Berandal Termanis

Berandal Termanis
Gunung kan kudaki, Lautan kan kusebrangi...


__ADS_3

Bukannya langsung pulang, Azka justru menghampiri teman-teman satu kampungnya di pos ronda, tempat biasa anak-anak muda berkumpul. Tak ada cafe mewah, instagramable dengan makanan atau minuman kekinian plus wifi gratis.


Pos ronda yang sudah berdiri sejak sebelum Azka dilahirkan ini, sudah direnovasi beberapa kali. Pos yang biasa dipakai bapak-bapak meronda ini, jika musimnya maling berkeliaran selalu dipakai tempat nongkrong oleh anak-anak muda hampir setiap malamnya.


Segelas kopi susu sachetan diseduh di dalam cup air mineral, beberapa bungkus kacang dan kuaci menjadi pelengkap. Beberapa anak laki-laki mengobrol, ada pula yang bermain game online a.k.a /alias mabar berseru heboh saat jagoannya duel. Bukan apa-apa mereka main disini, tapi karena mereka bisa nyolong wifi gratis dari rumah sebelah pos ronda milik seorang pengusaha tahu bulat.


Azka menghentikan motor berisiknya si kuda lumping dengan wajah sumringah, tapi memang pemuda ini tak pernah tak sumringah, tak tau karena tak pernah merasa sedih atau justru otaknya yang kurang waras.


"Assalamualaikum !"


"Kumsalam," jawab mereka asal dan tak benar.


Azka menepuk salah satu pemuda disana.


"Yang bener kalo jawab !"


"He-he, waalaikumsalam A, perlu salim ngga ?" tanya nya.


"Jangan, ini tangan bekas sun tangan sama calon mertua ! Ga akan dicuci," jawabnya.


Mereka menghentikkan sejenak permainan demi menoleh tapi sedetik kemudian kembali pada permainannya, Azka ??? Calon mertua ?? Paling-paling juga pemuda ini abis ghostingin anak perawan.


"Anak perawan mana lagi yang besok mati gantung diri, A ?" kekeh Dion, ditertawai Adam. Dion memang berbeda sekolah dengan Azka, hanya Adam, Rizal dan Yoga yang satu sekolah.


"Saha, A ?" tanya Rizal. (siapa, a)


"Si Sekar bukan ?" tanya Adam, Azka mengangguk.


"Hah ??!!" tanya Rizal tak percaya, jika sudah niat Azka memang nekat dan gercep.


"Eh iya, Sekar anak pak Agus !" imbuh Azka mencomot kuaci dan meminum kopi milik Adam.


"Ha ?! Pak Agus BK ?" Azka mengangguk.


"Ha-ha-ha. Selamat berjuang kawan, perjuanganmu begitu berat kali ini !" Adam menepuk pundak Azka.


"Emang saha Sekar ?" tanya Dion.


"Bidadari," jawab Azka terkekeh.


"Wah, udah disirep ustadz muda kita. Sadar A, ambil wudhu , baca ayat kursi !" pinta salah seorang pemuda yang tengah mabar dengan mata yang masih menatap layar ponsel.


"Disirep...disirep cinta !" kekeh Rizal sementara Yoga hanya menggelengkan kepalanya terkekeh dengan tingkah teman-temannya.


"Eakkkk !!" seru mereka.


Azka mengambil gitar yang ada disana entah milik siapa, lalu mendendangkan lagu-lagu orang sedang jatuh cinta, suara khasnya yang merdu dan permainan gitarnya yang apik membuat para pemuda kampung ini ikut bernyanyi.


"A, kata kang Yuda si Kiki teh diserang anak Xt* di jalan Soekarno-Hatta !" ujar Yoga.


Azka menghentikkan permainan gitarnya.


"Terus kata kang Yuda apa ? Kita serang balik apa gimana ?"


"Belum dulu A, nunggu si Gugun cari pelakunya dulu, baru sikat !" jawab Adam.


"Oke, kapan pun Gugun dapet info, siap-siap olahraga malam !" jawab Azka.


"Ck, ck, ck...ga kapok-kapok dimandiin si bunda tengah malem !" jawab Dion.


"Segerrr !" kelakar Azka membuat mereka tertawa.

__ADS_1


"Kapan lagi udah gede masih dimandiin bunda !" tambahnya. Yoga kembali tertawa melihat tingkah konyol Azka.


Mereka kembali bernyanyi sampai larut. Tapi sejurus kemudian mereka terkejut berhamburan dari pos ronda.


Serangan mendadak ini berhasil meluluh lantakkan Azka cs, seketika beberapa pemuda basah kuyup karena disiram air seember oleh si pemilik rumah sebelah pos.


"Byurrrr !!!


"Berisikkkk ! Udah malam !!"


"Ini juga pada nyolong wifi, saya tandai satu-satu !!!"


"Kaburrrr !!" Azka menstaterkan motornya dan pergi dari situ dengan memboncengi Adam, Yoga dan Rizal sementara Dion sudah kabur dengan motornya ke arah lain karena arah rumahnya yang berbeda, masa nongkrong sudah habis, sementara teman-temannya yang lain berlarian kalang kabut.


Definisi terong-terongan dempet 4 yang sebenarnya.


"Turun--turun oyyy ! Pedang gue kejepit !"


"Dah, ahh gue mau balik !"


"Sampai jumpa esok kawan-kawan," pamit Adam berkelakar.


Azka masuk ke dalam rumahnya dengan menuntun si kuda lumping, jika tidak dituntun maka yang kerasukan adalah bundanya, dengan sapu di tangan ia mengamuk mengomeli anak sulungnya.


