Berandal Termanis

Berandal Termanis
Preman berhati chibi


__ADS_3

Azka membawa Sekar ke dalam rumah. Bahkan kini Sekar menciut melihat isi rumah Azka yang jelas-jelas lebih besar dan mewah kediaman Azka dibanding rumahnya. Ia malu, sudah bersikap sombong dulu.


Penampilan memang tidak menjamin baik, buruknya seseorang.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"


"Aku ke kamar dulu ya, tapi jangan ikut. Kan belum mahrom !" ucapnya terkekeh.


Sekar mengangguk dan duduk di sofa tamu meneliti setiap sudut rumah Azka tanpa terlewat.


"Assalamualaikum !" seorang gadis dengan menyeret tasnya masuk ke dalam rumah disusul bocah SD lalu seorang perempuan, yang sudah Sekar kenali.


"Bunda," Sekar langsung berdiri dan salim takzim.


"Eh, ada tamu," Nara melihat tak ada apapun di meja selain toples kecil permen dan asbak.


"Loh, belum dibuatin minum ?" tanya Nara.


"Eh, ga apa-apa bun. Baru sampai ko !" jawab Sekar.


"Aa mboy gimana sih, masa tamu dianggurin," gumamnya.


"Bukan bun, ga ada anggur disitu. Dikasih angin doang !" pekik Azza yang melangkahkan kakinya menyusuri tangga.


"Bi, minta dibuatin minum buat tamu," pinta Nara lembut pada asisten rumah tangga.


"Ga usah repot-repot bun," cegah Sekar.


"Engga ah, kalo minta uang sambil disuruh joget di atas pohon baru itu namanya repotin," senyum Nara. Baru saja berkenalan dengan Nara, Sekar sudah merasa nyaman dengan ibu dari Azka ini.


"Sayang !!! Coba liat ada siapa !" pekik Nara masuk. Azka baru saja turun dengan baju santainya saat bibi sudah menyajikan minum untuk Sekar.


"Makasih bi,"


"Lama engga ?" Sekar menggeleng.


"Barusan ketemu bunda, sama adik-adik kamu," ujar Sekar.


"Oh, Azza sama Azmi."


"Adik kamu yang laki-laki pendiem ya, ga kaya kakanya !" kekeh Sekar.


"Suka ?" tanya Azka yang duduk di samping Sekar.


"Suka," jawab Sekar mengangguk.


"Ga boleh, masa aku saingan sama adikku sendiri nanti !" Sekar menendang kaki Azka pelan.


"Ish, bukan suka gitu lah. Suka cakep, tapi ramah juga. Tadi senyumin aku," jawab Sekar.


"Ish, minta digetok !" cebik Azka.


"Loh, kenapa ?!" tanya Sekar.


"Ga boleh ada yang senyumin kamu, apalagi sampe bikin kamu suka !" tawa Azka di senggol Sekar.


"Dulu kupikir kamu berandalan yang tinggal di jalanan. Tapi ternyata kamu punya rumah," aku Sekar.


Azka mengangkat alisnya, "kalo ga punya daddy sama bunda mungkin bisa jadi aku tinggal di jalanan. Ini bukan rumahku, rumah punya daddy sama bi Nia tepatnya rumah abah haji, yang udah diwariskan buat mereka."


"Oh," Sekar berohria.


"Aku mah miskin, ga punya apa-apa. Cuma punya hati dan cinta," jawab Azka.

__ADS_1


"Idih, gombal !"


"Daddy !!!! Aku besok disuruh renang sama guru olahraga, mau minta uang !" suara Azza memang selalu cempreng dan keras, sehingga selalu terdengar ke seluruh penjuru rumah.


"Itu Azza kan ?" tanya Sekar, Azka mengangguk.


"Mau kenalan ?" tanya Azka.


"Ada daddy kamu ?" tanya Sekar balik.


"Ada. Kenapa ? Ga usah takut, ada pawangnya, ga akan nerkam," kekeh Azka.


"Ck, dia suka sama aku engga ya ?" khawatir Sekar.


"Ya jangan atuh, masa semua keluarga aku suka sama kamu. Kan kamunya cuma satu, nanti aku sama siapa ?" tanya Azka.


Tuk !


"Ga usah mulai deh," Sekar menjitak kepala Azka.


Azka tertawa lalu membawa Sekar ke ruang tengah. Kedatangan mereka berdua membuat isi ruang tengah menoleh, seketika Sekar menegang dengan wajah pucatnya, apalagi melihat tampilan seorang laki-laki dengan t-shirt rolling stone hitam dengan rambut harajuku juga tempelan anting hitamnya, apakah itu ayah Azka ? Tapi jika ditelisik lebih cocok disebut kaka, karena perbedaan wajahnya tak begitu terlihat tua.


"Eh, sini--sini...kenalan sama keluarga Azka, bocah tengil yang suka gangguin kamu di sekolah," seloroh Nara.


Azza yang turun dari lantai atas tertawa, "ha-ha-ha, mimpi apa teh semalam bisa kenal sama cowok modelan Aa ? Pasti risih ya ?"


"Enak aja, kenal sama aa mah anugrah," Azka mengajak Sekar duduk diantara keluarganya dan malah menggoda Azza.


