
...Long--long time a go...
Azka menyenderkan badannya di kursi berputarnya, memejamkan mata barang semenit saja. Hari ini begitu melelahkan untuknya, sudah jarang datang ke basecamp, pekerjaan menumpuk dan tugas skripsinya sempat hampir mangkrak.
Untung saja Sekar selalu ada di sampingnya, gadis inilah yang selalu cerewet dan mengancam akan selingkuh kalau Azka tak mengerjakan tugasnya.
Sepasang tangan lembut nan wangi menutup mata Azka. Dari aroma parfumnya saja ia tau ini siapa, 5 tahun mereka bersama sudah pasti mengenal jelas aroma tubuh sampai keringat masing-masing.
"Kalo ditutupin gini aku bisa tidur ini, terus kita ga jadi pergi," ucap Azka. Sekar terkikik lalu melepaskan kedua tangannya.
"Kamu belum mandi ih! Katanya mau ngajakin ke Teras Cikapundung?" tanya Sekar.
"Gampanglah, mandi aku cepet! Kaya ular, cuman nyelup doang," jawab Azka.
"Jorok!" sarkas Sekar.
"Kerjaan kamu lagi banyak ya? Semangat dong!" Sekar memijit pundak Azka seraya melongokkan kepalanya melihat tulisan-tulisan di kertas diatas meja kerja Azka.
"Alhamdulillah dikasih rame, rejekinya ga putus-putus. Katanya kasian buat modal nikah!" jawab Azka.
Sekar tersenyum, ia menaruh tas di kursi depan Azka.
"Aku ke dapur, mau dibikinin cemilan ngga?" tanya Sekar.
"Ga usah, udah makan mie barusan pake telor," tunjuk Azka ke arah mangkuk kosong di sampingnya.
"Kebiasaan kamu mah, kalo tempat kotor bekas makan jangan ditaro disini," Sekar mengambil mangkuk kotor dan beranjak menuju dapur.
"Iya lupa," jawab Azka masih memperhatikan dan mengerjakan kembali pekerjaannya.
"Teh Wiwi," sapa Sekar.
"Neng! Baru kesini lagi?" tanya nya, Sekar memang sudah terbiasa datang kesini untuk sekedar menemani Azka bekerja dan menghabiskan waktunya mengobrol bersama teh Wiwi sepulang dari kampus sambil nunggu Azka anter pulang.
"Roti bakar sele kacang neng?" tanya teh Wiwi.
"Iya teh, biar Sekar bikin sendiri." Sekar memang tak pernah mau menyusahkan siapapun.
"Ah angger neng Sekar mah, bikin teteh keenakan!" tawanya dan Sekar.(kebiasaan)
"Ga apa-apa atuh teh, aku mah bukan konsumen," jawab Sekar.
"Teh, pesenan!" pekik seorang karyawan dari depan.
"Iya!"
__ADS_1
"Teteh ke depan dulu ya neng," Sekar mengangguk.
Sekar mengolesi selai kacang di roti miliknya lalu kental manis dan keju.
"Ekhem," gadis berambut panjang ini menoleh.
"Ga usah so dehem-dehem. Cepetan selesain kerjaannya," pinta Sekar kembali sibuk dengan aktivitasnya membakar roti.
"Kar, aku pengen bilang sesuatu. Sebenernya ini yang bikin aku ga fokus!"
Azka setengah bersandar pada kulkas samping Sekar.
"Apa? Makanya keluarin dulu masalah di hati. Jangan dibawa-bawa terus nanti jadi ga konsen kerja, udah sering dibilangin.." cerocosnya.
"Kar, nikah yuk! Takut khilaf," ajaknya tanpa aba-aba.
Sekar menoleh, ia specchless tak dapat berkata-kata terlebih syok.
"Kita pacaran dah 5 tahun, cukup lama. Aku takut suatu hari ga tau sekarang atau besok ga bisa nahan khilaf," jelas Azka.
