaan Zahra. Bahkan bel masuk tak ia hiraukan.


"Ra !!!"


"Eh, liat Zahra ngga ?" tanya Sekar pada beberapa siswa yang ditemuinya.

__ADS_1


Di tengah-tengah usahanya mencari Zahra, ia bertemu dengan Adam dan Yoga.


"Ka Adam !" pekik Sekar.


"Kak, Azka ga mungkin kaya yang dibilang Zahra kan ?!" tanya Sekar.


"Insyaallah engga Kar, yang sabar ya..nanti pulang ada temen ngga ?" tanya Adam.


"Mau OSIS dulu ka," jawab Sekar.


"Biar dianter gue atau Yoga ?! Azka pesen kamu jangan dibiarin pulang sendiri katanya,takut afa yang nyulik," Sekar mengangguk, disaat begini saja Azka masih bisa bercanda dan memgkhawatirkan dirinya. Sampai saat ini ia belum percaya jika Azkalah yang dibawa pihak berwajib tadi, dan masih berfikir jika saat ini Azka ada disini.


"Azka bakalan pulang cepet kan kak ?" tanya Sekar.


Yoga yang tak biasanya tersenyum, kali ini mengulas senyuman tipis.


"Tenang aja, Azka ga akan tumbang cuma gara-gara beginian, bentar lagi juga balik." Ucapnya santai. Saking santainya ia bisa menepuk pundak Sekar dan memasukkan satu tangannya ke dalam saku.


Seperti kejadian ini sudah sering terjadi padanya. Apakah kejadian seperti ini akan terus ia alami, jika bersama Azka ? Bikin jantungnya berasa diajak naik roller coaster tertinggi di dunia.


"Kakak, ada liat Zahra ngga ?" tanya Sekar.


"Kalo ga salah, barusan Zahra ijin ya ? Dia ijin pulang sakit, dianter Rizal," tanya Adam pada Yoga, dan diangguki Yoga. Sekar tau itu pasti karena dirinya dan pengakuannya, Zahra sampai harus berbohong dan mengatakan sakit.


"Oh gitu,"


"Ya udah kak, makasih !" jawab Sekar.


Akhirnya hal ini terjadi juga padanya, cepat atau lambat Zahra memang harus tau, dan kini, apa persahabatannya dengan Zahra akan putus seperti tali layangan yang baru saja kalah, terbawa angin ? Sungguh ia tak rela, jika harus begitu.


"Kak Adam, bisa bantuin aku bolos ngga ?!" tanya Sekar. Adam dan Yoga mengangkat alisnya. Anak sebaik dan sepatuh Sekar ternyata bisa nakal juga.


Adam menyunggingkan senyumnya.


"Bawa tas kamu, kita tunggu di belakang ruangan musik !" jawab Adam.


"Oke !" jawab Sekar.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2