
Di tengah keriuhan, Sekar merasa sendiri. Seperti separuh kebahagiaannya hilang bersama Azka.
Langkahnya membawa Sekar menyambangi depan kelas Azka. Tapi harapannya bertemu si berandal manis nihil, padahal ia sudah tau Azka dimana. Tapi rasanya ia seperti ketergantungan dengan Azka.
"Kebiasaan nyariin a Azka ya Kar?" tanya Zahra, bahkan tawa ledekan Zahra dan Nisa tak membuatnya marah, karena memang itulah yang terjadi.
"Samperin aja atuh Kar,"
"Malu Ra, takut bunda tau alesan Azka di skors karena berantem sama Andra, gara-gara aku.." jawab Sekar, nyalinya ciut mengingat wajah dingin Rama dan ramahnya Nara.
"Bunda mah ga akan marah Kar, lagian a Azka ga seban_ci itu ngadu sama om Rama sama bunda," jawab Zahra.
"Daripada nahan rindu?!" Nisa menyenggol-nyenggol bahu Sekar usil.
"Cie, Sekar ga kuat nahan kangen! Berat ya Kar, kaya lagi ditin_dih bu_to ijo!" goda Nisa berlari.
"Brukk!"
"Eh maaf, maaf kak!" ringis Nisa, ia bangkit mengusap-usap bahunya akibat tabrakan dengan kakak kelas.
"Ha-ha-ha!" Zahra dan Sekar tertawa.
...----------------...
"Mau bareng siapa Kar?" tanya Adam.
"Bareng Zahra aja," jawabnya menerima helm dari Adam.
"Udah dikasih tau mau dateng belum, Kar?" tanya Zahra.
Sekar menggelengkan kepalanya, "belum. Biar jadi kejutan aja!"
"Kalo Azka nanyain aku bilang aja aku ga masuk, atau ga tau!" mohon Sekar.
Beberapa motor meluncur ke rumah si berandal manis, kejutan dan perhatian kecil ini, semoga bisa mengurai kerinduan yang terasa.
********
"Ck!"
Sudah decakan ke berapa kalinya yang keluar dari mulut Azka. Semua pesan hanya di read oleh Sekar, begitupun panggilan telfonnya tak direspon gadis itu.
"Ngajakin berantem nih!" gumamnya, mengelap sejenak balutan busa sabun berbau lemon pada lembaran lap piring di depannya.
"Ciee! Si berandal lagi di hukum bunda jadi mbok!" tawa Azza sangat puas mendapati preman satu ini sedang mencuci tumpukan piring kaya konsumen yang kepergok ga bisa bayar.
"Berisik! Nanti kucuci sekalian sama mulut kamu," kesal karena Sekar tak jua merespon pesan-pesan darinya begitupun teman-temannya. Hari ini tak ada kabar dari si cantik tapi galaknya.
"Ini cec unguk pada kemana lagi!" geramnya.
__ADS_1
"Ha-ha! Galaknya si mbok!"
Jepret!
Tak banyak bicara, justru Azmi si bungsu yang baru saja sama-sama pulang sekolah langsung saja merogoh ponsel dari dalam saku celana seragam dan mengabadikan kaka sulungnya ini sedang berada di depan wastafel sambil nginem. Kabar yang akan menghebohkan jagad maya.
"Si@*l! Azmi!! Borokokok, hapus!" Azza semakin tergelak di anak tangga, disinilah tempat paling vip untuk menyaksikan semua pemandangan di bawah sana dengan aman.
Belum habis marahnya pada Azmi, Azka sudah kembali ditiban kesialan. Nara mendapati anak sulungnya malah main kejar-kejaran bersama si bungsu, alhasil kuping Azka dijewer Nara.
"Itu bun, Azmi fotoin aa lagi cuci piring. Hapusin atuh bun, lagian masa atuh udah keren begini disuruh cuci piring?!" keluh Azka meringis memiringkan kepala karena telinga yang dijewer Nara.
"Mau ngeluh terus? Bunda tambahin hukumannya atau aa mau pindah sekolah ke Pangalengan?" tanya Nara mengancam, kali ini ia tak main-main pada Azka. Pasalnya tahun ini Azka harus lulus, meskipun dengan hasil pas-pasan, sukur-sukur hasil memuaskan.
"Daddy juga preman, bandel, tapi giliran tugas rumah suka bantuin istri!" no debat, no ngeluh lagi, titah Nara mutlak untuk ketiga anaknya.
Gosok sana, gosok sini. Pan_tat wajan pun terpaksa menjadi kekasihnya. Sekar saja belum ia elus-elus, ini malah ngelusin pan_tat wajan.
Deru mesin motor seketika dimatikan ketika mereka sampai di depan gerbang rumah Azka.
