
"Ini kapan sih ?" tanya Sekar bergumam.
Ia menscroll ada banyak potret Azka bersama perempuan bukan hanya satu tapi dua.
Ting
Azka memang playboy, kalo ga kuat mending lepas aja !
Sekar mengerutkan keningnya.
"Ini orang apa sih maunya ?! Pake kirim-kirim ginian segala," Sekar menggelengkan kepalanya.
Hatinya memang dilanda rasa cemburu, tapi ia adalah gadis yang berfikiran logis. Ia tak akan bertindak sebelum melihatnya sendiri, ia hanya percaya dirinya sendiri. Maka Sekar akan menyimpan foto itu untuk dirinya sendiri, tidak untuk langsung dipercaya ataupun diberikan pada Azka. Karena Sekar percaya semua akan terungkap lambat laun dengan sendirinya.
Sekar tak membalas pesan si pengirim gelap itu, ia lebih memilih menyimpan ponsel dan mematikannya.
...----------------...
"Sekar !!!" pekik Zahra dan Nisa, mengejutkan Sekar dari belakangnya, sama-sama baru sampai ke sekolah ketiganya kini berjalan bersamaan.
"Gimana, kemaren rame ngga ?" tanya Zahra.
"Rame deh, tau ngga...polisinya ternyata ga semua tua, masih pada muda-muda, pada ganteng !" jawab Sekar.
"Ahhhh ! Pengen, kenapa sih aku ga diajak ih, kesel !" gerutu Zahra.
"Kalo siswa dari SMA lain ?" tanya Nisa.
"Banyak yang cakep juga !" jawab Sekar berbinar.
"Ahhhh pengen, dari SMA mana aja tuh ?"
"Ada loh anggota OSIS SMA 3, 5 ck..ck..." decak kagum Sekar menerawang.
"Kuy lah maen ke SMA 3 sama 5, kali aja ada yang nyangkut !" ajak Nisa tertawa.
"Dikira sendal jepit nyangkut, emangnya di sekolah kita udah ga ada yang cakep lagi gitu, Sa ?" tanya Sekar.
"Emhhh, ga asik ah kalo satu sekolahan !" jawab Nisa.
"Kenapa ? Ketauan belangnya ya ?" tawa Sekar dibalas tawa Zahra.
"Hayukk ih !" ajak Zahra.
"Hayukk, aku tunjukkin nanti, soalnya sempet kenalan !" jawab Sekar berkelakar, candaan para gadis ya begitu...
"Kenalan sama siapa ? Baru ditinggal ketemu anak-anak dari belakang udah kenalan aja," Azka menarik tas Sekar kebelakang, membuat Sekar sedikit terpundur.
"Ooo, aku ga ikutan Kar !"
"Aku juga, yuk Nis ke kelas duluan. Kayanya mau ada perang !" ajak Zahra menarik tangan Nisa dan berlari ke kelas.
"Engga Ka, itu cuma becanda sama Nisa sama Zahra," nyengir gadis itu.
"Aku ga terima ! Kamu harus ganti rugi, kamu harus jadi pacar aku selamanya !" jawab Azka.
Sekar diam, hanya mengulas senyuman manis.
"Kuanter ke kelas ?" tawar Azka.
"Boleh,"
"Azka !" suara perempuan memanggilnya dari arah kelas Azka.
"Aku cariin kemanapun tapi ternyata masih disini," ujarnya berseru tersenyum, dan bagusnya ! Ia seperti dengan sengaja tak melihat Sekar di samping Azka, menganggap Sekar hanya sebuah patung.
__ADS_1
"Kenapa ?" tanya Azka.
Ia menyodorkan kotak merah jambu di depan Azka.
"Apa ini ?" tanya Azka.
Hani tersenyum penuh makna, sedangkan Sekar sudah mengalihkan pandangannya ke lain arah, sebenarnya hati Sekar sudah kembali pada rasa semalam, berdenyut, bergemuruh..tapi ia coba tahan, penasaran saja sampai mana gadis di depannya mendekati Azka, kini satu nama masuk dalam daftar Sekar, jika pelaku semalam adalah Hani, tapi ia tak bisa mengambil kesimpulan begitu saja.
"Makan buat kamu, bukan aku sih yang bikin. Tapi tadi pas beli sarapan aku inget kamu, makanya beli. Ups ! Maaf, maksudnya inget kemaren, makasih ya...udah dianterin sampe di titipin ke supir angkot segala, so sweet euy ! Hatur nuhun !" jelas Hani. (makasih banyak)
"Oh, jadi kemarin kejadiannya." Sekar mengangguk mengerti.
"Azka, aku duluan ke kelas ya," lama-lama empet juga matanya melihat Hani yang tersenyum-senyum pada Azka, seperti senyum ter Cipta_cipta.
"Eh, kan mau kuanter !" Azka menahan tangan Sekar.
"Han, makasih tapi aku ga bisa terima. Udah kenyang euy, kasih aja buat yang lain, yang belum sarapan," jawab Azka menolak.
"Yahhh, ko gitu !" Hani merengut.
"Terima atuh a, kan dia tulus ngasihnya," Azka menoleh pada Sekar, tak percaya jika Sekar akan selegowo itu. (ikhlas, lapang dada)
"Rejeki jangan ditolak kan ?" Sekar menampilkan senyum tak kalah mint dari Hani, senyum close_up.