Azka merebahkan tubuhnya di ranjang empuk pemberian ayah dan bundanya. Wajah lembut Sekar yang sedang memakai mukena melambai-lambai di benaknya, membawanya menyebrang ke alam mimpi, hingga suara orang mengaji membangunkannya pada pukul 2 malam. Memang ayah, ambu dan abah selalu bangun untuk solat malam. Tapi kali ini suara lantunan ayat suci Al Qur'an berasal dari kamar ayahnya. Ia lantas terbangun untuk bersih-bersih dan mengambil air wudhu.


*****


"Yang mau ketemu pak Arka siapa ?" tanya Azka.


"Daddy !" jawab Nara dan Rama bersamaan.


"Pasti pacar bunda udah mengajukan diri dari kemaren buat jadi relawan aa !" timpal Azza, terkadang mereka bukan menyebut suami ataupun daddy pada Rama, atas celoteh Rama dan Nara yang selalu menyebut diri mereka masing-masing adalah pacar.


"Takut bunda khilaf, terus ngiler liat pak siapa tadi namanya ?!" ujar Nara.


"Pak Arka." Azka menelan nasi putih dan ayam gorengnya.


"Pak Arka juga udah punya istri bun, masih muda pula baru 21...pak Arkanya 37 tahun !" jawab Azka.


"Wah ?! Bedanya 16 tahun ?" tanya Nia yang ikut nimbrung.


Nia akhirnya menikah dengan Yusuf, anak kampung sini juga bekas murid mengaji Rama dan sekarang berprofesi sebagai pemadam kebakaran.


"Bi, mamang kemana ?" tanya Azmi.


"Mang Yusuf lagi dines !" jawab Nia.


"Kemon (come on) boyyy !" Rama sudah berdiri, kedua anak bapak ini memakai motor masing-masing. Bukan si capung yang dipakai Rama, karena motor itu sering ngadat, mungkin karena sudah tua. Meskipun si capung selalu di hati dan tak pernah terganti.


Rama masih tetap keren dengan stelan kaos putih dan kemeja tanpa dikancingnya, seakan tak ingin kalah saing dengan Azka, anting tempelan hitam setia melekat di telinganya.


"Sayang, aku ngurusin si mboy kita dulu ! Jangan kangen !" ujar Rama.


"Idih, pacar bunda meni lebay !" Azza masuk ke dalam mobil bersama Azmi, dengan Nara sebagai supirnya.


"Asikk !! Supirnya cantik, Azza lupa ga bilang sama daddy kalo pak Gunadi lirik-lirik bunda setiap Azza dianter bunda, dadah daddyyyy !!!" saat mobil Nara melaju keluar gerbang.


"Eh..ehh....Apa-apaan. Azza !!! Yank !!! Aku aja yang anter Azza !" Rama memekik ditertawai anak-anaknya.


"Seurii maneh !!" (ketawa kamu !!) Rama menepuk Azka yang tertawa.

__ADS_1


Rama menemui pak Arka, guru kimia plus BK yang selama beberapa bulan bertugas mengajar disini karena program Kajian Kuliah dan penyusunan tesis-nya yang hampir rampung.


"Terimakasih atas perhatiannya pak," ucap pak Arka sopan.


"Makasih juga pak, kalau begitu saya pamit !" jawab Rama, Arka mengangguk.


"Azka !" panggil pak Arka.


"Iya pak,"


"Sebagai hukuman tambahan, saya ada hukuman khusus untuk kamu !"


"Apa pak ? Hukuman lagi ?" tanya Azka.


"Hukumannya berbeda dari biasanya, karena saya tau kamu...saya mengenal beberapa anak seperti kamu, tak akan mempan jika hanya dihukum lari atau bersih-bersih saja !" Arka jadi merindukan istri nakal dan anak semata wayangnya di Jakarta.


"Hukuman apa pak ?!" Azka mengerutkan dahinya.


"Nanti saja pulang sekolah !"


Azka kemudian kembali ke kelas, tapi sebelum benar-benar masuk ke kelas ia melihat Sekar dan Zahra sedang berada di luar kelas dan tertawa-tawa.


"Duh cantiknya, calon mahrom !"


"Hayooo ! Liatin perempuan segitunya !" Citra menepuk punggung Azka keras.


"Huuu ! Sirik, jomblo sih !" bukan Azka yang membalas tapi Adam.


"Apa ? Loe juga jomblo, ga usah ngeledek !" ujar Citra.


"Kalo gitu cocok dong," sahut Rizal mendorong Adam ke arah Citra.


"Dih, ogah sama mulut nyinyir !" manyun Citra.


"Kaya sendirinya engga !" jawab Adam.


"Udah ga usah diliatin, anak orang jadi salting tuh !" senggol Yoga, saat Sekar menyadari jika dirinya sedang ditatap Azka intens.


"Lucu ya Ga, malu-malu meong, galaknya naudzubillah kaya si bunda !" jawab Azka terkekeh.


"Wah, panas !" Yoga menempelkan punggung tangannya di jidat Azka.


"Buaya insyaf, kayanya bener-bener jatuh cinta ini mah, Ga !" imbuh Rizal.


"Hati-hati, bapaknya rival loe A!" sahut Adam.


"Gunung kan kudaki, lautan kan kusebrangi, pak Agus kan..."


"Ku tunggangi !" jawab Rizal, Yoga dan Adam tertawa.


"Gelooo ihhh !!!" yang menyahut malah Citra dan Ria.


.


.


.


Noted :


Tesis : Merujuk karya ilmiah tertulis jenjang magister atau pascasarjana (S2)

__ADS_1


__ADS_2