"Aku balik dulu deh!" pamit Adam menstaterkan kembali motornya.
"Iya kak Adam, makasih!" jawab Sekar berdadah-dadah ria pada mereka.
"Oke,"
"Kar, kamu ga apa-apa sendirian ke rumah a Azka?" tanya Zahra.
"Ya udah kuanter masuk dulu, abis itu kutinggal ya?!" Sekar mengangguk cepat.
Zahra sudah tak sungkan lagi membuka gerbang dan nyelonong masuk.
Zahra tak pernah masuk ke dalam rumah melewati pintu depan, seperti pintu depan dikhususkan untuk tamu penting, rata-rata kerabat yang sudah mengenal keluarga Rama akan memilih masuk langsung melewati lapang dan halaman samping tembus ke dapur, karena disanalah biasanya keluarga ini menghabiskan waktunya.
Sayup-sayup terdengar suara orang sedang saling ejek, dari suaranya seperti Azza.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam,"
Zahra dan Sekar sampai melongo dibuatnya. Begitupun Azka, tawa Azza meledak bukan main, ia bahkan sampai terbatuk-batuk.
Zahra ikut menyusul tawa Azza seraya memegang perutnya, mendapati berandal sangar jago berantem tak takut mati sedang mencuci piring di wastafel itu sungguh membuat perut kencang.
"Sekar?"
"Kejutan!!!" bukan Zahra atau Sekar, tapi Azza yang berseru.
"Teh Sekar, ini aa Azka yang bageur tur soleh! Berandal paling semox ngalahin si Inem!" (baik ditambah soleh)
__ADS_1
Sekar menahan mulutnya agar tak meledak.
"Azza!!" murka Azka melempar Azza dengan lap piring yang menggantung di depannya.
Azka segera merapikan pekerjaannya dan mencuci tangan. Didatangi pacar sedang bermesraan dengan piring dan wajan kotor sungguh bikin jantung berhenti berdetak.
"A Azka lagi ngapain?" tanya Zahra.
"Apa?! Mau ngetawain lagi?" sengaknya, Zahra mengulum bibirnya sambil menggeleng.
"Udah deh, aku cuma nganter Sekar doang! Nih katanya kangen, ga bisa hidup tanpamu! wkwk," Zahra bergegas melangkah pergi sebelum ia kena amuk Azka seperti Azza.
"Hai, ko ga bilang mau kesini? Wa aku, telfon aku kenapa ga direspon?! Mau bikin aku kesel?" tanya Azka kesal, mengeluarkan uneg-unegnya pada gadis yang seharian ini membuatnya seperti orang bingung.
"Sengaja, tadinya mau kasih kejutan. Tapi aku juga ikut terkejut liat kamu," kekeh Sekar.
"Sini duduk dulu!" ajak Azka, kali ini ia tidak membawa Sekar ke ruang tamu, tapi di gazzebo belakang tempat dimana keluarganya selalu berkumpul untuk menikmati sore bersama pisang goreng.
"Aku ambilin minum dulu ya!" bersikap sopan sebagai tuan rumah, Azka langsung meluncur ke dapur, berjalan ke arah kulkas dan meraih dua botol minuman dingin, tak lupa setoples chesse stick buatan bunda, hasil memodifikasi resep dari co_ok_pad.
"Kamu dihukum bunda juga ya?" mata gadis itu berselimut penyesalan.
Azka tersenyum miring, "iya, biasa lah itu mah hukuman-hukuman kecil. Udah biasa," jawabnya, meneguk minuman di botol yang satu.
"Bunda tau kamu di skors karena berantem sama Andra?" kini matanya penuh selidik.
"Tau," jawab Azka, memang dasarnya tak bisa diam, Azka meraih tas Sekar dan meneliti isi dari tas pacarnya, gelagatnya mulai posesif.
"Gara-gara aku?" kembali tanyanya hati-hati.
Azka melirik dan menatap dengan mengernyit "kalo aku bilang iya, bisa bikin kamu selamanya sama aku engga?" tanya Azka terkekeh.
"Azka ih, aku lagi harap-harap cemas. Takut bunda atau daddy kamu marah, anaknya berantem cuma gara-gara aku?"
"Cuma kamu bilang?"
"Kamu bukan cuma, tapi memang pantas buat dipertahankan."
"Aku mau nanya, kalo posisi aku ada di kamu, kamu mau lakuin apa?" tanya Azka kini memandang lekat Sekar.
"Ya, sama lah!" jawabnya cepat.
"Nah itu ! Mau jajan baso tahu ngga?" ucapnya kembali memasukkan buku-buku Sekar, kepo-kepoin barang Sekarnya dilanjut nanti saja setelah jajan.
.
.
.
__ADS_1
.