"Astagfirullah!!!! Ini anak muda, yang satu ngelamar kaya ngajakin makan cuanki, yang satu lupa matiin kompor!!"
"Neng, eta tutung rotina!" seru teh Wiwi.
(Neng, itu rotinya gosong!)
"Kamu ihhh, roti aku!" Sekar manyun memukul lengan Azka.
"Ganti--ganti..." Azka melongokkan pandangannya ke arah roti yang sudah berwarna kehitaman.
"Bikin lagi aja," suruh Azka.
"Sini sama teteh aja, kasian anak perawan lagi sawan gara-gara dilamar!" tawa teh Wiwi ikut menggoda Sekar.
"Jangan manyun gitu ahh, kaya tutut!" goda Azka mencomot bibir Sekar dan mengajaknya ke ruangan. (keong sawah)
"Teh bikinin nya?!" pinta Azka.
"Iya nanti dianterin ke kamar.. eh kantor!"
Azka kembali tertawa, teh Wiwi sampai ikut tergagap.
Azka membawa Sekar duduk dan ia menarik kursi lain di depan Sekar.
"Aku cuma laki-laki normal biasa, ga bisa selalu tahan buat ga sentuh kalo lagi berduaan gini. Takut nantinya jadi khilaf, udah lama juga pengen ngomong ini. Tapi ketunda terus sama tugas kampus yang menggunung dilanjut skripsi," Azka membuka lacinya dan menyerahkan sekotak cincin. Tak langsung memasangkan seperti adegan-adegan di film romantis. Azka juga mengeluarkan dua buah kunci motor di meja depan Sekar. satu motor lamanya dan satu lagi motor baru mirip motor ayahnya, motor gede.
__ADS_1
Kunci, kunci bengkel, atm, buku rekening dan cincin berjejer di depan Sekar.
Sekar masih diam terhenyak melihat tindakan Azka. Datang kesini karena ngajakin main, tapi malah ditodong lamaran.
"Gimana?" tanya Azka, rupanya Azka sedang gugup menanti jawaban Sekar.
"Aku cuma punya bengkel, motor dua, tabungan. Tapi insyaallah bisa nafkahin kamu, aku ga akan bertele-tele bilang sayang dan suka kaya anak-anak smp. Kan gombal-gombalannya udah dulu, sekarang masanya yang lebih serius, bukan sekedar ngumbar gombalan receh. Tapi aku menawarkan kamu buat jadi pendampingku dengan semua yang kupunya," tunjuknya di meja.
"Azka..." tatapnya yakin, ia menarik nafasnya, dalam sekali tarikan nafas...
"Aku mau..."
Azka tersenyum, menarik kepala Sekar dan mengecup keningnya.
"Alhamdulillah!!!" seru teh Wiwi ternyata sudah berada di ambang pintu mengantarkan roti bakar milik Sekar.
"Teteh ih, nguping?!"
"Ga sengaja neng," kekeh teh Wiwi.
"Asik!!! Teteh mau nyate, siap-siap bikin baju kebaya!" lanjutnya.
"Kamu ga mau masangin cincinnya ke jari aku?" tanya Sekar melihat Azka hanya tersenyum-senyum.
"Oh iya lupa! Eh tapi---"
"Apa?" tanya Sekar mengerutkan dahinya.
"Kamu udah mandi belum? Nanti aja pakenya pas udah mandi, sayang takut kena daki! Mahal belinya!" tawa Azka menggoda Sekar.
"Azka ihhh!" Sekar memukul-mukul lengan Azka.
"Ga jadi gera diterimanya?!" bibirnya merengut mengancam Azka.
"Eh-- iya, iya atuh sini kupasangin?!" pinta Azka menarik tangan Sekar ingin memasangkan cincin di jari Sekar.
"Jangan dijual ya neng cincinnya," pemuda itu terkikik sambil memasangkannya di jari Sekar.
"Engga, kugadein aja buat jajan seblak!"
.
.
.
__ADS_1
.