Azka mengangguk, "oke aku terima, makasih !" Azka mengambil kotak merah jambu itu di depan Sekar.
"Ya udah, aku ke kelas ya !" pamit Hani.
"Iya,"
Selepas kepergian Hani, Sekar hendak berjalan menuju kelasnya, tapi tangannya tetap di genggaman Azka.
"Kamu ga marah ?"
"Ya engga, biasanya kan kaya gitu. Cewek kalo pacarnya dikasih makanan, atau nganter cewek lain langsung marah, mukul-mukul, terus bilang...kita putus !" jawab Azka meniru gaya bicara perempuan yang selalu sewot dan berapi-api.
"Oh gitu...oke kita putus !" jawab Sekar sambil melangkah membuat Azka terjengkat dibuatnya.
"Eh engga gitu juga atuh ! Cuma nyontohin aja, kan itu mah kalo cewek lain, bukan kamu !" panik Azka membuat Sekar tertawa, baru kali ini ia berhasil mengerjai si raja usil ini, biasanya dialah yang selalu menjahili dan menggoda Sekar.
"Cewek mana tuh, cewek kamu emang ada berapa ?!" tanya Sekar.
"Dih, kenapa aku jadi bingung sama omonganku sendiri," gumam Azka diam.
"Ha-ha-ha !" Sekar tertawa dan Azka mengejarnya.
"Udah sampe kelas, belajar yang bener, ga usah banyak ngomongin cowok lain !" Azka menepuk-nepuk pucuk kepala Sekar.
"Iya, kamu juga..itu jangan lupa dimakan, erat banget megangnya takut diambil orang ya..." tunjuk Sekar pada kotak makan yang diberikan Hani.
"Eh, sampe lupa !" tukas Azka.
Tak sengaja Rido melintas hendak masuk ke kelas.
"Bro, lapar ngga ? Udah sarapan belum ?" tanya Azka memberikan kotak makan itu pada Rido.
"Wahhh, makasih kak ! Rejeki anak soleh, pagi-pagi ketiban makanan !"
"Sama-sama !" jawab Azka.
"Jangan lupa habisin, jangan disisain mubadzir !" lanjutnya.
"Siap kak !" jawab Rido.
Ada hati yang menghangat disana. Tapi Sekar masih merasa tak enak hati, kedepannya pasti akan lebih banyak lagi hal semacam ini atau mungkin lebih lagi mengguncang hubungannya dengan Azka. Ia pun tak bisa menjanjikan jika nanti ia akan kuat bertahan untuk tak emosi.
__ADS_1
"Tapi siapa cewek ga jelas yang Azka pegang-pegang, kayanya perhatian banget, si ceweknya lagi sakit ?!" benak Sekar.
"Aku ke kelas dulu !" pamit Azka, Sekar mengangguk.
"Thanks kak Azka ! Ini enak !" pekik Rido yang menikmati makanan itu bersama Rahman.
Azka mengangguk.
"Tumben banget a Azka bekel segala ?!" gumam Zahra.
"Perasaan kalo si bunda ngasih bekel makan ga pernah mau dibawa, meni warna pink lagi," tawa Zahra.
"Bukan bunda yang bawain," jawab Sekar duduk di samping Zahra.
"Siapa ?" tanya Zahra dan Nisa bersamaan.
"Kak Hani," jawab gadis ini santai meminum air dari tumblernya karena mendadak tenggorokannya dilanda haus.
"Ha ?! Yang bener ?!"
Sekar mengangguk seraya menutup botol minumnya.
"Bener lah, ngasihnya juga di depan aku !" jawab Sekar.
Tiba-tiba Nisa bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Sekar, memegang kedua pundak gadis ini.
"Jawab Kar, apa yang kamu rasain sekarang, hati panas, kesel, marah, cemburu, pengen nangis ?! Biar kita bantu labrak ka Hani."
"Kaya yang berani aja," ujar Zahra membuat Nisa nyengir.
Zahra tertawa melihat sikap Nisa yang over terhadap hubungan Sekar dan Azka.
"Insyaallah dia maju aku mundur !" tawa Nisa.
"Dih," decih Sekar.
"Kalo sama-sama maju nanti malah ciuman atuh !" kelakar Nisa.
"Insyaallah aku bantu, walau hanya dengan do'a !" lanjutnya.
"Uhhh temen yang so sweet !" seru Zahra menepuk-nepuk lengan Nisa.
"Awalnya sih ngerasa panas hati, kaya ada yang nyubit. Tapi setelah itu, aku biasa aja !" jawab Sekar.
"Ha ?! Gitu doang Kar, wedannn kalem banget liat pacar di godain cewek lain, saluttt !" decak Rido yang ikut mendengarkan ketiga ciwi ini mengobrol.
"Kalem, tapi jangan sampai nanti di belakang ngunyahin motor kak Hani !" kelakar Zahra tertawa.
"Ide bagus tuh !" jawab Sekar tersenyum devil.
"Wah parah ! Ternyata orang kalem menyeramkan kalo marah !" jawab Rahman.
"Ishhh, pada nyaut aja kaya kabel !" desis Nisa pada Rahman dan Rido.
"Kan loe terminalnya Sa," jawab mereka tertawa di tengah kunyahannya sampai terbatuk-batuk.
"Uhukk uhukkk !"
"Nah kan, sokorin !" seru Nisa.
.
.
.
__ADS_1