"Ga usah pada berantem ! Lieur ahh !" lerai Nara, sementara Azmi, ia lebih memilih berdiam seraya mendengarkan musik dari ponselnya menggunakan headset tanpa mau meladeni keabsurdan kedua kakanya.


Sekar dari tadi terdiam menunduk canggung melihat Rama. Sedangkam Nara sudah mengulum bibirnya. Rama mendekat dengan wajah dinginnya, alias mode preman.


"Siapa namanya ?" tanya Rama.


"Oh, kenalin saya Ramadhan ayah cowok tengil yang sering gangguin kamu. Cantik ! Tapi sayang, hati saya udah disita bundanya anak-anak, jadi sekarang saya ga punya hati lagi buat wanita lain."


"Idih, lagian siapa juga yang mau sama daddy, udah tua ?!" cebik Azka.


"Cie, si playboy kalah saing sama daddy ! Marah ni yee, pacarnya di gombalin orang," seru Azza.


"Jangan sebut saya bapak, sebut aja hot daddy...atau calon mertua, atau sugar daddy. Karena kata orang muka saya manis kaya gula semut !" Rama menyentuhkan telunjuknya di pipi dan bergaya semanis mungkin membuat anak-anak dan istrinya tertawa, begitupun Sekar. Terang saja mereka tertawa, gaya preman tapi kelakuan chibi / cherrybelle, ditambah wajah Sekar yang tadinya pucat kembali tersenyum.


"Ga usah tegang gitu, teh Sekar..daddy mah orang paling baik dan romantis sedunia !!! Iya kan dad ?" Azza langsung melompat dan nemplok di punggung Rama.


"Sedunia apa ?" tanya Rama.


"Sedunia akhirat,"


"Sedunia goib,"


"Sedunia minion !"


"Kalo ga romantis sama baik, bunda kamu ga akan takluk atuh !" jawab Rama.


"Tapi pacar daddy suka marah-marah kalo Azza ga ngaji !" adu Azza.


"Bagus itu. Yang galak bikin rawrrr ! Coba bilangin sama cewek galak itu, kalo daddy suka !" Rama mengedipkan matanya pada Nara di sampingnya.


"Suka kamu juga !" jawab Nara.


"Ahhh, pacar bunda jangan ditemplokin terus atuh Za !" rengek Nara.


"Sekar, udah ga bingung kan sifat gombal sama konyolnya aa darimana ?" tanya Nara.


"Nih, ini sumbernya !" Nara menepuk-nepuk lengan Rama.

__ADS_1


"Teh Nara, makanan udah siap.." ujar asisten rumah tangga.


"Oh iya bi, makasih."


"Sekar, yu ikut makan siang bareng," Nara melepas pegangannya di lengan Rama dan beralih merangkul Sekar.


"Yank, jadi kamu berpaling nih ?!" tanya Rama.


"Aa sama mboy dulu, aku mau ngajak calon mantu buat makan. Biar tetep waras, ga ketularan kamu sama mboy !" jawab Nara, Sekar kembali tertawa.


"Bun, pacar Aa mau diculik kemana ?!"


"Tuker tambah dulu sama daddy," jawab Nara.


"Masa aa sama daddy bun," Azka menyusul bersama Azza. Sedangkan Rama menggendong si bungsu Azmi yang terkejut karena gerakan kilat Rama.


"Dad, malu ! Masa digendong-gendong !" ia berontak.


"Nih, bayi besar daddy malah anteng sama dunianya sendiri. Makan dulu ! Simpen dulu hapenya," jawab Rama.


"A, abah sama ambu di Pangalengan berapa lama ?" tanya Nara.


"3 hari kayanya,"


"Mau nyusul ahhh,"


"Mau ngapain yank ?"


"Mau ikut minum cucu, yang fresh !" jawab Nara mempersiapkan piring milik Rama.


"Sok, sok..dimakan neng. Anggap saja rumah orang," pinta Rama.


"Lha, emang rumah orang. Daddy gimana sih ?!" ujar Azza tertawa.


"Kali aja dianggap rumah duka," jawab Rama.


"Mau makan sama apa ? Jangan malu-malu, ini makanan dibeli pake uang bunda sama daddy, ga akan ditagih nanti pulangnya."


"Kalo pake uang kamu, aku bakalan ditagih pulangnya ?" tanya Sekar.


"Iya, satu butir nasi satu sendok kasih sayang !" jawab Azka.


"Jadi kalo satu piring ?" tanya Sekar.


"Jadi kamu punya hutang semua rasa sayang yang kamu punya sama aku !"


"Kalo makannya 3 kali sehari ?" tanya Sekar lagi.


"Kamu hutang berada di samping aku sehidup semati," jawab Azka.


"Sok neng, jangan malu-malu. Ambil aja ! Ga akan dikasih bon sama bunda ko,"


"Iya bun, makasih !" senyum Sekar.


"Aaa !!! Jantung aa berhenti berdetak. Liat senyumnya !" kelakar Azka.


"Dih, ga tau malu." Cebik Azza dan mendapatkan gelengan kepala dari Azmi. Sedangkan Nara menatap penuh arti, melihat Azka dan Sekar mengingatkannya pada seorang pemuda yang datang ke rumahnya dengan membawa batagor.


"Kenapa, inget ya ?" Rama menggenggam tangan Nara setelah menyendokkan nasi ke mulutnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2